MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
59. padepokan atau istana


akhirnya Gayatri memenangkan pertarungan itu. dengan mayat yang bergelimpangan di mana-mana.


ternyata Rion di sana sudah bergerak cepat memberikan pertolongan kepada ke-5 orang tersebut dan kedua kakaknya.


aksi Gayatri yang mengeluarkan aura penguasa itu ternyata langsung membuat gempar dunia persilatan tersebut. banyak yang menduga-duga Apakah seorang penguasa telat telah terlahir kembali. Begitu juga dengan kelima orang tersebut. saat mereka telah sembuh dengan obat yang telah diberikan oleh Rion, mereka semua saling melirik satu sama lain.


"siapakah kalian..?? namun terima kasih sebelumnya sudah membantu kami..!" ucap salah satu dari mereka yang sepertinya orang tertua di antara mereka.


Gayatri dan kedua kakaknya pun tersenyum mendapati keramahtamahan orang-orang itu.


"sama-sama, Kalau boleh tahu kalian hendak ke mana..?? dan Kenapa kalian sampai di Serang seperti itu." tanya Diran kepada kelima orang tersebut. mereka semua pun saling bertukar pandang, seolah mereka memberikan syarat untuk meminta izin mengungkap Siapa mereka. satu persatu dari mereka pun saling menganggukkan kepalanya tanda setuju. Gayatri, Rion dan kedua kakaknya pun menjadi heran melihat gelagat mereka.


"Baiklah tuan dan Nona. perkenalkan kami adalah, saya adalah aji, dan mereka adalah saudara seperguruan saya, Daka Bima, Cakra, dan Gentala. Kami sedang melakukan perburuan di tempat ini. dan kami berasal dari lembah lembayun." ucap aji sambil memperkenalkan diri mereka semua.


mereka yang mendengar nama lembah lembayun langsung membulatkan mata. Begitu juga dengan Gayatri, Gayatri pun langsung cepat-cepat mengkonfirmasi semua dugaannya.


"Apakah kalian murid dari perguruan harimau putih..??" tanya Gayatri dengan antusias.


kelima orang yang mendengarkan nama perguruan mereka disebut langsung membungkam. Kenapa orang tersebut langsung berpikiran tentang perguruan harimau putih. Mereka pun semua langsung bersitatap bingung.


Gayatri yang melihat kebingungan di mata kelima orang tersebut segera mengulang dan menenangkan mereka.


"kalian jangan khawatir. kami bukanlah orang yang jahat. justru kami ke sini untuk menemukan padepokan harimau putih untuk menyampaikan amanah. dan kini aku bertanya, Apakah kalian dari padepokan harimau putih..??" tanya Gayatri lagi dengan mata yang sangat meyakinkan.


aji yang melihat sorot mata yang begitu meyakinkan dari Gayatri langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


"Iya kami adalah murid dari padepokan harimau putih." ucapnya lagi. Gayatri dan kedua saudaranya pun langsung berbinar, akhirnya mereka dapat menyelesaikan amanah yang diberikan oleh sang kakek. tapi tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi heran. Iya kembali menatap kelimanya.


"Apakah kalian hanya tinggal segini saja..??" tanya Gayatri lagi dengan penuh keheranan. aji pun menundukkan kepalanya dan berubah dengan raut wajah yang sedih, Begitu juga dengan keempat orang tersebut.


"kami terdiri dari 10 orang yang tinggal, setelah guru meninggal. tapi ketika saudara kami sedang terluka dan sampai sekarang belum juga sembuh-sembuh. sementara dua orang lainnya tengah berada di tempat kami menjaga ketiga saudara kami. sementara kami berlima memutuskan untuk pergi berburu untuk makanan Kami nanti." ucap aji dengan perasaan sedih.


mengingat ketiga saudaranya yang terluka akibat pertarungan beberapa kelompok yang menginginkan perguruan mereka hancur sampai dengan akar-akarnya itu, menyebabkan ketiga saudara mereka sampai sekarang terbaring dan tak bisa berbuat apa-apa.


namun 7 orang yang masih sehat ini tak ingin meninggalkan ketiga orang yang sekarat itu, walaupun salah satu dari tiga orang itu telah menyerah dan mengatakan untuk mereka meninggalkan mereka, dan pergi ke tempat lain yang lebih aman. namun tetap saja aji dan teman-temannya tak ingin kehilangan 3 orang tersebut.


Gayatri yang mendengar cerita dari aji langsung menarik nafasnya dengan gusar. Iya juga mengarahkan pandangannya ke arah kedua kakaknya. tampak sorot mata mereka juga menyiratkan kesedihan.


