Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 107. Namaku Bella Cantika


Ibu Rosma tersenyum, samar-samar menatap bayangan lelaki yang sedang terlelap di belakang setir. Berbanding terbalik dengan Bella yang langsung berbalik masuk ke dalam rumah.


Wanita tua itu berjalan perlahan mendekati mobil sport hitam menantunya, tetapi dari arah depan terlihat Pak Rudi yang masih dengan kain sarung dan kaus putih polosnya berjalan menghampiri.


“Pagi, Bu,” sapanya tersenyum malu-malu, melirik ke arah majikannya yang sedang tertidur pulas.


“Pak Rudi!” pekik pelan Ibu Rosma, terkejut dengan sosok yang mengendap-endap dalam keremangan pagi itu. Sejak tadi ia tidak menyadari kehadiran sopir Bara.


“Maaf, Bu ... mengagetkan paginya,” ucap Pak Rudi tersenyum kembali.


“Kapan tiba? Kenapa tidak membangunkan orang rumah?” tanya Ibu Rosma kembali menatap ke arah mobil mewah menantunya.


“Baru saja, Bu. Mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu. Tadi saya mengobrol di pos satpam,” jelas Pak Rudi berbicara sambil membungkuk. Ibu jarinya menunjuk ke arah pos security di samping gerbang.


“Oh, duduk di dalam saja, Pak,” ajak Ibu Rosma, turut prihatin dengan wajah semerawut dan kurang tidur lelaki tua itu. Terlihat dari kantong menghitam di bawah mata si sopir.


Selain prihatin berlebih, ia juga ingin mencari tahu apa yang telah terjadi. Kenapa tiba-tiba menantunya sudah muncul di depan rumah. Tanpa kabar dan berita, mengejutkan mereka semua.


Pak Rudi yang masih kelelahan menurut tanpa protes, merapikan sarung kotak produksi gajah duduk yang lupa diganti karena buru-buru. Baru saja ia selesai mandi sore, bahkan belum kering benar, tetapi suara teriakan kemarahan Bara membuatnya berlari menemui majikannya tanpa berpikir panjang.


“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Ibu Rosma, menyodorkan secangkir kopi hitam. Berbincang dengan sopir menantunya itu di teras rumah.


“Pak Bara marah-marah sewaktu tahu Nyonya Bella pulang ke Surabaya. Nih, saya bahkan tidak sempat ganti pakaian, habis mandi sore masih sarungan sudah langsung jalan saja,” jelas Pak Rudi tersenyum.


“Hah!” Ibu Rosma kaget.


“Kalian jalan jam berapa?” tanyanya heran.


“Sore, mungkin jam empatan atau lima sore, saya tidak ingat jelas,” sahut Pak Rudi.


“Pak Bara sepertinya sudah mengantuk sekali. Sudah tidak sanggup membuka mata. Begitu mobil terparkir di sana langsung tertidur. Hanya berpesan, minta dibangunkan pukul enam pagi.”


Ibu Rosma membulatkan matanya, memandang ke arah yang dimaksud Pak Rudi.


“Bu, kalau tidak merepotkan, saya boleh minta sepiring nasi, lauk apa saja boleh. Dari kemarin sore perut belum diisi, hanya masuk dua keping roti tawar dan kopi hitam,” pinta Pak Rudi, malu-malu. Namun, apa daya, perut sudah tidak bisa diajak kompromi.


“Ya Tuhan ... apa yang terjadi,” ucap Ibu Rosma nyaris tidak percaya.


“Pak Bara menolak mampir ke rest area, ngotot mau tiba di Surabaya secepatnya. Hanya sempat mampir sebentar membeli roti dan kopi botol untuk bekal di perjalanannya.”


“Pak Bara lebih parah lagi. Dari pulang kerja belum mandi, bahkan belum makan dari kemarin siang. Sepanjang perjalanan hanya mengisi perut dengan kopi. Katanya takut mengantuk saat menyetir,” jelas Pak Rudi.


“Dia menyetir sendiri?” tanya Ibu Rosma hampir tidak percaya.


“Tidak, Pak Bara mulai pegang setir dari jam sebelasan malam. Sebelumnya saya yang menyetir. Pak Bara tidak sanggup kalau harus menyetir sendirian dari Jakarta-Surabaya. Jadi kita gantian, Bu,” jelas Pak Rudi.


Belum selesai mendengar cerita, Ibu Rosma sudah berdiri menahan kesal, masuk ke dalam rumah dan mencari Bella.


“Bell, suamimu itu diurusi. Dia belum makan sejak kemarin siang. Siapkan makanan untuknya,” perintah Ibu Rosma. Melihat respon Bella yang ogah-ogahan semakin membuat Ibu Rosma naik darah.


“Suamimu itu menyetir dari Jakarta -Surabaya hanya untuk menyusulmu. Kurang apa lagi pengorbanannya. Kamu butuh apalagi darinya?” omel Ibu Rosma.


