MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
66. kebenaran II


orang-orang yang hadir di ruang tamu itu menyesap minuman mereka yang telah disajikan oleh mbok Nining. Setelah itu mereka semua kembali hening, untuk mendengarkan cerita dari tuan chandragupta. tadi mereka sempat kesal karena candaan sang guru.


"baiklah, akan Ayah ceritakan. sekaligus akan memberikan amanah kepadamu." ucap tuan chandragupta. semua nya sudah menyiapkan indra pendengaran mereka dengan baik. Tuan chandragupta memulai ceritanya.


bahwa sebenarnya ia tidak meninggal. semua berita kematiannya hanya dimanipulasi olehnya dengan mengirimkan mantra ilusi kepada beberapa orang yang mengenali dirinya termasuk kepada murid-muridnya.


Tuan candragupta juga menceritakan bahwa sebenarnya Ia melakukan pelatihan tertutup sampai akhirnya mencapai tingkat yang lebih tinggi, sehingga tempat tinggalnya bukan lagi di dunia fana melainkan di dunia atas.


"lalu bagaimana dengan token yang kakek titipkan kepada kak Diran??" tanya Gayatri dengan penasaran. mereka juga menganggukkan kepala mereka dengan setuju. Tuan chandragupta tersenyum dan melihat ke arah salah satu muridnya.


"anak ku hardiyata, kakek berikan urusan penjelasan itu kepadamu.." ucap Tuan candragupta. hardiyata adalah sosok yang sangat teliti dan dapat mengenali dan membedakan barang-barang dan juga raut wajah manusia.


hardiata yang mendengarkan penuturan dari sang guru langsung mendekat.


"saya guru..." ucap hardiata dengan menganggukkan kepalanya sedikit. kemudian ia langsung meminjam token yang ada pada Diran dan Tuan Senopati.


di sana hadiata mulai mengamati kedua benda itu, cukup lama ia mengamati benda tersebut dan akhirnya dua-duanya tidak ada perbedaan.


"maafkan anak ini guru. menurut pengamatan saya, kedua benda ini tidak ada yang berbeda sama sekali." ucap hardiata menjelaskan. Tuan chandragupta pun kembali terkekeh. penilaian hardiata memang tidak akan salah.


"Token itu memang tidak ada perbedaan, jelas itu adalah token asli dan yang sama. hanya Kakek sengaja memberikan nya kepada kakakmu. karena itu adalah bawahannya. kamu tau maksud kakek..??. token yang kamu pegang itu berwarna emas pekat. di mana tambuk kepemimpinan padepokan ada di tanganmu. sementara untuk Diran. Token itu juga merupakan salah satu media untuk mengobati luka yang ada pada kolam spiritualnya. di mana saat Token itu menempel padanya tanpa penghalang, maka di sanalah kekuatan Diran berasal. sementara untuk anak angkatmu, Dia adalah seorang pangeran yang memiliki tanggung jawab besar di atas punggungnya. karena itu aku membekalinya ilmu yang sesuai untuk nya, karena itu tidak bermanfaat untuknya. saat pelatihan waktu itu, aku hanya membekali anak angkat mu dengan ilmu. penajaman panca indra, agar ia dapat memprediksi keadaannya. aku juga membekalinya dengan ilmu berpegang, tingkat tinggi dan juga ilmu taktik dalam kepengurusan dan kepemimpinan nya nanti. karena seorang raja tentu harus memiliki kekuatan yang lebih tinggi ketimbang bawahannya. namun untuk saat ini, kekuatan itu masih berlatih di dalam kolam spiritualnya. karena itu dulu kakek mengingatkan kalian berdua agar tidak berhenti melatih tubuh kalian." jelas tuan chandragupta dengan panjang lebar kepada cucu-cucunya. Gayatri yang namanya tidak disinggung Langsung angkat suara.


tuan Senopati dan nyonya diaswari terkejut mendengar latar belakang dari anak angkat mereka. begitu juga dengan mereka semua. Diran menerka nerka, dari mana kakeknya tau tentang latarbelakang pangeran Arga. sementara mereka belum menceritakan apapun.


tentu saja Tuan chandragupta tahu, karena waktu itu ialah yang menolong pangeran Arga ketika sedang dikejar untuk dilenyapkan. Iya juga yang mengantarkan Arga ke gubuk Tuan Senopati waktu itu.


"lalu Bagaimana denganku kek. kakek tidak mengatakan apa-apa untukku." ucap Gayatri tidak mau kalah. Tuan chandragupta pun kembali terkekeh.


"untukmu cucuku yang cantik. tidak ada yang perlu diragukan dalam tubuhmu. namun kamu juga harus berlatih untuk meningkatkan kekuatanmu. dan untuk kalian semua, karena waktuku tidak banyak. " nasehat nya.


"tunggu dulu kakek, dari mana kakek tahu kalau aku adalah seorang pangeran..??" tanya Arga mengeluarkan rasa penasarannya. chandragupta yang mendengarkan aturan dari Arga itu tersenyum.


"tentu saja aku tahu, waktu engkau dikejar-kejar oleh para pembunuh bayaran itu, aku yang telah menyelamatkanmu dan membawamu ke gubuk putraku. saat kamu tidak sadarkan diri, aku tidak sengaja menemukan token MU dan melihat Siapa dirimu sebenarnya. jadi cucuku, jadilah kuat untuk mengembalikan kerajaanmu kembali." ucap chandragupta menasehati pangeran Arga di akhir kalimatnya.


pangeran Arga yang mendengarkan kebenaran itu sangat berterima kasih. Iya juga bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Tuan Senopati dan keluarganya. dia juga berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia akan berlatih dan menjadi kuat untuk melindungi kerajaannya sekaligus membantu melindungi padepokan yang mungkin akan berpindah kepemimpinan."


