
esok harinya pun menjelang. hari ini Gayatri tengah berada di ruang dimensinya. ia mendatangi ruang dimensinya ketika orang-orang sudah mulai tertidur. ia ingin merendam tubuhnya di kolam air kehidupan. sekaligus mempelajari racun yang ada di dalam tubuh pangeran pandu. tapi itu bukanlah menjadi sebuah masalah besar untuknya. berkat bantuan dari rion, Gayatri dapat memecahkan masalah itu semua, bahkan ia sudah memegang obat penawar bagi racun itu.
"hu !!! nyaman sekali.. tubuh ini rasa kembali seperti semula. segar.." ucap Gayatri. Gayatri berendam sambil memejamkan matanya menikmati setiap unsur air kehidupan menyerap dalam pori-pori kulitnya. sementara Rion, Iya tengah beristirahat di sebuah ayunan yang sengaja Gayatri pasang di ruang dimensi itu.
setelah Gayatri merasa cukup berendam. Ya kembali bangkit dari kolam air kehidupan dan masuk ke dalam kediaman yang ada di ruang dimensinya. Di sana ia mengganti pakaiannya. setelah itu ia keluar menemui Rion yang tengah beristirahat di ayunan.
"Rion.." panggil Gayatri. mendengar suara Gayatri, Ryan langsung reflek bangkit dari tidurnya walaupun matanya masih merem. Iya juga berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"ya Rumi ada apa..?? Kenapa kamu suka sekali mengganggu tidurku.." protes Rion kepada Gayatri. Gayatri yang melihat aksi Rion itu tidak bisa tidak tersenyum. ekspresi Rion ketika menahan kantuk dan berusaha membuka matanya terlihat lucu di depan matanya.
"hahaha kau ini Rion.. Apakah kamu sudah tidak tidur berminggu-minggu lamanya, sampai kamu harus protes seperti ini ketika aku mengganggu tidurmu.." ucap Gayatri ikut melayangkan protesnya.
bukannya Rion tidak suka Gayatri membangunkannya. hanya saja saat ini ia tengah bermimpi bertemu dengan lawan jenisnya sendiri. dan tentu saja itu adalah mimpi yang istimewa yang Rion sendiri tidak ingin mengakhirinya.
"eh bukan begitu Rumi. aku.. hehehe aku minta maaf kalau begitu..." ucap Rion lagi tidak berani melayangkan pembelaan kepada dirinya sendiri. pasalnya Gayatri menatap tajam ke arah Rion sambil memintai keterangan. karena biasanya Rion tidak pernah memprotesnya sama sekali.
"katakan ada apa. Apa kamu sedang berbunga-bunga..?" tuduh Gayatri kepada Rion. Rion yang mendengarkan tuduhan dari Gayatri langsung membulatkan matanya.
"enak saja kamu mengatakanku seperti itu Rumi... tapi kalau memang aku sedang berbunga-bunga.. memangnya tidak boleh..??" ucap Rion sambil bertanya kepada Rumi alias Gayatri. Gayatri tersenyum sinis.
"tentu saja boleh. aku tidak mungkin melarangmu Jika kamu sedang berbunga-bunga. Baiklah aku hanya ingin pamit, Aku titip ruang dimensiku kepadamu. daaa...!!" ucap Gayatri sambil melambaikan tangannya dan menghilang dari sana. Rion yang melihat Gayatri menghilang tanpa memberikannya kesempatan untuk mengatakan sesuatu, membuat Rion merututi kebodohannya karena tidak berhasil menjahili tuannya.
"is main pergi-pergi saja... kebiasaan ini si Rumi ya..." protes Rion kepada dirinya sendiri.
"hais...!! tapi ya sudahlah, lebih baik aku sambung tidur saja." ucap Rion lagi. setelah itu ia langsung tidur kembali di atas ayunan dan langsung terlelap.
***
ceklek
semua orang yang ada di ruangan itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. di sana tampaklah Gayatri yang keluar dengan badan yang segar dan baju yang berbeda.
pangeran pandu yang melihat kecantikan yang berbeda yang terpancar dari raut wajah Gayatri itu tidak bisa tidak terpesona. Lagi-lagi, perasaan asing itu menghinggapi hatinya. jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
( Kenapa perasaanku jadi seperti ini..?? jantungku juga berdetak sangat tidak normal. apa yang terjadi denganku.. hais... nantilah aku akan konsultasi ke tabib. takut terjadi apa-apa dengan diriku.) batin pangeran pandu sambil berusaha menenangkan jantungnya yang saat ini tengah berpacu akibat ulah Gayatri.
"gaya, kamu sudah bangun dek..?? Kakak pikir kamu sangat merasa nyaman hingga kamu tidak ingin tidur kamu diganggu. eh ternyata, pas keluar malah menyerupai bentuk bidadari.. hehehe.." ucap Arga sambil melirik sebentar ke arah pangeran pandu. ia menyadari bahkan sempat mendengar detak jantungnya yang berdenyut.
