
perundingan demi perundingan terus terjadi di antara mereka. bahkan Raja Raden Wijaya begitu sangat antusias mendengar penjelasan dari tuan Senopati.
"begini saja yang mulia, sebaiknya kita ikut melakukan apa yang telah kami terapkan. karena ketika datangnya musibah kekeringan ini, dua yang harus kita jaga yang menjadi sumber kebutuhan kita. yang pertama adalah air, dan yang kedua adalah bahan pangan." ucap Tuan Senopati lagi.
"Jadi kalau menurut dari usulan kami yang mulia, sebaiknya itu yang harus kita persiapkan. untuk lebih rincinya lagi, putriku Gayatri akan menjelaskannya kepada yang mulia." ucap Tuan Senopati lagi.
setelah mengatakan hal itu, Raden Wijaya langsung mengarahkan pandangannya ke arah Gayatri yang kini tengah mengikuti perundingan mereka.
"Bagaimana Nona Gayatri..?? Oh sebelumnya, Saya ingin memastikan sesuatu.. Bagaimana dengan lamaran putraku.." tanya yang mulia Raden Wijaya memerankan suaranya ke arah Gayatri dan Tuan Senopati. seketika raut wajah Gayatri mulai berubah menyemburkan rona-rona merah. yang lain yang ada di sana pun hanya mampu memberikan senyum malu-malu Dan juga berdehem saja.
"hem.. Hem..." suara deheman kedua Kakak Gayatri. mereka juga mengukir senyum menggoda di wajahnya.
sementara pangeran Mandala, mendadak jantungnya berdetak sangat cepat. momen inilah yang ia tunggu. karena ketika mengutarakan niatnya waktu itu, Gayatri tidak atau belum memberikan kepastian apapun.
"yang mulia. hamba dan keluarga hamba adalah rakyat biasa, jika kehadiran kami bisa diterima oleh pihak istana, maka dengan senang hati hamba menerima lamaran dari pangeran Mandala." ucap Gayatri lagi.
"hohoho... berarti kamu sudah fix menjadi calon menantuku." ucap Raden Wijaya dengan senang dan bangga. entah kenapa, Raden Wijaya sangat senang berbesan dengan Tuan Senopati. entah apa alasannya Ia juga tidak tahu.
pangeran Mandala yang mendengarkan penuturan dari Gayatri pun tak kalah bahagianya, pasalnya Ia juga telah mengatakan kepada Gayatri, kalau seandainya mereka bersama disatukan oleh ikatan pernikahan, mereka tidak akan tinggal di istana yang penuh dengan intrik politik. mereka akan lebih memilih tinggal di lembah lembayung dan melakukan kewajiban mereka bekerja di ladang saja.
tak hanya pangeran Mandala dan Raden Wijaya yang senang, bahkan pangeran Sadewa dan ratu madila pun ikut gembira. mereka tentu tak mempermasalahkan Dari mana asal muasal dari menantu mereka, hanya saja memang yang perlu diperhatikan adalah sifat dan pembawaannya.
"kalau begitu, ini patut kita rayakan yang mulia." ucap ratu madila dengan antusias. Iya tak kalah senang dan gembiranya mendengar kabar ini. tapi tiba-tiba pangeran Mandala berdehem mencairkan suasana sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"hem.. hem... bukankah kita sedang membahas mengenai cara menanggulangi musibah kekeringan yang akan terjadi nanti..?? kenapa sekarang malah heboh membahas hubunganku dengan Gayatri." ucap pangeran Mandala tanpa embel-embel nona.
"lagi pula, ini nanti akan menjadi urusanku dengan calon istriku nanti. ayah dan ibu tidak perlu se antusias itu." ucap pangeran Mandala. pangeran Mandala langsung mengarahkan pandangannya ke arah Gayatri yang ternyata juga sedang memandang dirinya.
dengan isengnya, pangeran Mandala mengedipkan sebelah matanya ke arah Gayatri. entah kenapa sifat konyol seperti itu tiba-tiba muncul dalam diri pangeran Mandala.
setelah itu, mereka kembali kepada topik dan pembahasan yang sedang mereka rundingkan. di sini Gayatri mulai memberikan masukan serta beberapa ide-ide yang akan dilakukan untuk menanggulangi bencana kekeringan yang panjang itu.
bahkan Raja Raden Wijaya benar-benar sangat bangga mendengar penuturan dari Gayatri. apalagi semua yang telah Gayatri jelaskan sangat masuk akal di kepala Raden Wijaya. Raden Wijaya juga sangat bersyukur dengan adanya Tuan Senopati dan Gayatri di wilayahnya. dan salah satu yang benar-benar ia syukuri yaitu, Kerajaan Pajajaran yang menolak Gayatri untuk menjadi bagian dari kerajaan itu. kalau tidak mana mungkin Gayatri akan menjadi calon menantunya.
