Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 112. Menyusul Ke Jakarta


“Apakah sewaktu menikah, kamu tidak tahu kalau Bara tidak mencintaimu? Lalu kenapa kamu mau menikah dengannya? Kenapa kamu mau menjadi istrinya? Bahkan, bukan istri di atas kertas. Kamu benar-benar menjadi istri Bara seutuhnya. Sudah sejauh ini, sudah hamil anaknya juga. Kenapa baru mempermasalahkan masalah cinta sekarang.” Ibu Rosma berkata dengan kesal.


Bella terhenyak di tempat.


“Jadi maksud Ibu, aku tidak berhak dicintai?” tanya Bella, tertunduk.


Perdebatan Bella dan Ibu Rosma terhenti, saat seorang asisten rumah tangga menyerahkan ponsel Ibu Rosma yang berdering sejak tadi. Ponsel itu tertinggal di dapur sewaktu menyiapkan sarapan.


“Bara ...," ucap Ibu Rosma, mengantung. Tampak ia menyalakan speaker supaya Bella ikut mendengar.


“Ya, ada apa, Nak?” sapa Ibu Rosma.


“Bu, istriku di mana? Aku menghubunginya sejak pagi, tetapi dia tidak menerima panggilanku sama sekali."


“Dia di sini bersama ibu sedang menikmati sarapan.”


"Kamu mau bicara dengannya?” tanya Ibu Rosma lagi.


“Dia ikut mendengarmu sekarang.” Ibu Rosma meletakan ponsel itu ke atas meja di samping Bella.


“Bell, bagaimana kabarmu pagi ini?” tanya Bara.


“Baik, Mas,” sahut Bella sembari menyuapkan nasi goreng ke mulut Issabell.


Gadis kecil itu merangsek naik ke pangkuan Bella saat mendengar suara Bara yang keluar dari ponsel.


“Daddy ... *D*addy ...,” sapa Issabell mendekatkan bibir di ponsel.


“Ya, Sayang. Kamu jangan nakal. Nanti sore Daddy ke sana. Icca mau dibawakan apa?” tanya Bara.


“Boneka, Daddy,” sahut Issabell dengan cepat.


“Mas, lagi di mana?” tanya Bella memotong pembicaraan.


“Aku di kantor, Bell. Pagi-pagi sekali langsung ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan supaya siangnya aku bisa terbang menemui kalian.”


“Kamu mau dibawakan apa, Bell?” tanya Bara.


“Tidak ada, Mas. Jam berapa Mas sampai ke Surabaya?” tanyanya lagi. Mendengar suara dan kedatangan Bara, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya. Walaupun kesal dengan suaminya, tetapi perhatian Bara belakangan ini, lumayan mengoyahkan kekerasan hatinya.


“Selesai pekerjaan kantor,” sahut Bara.


Percakapan keduanya terhenti. Dari tempat Bara juga tidak terdengar suara apa-apa lagi, hanya bisik-bisik suara orang sedang mengobrol. Kurang lebih semenit, akhirnya terdengar suara Bara kembali.


“Bell, nanti aku akan menghubungimu, ya,” ujar Bara, tiba-tiba.


“Baik, Mas,” sahut Bella singkat, tetapi belum sempat panggilan itu terputus, Bella menangkap suara Bara yang memanggil seseorang.


“Love ...." Sapaan Bara pada seseorang itu terputus seiring matinya sambungan telepon.


Bella yang masih tertegun di tempat duduknya, terlihat berlinang air mata. Kata-kata Love menari-nari kembali di otaknya. Bukannya ia tidak tahu jelas siapa Love yang diucap Bara.


“Ada apa, Bell?” tanya Ibu Rosma heran. Tiba-tiba putrinya menangis dalam diam.


“Mas Bara,” isak Bella, menjadi cengeng seketika.


“Ya. Ada apa dengan suamimu?” tanya Ibu Rosma, penasaran.


“Mas Bara kembali bertemu dengan mantan istrinya, Mbak Brenda, Bu,” jelas Bella dengan nada melemas.


Ibu Rosma tersenyum, berusaha menyingkapinya dengan bijak. Ia juga tidak ingin putrinya kecewa, sakit hati apalagi menangis di saat sedang hamil seperti ini. Namun, Bella perlu dikeraskan untuk melunakan kekerasan hatinya. Entah kenapa sejak hamil, Bella seperti bukan dirinya. Tidak ada lagi Bella yang pengertian, menilai segala sesuatu dengan perasaan. Berganti Bella yang selalu emosi dan mengambil keputusan dengan buru-buru.


“Untuk apa cemburu, Bell. Lagi pula kamu sudah akan berpisah dengan suamimu. Biarkan saja ... pasti akan ada perempuan lain yang akan mengurusnya. Dia masih gagah, pasti banyak yang menginginkannya di luar sana,” ucap Ibu Rosma masih berusaha menyadarkan putrinya.


“Sakit, Bu. Mana ada istri yang mengikhlaskan suaminya dengan perempuan lain.”


Air mata itu berlinang dan mengalir turun kembali, makin deras dan tidak tertahan. Hatinya sakit memikirkan Bara sedang bersama Brenda di saat ia sedang hamil anak suaminya itu.


