MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
43. gosip


setelah mendengar nasehat itu, ketiga saudara itu saling memandang. tentu saja mereka tau dengan konsekuensinya.


"ingat, segera berjalan kearah tenggara. manfaatkan setiap kesempatan, selalu rendah hati, dan tetap bersaudara layaknya sedarah. kalau begitu, kakek pamit." ucap kakek tua itu dan langsung menghilang dari pandangan mereka.


"kakek tunggu..!!" seru badiran. tapi kakek tua itu telah lenyap bersama dengan hembusan angin. badiran memasang tampang bingung. ia baru ingat, wajah itu seperti tidak asing baginya.


( siapa Kakek tua itu, kenapa rasanya, wajah begitu akrab.) batin Diran, ia larut dalam pikirannya sendiri. sampai sampai ia tidak menyadari kalau Gayatri memanggil namanya.


puk..


Arga langsung menepuk pundak Diran yang masih melamun. sontak Diran langsung tersadar. ia langsung menoleh kearah saudaranya.


"ada apa ran..??" tanya Arga. ia menatap saudara angkatnya itu. ia langsung melihat mereka secara bergantian.


"tidak apa-apa, hanya saja, wajah Kakek tua itu, sepertinya sangat akrab dengan parasnya. tapi, aku tidak tau pernah melihat wajah itu dimana." ucapnya menjelaskan apa yang ia rasakan.


Gayatri tersenyum melihat kebingungan yang tampak dari wajah kakaknya itu. kemudian ia berjalan mendekat.


" kakak benar, Kakek tua itu adalah Chandra Gupta, ayah dari ayah, yang berarti adalah kakek kita." ucap Gayatri menjelaskan. mendengar penuturan itu membuat Diran dan Arga terkejut. namun, Arga terkejut karena, yang melatih kekuatan kolam spiritual mereka adalah Kakek Gayatri dan Diran.


katerkejutan Arga ternya berbeda dengan keterkejutan Diran. pasalnya, Diran sudah tau, kalau Kakek nya itu benar adalah orang hebat, seorang pendekar yang tidak bisa di kalahkan, tapi kakek mereka telah meninggal dan itu sudah bertahun-tahun lamanya, tapi kenapa tiba-tiba Kakek mereka muncul disini.


"maksudnya bagaimana dek,?. kakak tidak mengerti,.. bukankah..." ucapannya ia gantung. Gayatri menganggukan kepalanya.


"kakak benar, tapi yang tampak di depan mata kita juga benar." ucapnya. kemudian Gayatri mulai menceritakan seperti apa perjalanan kakek mereka, semua yang ia dengar dari kakeknya itu ia ceritakan, kecuali tentang jiwanya yang berasal dari dunia modern.


mendengar cerita Gayatri, Diran langsung mengerti, kemudian ia mengangguk tanda mengerti.


"jadi seperti itu.." Ucapnya.


"sudah.. kesampingkan dulu masalah itu, sekarang, apa lagi yang harus kita lakukan. apakah kita akan ketenggara." ucap Arga menimpali ucapan mereka. mereka bertiga saling memandang.


"tentu kakak. kita akan menjelajah, walaupun kita sudah mendapatkan ilmu dari Kakek. tetap saja, Kakek memerintahkan kita untuk ketenggara. maka kita akan kesana." ucap badiran. Arga dan Gayatri mengangguk.


"baiklah.." ucap mereka serentak. setelah itu, mereka langsung meninggalkan tempat itu setelah memanen berbagai macam herbal yang ada di sana.


***


kini mereka telah tiba disebuah pemukiman warga yang sangat ramai. mereka bertiga memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah rumah makan yang ada di sana.


"permisi mbak, pesan nasi dan lauk nya mbak, tiga ya.." ucap Gayatri kepada pelayan yang ada disana.


"baik Tuan dan Nona, mohon tunggu sebentar." ucap pelayan itu. Gayatri menganggukan kepalanya.


"baik mbak.." setelah itu, pelayan tersebut langsung meninggalkan meja itu dan menyiapkan pesanan mereka.


Gayatri dan kedua saudara nya yang mendengar hutan kabut disebut. mereka hanya saling memandang saja, dan mendengarkan lebih lanjut.


