
Arga yang masih dipelukan saudara angkatnya itu, ikut membalas pelukan hangat tersebut. tiba-tiba matanya juga menangkap sosok Ayah angkat yang begitu bijaksana yang telah mendidik dan mengarahkan dirinya agar menjadi pangeran yang bijaksana. dengan tanpa perasaan, pangeran Arga langsung melepaskan pelukan dari Diran dan bergegas menuju Tuan Senopati.
Diran langsung menggerutu dalam hati, ketika mendapat perlakuan seperti itu dari pangeran Arga.
( dasar saudara ngak ada akhlak. sembarangan lepas tanpa perasaan. ngak tau apa, kalau masih kangen..) gerutu Diran dalam hati. ia menatap tajam ke arah pangeran Arga.
"ayah, apa kabar..." ucap pangeran Arga sambil merengkuh tubuh Tuan Senopati ke dalam pelukannya. matanya juga menangkap sosok perempuan yang sangat ia cintai, Siapa lagi kalau bukan Nyonya diAswari.
pangeran Arga yang melihat keberadaan ibu angkatnya itu pun mengerutkan keningnya. Iya langsung melerai pelukannya kepada tuan Senopati dan menatap Tuan Senopati serta Nyonya diaswari secara bergantian.
"ayah, Kenapa Ibu juga berada di medan perang. Apakah Ayah tidak melarang ibu..??" tanya pangeran Arga dengan perasaan cemas. Tuan Senopati langsung melemparkan pandangannya ke arah nyonya diaswari yang masih sibuk membantu beberapa pengawal Untuk memindahkan beberapa bahan pangan yang telah mereka bawa.
"hai !! Jangan menyalahkan Ayah tentang hal ini.. Ini semua adalah permintaan ibumu, jika ayah tidak menurutinya bisa-bisa ayah bisa dieksekusi oleh ibumu nanti. bisa dibilang Ayah tidak memiliki pilihan lain.." ucap tuan Senopati sambil menggelengkan kepalanya.
mendengar penuturan Tuan Senopati, pangeran Arga pun langsung mengerti. walau sekeras dan sekuat apapun Tuan Senopati melarang ibunya untuk ikut di wilayah konflik ini, tidak akan bisa melarang sang ibu untuk bergerak, Begitu juga dengan Gayatri. namun Di manakah gadis itu, Kenapa tidak kelihatan. Apakah saat ini ia sedang bersama suaminya.. ? pikir pangeran Arga.
tapi spekulasinya terhenti ketika melihat pangeran Mandala sedang berdiri seperti kebingungan. pandangannya juga celingak-celinguk ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu.
"ayah... dimana Gayatri...??" tanya pangeran Arga kepada Tuan Senopati. sontak saja semuanya jadi terkejut.
"Oh ya ampun..!! tadi kami sedang mencari adikmu, suaminya juga sedang ke limpungan mencari keberadaannya." ujar Tuan Senopati dengan panik. sontak saja pangeran Arga juga ikutan panik.
"kalau begitu ngapain kita berdiri di sini Ayah..!! ayo kita cari sama-sama.." ucap pangeran Arga yang tak kalah panik dengan Tuan Senopati.
secepat kilat mereka semua langsung berpencar untuk mencari dan menemukan sosok gadis satu-satunya diantara mereka. Begitu juga dengan pangeran Mandala.
***
sementara perempuan yang mereka cari, sedang berada di atas pohon untuk mengamati lingkungan sekitar. kini ia telah berpindah lebih jauh dari wilayah perbatasan. Ia ingin melihat dan menyaksikan sendiri pasukan dari Kerajaan Kediri.
seperti biasa, setelah menemukan tempat yang cocok. Iya dan Rion langsung menaiki pohon yang tinggi untuk melihat keberadaan para pasukan dari Kerajaan Kediri.
Lagi lagi, Gayatri memasang teropong untuk mencari dan menemukan pasukan itu. ya terus memutar agar tampilannya membesar sehingga dari jarak jauh ia dapat melihatnya.
untuk sesaat, aman-aman saja. tetapi 30 menit kemudian, Ya kembali melayangkan teropongnya. alangkah terkejutnya Gayatri, ketika melihat pasukan yang jumlah besar mulai mendekat ke wilayah perbatasan itu.
"Rion... Apakah pasukan itu berasal dari kerajaan Kediri..??" tanya Gayatri dengan mata yang masih setia mengintip di teropong itu.
Rion yang masih berjaga-jaga tersentak. Iya kemudian mendekat ke arah Gayatri.
"mana Rumi..." ucapnya. Rion juga ikut mengintip ke teropong itu. Di sana ia melihat sejumlah besar dari para pasukan kerajaan Kediri.
"bener nona, itu adalah mereka." ucap Rion kembali.
"kalau begitu tunggu apa lagi. Aku tidak akan membiarkan mereka memasuki wilayah Kerajaan Majapahit. karena kalau mereka sempat menginjakkan kaki di wilayah ini, maka nyawa para rakyat akan terancam." ujar Gayatri lagi.
"kalau begitu segera utus beberapa anggota mu untuk menyampaikan hal ini kepada pangeran Mandala yang berada di perbatasan. sementara yang lain, akan kita siaga kan di sini bersama mobil- mobil teng dari zaman modern itu. Apa salahnya kita mencoba, lagi pula aku cukup penasaran dengan benda itu." ujar Rion lagi.
"kamu benar, seperti itu saja.," ujar Gayatri lagi.
