MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
22. mencari toko yang akan dijual


setelah mereka meninggalkan tempat itu, mereka langsung berjalan menyusuri pusat kota untuk mencari tokoh yang di sewakan oleh pemiliknya. mereka berjalan, dan bertanya kepada beberapa orang yang ditemui dan bertanya. cukup lama mereka berjalan, akhirnya dengan tidak sengaja, mata Gayatri melihat sebuah tokoh yang sudah agak usang di pusat kota, dengan label di jual. Gayatri tersenyum hangat.


"Kakak coba lihat di sebelah sana, di sana ada toko yang dijual oleh pemiliknya." ucap Gayatri menepuk pundak Diran dengan pelan. Diran yang pundaknya ditepuk oleh adiknya itu pun menoleh, ya langsung mengarahkan pandangannya ke arah tangan yang mengulur itu, Iya langsung mengikuti arah uluran tangan tersebut.


"gaya rasa itu sudah cukup kak, nanti toko itu bisa kita renovasi ulang. yang pasti kita mendapat tempat strategis saja dulu." ucap Gayatri sambil memandangi kakaknya. sementara Diran fokus pada bangunan tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui pemiliknya." ucap Diran. tanpa berpikir dan menunggu lama kedua bersaudara itu pun langsung menuju tempat di mana sebuah gedung telah di labeli dengan papan penjualan. sesampainya mereka di depan tokoh tersebut. kedua bersaudara itu langsung disambut oleh sang pemilik toko yang melihat kedatangan mereka.


"selamat datang den, Apakah ada yang bisa saya bantu..??" tanya pemilik seorang paruh baya menghampiri mereka. Gayatri dan Diran mengarahkan pandangannya ke sana ke mari mengamati bangunan tersebut.


"bapak, Apakah bangunan ini akan dijual..??" tanya Diran mencoba untuk bernegosiasi kepada pemilik toko yang akan dijual itu. Gayatri yang semula mengedarkan pandangannya ke sana ke mari mengamati bangunan tersebut, Iya kemudian mendekat ke arah sang kakak dan mengikuti obrolan kedua orang tersebut.


"iya den, saya menjual bangunan ini. Apakah Aden mau membeli bangunan usang yang sudah lapuk ini.. saya juga sangat berharap Aden bisa membeli bangunan ini walaupun dengan harga murah." Ucap pak tua itu. Gayatri memandangi wajah keriput sang penjual toko.


"Kenapa Tuan ingin menjualnya..??" tanya Gayatri. menurut pengamatan Gayatri, sepertinya tuan tua ini sedang mengalami kesulitan.


"Saya membutuhkan uang untuk pengobatan istri dan anak saya. istri saya sedang sakit akibat gigitan seekor ular yang tidak langsung ditangani. sementara anak saya, Ia membutuhkan obat untuk bertahan hidup." ucap Tuan tersebut. raut wajahnya benar-benar membuat orang menjadi prihatin. kedua saudara ini pun saling memandang satu sama lain mencoba menjawab atau persetujuan dari keduanya.


"kalau begitu, bapak akan jual berapa bangunan ini..??" tanya Gayatri kepada tuan tua itu.


"sebelumnya Saya berencana memberikan dan menjual gedung ini seharga 10 tail emas, namun tak ada satupun orang yang mau membeli sampai akhirnya kondisi bangunannya seperti ini. jadi saya serahkan kepada tuan dan Nona berdua, tuan dan Nona ingin membeli toko saya berapa pun akan saya terima." ucap tuan tua itu dengan putus asa. pasalnya tokoh tersebut sudah lama dipasangkan papan penjualan, tapi karena tidak ada yang berminat untuk membeli toko tersebut, sehingga toko itu menjadi usang dan tak terurus.


Diran yang mendengar harga tokoh yang dijual itu menjadi sangat terkejut. pasalnya mereka hanya memiliki uang pas-pasan. jika seandainya mereka membeli toko ini, Diran takut uang mereka tidak akan cukup untuk membelikan peralatan untuk mengisi toko tersebut. Diran menatap sang adik, Iya berharap adiknya dapat mengulurkan niatnya untuk membeli toko tersebut. karena tidak mungkin mereka mengeluarkan 5 tail atau pun satu tail emas.


"Baiklah kalau begitu, tokoh tuan kami beli. namun harga yang akan saya berikan yaitu, 15 tail emas." ucap Gayatri tanpa beban. sontak saja penuturan yang tidak bersalah seperti itu membuat Diran tersendak salivanya sendiri. Ia berfikir, Kenapa harganya melebihi dari harga yang telah pemilik ini tetapkan sebelumnya.


