MENJADI GADIS PETANI

MENJADI GADIS PETANI
36. rumah baru


selama 10 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kota raja. karena waktu sudah menunjukkan matahari akan tenggelam, keadaan kota raja itu sedikit sunyi dari orang-orang. di pasar juga telah banyak para penjual kembali ke rumah mereka. kereta yang Gayatri dan keluarganya tumpangi langsung bergegas menuju kediaman Gayatri. di mana kediaman itu adalah bekas penginapan yang mereka beli kepada nenek tua pemilik penginapan.


sesampainya keluarga Gayatri di sana, semuanya terheran-heran melihat kemegahan bangunan tersebut kecuali Diran dan Gayatri. tampilan rumah itu benar-benar elegan bahkan terkesan sangat mewah. Tuan Senopati yang sekaligus kagum juga merasa heran. ia bertanya-tanya, Apakah mereka tidak salah rumah.


"nak, Apakah kita tidak salah tempat ? bangunan ini benar-benar megah dan sangat elegan. Bagaimana mungkin kita yang hanya rakyat jelata dapat memasuki rumah mewah dan cantik ini." puji tuhan Senopati sekaligus merasa insecure dengan tampilan itu. Diran tersenyum mendengar ocehan sang ayah.


"Ayah tenang saja, ini adalah rumah kita. jadi ayah tidak perlu khawatir. ayo kita masuk.." ucap Diran mengajak semua keluarganya masuk ke dalam rumah itu.


saat mereka melewati gerbang, tanpa beberapa pekerja yang sibuk melakukan aktivitasnya di sana. mereka tidak menyadari kedatangan Gayatri dan keluarganya, karena Gayatri memang menolak kalau para pelayannya menyambut kedatangannya. di sini juga para pelayan tidak diberlakukan seperti binatang, Gayatri mendidik mereka semua untuk saling bahu-membahu dalam pekerjaan mereka. saat mereka tengah masuk, salah satu pelayan melihat kedatangan mereka dan berjalan menghampiri.


"Nona, tuan muda, nyonya dan Tuan. kalian telah kembali.." ucap pelayan tersebut yang dikenal dengan nama pelayan aseng, umurnya tidak jauh berbeda dengan Diran dan Arga.


"Iya Kak aseng, kita telah kembali. Apakah kamar yang tadi gaya suruh dibersihkan, sudah dibersihkan ?" tanya Gayatri kepada pelayan aseng. aseng menundukkan kepalanya.


"tentu saja Nona, semuanya sudah dilaksanakan sesuai yang Nona perintahkan. kalau begitu Nona Mari saya bantu untuk membawa beberapa peralatan ini." ucap aseng sambil menunjuk tangan Gayatri yang memegang beberapa alat-alat yang mereka bawa dari rumah mereka itu, karena sebagian besar barang-barang itu Diran masukkan ke dalam cincin penyimpanannya.


mereka semua langsung mau memasuki rumah yang tampilannya seperti istana bahkan melebihi dari istana. karena tampilannya merupakan rumah di dunia modern jadi tidak ada kesan klasiknya di sana.


saat mereka masuk dan tiba di dalam rumah, lagi lagi orang tua Gayatri dan kakak angkatnya berdecak kagum melihat keindahan miniatur bangunan itu.


"wah !! lihatlah yah, semuanya sangat indah dan enak dipandang. sepertinya tak ada yang bisa mengalahkan bangunan ini." ucap Arga kepada ayahnya. tuan Senopati membenarkan.


" kamu benar nak, tampilan bangunan ini sangat indah dan elegan. ayah juga sangat kagum melihat, kira-kira,siapa yang membuat bangunan indah ini." ucap tuan Senopati. ia terus mengedarkan pandangannya dari sudut ruangan itu. Diran tersenyum melihat kekonyolan keluarga nya ini.


( kalau kalian tau siapa yang membuat rancangan bangunan ini, kalian pasti akan terkejut.) batin badiran. ia tersenyum sinis. sambil menggelengkan kepalanya.


"ayah, ibu, kakak. kalian pasti lelah. ayo, Diran antar kedalam kamar." ucap Diran. mereka pun langsung menganggukan kepala, dan langsung mengikuti Diran dari belakang, begitu juga dengan Gayatri.


***bersambung***