MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
73. buah yang manis


Gayatri terus mengamati pohon kurma itu sambil menunggu jawaban dari sang pemilik. sementara pemuda yang mengurus pohon itu menjadi bingung. pasalnya Ia juga tidak tahu pohon tersebut.


"Maaf sebelumnya nona. Apakah Nona mengenal pohon ini..??" tanya pemuda itu kepada Gayatri. Gayatri langsung mengarahkan pandangannya kepada sang pemuda.


"maksud Anda tuan muda..?? pohon ini kan milik anda..??" tanya Gayatri lagi. Iya heran, padahal pohon kurma ini tumbuh di pekarangan atau tanah yang ia garap, tapi kenapa ia tidak mengenali pohon kurma ini.


"begini nona. semenjak saya datang ke tempat ini, dan memutuskan untuk membuka lahan ini. Saya melihat 10 batang pohon yang belum pernah saya lihat, pohon ini tidak sengaja saya terbang karena pohon ini tengah berbunga. saya pikir pohon ini sudah berbuah, jadi Saya memutuskan untuk tidak menebangnya. namun saya tidak tahu pohon-pohon yang asing ini." ucap pemuda itu lagi.


"Oh iya nona, tolong jangan panggil saya tuan muda lagi. perkenalkan nama saya adalah Mandala.."; ucap pemuda itu yang ternyata bernama Mandala. ia memperkenalkan dirinya kepada Gayatri. Gayatri pun tersenyum dan ia pun kembali memperkenalkan dirinya kepada Mandala.


"Anda juga jangan memanggilku nona, panggil saja aku Gayatri." entah kenapa perasaan Gayatri menjadi akrab kepada pemuda ini. Jujur saja, Gayatri tidak pernah melihat latar belakang seseorang jika mau menjadi temannya atau orang yang dekat dengannya. asalkan dia baik dan pengertian serta perhatian, maka itu sudah lebih cukup bagi Gayatri.


"Baiklah Nona gaya, salam kenal.." ucap Mandala lagi. Sementara Pak tilam hanya diam dan melihat interaksi keduanya. sebagai seorang yang sudah berpengalaman dengan hal ini, Iya tentu melihat kecenggungan diantara kedua muda-mudi ini. namun Pak tilam hanya diam tanpa mengatakan apapun.


"Oh berarti kamu belum tahu nama pohon ini." ucap Gayatri lagi. Mandala pun langsung menganggukkan kepalanya.


"maka kenalkan, nama pohon ini adalah kurma dan pohon yang berbuah bulat-bulat itu juga namanya adalah pohon lengkeng. dua buah ini sangat enak dan manis. dan jikamu Tuan mengizinkan buah-buahan ini sudah siap untuk dipanen loh.." ucap Gayatri lagi memberitahu kepada Mandala bahwa buah-buah asing di matanya itu sudah siap untuk dipanen.


"Oh begitukah nona... Kalau begitu mari kita panen sambil kita mencoba rasanya. saya juga penasaran dengan rasa buah ini.." kali ini yang menyeru bukanlah Mandala melainkan Pak tilam yang terus mengikuti alur percakapan mereka.


penuturan Pak tilam itu pun langsung diangguki oleh Mandala. Iya juga setuju, pasalnya Ia juga penasaran kepada buah-buahan ini. dulunya ia ingin mencoba memakannya, Namun karena tidak mengenal pohon dan buah ini, ia mengurungkan niatnya untuk mencobanya.


setelah mendapatkan izin dari sang pemilik pohon kurma dan lengkeng ini. tanpa pikir panjang Gayatri langsung memanen kedua buah-buahan ini dan dibantu oleh Mandala serta Pak tilam.


setelah selesai memanen, Gayatri dan kedua lelaki yang berbeda usia itu langsung duduk bersila di atas rerumputan yang kering dan mulai mencoba buah-buahan yang mereka petik cukup banyak.


dan saat buah itu menyapa indra perasa mereka, mereka cukup terkejut. ternyata benar buah ini sangat sangatlah manis.


"buah ini sangat enak nona..." seru Mandala dan diangguki oleh Pak tilam.


"Oh iya. kapan akan ada orang yang ke pasar dekat pemukiman kita, biar buah ini dijual saja. pasti sangat laris." tutur Gayatri. Mandala dan Pak tilam pun saling memandang. awalnya mereka tidak yakin akan menjual buah ini karena banyak yang tidak tahu mengenai buah ini. namun menurut mereka memang tidak ada salahnya untuk dicoba terlebih dahulu.


"maaf Nona, tapi kita keterbatasan angkutan untuk mengangkut hasil ladang para warga yang ada di sini." ucap Mandala. Gayatri tersenyum.