"terima kasih banyak kalau begitu kek. sungguh aku sangat bersyukur dengan kejadian yang menimpaku. kalau bukan karena kejadian ini, Aku tidak akan bertemu dengan kakek dan juga keluarga angkatku." ucap Arga sambil matanya terus berkaca-kaca. pipi-nya juga memerah karena menahan agar air matanya tidak menetes.


"jika ada kesempatan, kita akan bertemu lagi." ucap tuan candragupta dengan suara yang menggema di udara. semua yang ada di ruangan itu pun hanya mampu menundukkan kepalanya dengan perasaan tak menentu. mereka tidak menyangka, orang yang begitu mereka rindukan ternyata sudah menjadi yang terkuat dan sudah menjadi dewa.


hm...


seseorang berdehem memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka semua. karena mendengar suara itu, perhatian mereka jadi teralihkan. ternyata yang melakukannya adalah nyonya diaswari.


"anak-anakku, suamiku. kalian jangan terpuruk seperti itu. ingat kamu bukan lagi orang biasa. kini kamu telah memimpin sebuah padepokan, dan artinya kamu adalah Ayah untuk ke-13 anak-anakmu. dan kalian anak-anakku semuanya, janganlah kalian merasa sungkan kepada kami. hiduplah dengan baik, karena orang baik itu disayang orang banyak."tutur nyonya diaswari. Iya berharap anak-anaknya akan paham dengan nasehat yang sedikit ini. Tuan Senopati pun menarik nafasnya dengan dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Baiklah kalau begitu. untuk kalian, kalian tinggallah bersama kami. setelah urusan di sini selesai, kita semua akan kembali ke padepokan. dan untuk kalian yang 10 orang, jangan memanggilku guru. tapi panggillah aku dengan panggilan ayah. dan panggillah juga istriku dengan sebutan ibu." ucap Tuan Senopati. kesepuluh pemuda yang mendengar bahwa mereka telah memiliki orang tua angkat, tentu saja membuat mereka sangat senang.


mereka adalah anak-anak yatim yang ditelantarkan oleh kedua orang tua mereka, ada juga kedua orang tua mereka terbunuh karena melindungi mereka. mereka menangis terharu mendengar penuturan Tuan Senopati. pasalnya selain guru mereka chandragupta, selain itu mereka tidak dapat kasih sayang dari siapapun.


"Baiklah Ayah kami mengerti... terima kasih sudah menganggap kami bagian dari keluarga ayah dan ibu serta saudara-saudari." ucap ke 10 pemuda itu dengan senang hati. setelah itu suasana rumah kembali normal, di mana Di sana dipenuhi dengan canda tawa. mereka membahas hal-hal penting mengenai padepokan dan bagaimana rumah makan mereka kedepannya.


***


tak terasa sebentar lagi akan ada turnamen di kerajaan Majapahit ini. selama dua minggu ini pula, kelompok Gayatri selalu berlatih dan memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka. mereka juga tak segan-segan berlatih seperti latihan militer. dan yang mengajari mereka tentu saja Gayatri. walaupun Gayatri tidak paham sepenuhnya tentang kemiliteran, namun untuk pelatihan seorang militer, Gayatri tahu. karena semasa di zaman modern, Iya sangat rutin melihat video-video para tentara yang sedang dilatih.


"sudah cukup anak-anak. sekarang cepat kemari dan habiskan minuman kalian. Ibu yakin, kalian semua pasti akan memenangkan pertandingan itu." ucap Nyonya diaswari sambil menatap cemilan dan minuman di atas meja di belakang kediaman yang besar itu.


"baik bu.." ucap mereka semua. Setelah itu mereka semua menghentikan latihan, dan mendekat ke arah meja di mana Di sana cemilan dan minuman sudah tertata dengan baik. satu persatu dari mereka mulai mengambil minuman yang tertata itu, dan sekali teguk minuman itu telah habis oleh mereka.


"di mana ayah Bu...??" tanya gentala kepada nyonya diaswari. Nyonya diaswari tersenyum melihat anak-anaknya.


"ayahmu sedang berada di toko." ucap nyonya diaswari. gentala melihat ke arah sang Ibu angkat.


"loh kok Ayah pergi sendiri..?? bukannya tadi sudah berjanji akan mengajak gentala. dasar si Ayah kebiasaan..." ucap gentala dengan kesal. Nyonya diaswari pun tersenyum melihat gentala mengambek.


"Jangan mengambek seperti itu nak.. Ayah tidak ingin mengganggu latihan kalian. karena ayah tahu, tentang keinginan kalian untuk ikut dalam turnamen." ucap Nyonya diaswari. semua yang ada di sana pun kembali hening.


"Baiklah kalau begitu Bu, setelah selesai latihan kami akan segera ke kedai untuk membantu ayah." kali ini Guntur yang bersuara. entah kenapa ia merasa khawatir terhadap Ayah angkatnya itu.


"kamu bener gun. Kakak juga merasa khawatir kepada ayah. nanti kita akan pergi sama-sama." ucap Diran dan dibalas anggukan kepala oleh, Arga, aji dan Abimana serta Gentala. sebenarnya semuanya ingin pergi menyusul sang ayah. namun mereka juga tidak ingin meninggalkan Nyonya diaswari sendirian di rumah besar itu, walaupun masih ada pelayan di sana.


***bersambung***