
Sejak pagi, wajah Bella sudah berseri-seri. Bagaimana tidak? Sore ini suaminya akan datang menemuinya, sesuai dengan jadwal yang dijanjikan Bara padanya. Kerinduannya pada Bara akan terbayar setelah dua hari mereka terpisah jarak antara Jakarta -Surabaya.
Dari membuka mata, calon ibu itu sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk pertama kali, ia memasak makanan dengan tangannya sendiri demi menyambut Bara. Meskipun bukan koki handal, tetapi Bella berusaha untuk membuatkan makanan kesukaan Bara, dengan dibantu Ibu Rosma yang sudah lebih ahli soal memasak.
“Bu, apakah rasanya sudah pas?” tanya Bella menyodorkan sendok berisi kuah soto ke mulut ibunya, meminta ibu Rosma mencoba dan memastikan kalau soto ayam buatannya sudah sesuai dengan selera suaminy.
“Sudah,” sahut Ibu Rosma, mencicipi kuah soto di ujung sendok.
“Baiklah.” Senyum di bibir Bella merekah setelah memastikan soto ayam buatannya sempurna. Terbayang di pelupuk matanya, senyum bahagia Bara saat menikmati masakannya berikut pujian.
Tawa bahagia itu makin terlihat nyata saat ponsel di kantong celana Bella berbunyi dan Bara yang menghubunginya.
“Bell, kamu di mana?” tanya Bara dari seberang begitu sambungan telepon tersambung.
“Aku memasak soto untukmu, Mas,” sahut Bella.
“Oh ya? Kamu memasak untukku?” tanya Bara.
“Ya. Jam berapa Mas tiba di surabaya?” tanya Bella, tidak sabar.
“Mungkin sore, Bell. Aku masih ada rapat. Selesai rapat aku baru terbang menemuimu.”
“Oh ya ... anakku apa kabarnya?” tanya Bara, bersiap mengusili Bella.
“Baik, Mas.”
“Anak Daddy ingin dibawakan apa dari Jakarta?” tawar Bara.
“Mas, aku mau dibawakan brownis kukus yang di dekat kantor Mas. Yang rasa taro, seperti biasa aku beli Mas. Kejunya yang banyak, Mas,” pinta Bella, mulai terbiasa meminta sesuatu pada suaminya itu, tanpa sungkan-sungkan seperti sebelumnya.
“Memang aku yang buat, Bell. Pakai request keju dibanyakin,” ucap Bara, menggoda istrinya.
“Ya sudah. Pokoknya aku mau itu, Mas. Nanti anakmu ileran,” ancam Bella, terkekeh.
“Icca di mana?” tanya Bara. Setiap kali menghubungi Bella, tidak pernah sekali pun, Bara melupakan putrinya. Meskipun bukan darah dagingnya, tetapi rasa sayang Bara pada Issabell tidak perlu diragukan lagi. Sejak bayi, gadis kecil itu sudah bersamanya. Ikatan diantara keduanya pun sudah terbentuk dengan sendirinya.
“Di luar Mas, main dengan mbaknya.”
“Aku membawa kejutan untuknya. Aku membelikan sebuah boneka hello kitty berukuran raksasa,” cerita Bara.
“Oh ya, Icca pasti senang,” ucap Bella. Ia bisa membayangkan bagaimana teriakan histeris Issabell saat melihat bonekanya.
Tidak lama percakapan keduanya terhenti, saat Bara dipanggil sekretaris cantik dan seksinya untuk menghadiri rapat.
***
Sore itu setelah menyelesaikan acara memasaknya, Bella yang baru selesai mandi segera menemui Issabell. Putrinya itu sedang main bola sendirian di halaman depan rumahnya, ditemani pengasuh.
“Icca, kamu sudah mandi?” tanya Bella, menghampiri gadis kecilnya yang berlarian dan berkeringat, menyeka titik air di dahi Issabell dengan tangannya.
“Udah Mommy,” sahut Issabell, masih saja berlarian mengelilingi halaman rumah. Suara tawanya terdengar kencang.
“Jangan lari-larian, Ca. Nanti jatuh. Sebentar lagi Daddy datang,” seru Bella, mengambil posisi duduk di anak tangga teras, menatap Issabell yang bermain dengan wajah gembira. Terlihat rambut kepang gadis kecil itu meloncat, menyesuaikan pergerakan tubuh lincahnya.
