MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
49. niat kerja sama


setelah kepergian nyonya diaswari, Tuan Senopati kembali menghadap kepada tuan adiwangsa dan kedua orang lainnya.


"maaf membuat para tuan-tuan menunggu. mari silakan duduk.." ujar Tuan Senopati langsung mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sangat empuk dan nyaman itu.


saat mereka mendudukkan tubuhnya di kursi yang baru pertama kali mereka rasakan itu, mereka benar-benar terkejut.


(wah kursi ini begitu mewah dan empuk, bahkan jika aku tertidur pasti akan sangat nyenyak walaupun bukan di tempat tidur.) batin Atmaja. Iya mengelus-elus kursi tersebut. perbuatannya itu tak jauh berbeda dengan adiwangsa dan bahuWirya. mereka juga melakukan hal yang sama.


(benar-benar sangat menyenangkan. aku harus meyakinkan Senopati untuk bekerja sama denganku. setelah itu aku akan mengambil semua apa yang ia miliki termasuk mengambil dan merebut diaswari dalam genggamannya.) batin adiwangsa sambil tersenyum licik.


tiba-tiba, pelayan Parto datang membawakan minuman untuk mereka.


"permisi tuan..." ujar pelayan Parto kepada tuan Senopati. Tuan Senopati yang melihat kehadiran pelayan Parto langsung menganggukkan kepalanya.


tanpa banyak cincong lagi, pelayan Parto langsung masuk dan meletakkan serta menuangkan minuman itu di dalam gelas masing-masing. setelah itu ia pamit undur diri. selepas kepergian pelayan Parto. Tuan Senopati mulai membuka pembicaraan.


"jadi... Ada apa gerangan tuan adiwangsa datang menemuiku..??" tanya Tuan Senopati tanpa embel-embel kanda atau Kakak sebagai tanda penghormatan. Iya juga memasang ekspresi yang sangat tidak enak dipandang.


"hm..." dehem tuan adiwangsa. Iya sedikit merasa gugup dalam hatinya karena melihat ekspresi wajah yang dingin yang belum pernah Ia lihat sebelum Tuan Senopati terusir dari keluarga mereka.


"begini adik. sebelumnya saya mau meminta maaf atas kejadian terusirnya adik dari kediaman candragupta. sungguh waktu itu aku tidak bisa melakukan apapun." ucapnya dengan ekspresi iba dan memprihatinkan. namun dalam hatinya sudah tersusun rencana licik untuk menjebak adiknya kembali.


mendengar penuturan tersebut, Tuan Senopati tersenyum sinis. Iya yakin kalau Tuan adiwangsa telah memiliki rencana dalam hatinya.


"tidak perlu seperti itu Tuan adiwangsa. karena saya tahu apa yang harus saya lakukan." ucap Tuan Senopati lagi.


"sekarang, jelaskan saja maksud kedatangan tuan tuan semuanya. karena jujur saja, saya masih memiliki banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Tuan Senopati lagi.


( cih Senopati benar-benar sombong.. lihat saja, kesombonganmu tidak akan bertahan lama.) batin Tuan adiwangsa sambil tersenyum licik.


"jangan berikan ekspresi seperti itu adik Senopati. Apakah kamu tidak merindukan kami keluargamu. bahkan kami saja, semenjak kejadian itu, Kami pergi ke sana kemari untuk membersihkan namamu serta mengembalikan mu ke dalam keluarga kita." kali ini Tuan Wirya yang bicara. Iya berusaha menjelaskan kebohongannya kepada tuan Senopati.


"terima kasih sudah berusaha untuk mencari kami. tapi Tuan Wirya tidak perlu khawatir. keadaan kami sangat baik-baik saja, jadi tidak perlu repot untuk membersihkan nama kami dan mengembalikan hak kami di keluarga chandragupta."Ucap tuan Senopati lagi. kali ini Ia benar-benar jengah, Ia hanya ingin segera menyelesaikan tugasnya dengan adiwangsa dan mengusir mereka dari tempat itu. tentu saja mengusir dengan secara halus.


"betul adik Senopati." jawab Tuan adiwangsa membenarkan. lagi-lagi Tuan Senopati hanya mampu memberikan senyum hambar dan sinis.