Sejujurnya, mereka juga masih penasaran dengan cerita hutan kabut itu, walaupun mereka sudah memasukinya, tapi tetap saja mereka masih penasaran.


" kata orang, hutan kabut itu memang tidak bisa di terobos. pasalnya, jika orang itu memaksa, maka ia akan kembali dengan pikiran yang sudah tidak waras lagi, atau bisa saja menghilang tanpa jejak." sambung orang itu lagi. lagi-lagi, ketiga bersaudara itu memandang satu sama lain, tapi mereka tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun. tak lama, pesanan mereka datang.


"silahkan pesanannya tuan dan Nona." ucapnya menyerahkan pesanan mereka.


"terimakasih mbak.." ucap mereka. setelah itu, ketiga pun mulai menyantap makanan mereka.


"kalian tau tidak..?? menurut cerita yang saya dengar, hutan kabut itu, ada kaitannya dengan hilangnya padepokan harimau putih di daratan ini. semenjak kejadian itu, maka hutan kabut itu muncul. saya rasa, seperti hutan kabut itu memang ada hubungannya dengan itu." ucap mereka lagi. lagi-lagi mereka mendengar percakapan itu, dan saling memandang. sesekali Arga akan menoleh kearah orang orang itu.


"mungkin saja. tapi aku kurang yakin, masalah nya, kita tidak tau apa yang terjadi dengan perguruan itu." timpal yang lain.


"kamu benar. tapi sekilas aku mendengar kabar, bahwa tetua dari perguruan harimau putih itu sangat hebat, dan juga dia adalah orang dermawan." ucap yang lain.


"darimana kamu tau..??" tanya yang lain.


"eh.. tapi, menurut cerita ni, padepokan harimau putih itu adalah padepokan yang sangat disegani di daratan ini. sehingga, banyak, padepokan-padepokan lain merasa tersaingi. sehingga banyak yang mengincar tetua dari padepokan itu, sampai akhirnya insiden pembantaian massal itu terjadi."


(pembantaian..?? kakek tidak pernah menceritakan tentang itu, bukannya padepokan itu hilang di daratan ini karena para murid padepokan berpindah.?? sepertinya ada yang tidak beres..) batin Gayatri Setelah mendengar cerita dari orang orang itu.


"ha..!! masak sih..!! barangkali seperti itu. tapi, memangnya kamu tau guru yang mengajar ilmu bela diri di padepokan itu.?" tanya yang lain. ternyata orang itu hanya mengangkat bahunya saja. Gayatri dan kedua saudaranya yang menyimak dari tadi pun menghela nafasnya.


(sepertinya mereka hanya mengada-ada saja.) batin Gayatri.


Brak..!!!


terdengar suara benturan dari beberapa orang yang masuk dalam rumah makan itu. tampak, tiga orang berdiri dengan memasang wajah ganas. beberapa orang menjadi ketakutan saat melihat mereka, dan juga melarikan diri. tapi tidak dengan ketiga bersaudara itu.


(lagi..) batin Diran. ia benar-benar jengah melihat hal itu. pasalnya, ia pernah merasakan ketakutan seperti itu, dimana waktu itu, hal seperti ini terjadi. namun ia segera mengabaikan kejadian itu.


sejujurnya, ia sangat kesal dengan para pengganggu ini. tapi ia berusaha untuk tidak peduli, agar tidak menimbulkan masalah. yang penting mereka tidak di singgung.


Gayatri dan Arga juga sama sekali tidak memperdulikan hal itu. mereka terus menikmati makanan mereka.


sementara, sebagian besar pengunjung rumah makan itu sudah pada keluarga dan pergi dari sana. ketiga orang itu tersenyum remeh, ketika melihat ketiga bersaudara itu tidak bergeming sama sekali. mereka fokus dengan makanan mereka.


"cih.!! dasar anak tikus. pura-pura tidak melihat keberadaan kita." ucap salah satu dari mereka.


(anak tikus...? kurang ajar, dia pikir, dia itu anak kingkong) batin Gayatri. dia tidak terima dibilang anak tikus. se enak jidatnya saja.


***bersambung***