
Tampak dari jauh, dua orang sedang melakukan aktivitas membersihkan pekarangan rumah. terlihat keduanya langsung menyadari keberadaan mereka. dengan tergopoh-gopo kedua orang tersebut langsung berlari menghampiri mereka.
"Kakak !! kalian telah kembali.. syukurlah Kami sempat mengkhawatirkan kalian." ucap seorang pemuda yang menghampiri mereka tadi. tapi tidak tiba-tiba tatapan mereka beralih kepada Gayatri dan ketiga pemuda yang menurut mereka sangat asing.
"Siapa mereka kak..?? Kenapa bisa sampai ke sini..??" tanya laki-laki yang sepertinya lebih kecil dari mereka. aji pun langsung mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Gayatri dan kedua saudaranya.
"Tuan nona, perkenalkan dia adalah murid yang paling kecil di antara kami, namanya Bagas. dan Bagas berikan hormatmu selayaknya seorang murid kepada gurunya. karena mereka adalah penerus dari Tuan guru kita." ucap aji menjelaskan kepada Bagas.
Bagas dan Guntur yang berada di samping Bagas langsung membulatkan mata mereka tidak percaya. mereka sama-sama mengarahkan pandangan ke arah Gayatri dan ketiga pemuda yang ada di belakangnya.
"benarkah kak aji, kakak tidak bohong kan..!!" ucap Guntur kepada aji.
"sebaiknya nanti saja pertanyaan ini. sekarang bawalah kami melihat ketiga saudara kalian yang sedang sakit." kali ini Rion yang bersuara. sontak saja semuanya langsung tersadar.
"Oh iya kak aji aku sudah lupa. cepatlah kita harus melihat kondisi dan keadaan mereka." ucap Gayatri membenarkan ucapan dari Rion.
"Baiklah nona. ayo kita harus melihat ketiga saudara kita. di mana hardiata..??" Tanya aji kepada Bagas dan Guntur. sambilan mereka mengayunkan langkah kaki.
"hardiata sedang di dalam Kak, Iya sedang membasuh tubuh ketiga saudara kita." jelas Guntur. Mereka pun terus masuk ke dalam ruangan itu, sementara Bagas memilih untuk membersihkan dan menyimpan perkakas-perkakas yang mereka gunakan itu ke tempatnya semula. setelah itu ia langsung menyusul ke dalam.
***
sesampainya mereka di dalam ruangan itu, Gayatri dan ketiga laki-laki itu langsung terhenyu melihat betapa menderitanya ketiga murid padepokan ini.
tubuh mereka hanya tinggal tulang-tulang lagi, bahkan orang biasa akan mengatakan ketiga orang ini tidak ada harapan untuk hidup lagi. Gayatri yang melihat hal itu entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa sakit. tanpa sadar air matanya malah menetes, semua kejadian itu tak luput dari pandangan ke-7 murid perguruan itu.
namun tak ingin terlalu menangisi kondisi ketiga murid perguruan itu, Gayatri langsung memeriksa denyut nadi ketiganya. setelah itu, ia langsung mengeluarkan tiga botol yang berisi obat-obatan.
"kakak Kakak semua, tolong teteskan obat-obat ini ke dalam mulut mereka. buka sedikit mulut mereka agar obat itu bisa masuk ke dalam." ujar Gayatri meminta tolong kepada ketujuh orang tersebut. dengan segera, tiga orang dari ketujuh bersaudara itu langsung bergegas melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Gayatri.
semuanya memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. namun entah kenapa, saat mereka berhadapan dengan Gayatri dan ketiga lelaki yang berada di belakangnya, tingkat kewaspadaan mereka menjadi menurun. entah kenapa mereka merasa bahwa Gayatri dan ketiga orang itu adalah orang baik.
Satu tetes 2 tetes dan 3 tetes mereka teteskan di mulut masing-masing saudara yang tertidur itu. 1 menit 2 menit 3 menit, tiba-tiba obat itu langsung bereaksi. obat tersebut membentuk tulang dan saraf-saraf serta memperkokoh keadaan tulang rapuh mereka. tubuh mereka juga mengeluarkan aroma yang tidak sedap. bukan karena racun, Namun karena cairan-cairan yang ada di dalam tubuh mereka memang sudah lama tidak keluar.
15 manit obat itu bereaksi, akhirnya satu persatu saudara-saudara mereka yang sakit itu mulai membuka mata. ketujuh orang yang melihat perubahan seperti itu langsung bersorak senang.