"tidak apa-apa. di padepokan ada 5 kereta kuda, jadi nanti aku akan sampaikan kepada ayah untuk dijadikan sebagai salah satu angkutan mengangkut barang-barang para warga yang ingin berjualan ke pasar nanti." ucap Gayatri.


Pak tilam dan Mandala cukup merasa takjub kepada Gayatri. Mandala yang sudah mengetahui kisah para warga di sini ikut memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan oleh keluarga Gayatri terhadap orang-orang yang diperlakukan sebagai budak ini.


Mandala juga tidak menyangka, sekian lama ia mengembara, tak pernah Iya temukan satu keluarga yang berhati tulus mau membantu orang lain tanpa memandang strata maupun kedudukannya.


(kenapa aku merasakan perasaan asing dalam hatiku. perasaan apa ini...) batin Mandala dengan penuh keheranan. tapi ya sudahlah, mungkin itu hanya perasaan yang tiba-tiba mungkin muncul saja.


tak lama mereka selesai mencicipi buah-buahan itu. sementara buah-buahan yang mereka panen masih cukup banyak.


"nona, Bagaimana buah-buahan yang lain kita bagikan kepada para warga di sini. biar kita sama-sama merasakan manisnya buah-buahan baru yang ada di desa kita." ucap Mandala memberikan usul. Gayatri mengganggu anggukkan kepalanya.


"Aku bukan pemilik dari buah-buahan ini tuan muda. semuanya adalah kehendak dari tuan muda sendiri. jika ingin membagikannya kepada warga yang ada di sini, maka silahkan saja. tapi jika tidak, itu juga adalah hak Anda tuan Mandala." ucap Gayatri kepada Mandala.


akhirnya Mandala membuat keputusan. Iya membagi-bagikan buah-buahan itu kepada warga setempat. bahkan warga-warga yang ada di sana memang saling bahu-membahu, mereka juga memiliki tingkat sosial yang tinggi. mereka mengabaikan strata atau adanya tingkat kedudukan di zaman ini. karena mereka berkiblat pada Tuan Senopati yang selalu memperlakukan orang dengan kedudukan yang sama dengannya.


***


sementara Gayatri, setelah kembali dari pemukiman para warga yang tak jauh dari padepokannya, Iya kembali dengan menenteng buah kurma dan buah lengkeng di tangannya.


"ayah ibu, Kakak aku pulang...!!" teriak Gayatri ketika sudah berada di depan pintu gerbang padepokan mereka.


semua yang mendengarkan teriakan Gayatri langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Begitu juga dengan kaum muda-mudi yang sedang berlatih ilmu bela diri di halaman padepokan.


"ups Maaf ya aku mengganggu latihan kalian... Tapi sebaiknya kalian istirahat sebentar, mari cicipi buah-buahan ini dulu." ucap Gayatri sambil meletakkan buah lengkeng dan buah kurma di atas lantai atau pondok kecil di sana. tak lupa juga Gayatri mengantarkan buah-buahan itu untuk ayah dan ibunya.


"ayo silakan dimakan. tidak perlu sungkan, pastikan semuanya dapat bagian." ucap Gayatri kepada mereka semua.


"terima kasih nona..!!" ucap mereka dengan serentak. Gayatri pun tersenyum dan setelah itu meninggalkan murid-murid padepokan di sana. Iya masuk ke dalam rumah untuk mencari dan menemukan kedua orang tuanya.


"ayah ibu." sapa Gayatri kepada keduanya. Tuan Senopati dan nyonya diaswari pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Gayatri. terlihat Gayatri pulang dengan menenteng buah-buahan yang sangat aneh menurut mereka.


"kamu sudah pulang nak..?? apa yang kamu bawa..??" tanya Nyonya diaswari kepada putrinya. Gayatri pun langsung meletakkan buah-buahan itu di atas meja.


"ayo ayah dan ibu cicipi buah-buahan ini.. ini dijamin sangat-sangat enak..." ucap Gayatri sambil mengekspresikan rasa enak buah itu. tanpa pikir panjang kedua orang tua Gayatri pun langsung mengambil dan mencoba buah itu.


saat buah itu menyapa indra perasa mereka, mata mereka Langsung membulat sempurna. pasalnya buah-buahan ini begitu manis.


***


di tempat lain, di sebuah hutan yang tidak jauh tempatnya dari padepokan Gayatri. terlihat lima kelompok yang sudah dibagi-bagi sedang berlatih bersama dengan pelatih mereka. tentu saja itu adalah tim-tim yang dibentuk oleh Gayatri dan dikomandoi oleh kakak-kakaknya. namun Gayatri tak lepas tangan, Iya juga ikut andil untuk melatih anak-anak buahnya itu.


***bersambung***