MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
50. masih menyelesaikan amanat


adiwangsa yang mendengar penuturan dari tuan Senopati langsung menjadi marah di dalam hatinya. tentu saja ia tidak berani mengeluarkannya di permukaan, karena ia harus berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


"maaf adik. kami akan permisi dulu, dan jangan terlalu terburu-buru untuk mengambil keputusan. sebaiknya adik pertimbangkan niat kerja sama kami ini. kalau begitu kami akan pamit undur diri. nanti kami akan datang lagi untuk menanyakan kepastian adik." ucap tuan adiwangsa.


tanpa menunggu ucapan balasan dari tuan Senopati, adiwangsa dan antek-anteknya langsung meninggalkan ruangan Senopati dengan segera.


sepeninggalan ketiga orang tersebut, Tuan Senopati pun langsung menarik nafasnya dengan gusar. Iya yakin, adiwangsa tidak akan berhenti untuk mengusik mereka nanti. berarti Tuan Senopati harus memikirkan banyak cara untuk mengulur mereka sampai akhirnya mereka bosan dan menghentikan apa yang mereka mau.


"benar-benar sangat menjengkelkan..." ujar Tuan Senopati kepada dirinya sendiri. setelah itu ia langsung bergegas menemui sang istri di lantai 3.


***


di tempat lain. keempat orang tersebut sedang duduk mengelilingi meja bundar sambil menyesap minuman yang tersaji di hadapan mereka. sambil, Arga menceritakan semua pengalaman yang ia alami semasa ia melarikan diri dari kerajaannya. Iya bercerita dari awal sampai akhir tanpa ada satu hal yang ia tutup-tutupi. sementara pangeran pandu yang mendengar cerita Arga hanya mampu merasa kasihan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"mmm.... jadi begitu... hai menderita sekali hidupmu adikku.." ucap pangeran pandu dengan perasaan iba. pangeran pandu memukul-mukul pelan pundak Arga. Arga pun langsung menyingkirkan tangan pangeran pandu.


"singkirkan tanganmu, jangan mengasihaniku seperti itu. ingat ya kita tidak jauh berbeda, kita ini seumuran." ucap Arga kepada pangeran pandu. dari dulu sampai sekarang, Jika ia tidak memiliki kemauan, Arga pasti akan menolak dipanggil adik oleh pangeran pandu.


"cih..!!! aku tahu, kamu gengsi kan dipanggil adik dan merasa kecil serta tidak bisa melakukan apa-apa. sudahlah pangeran Arga, teringat saja nasibmu sebagai adik di sini." ucap pangeran pandu dengan ekspresi kocak.


Diran dan Gayatri tersenyum melihat Arga yang memayunkan bibirnya seperti itu. saat Arga Masih bersama dengan mereka, Iya memang melakukan hal itu, tapi hanya kepada ayah dan ibu mereka. selebihnya, Arga hanya akan memberikan tatapan datar dan tak bersahabat kepada orang lain selain mereka.


" Oh iya pangeran pandu, sebaiknya racun di dalam tubuh pangeran harus segera diobati. soalnya menurut dari analisa yang saya lakukan, racun itu telah bertahta sudah sangat lama di dalam tubuh pangeran. Begitu juga dengan pengawal pangeran." ucap Gayatri menyadarkan pangeran pandu bahwa dirinya saat ini tengah digerogoti oleh racun pelumpuh.


mereka yang mendengarkan penuturan Gayatri langsung terdiam. Diran dan Arga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pangeran pandu dan Arga yang senantiasa berada di belakang pangeran pandu. pangeran pandu mengangguk-anggukkan kepalanya, Iya juga setuju. karena racun ini benar-benar menyiksa kolam spiritualnya sehingga kekuatannya tidak sepenuhnya ia keluarkan.


"Baiklah Nona. kalau begitu Apa yang harus saya lakukan untuk melakukan pengobatan ini..??" tanya pangeran pandu kepada Gayatri. namun sebelum Gayatri menjawab pertanyaan pangeran pandu, Arga terlebih dulu memotong pembicaraan mereka.


