Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 99. Bara & Pram


Bara turun dari mobil sport yang terparkir di basement, dengan setelan kantor minus jas. Lelaki tampan itu bergegas masuk ke dalam mal, mencari kantor security seperti yang diceritakan Bella padanya. Tanpa menyadari, mobilnya terparkir tepat di sebelah Alphard milik Kailla, di mana Ricko sedang tertidur menunggu majikannya.


Ada banyak rasa berkecambuk di dalam hati. Untuknya, ini adalah pengalaman pertama Bella membuat masalah. Lebih tepatnya terseret masalah karena ulah istri sahabat baikanya.



Sejak kemarin perasaannya sudah tidak enak. Mengizinkan Bella keluar dengan Kailla pun sebenarnya setengah hati, tetapi ia tidak bisa menolak saat mendengar permintaan Bella yang tampak antusias dengan acara temu kangen dan jalan-jalannya dengan Kailla.


Emosi Bara kian terpancing saat di jalan harus terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas. Semuanya menambah runyam keadaan, membuat perasaannya tidak tenang. Bella sedang hamil, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan kehamilan istrinya itu.


“Semoga saja Pram sudah sampai lebih dulu,” gumamnya sembari berlari masuk.


***


Berbeda dengan Bara, Pram turun di lobi utama mal, membiarkan Bayu yang mencari parkiran di basement untuk mempersingkat waktu.


Lelaki matang ini terlihat jauh lebih tenang saat masuk ke dalam mal, berbeda dengan teman baiknya, Bara. Pram sudah berpengalaman menghadapi situasi seperti ini. Bukan kali ini saja harus berhadapan dengan masalah yang dibuat istrinya. Sejak kuliah dan dibebaskan keluar ke mana saja, tentunya tetap dengan pengamanan berlapis, Kailla sudah puluhan kali berbuat ulah. Ini bukanlah rapat pertama yang harus ditinggalkannya demi mengurusi sang istri.


Tepat melewati pintu lift di lantai satu, Pram bertemu dengan Bara yang baru saja keluar dari dalam lift.



“Bar!” seru Pram tersenyum, memanggil sahabatnya yang tampak berjalan tergesa-gesa. Bahkan hampir menabrak seseorang karena terlalu panik.


“Ah, Pram. Aku kira kamu sudah di lokasi. Ayo!” Mendapati Pram masih berjalan dengan tenang, Bara segera berlari. Ia tidak bisa membiarkan istrinya ketakutan seorang diri.


***


Kailla masih saja berperang kata-kata dengan lawan seterunya. Wanita itu ditemani oleh suaminya yang baru saja tiba.


“Ma, sudah Ma. Biarkan saja. Seperti orang susah saja. Barang diskon diperebutkan,” ucap suami sang wanita menenangkan istrinya.


“Tidak bisa begitu. Itu bukan masalah harga, ada kepuasan tersendiri, Pa,” sahut si wanita.


Kailla yang tidak mau kalah, kembali melontarkan cibiran. “Ah, terus terang saja, tidak mampu membeli yang mahal jadi mengincar yang diskonan!” ejek Kailla, kembali memancing emosi sang wanita.


“Kurang ajar! Aku akan merobek mulut wanita ini,” ucapnya dengan emosi, berusaha berontak dari cekalan sang suami.


Kedua petarung wanita itu harus ditahan, kalau tidak pasti akan terjadi proses jambak-jambakan.


Bella yang duduk di pojok ruangan menahan sakit kepala hanya bisa membutakan penglihatan dan menulikan pendengarannya. Mendengar keributan yang Kailla buat, makin membuat kepalanya pusing.


Di tengah pertengkarannya, tiba-tiba sudut mata Kailla tertuju pada Bella. Temannya itu sedang dalam posisi tidak sehat. Secepat kilat, Kailla menyelesaikan keributan dan menemani Bella dan menyerahkan semuanya pada Sam.


“Boo, kamu baik-baik saja. Maaf, ya,” ucap Kailla saat menyadari keadaan Bella yang memburuk. Bergegas ia menghampiri temannya, membiarkan Sam yang berhadapan dengan security.


Keduanya duduk bersisian, dengan Kailla yang mengusap tangan Bella yang mendingin. Melihat wajah temannya itu memucat, Kailla mulai panik.


“Besok-besok kita bikin rujak saja. Dari pada ke mal. Semoga dedek di dalam baik-baik saja,” bisik Kailla, mengusap lembut perut rata Bella.


Sam yang sedang dicecar pertanyaan akibat ulah Kailla hanya bisa pasrah, menerima nasib, diomeli dan dicaci-maki.


“Itu istrinya dijaga, Mas. Jangan jadi suami takut istri!” omel suami sang wanita.


“Pa!” teriak sang wanita begitu mendengar ucapan suaminya.


“Jadi Papa sekarang sudah berani sama Mama! Mau mengajari suami wanita lain untuk berontak dari istrinya!” omel lawan seteru Kailla itu. Suaranya yang bak petir menggelegar membuat Sam dan security menciut.


Berbagai tekanan yang dihadapi Sam seorang diri membuat asisten Kailla itu akhirnya mengaku. Dengan wajah ketakutan dan suara pelan terbata, Sam melirik ke arah majikannya yang sedang menemani Bella.


“Ma-maaf, sebenarnya saya hanya asisten saja. Tolong jangan hakimi dan salahkan saya,” ucap Sam, membuat pengakuan.


“Hah! Kurang ajar. Kamu berani menipu kami!” Sebuah pukulan kencang berlabuh di pundak Sam, security yang merasa dibohongi sudah mengeluarkan pentungan siap memukul hancur lelaki yang telah menipu mereka sejak tadi. Dengan dibantu sang suami wanita, merengkuh kedua lengan Sam supaya tidak kabur atau pun melawan.


