Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 88. Ricko Bertamu


Srek!


Bruk!


Bam!


Bunyi sesuatu terjatuh, terdengar sangat nyaring. Terasa bumi gonjang-ganjing, bersamaan degan suara pekik seorang perempuan.


“Mas!” jerit Bella, berlari menghampiri ke tempat kejadian perkara.


Hening seketika. Bella membeku di tempat.


Kumpulan anak-anak yang sedang menikmati gulali langsung membubarkan diri, berlari mendekat ke asal bunyi. Gembala yang sedang bersenandung pun terkejut, bergegas mendatangi asal suara, meninggalkan gerombolan sapi yang kocar-kacir. Para warga terlihat keluar rumah dengan panik, dikira ada gempa bumi.


Rintihan suara Bara akhirnya terdengar.


”Bell, aduh sakit!” keluh Bara, mengusap bokong dan punggungnya yang sakit berbenturan dengan tanah berumput. Belum lagi celana panjangnya robek sampai sebatas lutut, tersangkut ranting pohon mangga.


Ia terlalu fokus dengan sebuah mangga yang menggantung dengan posisi sulit digapai hingga tidak menyadari tempat kakinya berpijak tidak di posisi aman.


Bara menyerahkan sebuah mangga yang berhasil dipetiknya dengan susah payah. Sampai terjatuh pun ia masih menjaga buah mangga itu tetap aman.


“Mas, kakimu,” jerit Bella, menitikan air mata. Kaki Bara mengeluarkan darah yang lumayan banyak akibat tergores ranting,


Beberapa warga yang mengerubungi terlihat membantu Bara duduk bersandar di bawah pohon. Tampak seorang ibu-ibu menyodorkan segelas air putih untuk menenangkan Bara.


“Mas, apa baik-baik saja?” tanya Bella, panik. Belum sempat Bara menjawab, Bella sudah berlari ke mobil mengambil kotak P3K untuk membantu membersihkan luka di betis suaminya.


“Ssshh!” Bara mendesah, menahan perih saat kapas dengan alkohol diusapkan di lukanya.


“Aku tidak apa-apa, Bell,” ucap Bara, menenangkan Bella yang berurai air mata.


Hilang sudah keinginan ibu hamil itu untuk makan rujak mangga. Berganti penyesalan yang tidak berkesudahan. Harusnya, ia mendengarkan permohonan suaminya yang menolak memanjat pohon mangga.


Dengan dibantu warga, Bara dipapah masuk ke mobil. Terpaksa, Bara mengizinkan Bella menyetir untuk pertama kali sejak tinggal di Jakarta.


“Bell, kamu yakin bisa menyetir?” tanya Bara, memastikan.


“Atau aku panggil Pak Rudi ke sini, ya,” usul Bara lagi, tidak berhenti bicara.


“Sudah.Diam saja, Mas. Selama tinggal di Surabaya, aku menyetir sendiri ke kampus. Suamiku bahkan tidak pernah peduli. Kenapa di Jakarta, di depan matamu sendiri ... Mas jadi begini khawatir,” sindir Bella, melirik sekilas.


Bara langsung menutup mulut rapat-rapat, tidak mau memperpanjang urusan. Dikirannya dengan tragedi jatuh dari pohon mangga, ia bisa bermanja-manjaan dan meminta perhatian istrinya yang cantik jelita ini.


Ternyata sama saja, Bella tetap galak dan kasar padanya. Hanya di detik-detik saat ia terjatuh saja Bella melunak. Setelah itu, istrinya kembali seperti biasa.


“Kalau tidak ingat nasehat Ibu ... kalau tidak ingat di dalam perutnya ada bayiku. Aku pasti sudah membungkamnya. Kenapa sejak hamil Bella jadi begini mood-moodan. Setiap berdekatan dengannya, istrinya selalu marah-marah,” batin Bara.


***


Sesampai di rumah, semua orang panik melihat kondisi Bara. Apalagi Ibu Rosma, ia sendiri yang merawat menantu kesayangannya itu. Setiap Bara meneriakan Bella saat membutuhkan sesuatu, Ibu Rosma dengan sigap menghampirinya.


Sejak kembali ke rumah, Bara hanya tiduran di dalam kamar. Luka di kakinya lumayan parah, setiap kali dipakai berjalan akan berasa sakit. Belum lagi Bella memasang perban di sepanjang luka, sehingga menambah kesulitan setiap ia melangkah.


“Bell,” panggil Bara. Entah yang untuk ke berapa kalinya.


Seperti biasa, tidak lama Ibu Rosma masuk dan menanyakan keinginan Bara.


“Aku hanya ... hanya ...." Bara terdiam, ia sudah tidak punya alasan lagi. Sejak tadi ia hanya ingin Bella mengurusnya, tetapi entah kenapa setiap kali memanggil selalu mertuanya yang datang.


