Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 38. Sepenggal Cerita Bara dan Rissa


Issabell diam dalam gendongan Bara, mendekap erat leher daddy-nya. Isak dan rengekan yang tadinya mendominasi, berganti dengan senyum terkulum sesekali mencium pipi Bara.


Bara paham sudah, gelagat gadis kecilnya. Issabell paling tahu cara mencuri hatinya. Hanya dengan sebuah kecupan ringan di pipi saja, Bara biasanya akan luluh lantah, tetapi kali ini berbeda, ia tidak bisa membawa gadis kecil, putri kesayangannya.


“Icca, Daddy harus kerja. Tidak bisa membawa Icca. Tidak apa-apa, kan?” tanya Bara, tersenyum.


Ia sudah menjatuhkan pelan tubuh Icca di atas bangku taman, halaman belakang rumah. Tempat biasa ia dan Icca melepas lelah dan rindu di saat libur bekerja.


“No, Daddy. Ikut!” rengek Icca untuk ke sekian kali.


“Icca, kali ini Daddy mohon. Icca tidak bisa ikut. Daddy kerja bukan jalan-jalan,” pinta Bara, berusaha menjelaskan pada anak berusia dua tahun. Yang jelas, belum mengerti apa-apa.


Bara memutar otak, berusaha merangkai kata-kata bujukan yang pas. Sekiranya yang bisa ditangkap otak anak seusia Issabell. Senyum Bara merekah, menyaingi bunga mawar merah yang mekar sempurna di pojokan taman.


Bara membungkuk, menyejajarkan wajahnya setara dengan wajah Issabell.


“Daddy dan Mommy mau membuat adik bayi untuk Icca. Mau?” tanya Bara.


Issabell tampak berpikir. Beberapa detik kemudian raut wajah gadis kecil itu berubah cerah.


“Mau,” ucapnya sambil tertawa kecil.


“Mau banyak Daddy," lanjutnya lagi.


“Ya, Daddy akan bawakan adik bayi yang banyak untuk Icca. Supaya bisa diajak main rumah-rumahan,” ucap Bara, mencubit pipi gembul Issabell.


“Jadi ... Icca di rumah saja, ya. Sama Suster,” pinta Bara.


Issabell mengganguk. Menyodorkan tangannya, melakukan high-five dengan Bara.


Tak lama pasangan ayah dan anak itu pun sudah kembali dengan wajah ceria, saling bergandengan tangan. Pemandangan yang membuat beberapa pasang mata keheranan.


“Ayo, Bell,” ajak Bara, menyerahkan Issabell pada Bella. Bara yakin, Bella pasti ingin berpamitan dengan putrinya, demikian juga Issabell.


“Mas, aku ajak Icca ke kamar. Sekalian mau ganti pakaian,” pamit Bella. Tanpa menunggu jawaban, menggandeng tangan mungil Issabell menuju ke kamar tidurnya.


Keduanya sudah masuk ke dalam kamar. Saat hendak menutup pintu, Bella dikejutkan dengan kehadiran Bara yang tiba-tiba sudah mengekor di pintu kamar.


“Mas,” panggil Bella, kaget.


“Mas mau apa?” tanya Bella heran.


Bara hanya tersenyum, ikut melenggang masuk tanpa memberi jawaban.


“Hanya ingin menontonmu berganti pakaian,” ucap Bara dengan tidak tahu malunya. Sudah duduk di ranjang bersama Issabell.


“Mas, jangan gila, ya,” ucap Bella kesal dengan jawaban asal Bara.


“Aku serius,” sahut Bara, tersenyum menatap Issabell.


Bella hanya bisa mendengus kesal. Melangkah menuju walk in closet, ia berganti pakaian di dalam sana. Ia sedikit khawatir, takut tiba-tiba Bara masuk dan menangkap basahnya. Ia mendengar sendiri kata-kata mengerikan Bara.


Tak membutuhkan waktu lama, Bella sudah keluar dan tersenyum pada Issabell.


“Ayo, Mommy gendong,” ucap Issabell, langsung meraih tubuh putri kecilnya. Ia membawa Issabell keluar kamar bersamanya.


“Mas, kita akan ke mana?” tanya Bella, penasaran.


“Icca, Mommy berangkat dulu, ya. Icca tidak boleh nakal di rumah,” pamit Bella, berjongkok, supaya bisa leluasa memeluk tubuh Issabell.


“Ya, Mami," sahut Issabell. Mengecup kedua pipi Bella.