Bella masih menemani dan mengawasi Issabell, sampai tiba-tiba Ibu Rosma muncul dengan segelas jus alpokat di tangannya.
“Terima kasih, Bu,” ucap Bella, menggengam erat gelas jus.
“Suamimu sudah sampai mana, Bell?” tanya Ibu Rosma, mengedarkan pandangannya.
“Mungkin sebentar lagi, Bu. Tadi, Mas Bara mengabariku kalau mereka dalam perjalanan ke sini,” jelas Bella.
Ibu dan anak itu terlibat obrolan ringan, sampai tidak menyadari Issabell menghilang dari pandangan. Gadis kecil itu keluar dari pekarangan rumah mereka. Hanya terlihat pengasuh yang baru saja kembali dari mengambil bola yang ditendang Issabell sedikit menjauh.
“Nyonya, Icca mana?” tanya sang pengasuh dengan wajah kebingungan.
Bella mengedarkan pandangannya, menyapu setiap lekuk halaman rumahnya yang luas. Begitu memastikan tidak ada Issabell di sana, Bella langsung berlari ke jalanan untuk mencari keberadaan Issabell di sana. Ia berdoa dalam hati, semoga Issabell baik-baik saja.
Wajah Bella langsung memucat dengan detak jantungnya memburu, bahkan sempat terjatuh dan terjengkal beberapa kali, membentur tanah karena panik. Kedua lututnya sampai lecet dan berdarah.
Pengasuh dan Ibu Rosma juga melakukan hal yang sama. Semuanya menyisir dan berkeliling kompleks mencari keberadaan Issabell yang menghilang tiba-tiba sambil berteriak menyerukan nama gadis kecil itu, memancing warga yang kebetulan lewat akhirnya turun tangan, ikut membantu mencari.
Hampir setengah jam mencari dengan dibantu warga sekitar dan security perumahan. Tubuh Bella merosot ke tanah, saat melihat CCTV rumah tetangganya yang kebetulan menyorot jalanan di depan rumah mereka. Issabell dibawa paksa oleh orang tidak dikenal. Putrinya itu dibekap hingga tidak sadarkan diri, kemudian dibawa masuk ke sebuah mobil van.
“Nyonya, itu lelaki yang kemarin aku ceritakan,” pekik pengasuh, mengenali lelaki yang menculik Issabell.
“Ya Tuhan,” pekik Bella menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Penyesalan langsung datang mengisi hatinya. Seharusnya ia mendengarkan apa yang disampaikan pengasuh putrinya jadi bisa lebih berhati-hati.
Sebagian warga masih berkumpul dan membuat keramaian di sisi jalan. Berita penculikan Issabell dengan cepat menyebar di kompleks perumahan mereka dan membuat kehebohan.
Bella masih menangis dan hampir roboh di pelukan pengasuh putrinya. Tidak jauh dari Bella, tampak Ibu Rosma yang tidak kalah terkejutnya duduk menangis di trotoar ditemani ibu-ibu tetangga. Sesekali ia menyerukan dan memanggil nama cucunya.
“Icca," panggilnya lirih. Kehilangan harapan saat melihat sendiri rekaman CCTV. Cucunya diculik orang tidak dikenal.
Tidak lama, mobil Bara masuk ke pekarangan rumah. Awalnya lelaki itu sempat heran melihat banyak warga berkumpul di pinggir jalan.
“Ada apa ramai-ramai itu, Pak?” tanya Bara heran, melihat warga berkumpul di jalanan, tidak jauh dari rumah mereka.
Mungkin sedang menunggu Kang cilok lewat, Pak,” sahut Pak Rudi, mencoba bercanda. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Setelah mobil mereka berhenti sempurna, Bara memilih mengabaikan keramaian di luar rumahnya. Berjalan masuk ke dalam rumah, mencari penghuni rumah yang tidak ada seorang pun menyambut kedatangannya.
“Kenapa sepi begini? Pada ke mana orang-orang?” ucap Bara, yang masih belum menyadari. Ia tidak bisa melihat sosok istri dan mertuanya di keramaian tadi karena keduanya sudah tertutup warga.
Baru saja melangkahkan kakinya ke dapur, terdengar teriakan keras Pak Rudi dari luar.
“Pak!”
“Pak!”
“Pak! Non Icca diculik!” seru Pak Rudi, berlari masuk ke dalam rumah, berusaha memberitahu majikannya.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.