Rion dan Gayatri pun langsung turun dari atas pohon. Gayatri langsung memanggil beberapa anggotanya, dan juga mengeluarkan teng teng perang dari zaman modern dari dalam ruang dimensinya.
Iya juga mengutus salah seorang untuk menyampaikan hal ini kepada pangeran Mandala agar bersiap-siap.
***
kini 20 tank perang itu telah disusun rapi dan sejajar di wilayah itu. tampak, setiap tank terdiri dari dua atau tiga orang. Gayatri juga memberikan arahan Bagaimana cara menggunakan tenk itu.
srak.. bom...
satu tebakan dari tank perang itu meledak. kemudian disusul oleh 19 tembakan dari masing-masing mobil tank itu.
srek bom
srek bom
"wah nona. ini sangat keren, kalau begini caranya. tanpa harus turun ke medan perang, kita dapat membuat semua musuh-musuh itu terjatuh dengan hanya mengandalkan benda ini." ujar salah satu anggota Gayatri.
"bener nona, ledakannya begitu dahsyat. aku yakin Tak akan ada seorangpun yang akan selamat." timpal salah satu anggota Gayatri lagi. sejenak ia merasa miris dan prihatin kepada pasukan Kediri yang telah memutuskan untuk berperang dengan kerajaan Majapahit.
***
sementara di tempat lain, di mana pasukan Kediri telah sekitar 3 km dari lokasi. mereka dikejutkan dengan suara dentuman bom yang saling bertautan itu. sejarah mereka menghentikan langkah dan bertanya kepada pimpinan mereka.
"suara apa itu Yang mulia.. kenapa rasanya ledakan tersebut mampu menghantam batu yang kokoh sampai menjadi debu." ujar salah satu pengawal itu.
pemimpin mereka yang tak lain adalah parta langsung menghentikan langkahnya. Iya juga mendengar dentuman keras tersebut.
"kalau begitu utus beberapa orang untuk memantau keadaan di depan. jangan sampai kecolongan." ucap parta kepada para pengawalnya.
akhirnya beberapa pengawal memberanikan diri untuk mendekat lebih dulu ke arah itu. sementara Gayatri terus memantau kondisi dan situasi yang ada di sana.
***
di tempat perbatasan, Di mana pangeran Mandala dan Tuan Senopati beserta keluarganya sedang ke lingkungan mencari keberadaan gadis nakal itu. saat itu salah satu anggota yang diutus oleh Gayatri langsung menghadap kepada pangeran Mandala.
"salam kepada pangeran Mandala, Tuan Senopati beserta keluarga." ujar anggota yang diutus itu. pangeran Mandala dan Tuan Senopati serta saudara-saudara yang lain mengamati wajah dan penampilan dari orang itu. dari tampilan, mereka merasa tidak asing dengan orang ini.
"Siapa kamu...??" tanya pangeran Mandala untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.
"perkenalkan pangeran Mandala, Saya ragi. ( ragi itu bukan yang pengembang kue ya.) Saya diutus oleh Nona gayatri untuk menyampaikan kabar bahwa pasukan Kediri telah sampai di perbatasan lapisan pertama." ujar utusan itu.
penuturan itu sontak membuat mereka membulatkan mata. ternyata perempuan yang tengah mereka cari telah berada jauh dari tempat mereka berada.
"apa..!! Apakah kamu yakin istriku berada di sana..??" tanya pangeran Mandala lagi.
"Iya Yang mulia pangeran. namun anda tidak perlu khawatir, karena Nona Gayatri di sana tidak sendiri. beberapa tlik sandi juga sudah berkumpul di sana." ujar utusan itu.
"kalau begitu tunggu apa lagi,..!! ayo kita ke perbatasan lapisan pertama itu." ujar Tuan Senopati kepada semuanya.
mendengar penuturan Tuan Senopati, semua yang ada di sana bersiaga dan bersiap-siap. semua para prajurit mulai memasang baju-baju perang mereka. melihat hal itu, pangeran Mandala langsung mengatur semuanya.
"dengarkan para prajurit kerajaan. kita tidak semuanya akan berangkat ke lapisan pertama. sebagian besar akan ditempatkan di lapisan kedua dan ketiga. tak lupa juga kita akan menempatkan beberapa prajurit pemanah di bagian bukit-bukit yang ada di lapisan kedua. jadi semuanya langsung ambil posisi." ujar pangeran Mandala.
"dan, untuk ayah dan ibu. ayah dan ibu akan berjaga Di lapisan ketiga, pimpin semua pasukan yang ada di sana. lakukan tindakan jika seandainya lapisan pertama berhasil dibobol. untuk pangeran Arga dan mas Diran. kalian akan memimpin Di lapisan benteng kedua. lakukan dan komandoi pasukan yang ada di sana. Selebihnya, 2 jenderal akan ikut saya di lapisan pertama bergabung dengan istri saya." ujar pangeran Mandala dengan mantap.
semua yang ada di sana pun langsung setuju. tanpa menunggu komando lagi, mereka semua langsung bersiap mengambil posisi masing-masing. Begitu juga dengan para pemanah.
"kalau begitu, kalian berhati-hatilah. utamakan keselamatan dan saling melindungi satu sama lain." ujar Tuan Senopati kepada anak-anaknya. karena sebagian anak-anak angkatnya akan bergabung dengan Gayatri dan juga kelompok pangeran Arga.
"baik ayah..." ucap mereka dengan serentak. Setelah itu mereka Langsung meninggalkan lapisan ketiga dan bergerak ke tempat masing-masing.
***bersambung***