
Malam itu, akhirnya Bara mempertemukan Issabell dan kedua orang tua Roland di rumah sakit. Issabell tidak mau turun dari gendongan Bara, gadis kecil itu bergelayut manja memeluk leher daddynya.
“Icca turun ya, Sayang,” pinta Bella, masih berusaha membujuk. Merapikan poni Issabell yang berantakan.
Issabell menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Ya sudah kalau tidak mau,” ucap Bella kemudian.
Mama Roland yang sejak tadi menatap tanpa berani mendekat, hanya bisa berurai air mata. Issabell adalah cucu pertama mereka yang selama ini tidak pernah diketahuinya. Kalau saja, Roland bercerita sejak dulu, mungkin keadaaan tidak akan seperti ini.
“Apakah Icca rewel?” tanya Mama Roland pada Bella.
“Tidak Tante, anaknya baik dan penurut. Jarang sekali menyusahkan,” sahut Bella, memilih duduk di samping ranjang rumsah sakit. Mama Roland terlihat sehat dan bersemangat, meskipun ada kesedihan tercetak di senyumannya.
Pandangan wanita itu beralih pada perut besar Bella yang tertutup gaun. “Hamil berapa bulan?” tanyanya pelan.
“Lima bulan, Tante.”
Perlahan wanita itu mengusap perut Bella dengan tangan bergetar. “Semoga sehat sampai lahiran. Semuanya dilancarkan,” ucap Mama Roland, tersenyum.
“Amin, Tante.”
“Nak, aku titip cucuku. Tolong anggap seperti putrimu sendiri. Aku sudah mendengar semua dari Roland. Bagaiamana kehidupan mama kandungnya,” ucap wanita itu tertunduk meremas jarinya. Dia tidak bisa berbuat banyak selain berharap dan meminta pada Bella.
Dia sadar, tidak punya hak untuk meminta lebih. Melihat cucunya tumbuh sehat saja, sudah cukup membahagiakannya. Tidak berani meminta untuk bisa bertemu setiap saat.
“Kalau sedang berkunjung di Surabaya, bisakah mengizinkan kami mengunjungi Icca lagi?” tanya Mama Roland penuh harap.
Bella tersenyum. “Kalau suamiku tidak keberatan, aku juga tidak keberatan, Tante.”
Pandangan mama Roland beralih pada ketiga pria yang sedang mengerubungi Issabell. Tampak Roland dan papanya sibuk membujuk Issabell agar mau turun dari gendongan Bara. Namun, gadis kecil itu sama sekali tidak mau, malah membenamkan wajah di ceruk leher daddynya. Mendekap erat leher Bara, semenit kemudian menangis kencang.
“Tidak mauuuuuu!!” tolak Issabell, berteriak nyaring.
“Mau puyang ....” lanjut Issabell lagi.
Hati Roland terenyuh setiap saat merasakan penolakan dari putrinya sendiri. Memang tidak mudah untuk menerima, tetapi dia juga tidak bisa memaksa. Bagaimanapun bagi Issabell, Bara dan Bella adalah keluarganya, orang tuanya. Ini adalah harga yang harus dibayarnya karena dulu menelantarkan Rissa dalam keadaan hamil.
Netra lelaki itu diam-diam menatap Bella, ada rasa menghangat setiap saat melihat Bella dengan perut besarnya. Senyum Bella saat bersama Issabell yang mengisi layar ponselnya, sekarang benar-benar mempengaruhi pikirannya.
Tanpa Roland sadari, Bara sedang memperhatikannya. Lelaki yang sedang menggendong Issabell itu menahan cemburu yang menyesak di dalam dada. Ingin rasanya menghancurkan Roland saat ini juga kalau tidak ingat ada keluarganya dan kedua orang tua Roland bersama mereka.
***
Sehari setelah bertemu kedua orang tua Roland, Bara memboyong istri dan putrinya kembali ke Jakarta. Itu pun setelah memastikan kalau kondisi Ibu Rosma sudah bisa ditinggal untuk sementara. Sesuai rencana, setelah mengurus semuanya, Bella kembali ke Surabaya. Sampai sejauh ini, Bara belum bisa membujuk Bella untuk mengubah keputusan.
