
Di lain sisi, di mana Di sebuah kota Raja Majapahit. tampak rumah makan elegan dan mewah itu, tak pernah kekurangan pelanggan. bahkan hari ini pelanggan benar-benar membludak di rumah makan itu, sampai-sampai para pelayan kewalahan melayani para pelanggan.
saat suasana begitu ramai dengan kunjungan Pelanggan dari berbagai polosok negeri. tiba-tiba sebuah suara menghentikan aktivitas mereka.
"semuanya keluar!!, biarkan mereka melayani adiwangsa terlebih dahulu." ucap adiwangsa menyombongkan dirinya di tengah-tengah keramaian itu.
Mereka yang mengenal siapa adiwangsa sebenarnya, tidak mampu untuk memprovokasi orang itu. Iya saja berani menggulingkan ke pemerintahan sang ayah, apalagi dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa. perlahan tapi pasti, orang-orang di sana mulai menyingkir menunggu giliran dan mempersilakan adiwangsa terlebih dahulu.
adiwangsa berjalan masuk dan mengambil tempat duduk, disertai dengan gaya sombong dan angkuhnya. ia memesan berbagai macam makanan di tempat itu.
"sajikan makanan yang enak dan terbaik yang ada di rumah makan ini.!!" serunya dengan sombong. para pelayan pun mulai melayaninya dengan baik selayaknya raja.
setelah makanan enak itu terhidang di depan matanya, iya mulai mencicipi makanan-makanan itu. dan tentu saja semua makanan itu sangat cocok dengan selera lidahnya. ia mengangguk anggukan kepala nya.
(makanan yang enak.) batin nya. ia melahap makanannya tanpa peduli dengan sekitarnya.
adiwangsa benar-benar senang merasakan makanan tersebut, dulu dia hanya mendengar cerita-cerita mengenai makanan ini. dia belum bisa datang berkunjung karena ia masih melakukan perjalanan dinasnya. ðŸ¤
Setelah semua urusannya selesai, Iya pun langsung menyempatkan diri untuk datang ke rumah makan ini sekaligus melihat miniatur dan interior yang ada di rumah makan ini.
( benar saja, makanan-makanan ini benar-benar sangat cocok di lidah. kalau seandainya aku bekerja sama dengan rumah makan ini aku pasti akan untung banyak.) batin adiwangsa mulai merencanakan sesuatu.
(apalagi, rumah makan ini sangat lah indah dan juga nyaman. orang yang berada didalamnya, tidak akan merasa kepanasan.)
(aku juga harus memikirkan cara, untuk mendapatkan rancangan bangunan ini. kalau di terapkan dan dijual ke negeri tetangga, kan lumayan.) pikirannya dengan licik. ia pun kembali melanjutkan makannya.
setelah ia merasa makan yang cukup. adiwangsa pun langsung memanggil pelayan untuk menghitung jumlah yang harus ia bayar.
"pelayan kemari!!" panggilnya dengan suara datar dan dengan gaya angkuh. salah satu pelayan yang ada di sana pun mendekat ke arah meja adiwangsa.
"Iya Tuan, Apakah ada yang bisa kami bantu.??" tanya pelayan tersebut dengan penuh hormat dan dengan kesopanan juga.
"mm... katakan berapa yang harus saya bayar.!!" ucapnya lagi dengan suara menggelegar dan juga Dengan nada sombong. tapi pelayan tersebut terlihat biasa-biasa saja dan tidak terlihat seperti orang yang tertekan.
pasalnya sebelum Gayatri meninggalkan rumah makannya, Gayatri sudah melatih beberapa orang untuk bisa melindungi diri mereka sendiri jika sekiranya ada beberapa pelanggan yang melunjak dan mencari masalah dengan mereka. sehingga mereka mampu membelah diri dan tidak harus dipermalukan seperti halnya yang terjadi yang sudah-sudah.
"20 koin perak tuan,"; ucap pelayan itu dengan sopan. sebenarnya harga seperti itu sangat murah untuk kalangan bangsawan yang lain. Hanya saja karena adiwangsa memiliki sifat pelit dan takut hartanya berkurang, ia mengira makanan itu terlalu mahal. namun tentu saja ia tidak berani mengeluarkan protestan tersebut, dikarenakan di sana terlalu banyak bangsawan yang berada di dekatnya yang juga sedang makan di rumah makan itu. dan juga demi lancarnya rencananya nanti.
(kenapa makanan ini sangat mahal..) batinnya.
Apa kata mereka nanti ketika mendengar protes anda, orang biasa saja bisa membayar makanan tersebut, kenapa seorang yang bergelar bangsawan seperti adiwangsa tidak mampu membayarnya. begitulah pikir adiwangsa.
adiwangsa pun langsung mengeluarkan 20 koin perak dan menyerahkannya kepada pelayan itu. setelah itu ia langsung keluar meninggalkan tempat tersebut. namun sebelum ia meninggalkan tempat itu, terlebih dahulu ia berpesan kepada sang pelayan untuk memberikan kabar kepada majikannya agar meluangkan waktunya esok hari untuk bertemu dengan adiwangsa.
