
sementara di tempat lain, Tuan asep berlari dengan tergopoh-gopoh untuk bertemu dengan Tuan Senopati.
tok tok tok
pelayan asep mengatup pintu ruang kerja Tuan Senopati. Tuan Senopati yang berada di dalam ruangan langsung memerintahkan orang itu masuk.
ceklek...
"maaf saya mengganggu tuan, Saya hanya ingin menyampaikan kalau Nona Gayatri dan para tuan muda telah kembali." ucap pelayan Asep. Tuan Senopati yang mendengar bahwa anak-anaknya telah kembali langsung menghentikan aktivitas menulisnya. ya kemudian menetap ke arah sang pelayan untuk mengkonfirmasi apa yang telah Ia dengar.
"Apakah kamu yakin anak-anakku telah kembali..!! " tanya Tuan Senopati sambil mengerutkan keningnya.
"benar tuan, dan saat ini tuan-tuan dan Nona Gayatri tengah berada di halaman belakang rumah makan." ucap pelayan itu sambil memberitahu di mana Gayatri dan kedua kakaknya.
mendengar penuturan tersebut, Tuan Senopati langsung bergegas menuju halaman belakang rumah makan. Iya bahkan berjalan tanpa jeda, langkah kakinya begitu cepat menyusuri lorong-lorong rumah makan itu. bahkan para pelayan yang menyapa Tuan Senopati tak ia pedulikan, karena yang dipikirannya sekarang adalah melihat anak-anaknya.
Brak...
Tuan Senopati membuka paksa pintu halaman belakang rumah makan itu. tanpa beberapa dari mereka ada yang terkejut dan mulutnya masih menggigit paha ayam, ada juga yang sedang menyiapkan nasi ke dalam mulutnya ikut mematung karena mendengar suara dobrakan pintu itu.
di ambang pintu terlihat Tuan Senopati yang tengah menarik nafasnya. matanya juga tak henti-hentinya memindai mereka satu persatu, sampai matanya tertuju kepada ketiga anaknya.
Gayatri yang melihat kedatangan lelaki yang begitu ia rindukan, langsung bangkit dan berhambur memeluk tubuh Tuan Senopati. Iya juga tak henti-hentinya mengukir senyum di bibirnya. Tuan Senopati pun tak mau kalah, Iya juga langsung membalas pelukan sang anak.
"Ayah apa kabar..!!! Aku sangat merindukanmu.." ucap Gayatri sambil memeluk erat tubuh ayahnya.
"ayah dan ibu tentu baik-baik saja. Ayah juga begitu merindukan kalian.." ucap Tuan Senopati sambil matanya berkaca-kaca melihat keberadaan ketiga anaknya. namun tiba-tiba Tuan Senopati mengerutkan keningnya, karena melihat betapa banyaknya pemuda yang bergabung di meja itu. Iya menatap Gayatri dengan heran.
kedua saudara Gayatri juga sudah berhambur berganti-gantian memeluk tubuh Tuan Senopati. setelah acara harus mengharukan itu, Tuan Senopati langsung bertanya kepada anak-anaknya.
"siapakah mereka..?? Kenapa datang bersama kalian..??" tanya Tuan Senopati kepada anak-anaknya. Diran pun langsung memperkenalkan kesepuluh pemuda itu, yang ternyata kini telah bangkit dan membuat barisan.
"Ayah perkenalkan, mereka adalah murid-murid dari padepokan harimau putih yang saat ini telah kami anggap sebagai saudara kami sendiri. yang di depan namanya adalah aji, Guntur, hardiata, Daka, Bima, Cakra, dan Gentala. selanjutnya ada Kak ganendra, Kak gading dan Kak Abimana." jelas Diran sambil memperkenalkan kesepuluh pemuda itu.
Tuan Senopati sebenarnya sempat syok mendengar padepokan harimau putih. Ia berpikir Apakah benar mereka adalah murid-murid dari padepokan itu. masalahnya padepokan itu telah lama menutup diri dari khalayak ramai. Tuan Senopati yang mendengarkan penuturan putranya hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, selamat datang dan selamat bergabung di kediaman kami. tapi sebenarnya ini adalah kedai bukan rumah. berbuatlah senyaman Ananda semuanya." ucapkan Senopati kepada mereka semua. Tuan Senopati langsung menyebut Ananda, karena tentu saja anak-anaknya telah menganggap pemuda-pemuda ini adalah saudara-saudara mereka. jadi tidak ada salahnya juga jika Tuan Senopati menganggap mereka semua adalah anak-anaknya.
ke-10 pemuda yang disambut baik kehadirannya oleh Tuan Senopati langsung membungkuk hormat. berbeda dengan seorang pemuda yang bernama Hardiata. Ia adalah seorang pemuda yang selalu dapat menyamakan karakter serta rupa dan maupun wajah orang lain. Iya juga menatap wajah itu lekat-lekat.
