MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
65. kebenaran


kini Nyonya diaswari sudah berada diruang tamu tempat suami dan anak-anak nya berkumpul. bahkan Nyonya diaswari tak henti-hentinya menciumi pipi anak-anaknya. Gayatri dan kedua kakaknya pun merasa sangat gemas terhadap ibu mereka itu. sementara tuan Senopati dan kesepuluh pemuda itu hanya menatap dengan intens, kadang mereka akan tersenyum sendiri melihat tingkah laku dari Nyonya diaswari itu.


"HM... istri ku. nanti saja lanjutkan kangen kangennya. ada sesuatu yang ingin aku bahas kepada anak-anak." ucap tuan Senopati dengan serius. nyonya diaswari yang melihat raut wajah sang suami pun, langsung menghentikan aksinya.


"baiklah suamiku. maafkan aku, aku hanya senang melihat mereka Kembali dengan selamat." tutur Nyonya diaswari sambil nyengir kuda. mereka yang ada di ruangan itu pun kembali terkekeh melihat aksi dari Nyonya diaswari. Begitu juga dengan Tuan Senopati. tapi tiba-tiba wajah Tuan Senopati kembali serius, dan juga pandangannya menyapu Gayatri dan semua anak muda yang berada di ruangan itu.


"sekarang Ayah ingin mendengar cerita kalian semua." ucap Tuan Senopati sambil melihat ke arah aji dan yang lainnya.


mereka yang ada di sana saling berpandangan satu sama lain, ke-10 pemuda itu dan 3 bersaudara itu saling menganggukkan kepala satu sama lain. akhirnya mereka mulai menceritakan kisah padepokan harimau putih yang dipimpin oleh Tuan Candra Gupta.


"jadi seperti ini ceritanya tuan. "ujar aji. aji pun mulai menceritakannya, di mana ia bertemu dan diangkat menjadi murid oleh Tuan chandragupta waktu itu. mereka juga tidak tahu bahwa sebenarnya guru mereka itu adalah seorang bangsawan yang dilengserkan oleh Putra pertamanya.


mereka mulai menceritakan keseharian tuan chandragupta. di mana Tuan chandragupta setiap hari libur akan pergi diam-diam ke kota Raja. namun setelah memastikan sesuatu ia akan kembali lagi ke padepokan.


mereka juga menceritakan bahwa padepokan harimau putih ini adalah padepokan yang disegani Dan unggul di antara padepokan-padepokan yang lain. namun mereka menutup diri ketika sang guru menghilang entah ke mana. dan mereka sengaja mengabarkan bahwa guru mereka telah meninggal dunia akibat keracunan melawan seorang pendekar sakti mandraguna.


Namun nyatanya, kesepuluh pemuda ini juga tidak tahu kalau guru mereka tengah melakukan pelatihan tertutup selama bertahun-tahun, hingga akhirnya ia mencapai kultivasi tahap dewa, dan harus berada di dunia atas dengan waktu yang tidak ditentukan.


setelah aji menceritakan perjalanan hidup guru mereka, kini Tuan Senopati mengepalkan tangannya erat-erat. bukan karena marah atau hal lainnya, namun dalam hatinya ia sangat merindukan sosok itu.


saat Tuan Senopati dan keluarganya diasingkan dari Kotaraja, dan memilih menetap di pinggiran hutan, sesekali Tuan Senopati merasakan ada yang menjaga dan mengawasi mereka. namun saat itu, Tuan Senopati tidak curiga bahwa yang menjaga dan mengawasi mereka adalah ayahnya sendiri. karena setahunya, sang ayah telah meninggal dan jasadnya sampai sekarang belum ditemukan.


Tuan Senopati juga merasa bangga kepada ayahnya, yang telah membangun dan membantu anak-anak yang terlantar dan merekrut mereka menjadi bagian dari hidupnya.


"maaf tuan. sebelum guru meninggalkan padepokan dan menghilang. guru pernah menitipkan sesuatu kepadaku." kali ini yang bersuara adalah Abimana. Abimana mengeluarkan sebuah kain di sela-sela pakaiannya, di mana kain itu sepertinya membungkus sesuatu. setelah mengambilnya, aji langsung menyerahkannya kepada tuan Senopati.


"Maaf paman, sebelum guru pergi, guru berpesan kepadaku untuk menyimpan benda ini dan memberikannya kepada anak keduanya yang bernama Senopati Gupta. namun selama bertahun-tahun kami belum bertemu dengan paman. untuk isinya paman, Saya tidak tahu. Karena saya hanya diamanatkan untuk menjaga benda itu saja." ucap Abimana menjelaskan kepada tuan Senopati.