"sudah berapa lama ke-3 saudara kalian itu sakit..??" kali ini Diran yang bertanya. aji kembali menegakkan kepalanya, dan menatap lawan bicaranya.


dari sanalah terlihat kelima pemuda itu sangat rapuh. mereka sangat ingin membantu namun tidak dapat melakukan apapun. jika seandainya sakit mereka bisa dibagi-bagi, pasti mereka ingin membagi rasa sakit itu agar mereka sama-sama merasakannya sehingga mengurangi beban sakit dari ketiga saudara mereka.


"kalau begitu tunggu apa lagi..!! ayo kita ke sana..!! mereka harus segera ditangani.." ucap Gayatri lagi sambil bersiap-siap.


kelima pemuda itu pun langsung menatap Gayatri dengan heran. mereka semua juga kembali bangkit dan berdiri.


"kalian pimpin jalannya..!! kita akan pergi ke padepokan kalian. dan untuk masak-masak, nanti kita masak di padepokan kalian saja, setelah menangani ketiga saudara kalian." tutur Arga kepada kelimanya. tapi lagi-lagi kelima pemuda itu tidak bergeming, mereka sedang dilanda kebingungan melihat keempat orang ini sangat antusias.


"maaf tuan-tuan dan Nona, sebenarnya siapa kalian. Kenapa kalian mengetahui nama perguruan kami." ucap aji lagi mengutarakan apa yang terlintas di kepalanya.


Diran yang mendengar pertanyaan dan keraguan Dari mata aji itu, langsung mendekati aji dan menepuk pelan pundaknya.


"tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang. Tapi sebaiknya kita pergi terlebih dahulu. Setelah itu kami akan menjelaskannya." ucap Diran kepada aji dan teman-temannya. untuk menghilangkan rasa ragu-ragu di hati aji, Diran pun langsung mengeluarkan sebuah token yang diberikan oleh guru nya itu kepada mereka.


sontak saja aji dan kelima orang itu langsung terkejut. itu adalah token pemimpin, di mana siapapun pemegang Token itu adalah pemimpin padepokan selanjutnya. mereka dengan senang dan gembira langsung bersujud dihadapan Diran dan kedua saudaranya itu.


"maafkan kami guru.. kami tidak mengetahui keberadaanmu.." ucap mereka dengan serentak. Diran tersenyum dan kemudian menepuk kembali pundak mereka yang tengah bersujud.


"bangunlah kita harus bergegas." ucapnya lagi. dengan perasaan senang dan tidak bisa dilukiskan dengan apapun, kelima orang tersebut pun langsung menuntun keempat orang itu ke tempat lembah lembayung di mana perguruan Mereka berdiri.


***


tak lama mereka pun sampai di lembah itu. ternyata mereka tidak pindah kemanapun. mereka hanya membuat sebuah formasi untuk melindungi padepokan mereka, sehingga tidak terlihat di permukaan. Tampaknya formasi perlindungan itu sangat kuat, sehingga sekuat apapun orang tak mampu dapat menembus araya itu.


"di sinilah tempat kami tuan dan Nona. mari silakan masuk.!!" mereka semua pun langsung masuk mengikuti aji menembus araya perlindungan itu.


sontak saja, keempat tamu mereka Langsung terkejut melihat begitu megahnya padepokan itu. icon padepokan juga berdiri tegak di depan pintu gerbang padepokan mereka.


dari tampilan dan gaya bangunan yang mereka lihat, itu bukanlah sebuah padepokan. melainkan adalah sebuah istana yang berdiri kokoh dan sangat megah. Diran dan kedua saudaranya pun tak henti-hentinya merasa takjub, bahkan istana Majapahit yang mereka tahu pun tidak sebanding dengan bangunan yang ada di depan mata mereka.


"selamat datang tuan dan Nona. ini adalah padepokan kita. Mari masuk ke dalam.." ucap aji langsung mengajak ketiga bersaudara dan juga Rian bersamanya.


tanpa berlama-lama, Gayatri Rion dan kedua kakaknya pun langsung mengikuti kelima bersaudara itu. ternyata mereka hanya memasuki gerbang namun tidak memasuki ruang dalam istana.


"loh !! kenapa kita harus berjalan ke sini..?? Apakah pintu di sana tidak berfungsi..??" tanya Gayatri dengan penuh keheranan. aji pun tersenyum mendengar pertanyaan dari Gayatri.


"pintunya berfungsi nona, hanya saja masuk ke dalam istana bukan hak kami. melainkan hak dari guru kami dan juga penerusnya. kami hanya tinggal dan merawat ruangan luarnya saja, sementara bagian dalam kami tidak berani memasukinya." jelas aji sambil kaki mereka terus melangkah memasuki sebuah ruangan di belakang gedung megah itu.