"tapi saya tidak berpikir seperti itu. sudah cukup diskusinya, katakan apa yang ingin kalian sampaikan. jika tidak silakan tinggalkan tempat ini karena saya masih memiliki banyak pekerjaan."ucap tuan Senopati. nada bicaranya dan kata-katanya terkesan memang mengusir mereka. bahkan kata-kata itu sudah sangat jelas ditujukan kepada mereka. namun apa yang terjadi, ketiga orang tersebut memang tidak memiliki pemikiran yang jauh.


"adik Senopati, sebelum kami mengutarakan apa yang kami inginkan. Saya ingin bertanya sesuatu. berapa uang yang kamu habiskan untuk membangun tempat ini. dan bagaimana caranya kamu bisa membangun tempat yang bagus ini.?" tanya tuan adiwangsa dengan tak tahu malunya. Tuan Senopati tersenyum sinis, tujuan dan keinginan mereka datang ke tempat ini benar-benar sudah terlihat.


"tuan adiwangsa tidak perlu tahu seberapa banyak uang yang saya keluarkan untuk membangun tempat ini. yang pasti jumlahnya tidaklah sedikit. kalau untuk Bagaimana aku bisa membangun tempat ini, itu adalah rahasia yang tidak bisa aku ungkapkan. lagi pula kita tidak terlalu dekat, bukankah benar seperti itu..??" seru Tuan Senopati lagi sambil bertanya. Ia juga memicingkan matanya ke arah ketiganya. tuan adiwangsa yang mendapatkan pertanyaan seperti itu tersenyum hambar.


"benar adik, kita memang belum terlihat dekat. tapi mulai sekarang, kita akan mencoba membangun hubungan dekat itu. Bagaimana Adik..??" tanya Tuan adiwangsa lagi.


"Tapi sayangnya aku dan keluargaku tidak ingin memulainya. Tapi biarlah berjalan sebagaimana mestinya. jadi tolong segera sampaikan apa yang ingin kalian sampaikan tuan-tuan." ucap Tuan Senopati lagi tidak mau menyerah. Iya ingin ketiga cucunguk ini meninggalkan kediamannya dan tidak lagi mengganggu ketenangannya.


Namun sepertinya itu tidak akan terjadi, setelah kejadian ini, pasti Tuan adiwangsa akan selalu mengusik dan mengganggu ketenangan dan keharmonisan keluarga mereka.


"Baiklah adik, Saya tahu kamu memang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaanmu. kalau begitu saya akan mengutarakan maksud dan keinginan kami datang menemuimu." ucap adiwangsa. walaupun dalam hatinya bergejolak tidak terima dengan ucapan Tuan Senopati yang menurutnya seperti hinaan untuknya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain harus merendahkan dirinya terlebih dahulu. Tuan adiwangsa mengeluarkan sebuah kertas yang ia bawa sebagai salah satu bentuk proposal kerjasama yang akan mereka ajukan.


"adik Senopati, maksud dan tujuan kami kemari ialah ingin mengajukan kerjasama di rumah makanmu ini. di sebelah utara Kerajaan Majapahit ini, keluarga kita juga membuka rumah makan. jadi saya ingin rumah makan kamu ikut mensuplai rumah makan yang ada di sana." ucap Tuan adiwangsa sambil menyerahkan kertas tersebut.


Tuan Senopati menerima surat itu sambil mengerutkan keningnya. apa katanya, mensuplai rumah makan mereka..?? itu tidak akan terjadi. pikir Tuan Senopati. Ia membuka kertas itu dan membacanya.


setelah dibaca, Tuan Senopati mengerutkan keningnya. semua poin-poin yang ada di proposal itu tentu saja lebih menguntungkan pihak Tuan adiwangsa ketimbang pihak mereka.


bahkan ada salah satu poin yang mengatakan, bahwa makanan yang disuplai itu akan diantar sendiri oleh pemilik rumah makan sekaligus dengan bahan baku dicari oleh mereka sendiri. sementara mereka hanya akan membayar jumlah yang tidak terlalu banyak.


tuan Senopati bukan orang yang bodoh. Iya tahu bahwa adiwangsa ingin menguras pendapatan yang didapatkan oleh Tuan Senopati dan keluarganya ini.


"maafkan Tuan adiwangsa. setelah saya membaca beberapa poin yang ada di surat perjanjian anda, saya tidak terlalu tertarik melakukan kerjasama dengan rumah makan yang ada di bagian Utara kerajaan ini.


***bersambung***