MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
86. harus ikut


di Kerajaan Majapahit kini telah diadakan pertemuan oleh para petinggi-petinggi istana. tiba-tiba salah seorang pengawal datang dengan tergesa-gesa dengan nafas yang sudah tak karuan. semua orang yang ada di sana langsung mengerutkan keningnya begitu pula dengan raja Raden Wijaya.


"salam kepada yang mulia, hosh.. hosh... hosh..." ucap sang pengawal dengan nafas yang tersendat-sendat.


"Ada apa pengawal, Kenapa kamu sepertinya sangat tergesa-gesa." ucap Raden Wijaya bertanya kepada sang pengawal. sejenak pengawal itu terdiam sambil mengatur nafasnya, dengan perintah Raden Wijaya salah seorang pengawal memberikan pengawal Itu minuman.


"ampun Yang mulia raja, hamba ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting yang terjadi di perbatasan. kami telah mendapat kabar dari beberapa tlik sandi yang berjaga di luar ke wilayah perbatasan kita. bahwa Kerajaan Kediri tengah melakukan perjalanan menuju kerajaan kita. mereka akan melakukan penyerangan terhadap kerajaan kita. Kami para prajurit dan panglima yang berada di perbatasan telah bersiap diri yang mulia, namun ini semua terjadi begitu mendadak, sehingga persiapan kita mungkin tidak akan maksimal." ucap sang pengawal panjang lebar.


Raden Wijaya dan para petinggi-petinggi istana terkejut mendengar berita ini. apalagi Kerajaan Kediri adalah kerajaan yang tidak pernah bersinggungan dengan mereka. bahkan Kerajaan Kediri berdiri dengan sendirinya tanpa bantuan dari kerajaan manapun, bahkan Kerajaan Kediri sendiri dinilai sombong oleh kerajaan-kerajaan lainnya karena mereka tidak mengikutkan dirinya dalam pertemuan-pertemuan raja-raja.


"apa..!! lalu Bagaimana kondisinya sekarang, Apakah pasukan dari Kerajaan Kediri telah sampai di perbatasan kita.." tanya Raja Raden Wijaya. semua yang hadir di istana itu mulai berkata kusut, mereka cukup terkejut dengan rencana penyerangan ini.


"yang mulia, ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa Kerajaan Kediri tiba-tiba ingin menyerang kerajaan kita. bukankah kita tidak memiliki konflik apapun kepada raja baya. lalu kenapa Ia melakukan penyerangan seperti ini..??" tanya salah satu petinggi istana dengan panik. Raden Wijaya ikut mengerutkan keningnya.


tentu saja yang disampaikan oleh petinggi istana itu benar adanya. mereka tidak pernah ikut campur tentang Kerajaan Kediri dan bahkan berbaur dengan kerajaan itu. lalu kenapa tiba-tiba kerajaan ini malah datang untuk menyerang. bahkan penyerangan ini dilakukan secara diam-diam tanpa memberikan kesempatan sebelah pihak untuk mempersiapkan diri.


"sekarang tidak ada waktunya untuk berpikir. untuk mengurangi resiko peperangan ini, sebaiknya kalian semua memberitahukan kepada para warga untuk menyelamatkan diri dan menjauhkan diri dari wilayah konflik untuk sementara waktu. sementara kamu..." ucap Raden Wijaya menunjuk salah seorang pengawal bayangan yang ia miliki.


"segera pergi ke desa lembah lembayun, kabarkan kepada pangeran Mandala dan juga menentukan tentang penyerangan ini. katakan kepada mereka bahwa kami di sini membutuhkan solusi dan juga bantuan. barangkali mereka dapat memberikan bantuan tenaga ataupun ide lainnya. laksanakan hari ini juga..." ucap Raden Wijaya masih dengan suara yang tenang.


walaupun ia bersikap tenang dan biasa-biasa saja, hal itu ia lakukan agar tidak membuat semua orang ikutan panik. sebisa mungkin ia selalu mengendalikan dirinya agar tidak terlihat mencemaskan dan juga menyedihkan.


setelah perintah dari Raden Wijaya, sang pengawal bayangan pun langsung melesat pergi ke desa lembah lembayun.


***


di desa lembah lembayun, tanpa sepasang suami istri sedang duduk beristirahat di sebuah pondok sambil memandangi perkebunan atau tanaman-tanaman mereka. sesekali mereka akan bercanda dan saling menggoda satu sama lain.


brak..


pangeran Mandala dan Gayatri terkejut mendengar suara itu. keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara, dan di sana Mereka melihat sang pengawal yang biasanya datang mengirimkan surat atau membawa kabar dari Raden Wijaya.


"mohon maaf pangeran Mandala dan permaisuri Gayatri. hamba datang membawa berita genting dari yang mulia raja." ucap sang pengawal sambil berlutut memohon ampun. Gayatri dan pangeran Mandala saling melirik satu sama lain.


"katakan, berita apa yang kamu bawa.." ucap pangeran Mandala dengan tenang. namun dari sorot matanya sangat tajam sehingga mampu membuat siapa saja akan merasa tertusuk.