Tuan Senopati menerima buntalan kain yang tidak besar itu. pelan-pelan ia membuka kain yang menyimpan atau melilit benda tersebut. saat Tuan Senopati melihat benda itu, semua orang pun terkejut, tak terkecuali Gayatri dan kedua kakaknya.


Itu adalah sebuah token kepemilikan yang memiliki lambang harimau putih, naga dan burung elang.


"loh bukannya benda itu hanya ada satu. dan benda itu sudah diserahkan kepada Kak Diran." ucap Gayatri dengan penasaran. Mereka pun saling memandang satu sama lain. sementara Tuan Senopati terus mengamati benda itu sambil mengelus-halus benda tersebut.


"guru/ ayah/ kakek!!!!" seru mereka semua. Tuan chandragupta mengukir senyum di bibirnya. ia mengarahkan pandangannya ke arah Gayatri dan kedua saudaranya, Iya juga menatap lekat wajah putranya. terakhir ia melihat ke-10 muridnya bersudut di bawah kakinya.


"bangunlah kalian bocah-bocah tengik. bukankah sudah kukatakan..! jangan menyembahku seperti itu..!!" seru tuan chandragupta. kesepuluh pemuda yang mendengarkan teguran dari guru mereka cepat-cepat mereka bangkit dari sudut mereka. tampak mata mereka tengah berkaca-kaca menahan agar air mata mereka tidak meluap.


mereka semua menatap tuan candragupta dengan tatapan sejuta rindu di dalam hati mereka. Begitu juga dengan tuan chandragupta.


"hehehe... aku pernah mengatakan kalau laki-laki itu tidak boleh cengeng. Kalau tidak salah aku pernah mengatakannya Kalau kalian tidak lupa.." ucap tuan chandragupta sambil mengelus-elus jenggot putihnya itu. mereka semua menundukkan kepala mereka. tentu saja mereka tidak lupa dengan nasehat itu.


"ternyata kalian sudah cukup besar anak-anakku." ucap Tuan candragupta lagi. Tuan Senopati tersadar dari keterkejutannya. ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah sang ayah.


"Ayah!!! apa yang sebenarnya terjadi..!!!" tanya Tuan Senopati dengan tidak sabaran. Tuan chandragupta tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang anak.


"tenanglah nak, akan Ayah ceritakan. tapi apakah kamu tidak merindukan ayah..??" ucap Tuan chandragupta sambil merentangkan kedua tangannya ingin memeluk sang anak. Tuan Senopati pun tanpa merasa malu langsung berhambur memeluk ayahnya.


"ayah!!! Aku sangat merindukanmu.." ucap Tuan Senopati. setelah berpelukan, kini mereka mendudukkan tubuh mereka di atas kursi empuk itu. mbok Nining pun langsung menyuguhkan beberapa minuman khas dari rumah makan mereka, dan juga beberapa cemilan yang sangat diminati itu.


"ayah, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar ayah masih hidup atau kini tinggal arwah lagi..??" tanya Tuan Senopati dengan gamblangnya. sementara para murid dan anak-anaknya berusaha untuk menahan tawa. tuan chandragupta yang mendengarkan penuturan anaknya menatap dengan tajam.


"dasar anak busuk..!!! bisa-bisanya mengatakan kalau ayahnya ini adalah arwah..!!" seru Tuan chandragupta sambil menokok kepala Tuan Senopati seperti hal yang biasa ia lakukan semasa mereka masih kecil.


"eh !! aduh !!! maaf Ayah..!!" ucap tuan Senopati lagi.


tapi tiba-tiba ruangan itu kembali menjadi hening. mereka yang ada di dalam ruangan itu menunggu cerita dari tuan chandragupta. melihat keheningan yang terjadi di antara mereka, Tuan chandragupta pun membuka suara.


"nungguin ya....!!!" ucap Tuan candragupta kepada mereka semua. mereka yang sudah menyadari kekonyolan sang guru hanya mampu memutar bola mata mereka dengan malas. sementara Gayatri yang mendengar penuturan itu hanya mampu terkekeh saja, masalahnya kata-kata itu sering diucapkan anak-anak muda di zaman modern. dan tentu saja mampu membuat orang-orang yang menunggu menjadi kesal.


"tentu saja kami menunggu ayah...!!" seru Tuan Senopati dengan kesal.


***bersambung***