Bara ikut mengecup kedua pipi Issabell, sebelum mengajak Bella masuk ke dalam mobil.


“Mas, aku kasihan dengan Icca,” ucap Bella menoleh ke arah Bara yang duduk di sebelahnya.


Tangannya masih melambai dari jendela mobil, menatap putrinya dengan pandangan sedih. Walaupun baru mengenal dekat Issabell dalam hitungan minggu, tetapi perasaan dan ikatan hati di antara keduanya sudah mulai terbangun.


Bella merasa sedih, melihat lambaian tangan Issabell yang mengantarnya pergi.


“Kita cuma sebentar,” ucap Bara, merangkul Bella. Membawa istrinya supaya duduk mendekat padanya.


“Mas ... apa-apaan sih!” gerutu Bella yang kesal, dengan sikap Bara yang tiba-tiba.


***


Rissa yang berada di dalam kamar, terlihat membuang pakaiannya asal ke dalam koper. Kemarahannya masih belum mereda setiap mengingat ucapan Bara yang kasar padanya.


“Bara keterlaluan. Ini juga karena Bella. Dia datang dan mengacaukan segalanya,” ucap Rissa kesal. Wajahnya masih menampakan kekesalan.


“Baiklah, kamu ingin bermain-main denganku!” ucap Rissa dengan tangan terkepal.


Ia mengeluarkan foto-foto di dalam amplop. Menyeringai licik, membayangkan ekspresi Bella kalau melihat foto-foto di tangannya saat ini.


“Untung aku tidak membuangnya,” ucap Rissa. Ini masih bisa digunakan untuk menggertak Bara.


Rissa masih bisa mengingat jelas, Bara datang ke rumah kontrakannya bersama Kevin di saat dia baru saja melahirkan. Entah dari mana, Bara mengetahui banyak hal tentangnya.


Saat itu rasa sakit hatinya belum hilang. Beberapa minggu sebelumnya, Ibu di kampung memintanya pulang untuk menghadiri pernikahan Bella. Adiknya yang masih SMA menikah, melangkahinya. Yang membuat ia semakin sakit hati adalah cerita Ibu, tentang Bara yang lebih memilih Bella ketimbang dirinya.


Menurutnya, nasib Bella selalu jauh lebih baik dari pada nasibnya. Bahkan Bella bisa bersuamikan pria kaya tanpa bersusah payah, jauh berbeda dengan dirinya.


Rissa ingat, Bara saat itu datang untuk mengajaknya tinggal di rumahnya beserta Issabell yang baru saja lahir. Rasa sakitnya sedikit terobati. Bara memberi fasilitas seperti uang saku, mobil, sopir dan pengasuh untuk Issabell.


Namun kenyamanannya tidak berlangsung lama, Bara bertanya banyak hal tentang masalah pribadinya termasuk ayah dari bayinya. Rissa tidak mungkin menceritakan aibnya pada Bara dan memilih bungkam. Dari situ masalah bermulai.


Dua atau tiga bulan setelah kelahiran putrinya, Bara mendatanginya di kamar. Malam itu, Bara meminta untuk mengadopsi Issabell sebagai putrinya. Tentu saja Rissa menolak tegas.


Mulai saat itu, Bara merayunya dengan berbagai cara. Bukan hanya mengiming-iming segala fasilitas dan uang, tetapi Bara benar-benar menjanjikan sebuah hubungan dengan Rissa. Bahkan, Bara berjanji akan menceraikan Bella, setelah adiknya itu menyelesaikan kuliah.


Akan tetapi, sikap manis Bara berubah, saat Issabell sah menjadi milik pria itu. Bara seolah lupa dengan janji-janjinya. Bahkan Bara mulai mengenalkan Bella sebagai Mama Issabell. Semua impian yang dijanjikan Bara, hanya omong kosong belaka. Hubungan palsu yang pernah dijalaninya bersama Bara hanya sebuah drama. Bara tidak benar-benar menyukainya. Bara menipunya.


Walaupun Bara tetap memperlakukannya dengan baik dan tidak menelantarkannya. Rasa sakit atas penipuan Bara itu masih membekas sampai sekarang, tetapi ia tidak berdaya. Bara jauh lebih berkuasa.


“Baiklah, aku lihat sampai kapan Bella bertahan di sisimu, setelah melihat foto-foto ini!” Rissa tersenyum licik.


***


T B C


Maaf telat up ya.


Love you all.