Tiga hari setelah kembali ke Jakarta, akhirnya Bella memutuskan untuk menemui Brenda. Mungkin sebaiknya bertemu langsung daripada mengumpulkan banyak prasangka tidak jelas mengenai hubungan Bara dengan masa lalunya itu.
Sore itu, dengan diantar Bara, Bella akhirnya berkunjung ke rumah sakit tempat di mana mantan istri suaminya itu dirawat.
Begitu keduanya masuk ke dalam kamar perawatan, sudah disambut Rania yang memeluk erat Bara.
“Dad ....” Pandangan gadis itu beralih menatap Bella. Kemudian memandang Brenda yang berbaring sambil meringis di atas tempat tidur rumah sakit. Tampak Brenda tersenyum dan mengangguk.
“Mommy ....” sapa Rania, beralih memeluk Bella. Ada canggung tercipta, tetapi gadis itu harus melakukannya. Mommy Brenda akan bahagia kalau dia juga menghargai Bella sama seperti menghargai Bara.
Tidak tampak kedua orang tua Brenda dan Stella di sana. Di dalam kamar hanya ada Rania seorang diri, menemani mommynya.
“Bell, aku keluar membawa Rania ke depan. Kamu bisa mengobrol dengan Brenda berdua,” bisik Bara, tidak menyapa Brenda sama sekali, karena memang sejak perceraian hubungan mereka tidak bisa dibilang baik.
“Iya Mas.” Bella mengangguk, menatap Bara yang mengandeng Rania keluar dari kamar.
Perlahan Bella berjalan mendekat. Tersenyum hangat menyapa wanita yang sekarang terlihat banyak berubah dibanding pertemuan mereka yang terakhir. Sewaktu di kantor Bara, Brenda terlihat cantik dengan tubuh bak gitar spanyol berjalan gemulai seperti model profesional. Rambutnya panjang tergerai indah.
Namun saat ini, keadaan jauh berbeda. Tidak ada lagi rambut panjang itu, berganti rambut yang hanya sepanjang satu cm dari kulit kepala. Tubuh indah itu sekarang hanya tulang terbalut kulit. Wajah cantik yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu, tidak tersisa.
Bahkan Bella nyaris tidak mengenali lagi. Tulang pipi menonjol dengan mata sayu cekung ke dalam itu terlihat memerah dan berkaca-kaca menatap ke arahnya. Belum lagi alat medis yang menempel di tubuhnya.
“Sore Bell,” sahut Brenda, memaksa tersenyum di sela rasa sakit yang menderanya.
“Duduk Bell,” pintanya menunjuk kursi kosong di samping tempat tidur.
“Mbak Stella menghubungiku beberapa hari yang lalu, katanya Mbak Brenda ingin bertemu denganku,” ucap Bella membuka pembicaraan.
Brenda mengangguk lemah.
“Sebelumnya, terimakasih karena mengizinkan suamimu membantuku dan keluargaku selama ini,” ucap Brenda dengan air mata merosot jatuh ke pipi pucatnya. Dengan gemetaran, tangan dengan selang infus menancap itu berusaha meraih tangan Bella.
“Terimakasih. Tidak semua istri bisa berhati emas sepertimu. Aku malu sebenarnya padamu, tetapi aku tidak punya pilihan lain, Bell.”
“Iya Mbak.” Bella buru-buru meraih tangan Brenda dan mengenggamnya erat.
Kalau Brenda malu padanya karena sungkan sebaliknya Bella bagai dihantam batu besar, merasa malu sendiri selama ini berburuk sangka pada Brenda dan suaminya. Disaat orang lain memuji kebaikan dirinya di belakang, sebaliknya dia bertengkar dengan suaminya hanya karena hal ini.