***
hari-hari telah berlalu, kini apa yang diutarakan oleh Gayatri mulai dibangun oleh kerajaan Majapahit.
di bawah komando Gayatri, yang merupakan seorang ahli pertanian dari zaman modern, kini ia memberikan arahan kepada masyarakat yang tengah menanam gandum dan padi.
bahkan selama beberapa bulan mereka mengikuti instruksi darinya, kini tanaman gandum dan padi yang mereka tanam berbuah lebat, bahkan kini saatnya adalah waktu memanen.
setiap masing-masing warga, mereka telah memiliki gudang penyimpanan masing-masing yang tentunya dibangun dengan petunjuk dari Gayatri agar makanan yang disimpan dengan baik itu tidak rusak dan bahkan tidak dimakan oleh serangga-serangga manapun.
bahkan hasil dari pertanian ini cukup sangat sangat memuaskan bagi rakyat dan juga kerajaan itu sendiri. tak hanya lumbung padi yang mereka bangun dan penyimpanan bahan makanan, setiap rumah warga pun dibuat sumur yang mampu menampung air dalam jumlah yang besar.
tak hanya berhenti di perumahan para rakyat biasa, Raden Wijaya juga membangun bendungan untuk menampung air bagi kerajaannya.
Kerajaan Majapahit benar-benar telah mempersiapkan semuanya menjelang bencana kekeringan itu tiba. bahkan lembah lembayung kini tidak henti-hentinya mengeluarkan produksi-produksi pertanian mereka.
yang tentu saja membuat Raden Wijaya benar-benar bersyukur memiliki Gayatri sebagai menantunya. selain bisa membantunya untuk memberikan ide-ide cara penanggulangan bencana kekeringan, Iya juga membantu Raden Wijaya untuk mengembangkan hasil pertanian masyarakatnya.
"ayahanda sangat sangat bersyukur dengan keberadaan Gayatri di kerajaan kita. ayahanda pasti akan memberikan dia hadiah, bukan sogokan melainkan rasa syukur karena keberadaannya di sini. kalau bukan karena ide yang diberikan oleh Gayatri serta bimbingannya dalam bidang pertanian, kita pasti akan kelimpungan menghadapi bencana yang mungkin sebentar lagi akan terjadi." ucap Raja Majapahit itu.
bukan yang mungkin sebentar saja akan terjadi, bahkan tanda-tanda adanya musim kekeringan itu sudah terlihat. walaupun Kerajaan Majapahit masih belum merasakan dampaknya, namun tanda-tandanya sudah sangat terlihat. tapi itu bukanlah menjadi sebuah kekhawatiran bagi mereka, karena walaupun hanya baru menunjukkan tanda-tanda saja, saat ini mereka masih bisa memanen hasil pertanian serta masih hidup dengan baik.
"Ayah tidak perlu saya sungkan itu kepadanya. aku tahu Tuan Senopati dan keluarganya adalah orang yang berhati lapang, bahkan di desa lembah lembayung itu punya peraturan dan adat istiadat sendiri. dan yang perlu Ayah ketahui, Aku ingin menikah dengannya segera.." ucap pangeran Mandala yang sukses membuat Raden Wijaya membulatkan matanya. Iya benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan sang anak, yang benar-benar buru-buru. namun ia tidak keberatan sama sekali, menurutnya lebih cepat lebih baik.
"Apa kau serius dengan ucapanmu putraku. Aku ingin kamu mendalami hatimu, Jangan karena kamu menginginkan Gayatri karena sudah memberikan atau karena pengetahuan intelektualnya." ucap Raden Wijaya memberikan peringatan kembali kepada putranya.
"ayah, aku bukanlah seorang pangeran yang akan mencintai seorang perempuan hanya dengan wawasan dan intelektual yang ia miliki, aku juga bukan seorang pangeran yang mencintai seorang perempuan Karena kecantikan parasnya. tentu saja Ayah lebih mengenal siapa diriku." ucap pangeran Mandala dengan penuh keyakinan kepada ayahnya.
Ya tentu saja, sejauh yang Raden Wijaya tahu mengenai Putra pertamanya ini, Iya tidak pernah bermain hati atau mencintai perempuan karena sesuatu. Iya lebih jujur dari hatinya sendiri, ia akan mencintai perempuan apabila perempuan itu mencintainya juga. tentu saja itu murni dari rasa suka atau saling suka.
"Baiklah kalau begitu, ayah akan segera menemui Tuan Senopati untuk membicarakan keberlangsungan pernikahan kalian nanti. tidak perlu menunggu lama, karena ayah dan ibu juga sudah tidak sabar ingin meminang cucu hehehe..." tutur Raden Wijaya. pangeran Mandala yang mendengarkan penuturan sang ayah hanya mampu memutar bola matanya malas.
ia ingin menikah dengan Gayatri bukan karena ingin cepat-cepat memiliki keturunan. pangeran Mandala ingin cepat-cepat menikah dengan Gayatri agar cepat-cepat memilikinya, ia ingin memiliki Gayatri tanpa harus sembunyi-sembunyi, karena Gayatri telah menjadi miliknya seutuhnya.
pangeran Mandala dan Raden Wijaya Putra duduk di balkon istana hanya berdua saja, tentu saja seorang laki-laki yang disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan istana membutuhkan refreshing sejenak untuk melepas lelahnya. itulah yang sedang Raden Wijaya lakukan bersama dengan pangeran Mandala.
"baiklah, itu terserah Ayah saja. Mandala hanya menginginkan Gayatri cepat menjadi milik Mandala saja..";ucap pangeran Mandala kepada ayahnya lagi.
***bersambung***