MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
70. pembelaan dari Raja Majapahit


maafkan jika masih ada typo dalam penulisan. selamat membaca ya ❤️❤️


***


sementara di dalam aula, Raja Pajajaran memijit pelipisnya yang tiba-tiba menjadi pening. sementara permaisurinya terus saja menenangkan sang raja.


"jangan terlalu dipikirkan yang mulia.." ucapnya dengan lembut. sejujurnya dalam hati Ia juga merasa kecewa kepada mertuanya itu. walaupun mereka harus menolak, setidaknya mereka harus memberikan bahasa yang santun tanpa harus menghina.


sang permaisuri juga merasa kasihan kepada putranya pangeran pandu. terlihat dari sorot mata sendu yang tak kuasa melawan dan membantah apa yang telah diucapkan oleh ibu suri, membuat sang permaisuri merasa menyesal mendidik anaknya yang terus berhati lembut kepada keluarganya tanpa perasaan tegas.


namun permaisuri kini juga tidak bisa membuat apa-apa. Ia hanya bisa berdoa, mudah-mudahan pangeran pandu dapat menerima keputusan yang diambil oleh keluarga Gayatri maupun oleh Gayatri itu sendiri.


"sudahlah..!! tidak usah kamu pikirkan yang mulia, lagi pula mereka hanya seorang rakyat jelata saja. mereka tidak dapat memberikan dukungan atau sokongan apapun kepada pangeran pandu nanti..!!" seru Ibu suri tanpa rasa malu dan rasa bersalah telah mempermalukan keluarga Tuan Senopati.


untungnya Raja Majapahit bijaksana, hanya ada keluarganya, keluarga Raja Pajajaran dan keluarga Tuan Senopati di pertemuan itu. bahkan para pelayan setia yang bekerja di keluarga Kerajaan itu pun tidak diizinkan untuk menemani majikannya di dalam aula pertemuan itu. sehingga dapat mengantisipasi tersebarnya rumor mengenai penolakan Gayatri dan juga mengenai Ibu suri yang menghina keluarga Tuan Senopati.


Raja Majapahit yang mendengarkan penghinaan yang keluar dari mulut Ibu suri lagi, membuat Raja Majapahit itu menjadi geram. walau bagaimanapun, Tuan Senopati adalah rakyatnya. Tuan Senopati berada di bawah perlindungannya.


"maafkan atas kelancangan saya Ibu suri. ini masih daerah wilayah kekuasaan saya, dan Tuan Senopati adalah rakyat yang saya lindungi. jika Ibu suri menghina Tuan Senopati seperti itu, berarti Ibu suri juga menghina saya sebagai pemimpinnya." ucap Raja Majapahit sedikit memberikan peringatan kepada Ibu suri agar tidak lagi menjelek-jelekan keluarga Tuan Senopati.


walaupun Raja Majapahit tidak mengenal Senopati dan keluarganya, namun ia dapat menilai bahwa Tuan Senopati dan keluarganya adalah orang-orang yang jujur dan juga baik.


"mohon maafkan Ibu saya yang mulia." ucap Raja Pajajaran sedikit menundukkan kepalanya. Iya tidak mungkin memberikan penghormatan yang lebih karena kedudukan mereka sama.


***


sementara di tempat lain, pangeran pandu lebih dulu sampai di kediaman Tuan Senopati. gimana, penginapan yang dulunya dibeli oleh Gayatri dengan harga yang murah kini telah disulap menjadi sebuah istana modern yang megah. bangunan dua lantai itu memberikan kesan elastis yang sangat membuat orang terpesona. bahkan pangeran pandu saja, Iya cukup terkejut melihat betapa megahnya bangunan itu.


klotak klotak klotak


suara kereta kuda memasuki halaman kediaman Tuan Senopati. Terhitung5 kereta memasuki halaman kediaman tersebut. sementara pangeran pandu berdiri di depan pintu gerbang rumah Gayatri.


tak lama, penghuni-penghuni kereta itu pun langsung turun dari kereta masing-masing, Begitu juga dengan Gayatri dan kedua orang tuanya. tampak mereka belum memperhatikan pangeran pandu yang berdiri tegap di depan gerbang kediaman mereka. sampai akhirnya suara pangeran pandu menyadarkan mereka semua.


"Tuan Senopati..!!" seru pangeran pandu. semua orang pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pangeran pandu. Gayatri dan kedua orang tuanya tercengang melihat pangeran pandu berdiri tegak di depan pintu gerbang itu. mereka berhenti di depan pintu gerbang karena memang di situlah parkir kereta kuda sebelum dimasukkan dan dibawa ke belakang kediaman mereka.


pangeran Arga yang melihat pangeran pandu berdiri di depan gerbang, entah kenapa darahnya mulai mendidih. Iya bener-bener kecewa kepada saudara sepupunya yang tidak bisa tegas terhadap perasaannya dan juga keluarganya. Jika ia tidak dapat menjamin adik angkatnya untuk menjadi perempuan satu-satunya dalam hidupnya, Kenapa waktu itu pangeran pandu harus mengucapkan janji menunggu sang adik.