"pangeran, Kenapa kamu tiba-tiba bisa diracun seperti ini. Apakah kamu tidak melakukan pengawalan yang ketat di istana..??" tanya Arga kepada pangeran pandu. pangeran pandu menggelengkan kepalanya.


"aku juga tidak tahu. namun setahuku, pengawalan di istana sangatlah ketat. Begitu juga dengan makanan." tutur pangeran pandu dengan pelan.


"mungkin saja itu terjadi pangeran. sebaiknya setelah pangeran berobat atau sembuh dari racun itu. pangeran harus berhati-hati dan menyelidiki siapa yang berusaha untuk melakukan hal ini." tutur Arga lagi.


"baiklah, tentu saja aku akan melakukan hal itu. Jadi bagaimana nona, Apakah Nona mau merawatku dan menyembuhkanku dari racun pelumpuh ini." tanya pangeran pandu kepada Gayatri. Gayatri sejenak terdiam.


"saya akan mencobanya pangeran, tapi ketahuilah saya bukanlah orang hebat dalam dunia medis. jadi saya usulkan agar pangeran mencari orang-orang yang pandai dalam dunia medis ini." tutur Gayatri lagi.


"tentu saja akan saya lakukan nona. namun tidak ada salahnya kalau Nona mengobati saya sebelum akhirnya saya menemukan seorang tabib yang bisa saya percaya. Karena saya takut, kalau seandainya saya menunda pengobatan, racun ini akan segera beraksi dalam tubuh kami."tutur pangeran pandu mengutarakan kecemasannya. Gayatri dan yang lainnya pun mengganggu anggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu. kita akan coba pelan-pelan untuk mengobatinya pangeran." tutur Gayatri lagi.


"Namun sepertinya, kita hanya akan melakukan pengobatan di esok harinya yang mulia pangeran. Karena sekarang, mungkin saya harus mempelajari racun itu untuk menciptakan obat penyembuhnya nanti." tutur Gayatri lagi.


"tidak apa nona. itu tidak masalah, dan sebaiknya Jika ada yang Nona inginkan atau butuhkan, sebaiknya Nona katakan saja kepada kami. biarkan kami yang mencarinya." tutur pangeran pandu lagi. mereka berdua pun saling menatap, sorot mata mereka berdua bertemu.


pangeran pandu yang melihat sorot mata dari Gayatri itu, sontak saja ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. ada satu rasa yang tidak bisa ia jelaskan menghinggapi hatinya. tapi entah kenapa, rasa ini sepertinya sangat menyenangkan.


"hm.. hm..." dehem Arga menyadarkan kedua insan yang saling bertatap mata itu. mendengar deheman dari Arga, sontak saja kedua insan tersebut langsung terkejut. pangeran pandu langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah yang merah. Begitu juga dengan Gayatri. sementara Diran yang melihat gelagat mereka, hanya mampu tersenyum simpul saja.


"hm... Jadi bagaimana rencana selanjutnya. apakah kita akan kembali ke istana pangeran..??" tanya pangeran Arga kepada pangeran pandu.


mendengar penuturan tersebut, pangeran pandu langsung berpikir. Kalau iya harus mengobati racun yang ada dalam tubuhnya, berarti ia tidak boleh kembali ke istana terlebih dahulu. pikirnya.


"Saya rasa tidak dulu... Saya ingin membuat atau mengobati racun yang ada dalam tubuh kami terlebih dahulu. memangnya kamu sudah ingin kembali ke istana..??" tanya pangeran pandu balik kepada Arga. Iya yakin pasti Arga sangat merindukan kedua orang tuanya yang saat ini masih menetap di Kerajaan Pajajaran.


"tidak juga sih pangeran, lagi pula kami masih memiliki beberapa misi yang diamanatkan kepada kami." ujarnya lagi.


"berarti kalian masih harus mengembara ya..??" tanya pangeran pandu lagi. mereka semua menganggukkan kepala mereka tanda apa yang pangeran pandu sampaikan benar adanya.


***bersambung***