Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 78. Tamu Bara


Bara menenteng kotak mika yang sudah terbungkus rapi itu dengan senyum sumringah, merekah bagai bunga wijaya kusuma di kala malam.


Dalam perjalanan pulang ke rumah pun sudah terbayang di pelupuk matanya akan senyum bahagia Bella saat menerima bungkusan yang khusus dibeli untuknya.


Mobil sport hitam miliknya sudah terlihat muncul di depan gerbang rumah. Ia khusus pulang lebih cepat sesuai dengan janjinya pada sang anak dan istri. Tidak biasanya ia pulang di saat matahari masih menampakan wujudnya di ujung barat. Biasaya Bara pulang ketika hari menjelang petang atau sudah mulai menghitam pekat.


“Selamat sore, Pak,” sapa security. Senyum laki-laki berseragam hitam itu tidak kalah manisnya, sebanding dengan majikannya.


Bara hanya melambaikan tangan sekilas, menjawab sapaan itu seadanya. Begitu mobilnya sudah berhenti sempurna, Bara berlari masuk ke dalam rumah mencari keberadaan istrinya.


“Bell ... Bell,” panggilnya pelan, meletakan bawaannya ke atas meja makan. Tidak lupa meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkannya di piring dan menyajikannya untuk sang nyonya rumah.


“Mbak, istriku mana?” tanya Bara, saat si asisten sudah selesai memindahkan isi mika ke atas piring kaca.


“Di kamar, Pak.”


"Makanan apa ini? Kenapa gado-gado bercampur dengan rujak buah?” batin si asisten.


Terlihat asisten itu mengerutkan dahi, tetapi ia memilih menutup mulut rapat-rapat. Mungkin ia hanya orang biasa yang tidak tahu kalau di luaran sana ada makanan seperti ini.


Mendengar jawaban asisten rumah tangganya, Bara pun bermaksud menyusul. Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru menginjakan kaki di anak tangga pertama, dari arah lantai dua, terlihat Bella yang bersiap turun dengan pakaian santainya.


“Bell, aku sudah membelikan pesananmu tadi,” ujarnya, setengah berteriak. Melempar senyum bahagia, siap menyambut kebahagiaan istrinya saat menikmati bawaannya.


“Benarkah?” Wajah cantik Bella berubah cerah. Perasaannya yang sempat dirundung awan gelap kembali ceria.


“Ya, ayo turun. Mbak sudah menyiapkan untukmu di meja,” jelas Bara. Sudah tidak sabar menanti reaksi Bella. Rona bahagia ketika ia bisa menuruti permintaan Bella untuk pertama kalinya sejak menjadi Nyonya Barata Wirayudha.


Bella menurut, tergesa-gesa menuju ke ruang makan. Bara yang juga tidak sabar, mengekor di belakangnya. Masih terdengar suara Bara yang protes melihat Bella setengah berlari turun.


“Bell, pelan- pelan saja,” keluh Bara, khawatirnya muncul.


Langkah kaki Bella terhenti, saat jaraknya dengan meja makan tertinggal beberapa langkah.


“Ini apa, Mas?” tanya Bella heran, berbalik menatap suaminya. Menuntut jawaban. Rona bahagia yang sempat muncul di wajah cantik Bella, lenyap seketika. Berganti kesedihan, yang tiba-tiba entah muncul dari mana.


“Lah, bukannya ini pesananmu. Rujak ... eh ... rujak apa sih. Kenapa susah sekali mengucapkannya di lidah, tetapi namanya terdengar familiar di telinga,” ucap Bara, mengeluh


“Rujak cingur, Mas.”


“Itu 'kan masakan khas Surabaya,” lanjut Bella. Senyumnya makin meredup, berganti dengan kekecewaan yang mendominasi.


Bella menjawab dengan kesal. Sejak tadi siang ia sudah mengucapkannya berulang kali, tetapi suaminya seolah malas-malasan untuk menurutinya.


“Bukan ini?” tanya Bara.


“Bukannya tampilannya hampir mirip?”


“Bukan, Mas. Ini aku malah tidak tahu makanan apa yang Mas belikan padaku,” ucap Bella semakin kesal. Mengaduk-aduk kasar makanan aneh di atas piring


“Ini apa tadi yang disebutkan Dona. Ya Tuhan, aku lupa namanya,” keluh Bara.


“Aku tidak mau yang ini. Mas saja yang menghabiskannya,” pinta Bella, sudah duduk menarik kursi. Membayangkan Bara yang menikmati makanan di atas meja ini rasanya menyenangkan juga.


“Ayo habiskan, Mas. Besok Mas bisa belikan untukku rujak cingurnya. Sekarang Mas habiskan saja makanan yang Mas beli.”