"kendalikan dirimu, jangan sampai dikuasai oleh amarah. kamu harus bijaksana dalam bertindak." ucap Diran menasehati saudara angkatnya itu. pangeran Arga yang mendengarkan sedikit wejangan dari Diran langsung menghela nafasnya dengan kasar. Jujur saja ia ingin sekali melayangkan satu kali bogemnya di wajah pangeran pandu.


"salam kepada pangeran pandu..!!" ucap mereka semua yang mendekat ke arah pangeran pandu. pangeran pandu menerima salam mereka dengan rendah hati.


"salam mu aku terima Tuan Senopati. maafkan aku datang dan mengganggu serta membuatmu tidak nyaman. aku ke sini hanya ingin bertemu dan berunding kembali dengan putrimu. Aku ingin menjelaskan semua kepadanya." ucap pangeran pandu sambil mengalihkan pandangannya ke arah Gayatri.


pangeran Arga yang mendengar maksud kedatangan dari pangeran pandu itu, langsung berjalan dengan langkah lebar.


"mau apalagi pangeran berbicara dengan adikku. bukankah semuanya sudah jelas. aku adalah orang pertama yang sangat mendukung keinginan mu untuk menjadikan Gayatri sebagai permaisuri. namun, aku juga orang yang pertama akan yang akan melarang mu untuk berbicara dengan nya. sebaiknya, kakak pulang saja, kamu dan Gayatri tidak berjodoh." ucap pangeran Arga yang membuat Gayatri mengukir senyum senang melihat kakak nya yang sangat membelanya.


(apa aku telat lagi membela adikku... haizz aku memang kakak yang payah..) batin Diran merasa cemburu. namun dalam hati Ia juga merasa senang, karena ia tidak sendiri untuk melindungi adik dan keluarganya.


Tuan Senopati tersenyum tipis melihat respon anak angkatnya itu. ia melihat sorot mata kemarahan yang tercetak jelas di wajah pangeran Arga. Tuan Senopati pun berjalan mendekat ke arah pameran Arga dan menepuk pelan pundaknya.


"kendalikan dirimu anakku. walau bagaimanapun Ia adalah pangeran dan juga Kakak sepupumu." ucap Tuan Senopati dengan penuh pengertian kepada sang anak angkat. sementara yang lain hanya diam dan menyaksikan perdebatan itu.


"dan anda yang mulia pangeran. sebaiknya anda kembali dulu ke istana dan pikirkan lebih dulu mengenai masalah ini. sepertinya saudara sepupumu juga harus menenangkan diri. mohon maaf atas kelancangan hamba yang mulia pangeran." ucap Tuan Senopati sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat. pangeran pandu pun menganggukkan kepalanya. iya paham dengan situasi ini, barangkali mereka memang harus menenangkan diri dan hati mereka terlebih dahulu. apalagi sorot mata pangeran Arga yang sangat memandangnya dengan benci.


"kalau begitu mohon maafkan saya tuan Senopati. kalau begitu saya akan kembali lagi nanti. dan kamu pangeran Arga, maafkan kesalahan Kakak sepupumu ini." ucap pangeran pandu dengan suara sendu. pangeran Arga pun tidak bergeming dari tempatnya, tatapan yang ia berikan kepada pangeran pandu pun masih sama tajam dan datar.


setelah pangeran pandu mengatakan hal itu, Iya langsung bergegas naik ke atas kuda dan meninggalkan tempat itu. namun sebelum ia memacu kudanya, terlebih dahulu ia melihat ke arah Gayatri yang ternyata tidak menunjukkan emosi apapun.


(Kenapa kamu tidak menghalangiku. Apakah aku terlalu membuatmu kecewa.) batin pangeran pandu merasa kecewa melihat respon yang diberikan oleh Gayatri.


tentu saja, lagi pula pangeran pandu dan Gayatri belum menjalin hubungan sehingga tidak ada alasan bagi Gayatri untuk mempertahankan pangeran pandu apalagi sampai menghalanginya agar tidak meninggalkannya. pangeran pandu saja yang terlalu berharap akan hal itu.


berbeda halnya, jika pangeran pandu dan Gayatri telah menjalin hubungan, mungkin hati Gayatri yang sudah terisi dengan namanya itu pasti tidak akan rela melihat lelaki yang telah mengisi hari-harinya meninggalkannya begitu saja. setelah itu pangeran pandu pun langsung memacu kudanya dan meninggalkan kediaman Tuan Senopati.


sepeninggalan pangeran pandu, Tuan Senopati langsung mengajak seluruh keluarganya baik itu anak-anak angkatnya dan para pelayan untuk masuk ke dalam kediaman mereka. sementara pangeran Arga masih sangat begitu kesal kepada saudara sepupunya itu.


(Aku kecewa padamu Kak. Aku tahu kamu akan tegas kepada orang lain apalagi orang-orang yang telah menyinggung perasaanmu serta orang-orang yang kamu cintai. tapi kenapa ? kenapa kamu tidak pernah bisa tegas di hadapan keluargamu yang sudah menjelek-jelekan keluargaku.) batin Arga dengan sendu. tapi ya sudahlah, yang penting adik dan keluarganya baik-baik saja.


***bersambung***