"maaf Yang mulia pangeran. hari ini Kerajaan Kediri tengah melakukan perjalanan menuju wilayah perbatasan. tujuan kerajaan itu datang ke kerajaan kita untuk melakukan peperangan. yang mulia Raja juga meminta tolong kepada yang mulia pangeran dan permaisuri untuk membantu, baik itu dari segi ide, kekuatan fisik atau lainnya." ucap sang pengawal bayangan.


sementara untuk pengawal bayangan yang awalnya ikut bersama Gayatri dan pangeran Mandala, kini diperintahkan untuk memberikan kabar kepada rakyat yang ada yang dan yang bermukim di desa lembah lembayun. agar masyarakat yang bermukim di sana bersiaga untuk sesuatu yang kemungkinan saja bisa terjadi.


para warga yang mendengar berita ini langsung antusias. beberapa anak-anak dan wanita serta orang-orang yang tua rentah mulai cemas. namun tak sedikit pula para muda dan Budi yang sudah menguasai ilmu kanuragan yang tinggi meminta untuk ikut berperang.


"Tuan pengawal, apakah Tuan pangeran telah pergi ke Kerajaan Majapahit saat ini..?? katakan padanya Kalau kami juga ingin ikut serta dalam peperangan ini." ucap salah satu pemuda yang ada di sana.


"benar Tuan pengawal, Kami ingin membantu. tak ada yang bisa kami berikan selain jiwa dan raga kami untuk tanah air ini." jawab yang lainnya.


"tenanglah para tuan-tuan, pangeran masih bertemu dengan Tuan Senopati dan keluarganya. untuk teman-teman atau tuan-tuan yang ingin ikut berperang, silakan pisahkan diri di sebelah kanan. dan untuk tuan-tuan yang tidak terlibat dalam hal ini, dimohonkan untuk segera melakukan perlindungan untuk diri sendiri. itu adalah perintah dari pangeran Mandala dan permaisuri Gayatri." ucap sang pengawal.


setelah pengawal itu selesai berbicara, kini sebagian besar pemuda dan pemudi yang ada di desa lembah lembayun dan sebagian besar para orang tua laki-laki ikut memisahkan diri di sebelah kanan. ternyata desa lembah lembayun cukup antusias mengenai peperangan ini. untuk kekuatan, mereka tidak perlu diragukan lagi. karena selain belajar bagaimana bertani dan bertahan hidup, mereka juga ikut belajar Bagaimana cara melindungi diri sendiri dari marabahaya, dan juga belajar bagaimana cara berperang dan mempertahankan wilayah.


setelah cukup lama para penduduk memisahkan diri, setelah itu pengawal bayangan memerintahkan kepada masyarakat yang tidak ikut andil agar segera kembali dan mempersiapkan kebutuhan mereka. hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga, apabila para musuh memasuki wilayah dengan arah yang tidak disangka-sangka. setelah itu, pengawal bayangan dan para pemuda-pemudi yang ikut berperang bersamanya menyusul pangeran Mandala ke kediaman Tuan Senopati.


***


kini di kediaman Tuan Senopati, semuanya berkumpul di ruang tamu. tanpa Tuan Senopati dan keluarganya sedang merundingkan sesuatu mengenai hal ini.


"bagaimanapun ayah, walaupun aku adalah seorang perempuan, aku akan tetap ikut berperang. tidak ada gunanya kekuatan ini jika tidak digunakan." ucap Gayatri kepada tuan Senopati.


"sayang, Ayah bener Karena melarangmu untuk ikut berperang. aku juga setuju dengan permintaan Ayah dan saudara-saudara yang lain." ucap pangeran Mandala.


"yang mulia pangeran, ayah. kalian tidak bisa melarangku, jika aku tidak bisa ikut di dalam rombongan kalian. maka aku akan berangkat sendiri." ucap Gayatri dengan tenang. tiba-tiba Nyonya diaswari keluar dengan pakaian yang lengkap. di mana semua orang yang ada di ruangan itu juga telah berpakaian baju perang. Tuan Senopati yang melihat istrinya berpakaian lengkap seperti itu langsung membelalakkan matanya.


"Apa yang kamu lakukan istriku, Siapa juga yang akan mengizinkanmu pergi berperang.." seru Tuan Senopati. sungguh kedua perempuan yang sangat ia kasihi sangat keras kepala.


"tidak suamiku, aku sudah bertahun-tahun belajar ilmu kanuragan bersama kalian. saatnya lah aku menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan itu tidak lemah. perempuan juga bisa berperang." ucap Nyonya diaswari dengan dingin kepada sang suami. Tuan Senopati yang melihat tekad dari mata sang istri hanya mampu menempuh jidatnya saja.


"ampun... Ya sudah kalau begitu, tapi kamu harus tetap mengikuti instruksi dariku. Jangan pernah terluka, dan berperanglah dengan elegan." ucap Tuan Senopati langsung menyunggingkan senyum.


"Ya sudah kalau begitu. itu telah diputuskan ayah, kita tidak boleh menunda lagi. pasti yang mulia Raden Wijaya telah menunggu kedatangan kita." ucap Diran kepada sang ayah. sementara saat Tuan Senopati dan adiknya berdebat, ia telah mengirimkan telepati kepada pangeran Arga. pangeran Arga beberapa bulan yang lalu telah kembali ke kerajaannya untuk memimpin membantu kepemimpinan sang ayah.


Iya hanya memberi kabar saja bahwa akan terjadi peperangan antar Kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit. untuk motif penyerangan, mereka semua belum ada yang tahu.


***? bersambung***