"Kakak lihatlah..!! mereka sudah sadar..!!" teriak Bagas selaku anak bungsu di antara mereka. Iya sangat senang melihat ketiga saudaranya yang sudah 7 tahun terbaru itu akhirnya membuka mata.
Gayatri yang melihat hal itu juga ikut tersenyum, namun tak berhenti di sana. Gayatri juga langsung mengeluarkan 10 botol air kehidupan.
saat air itu telah selesai diminum, tiba-tiba tubuh mereka sedikit bergejolak dan mengeluarkan cahaya yang putih. semua orang yang ada di sana terkejut, kecuali Gayatri dan Rion.
tak lama cahaya itu kembali meredup. terlihat ketiga orang itu sepertinya telah sembuh dari sakit. namun walaupun sudah sembuh, ketiga orang itu tetap tidak memiliki daging. walaupun mereka sudah memiliki tenaga, namun mereka juga harus memulihkan daging-daging mereka.
"wah terima kasih banyak nona dan tuan tuan. Kami sangat senang melihat ketiga saudara kami akhirnya sembuh hiks... saya Bagas berjanji, akan melakukan apapun yang tuan-tuan minta, kecuali untuk menyakiti saudara-saudaraku." ucap Bagas sambil terisak. Iya menangis karena sangat senang melihat ketiga saudara-saudaranya yang hanya tinggal menunggu mati saja, kini telah sembuh total.
Gayatri dan kedua saudaranya yang mendengar penuturan dari Bagas hanya mampu memberikan senyum manis saja.
"sudah kalau begitu. sebaiknya kita masak-masak, aku sudah sangat lapar.. selesai masak-masak dan makan, kita akan berkumpul nanti." ucap Gayatri kepada kesepuluh bersaudara seperguruan itu dan langsung dibalas anggukan kepala dari mereka.
"Ya sudah nona. Nona dan tuan-tuan istirahat saja, biar kami yang memasak." ucap aji kepada Gayatri dan ketiga pemuda itu. Gayatri pun langsung tersenyum.
"tidak! aku yang akan memasak, sementara kalian akan membantuku menghidupkan arang dan juga membersihkan ayam-ayam ini." ucap Gayatri sambil menunjuk 10 ekor ayam yang ada di tangan Rion.
"dan juga tolong, jangan memanggilku nona. aku rasa kalian semua lebih tua dariku, jadi biarkan aku memanggil kalian Kakak dan kalian memanggilku adik seperti kedua kakakku. dan di sini juga, tidak ada istilah tuan dan Nona. Apakah kalian paham.." ucap Gayatri lagi mengingatkan mereka semua.
"Kami paham no_ eh maksudnya dek.. hehe..." ucap Bagas sambil menggaruk-garuk kepalanya. orang yang melihat tingkah Bagas pun hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Oh ya kakak-kakak yang baru sembuh ini siapa namanya..??" tanya Gayatri kepada mereka.
"mereka adalah saudara tertua, karena itu mereka terluka akibat melindungi kami. ini namanya Kak ganendra, Kak gading dan Kak Abimana." ucap aji memperkenalkan ketiganya.
"Oh begitu, salam kenal Kak nendra, Kak gading dan Kak Abi. dan juga kalian semua. perkenalkan aku Gayatri, dan kedua lelaki ini adalah Diran dan Arga, mereka adalah kakak-kakakku. dan ini adalah sahabatku Rion." ucap Gayatri sambil memperkenalkan dirinya dan kedua kakaknya serta Rion.
karena saat mereka berada di tengah-tengah hutan tadi, mereka belum sempat memperkenalkan diri masing-masing.
"salam kenal dan hormat kami kepada tuan dan Nona." ucap mereka dengan penuh hormat.
"Ya sudah kalau begitu. aku akan memasak bubur untuk ketiga Kakak ini, dan juga akan memasak ayam bakar untuk kita semua. ayo Kak bantu gaya untuk memasak. dan yang lainnya tunggu di sini saja." ucap Gayatri.
Gayatri langsung menyeret tangan Bagas dan Rion untuk pergi ke dapur. sementara Guntur langsung berinisiatif untuk ikut membantu, sementara Daka dan Bima pun, tidak mau kalah. mereka juga memilih untuk ikut dan membantu Gayatri di dapur.
sementara yang lainnya, mereka Langsung beristirahat di tempat itu, sambil terus mau ngobrol-ngobrol ringan dengan keenam orang tersebut.
***bersambung***