“Bella sedang mengurus Icca,” jelas Ibu Rosma seolah mengerti isi pikiran menantunya.


Sebenarnya memang di saat seperti ini Bella yang harus mengurus suaminya. Namun, melihat mood putrinya yang naik turun dan selalu bersikap kasar seharian ini, membuat Ibu Rosma kasihan juga kalau Bara yang sedang terluka dibentak-bentak atau dikasari istrinya.


“Nanti Ibu akan meminta Bella datang menemuimu,” ucap Ibu Rosma, menghibur.


Benar saja, tidak lama Ibu Rosma keluar, Bella masuk ke kamar dengan wajah datar.


“Bell, kamu saja yang merawatku. Aku tidak enak kalau membuat Ibu bolak-balik setiap aku membutuhkan sesuatu,” pinta Bara dengan wajah memohon.


“Mas, kakimu itu hanya luka kecil. Harusnya Mas itu sudah bisa berlari kemana-mana. Cuma luka lecet saja,” ucap Bella.


“Ya, tapi lukanya lumayan, Bell. Kamu tidak melihat darahnya kemana-mana,” jelas Bara, tidak mau kalah.


“Ini jalannya saja susah. Kamu mengikat perbannya terlalu kencang,” lanjut Bara lagi.


“Kalau ikatnya tidak kencang, nanti sebentar-sebentar minta diikat ulang,” sahut Bella.


“Bell, Mas lapar. Bisa tolong ...."


“Bukannya tadi sudah dibawakan makan malam sama Mbak?” tanya Bella.


”Bell, aku mau disuapin. Sudah lama kamu tidak menyuapiku,” pinta Bara dengan manja.


“Mas, yang sakit itu kaki, bukan tangan. Mas bisa makan sepuasnya, tidak akan terganggu,” sahut Bella.


Sejak awal, tidak ada sedikit pun kelembutan yang ditunjukan Bella pada sang suami. Satu-satunya perhatian yang ditunjukan adalah beberapa saat setelah kejadian. Bella menangis melihat kondisinya. Namun, setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Bella kembali ketus dan tidak bersahabat.


“Bell, kamu masih belum selesai acara marahnya?”


“Aku tidak marah padamu, Mas. Hanya saja ... selama ini ... Mas juga selalu mengabaikanku. Mas coba saja rasakan, enak tidak diabaikan,” ucap Bella, menjatuhkan tubuhnya duduk di sisi ranjang, tepat di sebelah suaminya.


“Apa selama ini kamu merasa begitu? Tapi aku tidak pernah mengabaikanmu, Bell. Itu hanya perasaanmu saja,” jelas Bara.


“Sudahlah, Mas. Aku akan mengambilkan makan malam untukmu."


Bella mengalah. Sekali ini ia menuruti permintaan suaminya. Segera turun ke dapur untuk mengambil makanan untuk Bara.


Tidak lama, ia sudah kembali dengan nampan berisi makanan. Sembari duduk disisi ranjang, ia mulai menyuapi suaminya.


Suapan pertama masuk ke dalam mulut, Bara tersenyum, sesekali menggoda istrinya.


“Bell, kalau kamu manis begini, semakin cantik,” rayunya.


“Sudah. Tidak perlu berkata seperti itu. Tidak akan mempan lagi, Mas,” ucap Bella kembali menyuapkan sesendok nasi dengan ayam goreng di atasnya.


Baru saja Bella akan menyuapkan makanan ke mulut suaminya kembali, terdengar pintu kamar diketuk pelan.


“Bu ... Bu, ada tamu yang mencari Ibu,” panggil sang asisten rumah tangga dari balik pintu.


“Tamu?" ucap Bella heran.


Jangankan Bella, Bara pun ikut mengerutkan dahinya. Selama tinggal di Jakarta, Bella tidak memiliki teman. Jadi tidak pernah ada tamu yang datang ke rumah mencarinya.


“Siapa, Mbak?” teriak Bella, melanjutkan menyuapi suaminya.


“Tamunya mengaku bernama Ricko. Katanya cuma sebentar. Dia membawakan sesuatu untuk Ibu Bella,” jelas sang asisten.


Deg— Bara terkejut. Wajahnya langsung berubah saat mendengar nama Ricko.


“Mas, aku ke bawah sebentar, ya. Sepertinya penting. Tidak mungkin Kak Ricko berani datang ke sini, kalau tidak ada apa-apa,” jelas Bella.


“Bell, aku ikut.” Bara menahan tangan istrinya.


“Cuma sebentar, Mas. Lagipula ada Ibu juga di bawah,” tolak Bella.


***


T b c


Love You all