
mereka berjalan mendekat kearah mereka bertiga.
tuk
pedang yang ada ditangan salah satu dari mereka, menokokkan sarung pedang nya diatas meja makan mereka. sontak, ketiga nya langsung menghentikan aktivitas makan mereka. saat itu, Diran benar-benar geram terhadap ketiga orang tersebut.
"ternyata masih ada anak semut yang tidak takut dengan keberadaan kita." ucapnya dengan senyum sinis.
mendengar penuturan itu, lagi-lagi membuat Diran naik darah. Iya terus menggerutu di dalam hati, namun ia belum berani bertindak. bukannya tidak ingin bertindak, Ia hanya ingin tidak bersikap semena-mena kepada orang-orang itu. Iya juga tahu mana yang harus ditanggapi dan mana yang harus tidak diperdulikan.
"bukan seperti itu ketua, mereka ketakutan melihat kita. hanya saja mereka terlambat bergerak. hahaha.." ucap yang lainnya. mereka semua tertawa terbahak-bahak menertawakan ketiganya. tapi lagi-lagi mereka tidak terlalu merespon ucapan tersebut. Arga memicingkan matanya ke arah ketiga orang itu.
"maaf tuan-tuan, keberadaan kami di sini bukan untuk mengganggu ketenangan, melainkan untuk menuntaskan kebutuhan biologis kami sebagai manusia, yaitu mengisi perut kami dengan makanan bukan mendengar ocehan tuan-tuan." ucap Arga menyindir sekaligus memprovokasi mereka. penuturan Itu tampak membuat ketua dari komplotan itu memasang wajah sangar.
"kamu berani menyindir kami hah..!!!" ucapnya dengan marah. Iya juga berjalan mendekat ke arah Arga dan menarik leher baju yang dikenakan olehnya. melihat hal itu tentu saja diran sangat marah, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana mereka menindas saudara-saudaranya. ia ingin bergerak membela Arga, tapi Arga dengan segera memberikan isyarat tangan agar Diran tidak melakukan apapun. melihat kode yang diberikan itu, akhirnya Diran mengurungkan niatnya itu.
Iya kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursinya, sementara Gayatri, Iya tampak terlihat tenang dan tidak terusik sama sekali.
"mohon maaf tuan, saya tidak bermaksud menyindir tuan-tuan semuanya. Saya hanya mengatakan fakta yang ada dan yang terjadi di lapangan. jadi tolong tuan-tuan jangan salah paham kepada kami." tutur Arga dengan berusaha memberikan pengertian kepada mereka semua. Tapi tampaknya ketiga dan ketua komplotan itu tidak menerima dengan penuturan yang Arga katakan.
"kamu pikirkan kami orang bodoh.!! kamu pikirkan kami tidak mengetahui maksud dari perkataanmu itu hah!!" seru ketua komplotan itu lagi, Iya juga belum melepaskan cengkraman tangannya di leher baju Arga.
"kalau seandainya memang, Tuan bukan orang yang bodoh. seharusnya Tuhan tidak melakukan hal ini kepada kami. lihatlah para pengunjung dan pemilik rumah makan ini ketakutan melihat kehadiran anda dan cecungut-cacungut yang mengikuti anda." tutur Arga lagi. Iya tampak tenang mengucapkan hal itu. Iya memang sengaja mengatakan hal itu untuk memprovokasi ketiganya.
"kurang ajar!!!" teriak ketua itu lagi. tapi sesaat kemudian ketua yang membuat owner itu langsung terhempas jauh dan membuat sebuah meja di rumah makan itu rusak.
Brak..!!!
Arga langsung berdiri kokoh di depan kedua orang yang tersisa itu. kedua orang tersebut langsung terkejut bagitu juga dengan ketua mereka yang sudah terhempas jauh. mereka merasakan aura penekanan yang dikeluarkan oleh Arga begitu sangat mendominasi. merasakan aura yang sangat mendominasi itu, mereka semua langsung memundurkan langkah mereka serta tak kuasa menahan kuatnya aura penekanan itu.
(sial !! apa kita telah memprovokasi orang yang salah..) batin salah satu dari mereka. mereka terus berusaha berdiri tegak untuk mempertahankan kekuatan serta kesadaran mereka.
(wah !! sepertinya kekuatan ini tidak main-main..) batin Diran mengagumi kekuatan yang dikeluarkan oleh saudara angkatnya itu.
(benar-benar sebuah kekuatan yang sangat langka. sampai-sampai aku bisa membuat mereka bertekuk lutut hanya dengan mengeluarkan aura yang mendominasi ini.) batin Arga. Iya juga memuji kekuatan yang ia keluarkan walaupun kekuatan itu adalah miliknya sendiri.