“Ma-maaf Bapak-bapak, saya terpaksa. Kasihani saya dan Nona itu.” Sam menunjuk ke arah Kailla. Ia harus memutar otak sendiri supaya mereka dimaafkan dan dibebaskan.


“Nona itu suaminya sudah sakit-sakitan. Tidak mungkin saya menghubungi dan memintanya datang mengurus istrinya,” ucap Sam beralasan.


“Maafkan aku, Pak Pram. Aku harus berbohong demi kesejahteraan bersama.” batin Sam.


“Orang kaya baru, pasti itu. Dia kesambet melihat harta suaminya yang sudah sekarat!” celetuk sang wanita, masih saja bersikap sinis.


“Karena itu, tidak mungkin meminta suaminya datang ke sini. Suaminya Nona itu jalan saja sudah tidak lurus lagi,” jelas Sam semakin mendramatisir keadaan.


“Hah! Separah itu?” tanya ketiganya heran. Raut kemarahan sekarang menjadi prihatin.


“Ya, bahkan napasnya tinggal setengah,” lanjut Sam. Makin berdrama, makin ia cepat bisa lolos dari ruangan ini.


Namun, bukan Sam kalau tidak apes. Kata-katanya bisa didengar semua oleh Pram. Majikannya itu sudah berdiri tepat di belakang tanpa disadarinya.


“Ya Tuhan. Ya sudah, Pa. Kita berdamai saja. Tidak enak bertengkar dengan calon janda di usianya yang masih muda.” Wanita itu akhirnya mengalah, memilih jalan damai karena kasihan dengan nasib Kailla.


Pram yang mendengar semua ucapan Sam, langsung naik darah.


“Sam! Urusan kita belum selesai!” teriaknya tepat di telinga asisten istrinya.


“Astaga. Tamat riwayatmu,” batin Sam.


“Bapak bapak, Ibu-ibu ma-maaf, ini suaminya nona cantik itu,” ucap Sam berterus terang kembali, takut membuat masalah semakin rumit.


“Hooh! Tadi kamu mengaku suaminya, setelah itu kamu mengatakan suaminya sekarat. Sekarang suaminya yang gagah ini. Mana yang benar?” gerutu security kesal.


“I-ini benar suaminya. Aromanya saja beda, Pak,” jelas Sam lagi, menunjuk ke arah Pram.


“Masih sehat, tidak ada aroma malaikat maut. Bukannya kamu mengatakan suami Nona itu sedang sekarat, tinggal menunggu waktu saja,” potong security, membuat Sam menunduk ketakutan. Pram meradang menahan kemarahan.


“Kurang ajar kamu, Sam. Dibelakangku kamu berani mengaku sebagai suami Kailla!” omel Pram.


“Loh, bukan kali ini saja. Setiap kali bermasalah, lelaki ini menyamar menjadi suami Nona itu.” Sang security ikut mengompori.


Sam mengedar pandangan di tengah ketakutan yang menyergapnya. Bukan hanya Pram, Bara juga sudah berada di ruangan itu. Kailla terlihat duduk sembari menunduk, menciut tidak bisa membela asistennya. Hanya bisa pasrah, melihat kemarahan Pram.


Sedangkan di sebelahnya, terlihat Bara yang memeluk istrinya dengan mesra sesekali mengusap lembut kepala Bella.


“Kita pulang sekarang, Bell,” ucap Bara, meraih tangan istrinya. Sesekali ia menatap sinis pada Kailla.


“Biarkan Pram yang mengurus kekacauan di sini,” lanjutnya lagi.


“Matanya Om Bara mengerikan. Kalau suamiku sudah lama kucongkel keluar biar tahu rasa!” omel Kailla dalam hati.


***


Bara dan Bella baru saja tiba di parkiran mobil. Lengan Bara tidak pernah lepas dari pundak istrinya. Khawatir tercetak jelas di wajah tampannya.


“Bell, besok-besok aku tidak mengizinkanmu lagi pergi dengan pengacau kecil itu," pinta Bara setelah mereka duduk di dalam mobil.


“Kamu lihat saja bagaimana kelakuannya. Kalau aku jadi Pram, sudah aku kembalikan pada orang tuanya,” lanjut Bara, menumpahkan kekesalannya yang sempat tertahan. Ia berusaha tenang di dalam hanya karena menghargai Pram, sahabatnya.


“Mas, keributan ini bermula dariku,” jelas Bella masih berusaha membela Kailla.


“Apa maksudmu, Sweetheart?” tanya Bara mengerutkan dahinya.


“Kailla itu sedang membelaku, Mas. Wanita itu kelewatan, aku baru akan menyentuh sepatu, dia menyerobot. Langsung mengambil dari belakang,” cerita Bella menunduk.


“Begitukah? Ayo kita turun lagi. Aku akan memberi perhitungan dengan wanita itu. Beraninya dia menghina istri Barata Wirayudha!”


“Mas, sudah,” pinta Bella.


Bara yang terlanjur membuka pintu mobil, dibuat tertegun saat melihat Ricko sedang berdiri di samping mobil mereka.


“Laki-laki ini lagi! Mau apa dia menguntitmu, Bell?” tanya Bara dengan tangan terkepal penuh kesal. Ia lupa kalau Ricko sekarang adalah asisten Kailla.


“Mas, Mas mau ke mana?” tanya Bella, panik. Suaminya sudah keluar dari mobil dengan langkah kasar, tidak mendengarkan lagi pertanyaannya. Tidak lama terlihat Bara menarik kerah kemeja Ricko sampai lelaki itu berjinjit.


***


T b c


Love you all


Terima kasih.