“Ya, tetapi aku belum bisa menerimanya, Bu.”


“Kalau masih sayang, dipertahankan. Kalau masih cinta, diperjuangkan. Jangan mengikuti egomu, Bell.”


“Coba kamu pikir, kamu membiarkan suamimu kembali ke Jakarta sendirian. Dan sekarang dia bebas, seperti bujangan kembali. Dia mau tidur dengan perempuan mana pun, tidur dengan gadis mana pun, tidak ada yang tahu.”


“Bu, jangan bicara seperti itu," gerutu Bella di sela tangisnya.


Issabell yang sejak tadi mendengar tanpa paham dengan situasi yang terjadi hanya bisa memeluk mommy-nya dengan manja. Sesekali gadis kecil itu menghapus air mata Bella.


“Mommy, angan nangis,” bisiknya. Tangan mungil itu memeluk pinggang Bella dan menyandarkan kepalanya di dada Bella.


“Ibu hanya memberi gambaran padamu, Bell. Jangan egois. Kalau masih mencintainya, pulang ke rumahmu. Jaga suamimu baik-baik. Lelaki itu juga bisa lelah, kalau perjuangannya selalu gagal.”


“Lagipula kalau berpisah hanya di mulut saja, untuk apa kamu seperti ini. Kalau serius mau berpisah, jangan menangis. Biarkan saja suamimu mau bertemu dengan siapa pun. Toh, kalian akan berpisah. Kalau hanya sekedar mencari perhatian, Ibu rasa sudah cukup Bara menunjukan perhatian dan tanggung jawabnya padamu.”


“Kamu mau dia melakukan apa?” tanya Ibu Rosma.


Terdiam, Bella merenung kalimat-kalimat panjang berisi petuah berumah tangga dari ibunya.


“Kalau begitu menginginkan cintanya, perjuangkan. Kamu berhak memperjuangkannya, karena kamu istri sahnya. Jangan sampai perempuan lain yang memperjuangkannya, Bell."


“Suamimu itu setia, dia hanya belum bisa membuka diri karena luka masa lalunya. Jangan sampai orang lain yang menyembuhkan lukanya,” nasehat Ibu Rosma.


“Kamu istrinya, kamu ibu dari anaknya. Mungkin takdirmu harus menikah dengan lelaki yang memiliki masa lalu yang begitu rumit. Lalu kamu mau menyerah? Bayi yang di perutmu itu bagaimana?” tanya Ibu Rosma, masih berusaha menyadarkan putrinya.


“Rasanya masih sakit, Bu.” Bella berkata lirih.


“Pikirkan saja bagaimana perasaanmu saat bapak meninggal. Bagaimana perasaanmu saat itu. Dan sekarang kamu ingin membuat anakmu menikmati perasaan itu.”


Wanita tua itu menghela napas kasar. “Icca, ayo main sama Oma,” ajak Ibu Rosma, membawa turun cucunya dari pangkuan Bella dan memberi waktu untuk putrinya berpikir.


“Semua rumah tangga itu pasti ada masalahnya sendiri. Hanya saja ... itu tergantung masing-masing orang mau mempermasalahkan atau diam-diam menyelesaikannya. Menghadapi atau lari dari masalah,” ucap Ibu Citra, sembari menuntun Issabell keluar dari ruang makan.


***


Bella sudah berada di mobil, disopiri Pak Rudi menuju ke bandara. Ia sengaja menitipkan Issabell pada ibunya di Surabaya. Dalam keadaan terburu-buru seperti ini, membawa Issabell hanya akan membuatnya kerepotan.


Ia mengejar penerbangan pagi, supaya bisa sampai secepatnya ke Jakarta. Namun, sampai di bandara nasib berkata lain, penerbangan pagi sudah full dan ia harus rela menunggu penerbangan selanjutnya.


Sudah terbayang di benaknya kebosanan dan kelelahan yang akan di alaminya di ruang tunggu.


Kalau saja Pak Rudi masih menunggu di parkiran bandara, Bella memilih pulang dan membatalkan kepergiannya.


Saat melangkah menuju ke ruang tunggu, tanpa sengaja Bella menabrak seseorang.


Bruk.


Tabrakan yang lumayan kencang membuat ponselnya terjatuh berantakan. Bella yang sedang fokus membalas pesan ibunya, tidak memerhatikan jalannya. Baru saja akan mengomel, tetapi suara maskulin yang meminta maaf itu membuatnya mengangkat pandangan.


“Maaf,” ucap lelaki dengan pakaian casual, menenteng tas ransel di bahunya. Terlihat lelaki lain mengekor tidak jauh di belakangnya, menyerahkan ponsel Bella yang hancur berantakan.


“Maaf, saya buru-buru. Orangku akan mengganti ponselmu,” ucap lelaki dengan kacamata hitam keluaran terbaru salah satu merk ternama.


“Matt, tolong bantu urusi. Aku takut tidak keburu ... aku harus mengejar penerbangan ke Inggris,” pinta lelaki yang ketampanannya bak titisan Dewa Yunani itu. Bergegas pergi, pria tampan itu meninggalkan Bella dengan lelaki lain yang diketahui bernama Matt.


***


T b c


Love you all


Terima kasih.