"hentikan Kak, Kakak bisa membunuh semua orang yang ada di tempat ini. hukum mereka dengan cara lain saja." ucap Gayatri memperingati kakaknya. sontak saja Arga langsung tersadar.
Arga tidak menyangka kekuatan yang ia keluarkan akan membuat semua orang merasa tertekan. Iya juga tidak sadar karena larut dalam pemikirannya sendiri. karena itu, setelah mendengar teguran dari adik angkatnya, Iya langsung menarik auranya kembali. setelah itu ia menghadap ke arah sang adik.
"Maaf Kakak tidak sengaja." ucap Arga dengan merasa bersalah. Arga juga langsung menoleh ke arah semuanya yang ada dan masih bertahan di ruangan itu dan mengucapkan kata maaf.
( kita telah memprovokasi orang yang salah. sebaiknya segera tinggalkan tempat ini saja.) batin salah satu dari mereka. ternyata mereka bertiga sepemikiran, mereka saling menatap serta menganggukkan kepala, setelah melihat kekuatan yang Arga keluarkan, mereka Langsung meminta maaf dan langsung berlari bergegas keluar dan menjauh dari tempat itu.
melihat ketiga orang itu bergegas menjauh dari tempat tersebut, Diran langsung menghembuskan nafasnya berat.
"hah!! tidak seru, seharusnya ada pertarungan dulu baru melarikan diri.ck ck ck.." ucap Diran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Gayatri terkekeh mendengar penuturan sang kakak. ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. Arga sendiri kembali duduk di tempat duduknya.
"hahaha, Aku tidak menyangka ternyata kakak memiliki jiwa seperti itu. Untung saja mereka cepat sadar, kalau tidak mungkin sudah terjadi pertarungan. yang menjadi pertanyaan yaitu, Kenapa mereka harus tersadar..??" ucap Arga dengan pertanyaan absurd seperti itu. Diran terkekeh mendengar penuturan Arga.
"hehehe, Kamu betul. aku juga sangat merasa kecewa karena tertunda untuk mencoba kekuatan ini." bisik Diran kepada Arga. mereka larut dalam obrolan.
beberapa pengunjung rumah makan juga yang belum sempat menyelesaikan makan mereka, mereka kembali masuk ke dalam dan menikmati makanan tersebut serta menghabiskannya. sekali-sekali mereka akan melirik ke arah Gayatri dan kedua saudaranya, mereka juga kasat kusut mempertanyakan status mereka, pasalnya tampilan ketiga orang itu sangat biasa-biasa saja.
"siapakah mereka?? tampilan mereka sangat biasa-biasa saja, tapi sepertinya mereka tidak dapat diremehkan." bisik salah satu pengunjung itu.
"kamu benar, kalau begitu jangan memprovokasi mereka." timpal yang lain.
"Aku tidak yakin kalau mereka berasal dari golongan para bangsawan, masalahnya tampilan dan pakaian yang mereka kenakan sangat sederhana." timpal orang yang lain.
"jangan memandang mereka dari tampilan saja, bisa saja mereka adalah seorang keturunan bangsawan yang sedang menyamar. kita tidak pernah tahu kan..??" ucap satunya lagi. dan masih banyak juga di antara mereka yang kasat kusut membicarakan ketiga bersaudara itu.
***
setelah mereka selesai makan, mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke arah tenggara. bisa saja mereka Langsung beralih mencari padepokan harimau putih. tapi mereka lebih dulu mengutamakan amanah untuk berjalan ke arah tenggara.
Setelah itu mereka pun mulai memulai perjalanan mereka, berjalan ke arah tenggara dengan berjalan mengikuti arah matahari terbenam dari arah barat.
mereka berjalan melewati hutan yang sangat gelap akibat matahari tidak dapat menembus hutan itu. mereka berjalan dengan pelan tapi pasti, mereka juga harus berhati-hati melewati hutan ini, sedikit lagi mereka akan melewati hutan gelang ini, namun di perjalanan, mereka mendengar suara pertarungan sepertinya sangat-sangat sengit.
"tunggu dulu Kakak, Apakah kalian mendengar sesuatu ?" ucap Gayatri kepada kedua kakaknya. mereka semua menghentikan langkah mereka, kemudian memasang telinga untuk mendengarkan hal yang diutarakan oleh Gayatri.
sring sring sring
terdengar suara pedang beradu dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka..
"sepertinya ada yang bertarung, Mari kita lihat." ucap diran kepada kedua adiknya. Mereka pun setuju, mereka bertiga Langsung melompat sebuah pohon yang lumayan tinggi untuk mengamati lingkungan di sekitar mereka.
***bersambung***