"maaf tuan jika saya lancang. Namun sepertinya wajah Tuan sangat tidak asing bagi saya.." ucap hardiyata sambil membungkuk hormat. Tuan Senopati yang mendengarkan penuturan dari hardiata langsung mengarahkan pandangannya ke arah sang pemuda. Begitu juga dengan yang lainnya. mereka memang belum mengetahui kalau Tuan Senopati adalah keturunan dari guru mereka. Gayatri dan kedua saudaranya tidak bercerita sama sekali mengenai silsilah mereka.
"memangnya, kamu melihatku sebagai siapa anak muda..??" tanya Tuan Senopati. hardiata kembali membungkuk, sementara yang lainnya juga menunggu pernyataan dari Hardiata.
"kamu bener, Aku adalah anak dari ayah chandragupta. tapi kenapa kalian menyebut ayahku sebagai guru kalian." tutur Tuan Senopati. ke-10 pemuda itu berlangsung berlutut tanpa menjawab pertanyaan dari tuan Senopati, yang tentu saja membuat Tuan Senopati bertambah heran.
Gayatri yang melihat hal itu tentu saja sangat paham arah pembicaraan itu. karena saat ini mereka tengah makan, Gayatri pun langsung memotong pembicaraan itu.
"Ayah nanti saja kami jelaskan. sekarang kami harus makan terlebih dahulu karena kami sudah sangat lapar. Oh iya di mana Ibu tercintaku.." ucap Gayatri dengan penuh harap, ia melihat kanan dan kiri berharap bisa melihat sosok ibunya.
"ibumu sedang istirahat nak. jadi selesaikan dulu makan kalian, setelah itu jelaskan kepada ayah apa yang sebenarnya terjadi. sambil bertemu dengan ibu kalian." tutur Tuan Senopati kepada anak-anaknya.
Tuan Senopati pun juga mempersilahkan kesepuluh pemuda itu dan mengatakan agar tidak sungkan terhadapnya. begitu besar jiwa Tuan Senopati, Ia pun ikut bergabung bersama dengan pemuda-pemuda itu di meja tersebut.
semuanya pun melanjutkan makan dengan haning tanpa satu orang pun yang mengeluarkan suara.
***
kini acara makan-makan telah selesai. dan kini semuanya pada berkumpul di ruang tamu. bahkan Tuan Senopati yang memang sudah belajar menilai karakter seseorang tidak ragu terhadap ke-10 pemuda itu. Iya juga mempersilahkan mereka duduk sejajar dengan mereka.
karena pada umumnya, Tuan Senopati memang tidak membatasi dirinya atau memperlakukan strata dalam keluarga mereka. baginya semua manusia sama saja, yang membedakan mereka adalah tingkah laku dan isi hati.
"Mbak Nining, tolong panggilkan istriku di kamar ya.. katakan saja kepadanya kalau aku ingin bertemu." ucap Tuan Senopati kepada pelayan rumah mereka yang tengah menyediakan air teh atau minuman lain di atas meja.
"baik Tuan, kalau begitu saya undur diri." setelah pekerjaan mbok Nining selesai. Iya pun langsung pergi ke kamar sang majikan untuk memanggil Nyonya rumah ini.
tok tok tok
mbok Nining mengetuk pintu dengan suara pelan sambil memanggil sang nyonya.
"Nyonya saya adalah mbok Nining.." sahut mbok Nining dibalik pintu.
"masuk saja mbok, pintunya tidak dikunci." ucap sang nyonya.
ceklek
mbok Nining pun langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar sesuai dengan perintah dari sang nyonya.
"Nyonya Maaf mengganggu... tadi Tuan memanggil Nyonya untuk ke ruang tamu segera." ucap mbok Nining dengan hormat.
"Baiklah mbok nanti saya akan ke sana." ucap nyonya diaswari lagi. Nyonya diaswari kalau dipanggil oleh suaminya tidak pernah bertanya ada urusan apa. Iya hanya akan bertanya kepada suaminya langsung mengenai hal suaminya memanggilnya.
**bersambung***