Gayatri yang mendapat sindiran seperti itu tersipu malu. siapa sih perempuan yang tidak akan melayang ketika mendengar ucapan laki-laki seperti itu. walaupun tentu saja itu adalah keluarga sendiri.
"sini dek duduk.." panggil badiran kepada Gayatri. Gayatri yang mendapatkan panggilan langsung bergegas jalan dan bergabung kepada ketiga laki-laki itu.
"sarapanlah dulu. kami sudah sarapan dari tadi. habisnya kamu sangat lama bangun." ucap badiran kepada Gayatri. Gayatri terkekeh.
"maaf Kak.." ucap Gayatri.
Gayatri pun langsung mengabaikan ketiga laki-laki itu dan memakan sarapannya. tak menunggu waktu lama aktivitas Gayatri tersebut selesai.
"Oh iya pangeran pandu. aku sudah memiliki penawar racun itu." ucap Gayatri sambil menyerahkan obat penawar di dalam botol kecil.
semua yang ada di sana pun melongo. mereka tidak menyangka hanya dengan satu malam Gayatri mendapatkan obat penawar itu. pasalnya Gayatri tidak pernah meminta tolong apapun kepada mereka.
"Dari mana kamu mendapatkannya dek..? Kenapa kamu sama sekali tidak meminta tolong kepada kita. jangan bilang kamu keluar malam-malam untuk mencari bahan-bahan herbal untuk meracik obat penawar ini..??" tanya Diran sambil memiciingkan matanya ke arah sang adik. Gayatri tersenyum mendengar betapa cerewetnya kakaknya itu.
"Iya Kak maaf. lagi pula Gayatri mendapatkan herbal-herbal itu tak jauh dari tempat ini. makanya Gayatri tidak meminta bantuan. lagian Gayatri kan sudah tidak apa-apa.." ucap Gayatri dengan santai. Arga dan Diran pun menarik nafas mereka dengan gusar. lagi-lagi adik mereka membuat mereka khawatir.
"Iya kami tahu, tapi kan seharusnya di malam hari kamu tidak keluar sendiri..!! Bagaimana kalau terjadi apa-apa..!! masih untung tidak terjadi apa-apa kan..? lain kali jangan seperti ini, dengarkan nasehat orang tua." protes argantara tidak terima. Gayatri lagi-lagi tersenyum mendengar protesan protesan yang keluar dari mulut-mulut kakaknya itu.
sementara pangeran pandu, ia Hanya duduk diam dan menyimak apa yang mereka perdebatkan. Jujur saja Ia juga merasa heran Bagaimana Gayatri bisa mendapatkan penawar racun secepat ini.
pasalnya racun pelumpuh ini adalah racun baru di kota mereka. yang ada hanya racun tikus dan racun serangga, yang tentunya itu digunakan untuk mengusir serangga. baru kali ini ia ada mendengar ada racun yang bisa digunakan untuk manusia seperti racun pelumpuh ini. pangeran pandu langsung menyentuh obat penawar itu kemudian mengamatinya lekat-lekat.
"lalu berapakah harga yang harus saya bayar nona..??" tanya pangeran pandu akhirnya membuka suara.
ketiga orang tersebut yang masih setia berdebat, langsung mengarahkan pandangannya ke arah pangeran Satya ketika mendengar suara sang pangeran. kedua kakaknya pun ikut melihat ke arah Gayatri.
"tidak perlu repot-repot pangeran. karena anda adalah saudara dari kakak angkat hamba, maka harga obat itu menjadi gratis. jadi tidak perlu khawatir.." ucap Gayatri lagi. Arga yang mendengar penuturan Gayatri tersenyum, Iya sangat tersentuh begitu Gayatri sangat menghargainya sebagai saudaranya, tapi bukan Arga namanya kalau tidak mendapatkan keuntungan untuk sang adik.
"Jangan begitulah pangeran. walaupun adik saya mengatakan itu gratis, setidaknya berikan dia beberapa koin emas.. aku yakin pangeran bukan orang yang sulit sehingga tidak ada memiliki uang.. iya kan.." ucap Arga menggoda saudara sepupunya itu. sementara Diran dan Gayatri hanya tergeser saja.
"kau ini.. bukannya Kamu sengaja ingin merampok. jangan kamu pikir aku tidak mengetahui akal-akalanmu.. huh..!! kamu sangat payah." ujar pangeran pandu. sambilan mereka terkekeh mendengar perdebatan mereka. lagi-lagi Gayatri dan pangeran pandu tidak sengaja saling bersitatap. yang tentu saja menimbulkan bau-bau jatuh cinta di antara keduanya.
***bersambung***
***bersambung***