“Aku tidak pernah meminta, tetapi aku tahu keluargaku pasti banyak merepotkan suamimu, termasuk putriku Rania,” ucap Brenda. Airmatanya mengalir kian deras.
“Sudah Mbak. Mas Bara ikhlas melakukannya,” sahut Bella.
“Aku tahu ... kami bersama bukan hanya sebentar. Aku mengenal suamimu dengan jelas.”
“Kamu beruntung mendapatkan suami seperti Bara. Dia lelaki yang setia ... dibalik sikap pemarah dan pencemburunya. Aku yang terlambat menyadari dan tidak bersyukur saat masih menjadi istrinya.” Isak tangis itu semakin terdengar jelas.
“Semoga kamu tidak sepertiku, menyesal saat semua sudah terjadi.”
Wanita itu menatap nanar langit-langit kamar. Mengingat kembali perjalanan rumah tangganya dengan Bara. Bara adalah sosok yang keras sama sepertinya. Setiap hal kecil selalu dipermasalahkan menjadi besar. Bara sangat pencemburu, bisa mengamuk setiap saat pada lelaki yang mendekatinya.
Dan akhirnya berujung pertengkaran tanpa penyelesaian. Brenda memilih pergi ketimbang menyelesaikannya dengan kepala dingin. Dan Bara melakukan hal yang sama, memilih menyibukan diri dengan pekerjaan atau pun teman-temannya.
Sampai akhirnya, dia kembali terlibat hubungan terlarang dengan papanya Rania. Kenyamanan sesaat akibat pelarian dari masalah rumah tangganya. Yang akhirnya membuat rumah tangganya dan Bara hancur.
Keduanya saling terdiam, hingga akhirnya Brenda membuka suara.
“Bell, bisakah menolongku untuk yang terakhir kalinya. Aku tahu, suamimu tidak akan bisa membuat keputusan ini. Hanya kamu yang bisa membantuku.”
Ibu hamil itu mengangkat pandangannya. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan disampaikan Brenda padanya.
“Sebenarnya aku malu, tetapi aku tidak punya pilihan lain.” Terlihat Brenda terbebani saat mengucapkannya.
“Kalau ... aku sudah tidak ada ... bisakah menjaga Rania untukku? Bisakah aku menitipkan putriku padamu?” tanya Brenda dengan suara bergetar.
Berat rasanya harus melepaskan putri yang dilahirkan dengan penuh perjuangan, disayang dengan segenap jiwa kepada orang lain yang bahkan tidak memiliki hubungan darah. Namun, Brenda tidak punya pilihan. Bersama Bara dan Bella adalah tempat paling aman dan nyaman untuk Rania.
“Mbak ....” Bella tidak sanggup menjawab. Apalagi melihat airmata Brenda yang mengalir deras, ada rasa haru memaksanya ikut meneteskan air mata.
“Bersama kalian akan lebih baik. Kedua orang tuaku sudah tua, tidak akan sanggup menjaga dan mendidik putriku.”
“Stella ... aku tahu, aku masih memiliki Stella, tetapi suatu saat Stella akan menikah, aku tidak tahu bagaimana keluarga suaminya nanti. Apakah akan menerima Rania, sebaik dirimu dan Bara. Bersama kalian Rania akan merasakan memiliki keluarga seutuhnya.”
Brenda tampak menghela nafasnya sesekali meringis menahan sakitnya.
“Aku tidak mau ayah kandung Rania merecoki kehidupan putriku. Kalau bersama kalian, lelaki itu tidak akan berani menggangu Rania. Bara akan menjaga Rania.”
“Ayah kandung Rania bukan lelaki baik-baik, dia narapidana. Aku tidak mau Rania terbebani karena latar belakang ayahnya. Selama ini aku sudah berusaha menyembunyikan keberadaan Rania darinya. Aku mohon kamu bisa membantuku kali ini, Bell.”
Bella bergeming. Tidak sanggup memberi jawaban apapun.
“Kamu juga seorang ibu, kamu pasti akan mengerti apa yang aku rasakan, Bell. Aku mohon.”
***
TBC