MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
45. menolong


***


tak lama, maka mereka menangkap beberapa sosok yang memang sedang bertarung. ada dua sosok yang sepertinya sudah kewalahan bertarung dengan beberapa orang yang berpakaian serba hitam atau berjubah hitam seperti ninja. ketiga bersaudara itu menajamkan penglihatan mereka.


terlihat, satu serangan lagi maka kedua pria itu akan tumbang. serangan terakhir yang dilayangkan oleh pihak yang berpakaian serba hitam itu, ternyata langsung ditepis oleh badiran, yang dengan kecepatan yang cukup tinggi ia menghalau serangan itu.


sang ketua dari komplotan itu pun terkejut, pasalnya itu adalah serangan yang cukup ia andalkan untuk membunuh lawannya.


"siapa Kamu sialan!!!" seru ketua itu. badiran mengibaskan tangannya dan pedang yang ada di tangannya pun ikut menghilang, sementara Gayatri dan Arga juga ikut menyusul badiran di sana.


sementara kedua laki-laki yang terluka itu hanya menatap kebingungan saja. namun mereka cukup berterima kasih atas pertolongan itu.


"anda tidak perlu tahu siapa saya.. yang perlu Anda ketahui adalah, jangan membunuh orang yang tidak berdaya. karena itu bukanlah karakter seorang pendekar." ucap badiran kepada ketua pimpinan itu.


"jangan ikut campur urusanku anak muda..!! kalian tidak tahu dengan siapa kalian berhadapan, dan sebaiknya segera tinggalkan tempat ini dan jangan ikut campur mengenai urusan kami..!!" seru ketua komplotan itu lagi dengan nada suara yang menggelegar. badiran tersenyum remeh, entah kenapa ia dapat melihat tingkat kultivasi orang tersebut.


sementara Gayatri dan Arga, mereka lebih memilih menolong kedua pemuda itu. Gayatri juga langsung memberikan sebuah pil obat penyembuh untuk sang pemuda. obat itu tentu ia dapatkan dari ruang dimensinya, di mana Rion yang ada di ruang dimensi terus saja berinovasi menciptakan obat-obat baru, yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.


"Aku mungkin tidak akan mencampuri urusanmu jika kami tidak lewat daerah ini. hanya saja, Aku seorang manusia yang memiliki hati lembut dan penuh kasih sayang, tidak dapat melihat penindasan ini begitu saja. mungkin aku tidak akan ikut campur kalau mata dan kepalaku tidak menyaksikan ini semua, jadi urusan pemuda ini adalah urusanku." ucap badiran sambil menunjuk kedua pemuda yang saat ini tengah ditangani oleh kedua saudaranya.


"hahaha.. kalau begitu anda salah lawan anak muda." ucap ketua komplotan itu dengan sombong. Diran mengangkat satu tangannya dan menutup hidungnya.


"jangan tertawa seperti itu Tuan, mulut Anda sangat bau jengkol." tutur Diran dengan perasaan jengkel sambil mengibas-mibaskan tangannya. semua orang yang ada di sana tidak bisa untuk tidak tertawa, hanya saja mereka berusaha untuk menahan agar tawa mereka tidak keluar di permukaan. sang ketua komplotan menjadi malu dan sangat kesal.


"perhatikan ucapanmu anak muda, dan kalian semua berhenti tertawa." ancam ketua tersebut. mereka semua pun langsung menghentikan tawa mereka.


"anak muda, kalian benar-benar cari mati. cepat Serang mereka..!!" seru ketua itu lagi. semua anak buah ketua tersebut langsung mengambil formasi untuk menyerang. seketika itu terjadi pertarungan antara Diran dengan komplotan ketua itu.


melihat hal itu, Arga tidak bisa berdiam diri. Iya juga ikut bertarung membantu saudara angkatnya itu.


sementara Gayatri, Iya memfokuskan diri untuk menyelamatkan kedua pemuda tersebut dan melindungi keduanya dari kemungkinan saja yang akan terjadi nanti. Gayatri berusaha memeriksa mereka lebih lanjut, Gayatri memegang dan merasakan denyut nadi seorang pemuda yang berambut panjang dan berjubah biru dongker itu. ia merasakan sesuatu mengaliri denyut nadinya.


(racun pelumpuh, pantas saja pemuda ini kalah. sepertinya karena racun yang sudah bersarang di dalam tubuhnya cukup lama.) batin Gayatri. setelah mengetahui hal yang diderita oleh laki-laki tersebut, Gayatri hanya memberikan sebuah pil untuk menahan racun itu agar tidak menyebar sampai ke paru-paru. setelah itu ia beralih kepada seorang laki-laki yang berpakaian seperti pengawal. sebelum memberikan obat, Gayatri juga memeriksa denyut nadi sang pengawal. ternyata yang ia rasakan sama dengan yang tadi, racun.