“Jangan bercanda, Bell. Ini tidak lucu. Kamu tahu 'kan, aku tidak pernah mau menyentuh makanan begini. Bahkan aku tidak mau mengenalnya,” tolak Bara.


“Nah, sekarang Mas bisa mencobanya. Waktu dan tempat, dipersilakan Mas,” ucap Bella.


“Tidak, aku tidak bisa makan sembarangan. Kamu tahu itu 'kan, Bell. Minta mbak siapkan aku salad saja, aku akan menghabiskannya untukmu,” tawar Bara.


“Ini lebih enak Mas dibandingkan dengan saladmu yang hanya diberi olive oil dengan perasan lemon, tidak ada rasa apa-apa, bagaimana menelannya.” ucap Bella, tidak mau kalah.


“Bell. Jangan, Bell. Aku sungguh tidak bisa. Aku belum pernah makan ini,” tolak Bara untuk ke sekian kalinya.


Bella mendengus kesal, sesekali menatap tajam suaminya.


“Minta dibelikan, kamu tidak sanggup memenuhi permintaanmu. Sekarang aku cuma memintamu menghabiskannya. Kamu malah menolak,” keluh Bella kembali.


Bara menggaruk kepala, akhirnya menurut dengan menghela napas kasar penuh keterpaksaan.


“Aku jujur tidak pernah makan ini, Bell. Terlihat aneh dicampur aduk seperti ini,” cerita Bara, akhirnya duduk di sisi istrinya. Menarik piring kaca itu ke depannya. Mengaduk pelan dan menusuknya dengan garpu sebelum memasukannya secara paksa ke dalam mulut.


“Bagaimana?” tanya Bella tersenyum.


“Not bad, tetapi bukan makanan yang bisa berteman baik dengan lidahku,” jawab Bara, kembali memasukan suapan selanjutnya.


“Kamu tidak mau mencobanya?” tawar Bara, menyodorkan potongan mangga muda dan nanas yang ditusuk menjadi satu ke dalam mulut istrinya.


Bella mengernyit, saat sensasi rasa asam dari nanas menyatu dengan mangga muda itu menguasai mulutnya.


“Ini kecut, Mas.”


“Aneh, kan?” ucap Bara meminta persetujuan. Walaupun begitu, ia tetap menghabiskannya.


Bella tersenyum saat melihat isi piring itu tertinggal sedikit, hanya menyisakan saus kacang yang berlimpah karena Bara menolak. Pria itu sengaja menikmati sayuran dan buah-buahannya saja.


“Nanti kirim pesan di ponselku. Rujak apa yang kamu inginkan. Aku akan meminta Dona mencarinya untukmu,” pinta Bara.


“Mas serius tidak tahu?” tanya Bella mengerutkan dahinya. Makanan begitu terkenal seantero Surabaya tetapi suaminya tidak tahu sama sekali.


Bara menggeleng.


“Mungkin aku pernah mendengar, tetapi aku tidak terlalu memasukannya ke dalam otak. Kamu tahu 'kan itu bukan makananku.”


Bella mengangguk.


“Lagi pula aku tidak pernah meng-entertain tamuku dengan jamuan seperti itu,” ucapnya lagi.


***


Dua hari berlalu, drama rujak cingur belum juga usai. Dona sudah beberapa kali membelikan rujak cingur di beberapa tempat. Namun entah kenapa, Bella tetap saja masih protes dan merasa belum pas di lidahnya. Rasanya jauh berbeda dengan rujak cingur khas di kampung halamannya.


Kebetulan hari ini adalah akhir pekan. Sengaja Bara bermalas-malasan di rumah, menghabiskan waktu dengan putri dan istrinya. Sejak hamil, Bella lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Entah bermain dengan Issabell atau hanya beristirahat sembari memainkan ponselnya.


Ketukan di pintu kamar, mengejutkan pasangan suami istri yang sedang menikmati waktu santainya dengan berbincang di kamar mewah mereka. Tangan Bara masih mengelus perut rata istrinya saat asisten rumah masuk dan memberi kabar pada mereka.


“Pak, di luar ada tamu yang memaksa masuk dan bertengkar dengan security,” jelas sang asisten


“Siapa?” tanya Bara, segera beranjak ke arah jendela kamarnya. Menyingkap tirai untuk melihat jelas siapa tamu yang dimaksud.


Matanya membulat saat melihat tamu yang sedang beradu mulut di pos security. Emosi Bara mencuat seketika.


“Bell, aku ke bawah sebentar,” pamit Bara, bergegas turun meninggalkan Bella dengan penuh tanda tanya akan kehadiran tamu yang tiba-tiba mengusik ketenangan Bara.


***


T b c


Love you all


Terima kasih.