"dek, tapi.." ucap Diran terpotong karena melihat Gayatri mengeluarkan satu kantong yang berisi tail emas di dalamnya.


"di sini ada 15 tail emas. silakan Tuan ambil.." ucap Gayatri langsung menyerahkan kantong yang berisi tail emas itu. Diran dan pemilik toko tersebut ternganga, pasalnya satu tail saja sudah sangat sulit mereka dapatkan. apalagi melihat penampilan kedua saudara ini yang tidak seperti dari kalangan kaum bangsawan.


dilan juga terkejut dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, pasalnya mereka tidak memiliki tail emas. jangankan tail emas, koin emas saja mereka hanya memiliki beberapa saja.


Gayatri tidak peduli dengan tatapan sang kakak, Iya tahu pasti kakaknya sedang bingung dari mana Gayatri mendapatkan uang sebanyak itu.


"sama-sama tuan, jika seandainya tuan telah merawat istri dan anak tuan dengan baik dan membutuhkan pekerjaan, maka datanglah ke tempat ini karena kami akan membuka rumah makan." ucap Gayatri.


"namun sekarang, Tuan fokuslah dulu untuk merawat istri dan anak tuan. jika seandainya Masih sanggup untuk bekerja, datanglah temui kami di sini." ucap Gayatri lagi. Tuan penjual toko itu sangat senang mendengarnya. pasalnya Ia memang tidak ingin menjual toko tersebut, namun ia tidak bisa melakukan apapun karena Ia membutuhkan biaya untuk pengobatan istri dan anaknya.


ia berjanji akan kembali ke sini untuk bekerja sebagai pelayan. tidak apa baginya asalkan ia bisa menghasilkan pundi-pundi uang.


"Baiklah nona, terima kasih atas kebesaran hati nona. Saya pasti akan ke sini, karena saya memang membutuhkan pekerjaan. saya menjual toko ini karena saya tidak tahu harus melakukan apalagi untuk mendapatkan biaya istri dan anak saya. kalau begitu saya pamit dulu tuan dan Nona." ucap tuan tua itu dengan. setelah itu ia langsung meninggalkan toko yang kini telah menjadi milik Gayatri dan saudaranya. sepeninggalan orang tersebut, Diran langsung mendekati adiknya.


"dek, Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu.??" tanya Diran dengan penuh penasaran. bukannya menjawab Gayatri hanya membalas dengan senyuman.


"nanti gaya akan cerita. sebaiknya kita pergi ke tempat perabotan dan membangun ulang tokoh ini kembali." tutur Gayatri kepada kakaknya. mereka berdua memasuki tokoh tersebut, walaupun di dalamnya tokoh itu terbebas dari debu karena pemilik sebelumnya selalu membersihkan debu-debu tersebut, namun tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan bangunan ini benar-benar bobrok. mendengar penuturan sang adik, dilan kembali bertanya kepada adiknya sambil mengekornya dari belakang.


"Bagaimana caranya kita mendapatkan uang lebih untuk merenovasi tokoh ini..??" tanya Diran kepada adiknya.


"Kakak tenang saja, biar itu menjadi urusan Gaya, kakak hanya perlu menemani gaya saja untuk mengurus semuanya." ucap Gayatri lagi. sang Kakak pun tidak bisa berkata-kata lagi selain menuruti adiknya.


Gayatri pun langsung mengeluarkan sebuah kertas dan pena dari ruang dimensinya. Diran yang melihat Gayatri mengeluarkan sebuah kertas dan pena tidak berani bertanya. Iya hanya berpikir-pikir mengenai benda yang ia lihat tadi.


Gayatri pun langsung duduk di atas meja usang itu dan mulai menggambar sketsa atau rancangan untuk toko ini. Ia membuat rancangan sedikit mewah seperti yang ada di dunia modern. tapi masih kalah bagus dengan yang ada di dunia modern.


"Apa yang kamu kerjakan dek..??" akhirnya dilan tidak sanggup lagi dan melontarkan pertanyaan kepada adiknya.


"gaya sedang menggambar rancangan atau sketsa untuk tokoh ini kak. sebelum kita bertemu dengan orang yang akan membangun tokoh ini nanti." ucap Gayatri sambil terus fokus menggambar kertas tersebut.


cukup lama ia menggambar di sana, Akhirnya selesai juga. tanpa menunggu lama Gayatri dan kakaknya pun langsung pergi ke tukang bangunan.


di perjalanan Mereka bertanya kepada siapa saja yang mereka temui, Di mana mereka dapat bertemu dengan orang yang pandai dalam hal bangun membangun rumah atau semacamnya.


***bersambung***