(racun lagi, tapi sepertinya racun ini masih belum lama berada di dalam tubuh pemuda ini.) batinnya lagi. dia juga melakukan hal yang sama.


( huh..!! sejak kapan aku menjadi tabib. tapi ya sudahlah, selagi memiliki kemampuan, Tidak ada salahnya untuk saling membantu.) batinnya lagi.


***


pertarungan sengit itu terus terjadi, dua kubu yang saling berhadapan itu bertarung cukup lama hingga akhirnya pihak lawan runtuh. ketua pimpinan komplotan itu merasa marah melihat anggota-anggotanya bergelimpangan seperti ikan mati.


bom bom


suara pertarungan yang tidak seimbang, yang mengakibatkan sang ketua terpental jauh dari hadapan mereka.


"hukh.. hukh..." ia memuntahkan seteguk darah akibat pukulan yang Diran berikan.


"Siapa kalian..?? aku rasa Aku tidak memiliki urusan dengan kalian. jadi tolong jangan campuri urusanku." ucap ketua itu lagi. Diran tersenyum smirik.


( Aku harus menyelesaikan tugas ini, tapi aku sadar kalau aku tidak akan mampu menghadapi orang-orang ini. Sialan..!!) umpatnya dalam hati.


"sudah aku katakan tuan, Tuan tidak perlu tahu siapa kami. dan masalah kami menjempuri urusan tuan, karena perbuatan Tuan sama sekali tidak terpuji dan mungkin akan mencoreng nama baik seorang pendekar."tutur Diran kepada lelaki itu.


mendengar penuturan Diran, bukannya berhenti lelaki itu malah memasang ancang-ancang untuk menyerang kembali. namun targetnya bukanlah Diran atau yang lainnya, targetnya ialah seorang laki-laki yang berjubah kebesarannya itu.


syuuuttt..


"hukh..." satu tusukan berhasil mengenai orang itu. ternyata Gayatri bertindak cepat untuk melindungi kedua orang tersebut dan melayangkan satu tusukan untuk ketua komplotan itu.


bruk..


tubuh lelaki tua itu terjatuh di atas tanah dengan bergelimangan darah di mana-mana.


"gaya..!!" seru kedua kakaknya. bukannya Mereka takut, mereka hanya khawatir terjadi apa-apa dengan adiknya. ternyata yang mereka takutkan tidak terjadi.


saat itu juga, kedua pemuda itu terbangun dari ketidaksadaran mereka. mereka merasakan, tubuh mereka sepertinya sudah agak mendingan dan sepertinya ringan. seorang laki-laki yang berjubah itu melihat tiga orang berdiri di depan mereka dengan tatapan yang cukup bersahabat. sehingga menurunkan kewaspadaannya.


"siapakah tuan dan Nona..??" tanya pemuda berjubah itu dengan pelan. Iya berusaha untuk bangkit, dan dibantu oleh pemuda yang ada di sebelahnya. sejak tadi, ketiganya menggunakan penutup wajah agar tidak dikenali oleh siapapun.


"perkenalkan tuan dan Nona, saya adalah Raden pandu Wijaya dan ini adalah pengawal pribadi saya Arya." ucap pandu memperkenalkan dirinya dan pengawal kepercayaannya itu.


Diran tersenyum dibalik cadarnya, Diran pikir orang ini pasti akan menuduh mereka macam-macam. ternyata semua prasangka buruknya hilang begitu saja. sementara Arga, Iya hanya menyempitkan matanya mendengar nama itu. nama itu adalah nama yang tidak asing di telinganya. sementara Gayatri, Ia hanya membungkam mulutnya saja.


Arga yang merasa heran, dan lelah bertanya-tanya dalam hatinya, Ia pun mulai mengutarakan kegundahan yang tengah ia rasakan.


"maaf tuan kalau saya lancang. Apakah benar nama anda adalah Raden pandu Wijaya seorang pangeran dari Pajajaran" 🤭 ( hahaha, nama samaran lagi 😁). tanya argantara kepada pemuda itu. pandu yang mendengar orang menyebut asalnya, sejenak ia memperhatikan wajah itu.


"argantara..!!" serunya dengan lirih. sementara kedua saudara itu hanya terbangong-bengong saja. pasalnya mereka memang tidak tahu apa yang terjadi.


***bersambung***