" kamu, nanti sampaikan kepada tuanmu untuk meluangkan waktunya untukku. ada sesuatu yang ingin aku bahas dengannya. dan aku tidak ingin ada penolakan." perintahnya lagi dengan nada sombong. pelayan itu pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah tuan, akan saya sampaikan." ucap pelayan itu.
Setelah mengatakan hal itu, adiwangsa langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Begitu juga dengan pelayan yang melayani adiwangsa tadi. sepeninggalan adiwangsa, Iya langsung bergegas menemui Tuan Senopati di ruang kerjanya.
tok tok tok
"masuk.." terdengar suara sahutan dari dalam ruangan. tanpa pikir panjang, pelayan laki-laki itu pun langsung masuk ke dalam ruangan Tuan Senopati.
Ceklek
"Maaf mengganggu waktu anda tuan, Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu." ujar pelayan laki-laki itu. Tuan Senopati menghentikan aktivitasnya itu dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pelayannya.
"katakan parto. apakah terjadi sesuatu..??" tanya Tuan Senopati dengan hangat. Iya tidak biasa memasang wajah sangar kepada para pelayannya. karena tentu saja rumah makan ini bukan miliknya melainkan milik anak-anaknya.
"begini tuan, tadi Tuan adiwangsa datang makan di rumah makan kita." mendengar nama adiwangsa disebut, Tuan Senopati langsung membulatkan matanya karena terkejut.
( adiwangsa..?? mau apa dia..) batin Tuan Senopati. bukan sifatnya menyela ucapan pelayannya itu, sehingga hanya mampu bertanya dalam hati. Iya terus mendengarkan penjelasan dari pelayannya itu.
"Tuan adiwangsa mengatakan, agar esok hari tuan menyempatkan diri untuk menyambut kedatangannya. tapi saya kurang tahu pasti, apa yang ingin Tuan adiwangsa sampaikan." tutur pelayan Parto kepada tuan Senopati. Tuan Senopati yang memegang pulpen dari zaman modern itu hanya mampu mengganggu anggukkan kepalanya.
ia mengira, adiwangsa pasti akan mencari masalah dengannya. tapi ia tidak ingin berperasangka buruk terlebih dahulu, v namun tentu saja ia harus memiliki persiapan.
"baiklah. saya mengerti.. Apakah ada hal lain lagi..?" tanya Tuan Senopati lagi. pelayan Parto membungkukkan dan menunduk memberi hormat kepada tuan Senopati.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan Tuan. kalau begitu saya pamit undur diri." tutur pelayan Parto lagi. setelah mendapat persetujuan dari tuan Senopati, pelayan barto langsung meninggalkan ruang kerja Tuan Senopati dan kembali bekerja seperti semula, bergabung bersama para pelayan yang lain.
sepeninggalan pelayan Parto, tampak Tuan Senopati menghela nafasnya dengan berat. ingatan masa lalu kembali berputar di dalam kepalanya.
di mana dengan teganya tuan adiwangsa menggulingkan kepemimpinan ayahnya di klan keluarga. bahkan dengan teganya, ia mencari kesalahan-kesalahan ayahnya.
memikirkan hal itu membuat Tuan Senopati benar-benar merasa marah kepada tuan adiwangsa. sejenak ia memejamkan matanya, ya benar-benar harus memiliki persiapan untuk menghadapi adiwangsa keesokan harinya.
"huf !!! sepertinya ini lumayan rumit.." liriknya pada dirinya sendiri. setelah itu Tuan Senopati kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
ke esok harinya seperti yang telah disepakati. Tuan adiwangsa datang ke rumah makan itu, disertai dua orang yang memiliki kedudukan penting di keluarganya.
mereka mendatangi rumah makan itu dengan gaya sombong dan gaya mengintimidasi. adiwangsa juga sudah menceritakan hal ini kepada dua orang yang berada di belakangnya itu, yang tak lain adalah admaja dan bahuwirya. mereka adalah saudara sepupu yang membantunya untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya.
pelayan yang sudah diberikan pesan oleh Tuan Senopati, agar saat Tuan adiwangsa sudah datang ke rumah makan mereka, Iya langsung melayani tuan adiwangsa dan langsung mengajaknya ke ruang kerjanya.
melihat hal itu, lagi-lagi itu adalah pelayan yang sama datang menyambut kedatangan tuan adiwangsa.
"selamat datang tuan adiwangsa. mari, Tuan Saya sudah menunggu kedatangan Anda. setelah mengatakan hal itu, pelayan Parto langsung membawa dan membimbing Tuan adiwangsa menuju ruang Tuan Senopati.
***bersambung***