“Siapa suruh dia menyetir? Aku tidak memintanya, itu kemauannya sendiri, Bu,” sahut Bella tidak peduli sedikit pun. Meskipun begitu, ia tetap berdiri dan menyiapkan makanan untuk suaminya.


“Icca, main sendiri dulu, ya. Mommy mau siapkan makanan untuk Daddy,” jelas Bella.


Ibu hamil itu sudah berjalan menuju ke dapur, maksud hati ingin meneriakan asisten rumah. Seperti di rumah suaminya di Jakarta, Bella tidak perlu memasak. Cukup mengeluarkan perintah, ada asisten rumah tangga yang melakukannya. Semuanya sudah diurus asisten rumah tangga.


Bibir itu baru akan berucap, bersiap memberi perintah. Namun, Ibu Rosma sudah memotongnya dengan kalimat yang tegas.


“Mba ...."


“Ini di Surabaya, bukan di rumah suamimu. Kamu tidak bisa seenaknya!” potong Ibu Rosma.


“Ingat, ini rumah Ibu meskipun kamu yang menempati kamar utamanya,” ucap Ibu Rosma mengingatkan, menutup mulutnya, menahan senyuman.


“Kalau suamimu kelaparan, tugas istrinya yang menyiapkan. Kamu tidak berhak mengatur pekerja di rumah ini. Dan satu lagi, jangan bersikap layaknya Nyonya rumah di sini. Ingat, kamu itu tamu di sini, Bell.”


“Apa-apaan ini, Bu!” keluh Bella, mendengus kesal.


“Rumahmu bukan di sini. Sejak menikah, rumah suamimu yang menjadi rumahmu,” jelas Ibu Rosma, membuat Bella tidak berkutik.


Bella terpaksa menurut, meskipun bibirnya komat-kamit tidak karuan. Entah kenapa, sejak kehadiran Bara di depan rumahnya, perilaku ibunya berubah drastis. Tidak seramah sebelumnya.


“Kalau mau menjadi Nyonya, kembalilah ke tempatmu, Bell,” ucap Ibu Rosma mengulum senyuman.


“Astaga! Kenapa Ibu makin ke sini makin kelewatan,” ucap Bella kesal. Kata-kata ibunya tadi masih membekas di hati. Entah apa maksud ibunya membahas kepemilikan rumah yang sekarang mereka tempati.


Berbekal ilmu yang diturunkan Kailla, teman baiknya itu. Bella pun membuat telur ceplok lengkap dengan lelehan kecap malika. Persis seperti yang diceritakan Kailla. Bella benar-benar menduplikasikannya sesempurna mungkin.


Hari ini terbilang masih pagi. Tidak ada stok makanan apa pun di dalam kulkas. Mereka baru saja tiba kemarin siang. Rencananya pagi ini ia akan mengantar ibunya ke pasar tradisional untuk mengisi stok sayuran, daging dan ikan di kulkas.


“Perfect!” ucapnya tersenyum.


“Aku ingin tahu, apakah dia akan semanis suami Kailla saat disuguhkan makanan seperti ini,” gumam Bella lagi.


Setiap kali mengingat suaminya, ia selalu teringat suami Kailla yang begitu pengertian. Entah berdosa atau tidak membandingkan suaminya sendiri dengan orang lain, tetapi di dalam hati kecilnya ia menginginkan suaminya bisa semanis suami sahabatnya.


“Mbak, itu untuk siapa?” tanya Bella, mengerutkan dahi.


“Untuk tamu yang duduk di depan, Mbak.


Bella yang belum tahu mengenai keberadaan Pak Rudi hanya mengerutkan dahi tanpa bertanya lebih jauh lagi. Memilih bungkam sembari meletakan nasi telur ke atas meja makan.


“Bu, makanannya Mas Bara sudah siap di atas meja makan,” ucap Bella dari pintu. Sempat terkejut dengan kehadiran Pak Rudi, yang juga sudah duduk di sana mengobrol dengan ibunya.


“Loh, bapak ikut ke sini? Lalu nanti yang mengantar Rania ke sekolah siapa?” tanya Bella, teringat dengan keberadaan Rania yang tinggal di rumah Bara.


“Non Rania kemarin sore diantar Pak Kevin ke tempat mamanya,” jelas Pak Rudi, singkat.


“Oh.” Hanya sebuah respon singkat. Bella sudah berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah, tetapi langkahnya lagi-lagi terhenti. Ibunya kembali meminta membangunkan suaminya yang pulas di dalam mobil.


“Bell, urus suamimu! Bangunkan dia, siapkan air hangat dan pakaian ganti,” perintah Ibu Rosma, menunjuk pada koper mungil milik Bara yang berdiri kukuh di dekat pintu masuk.


Bella sudah ingin protes kembali, tetapi niat itu diurungkannya. Tidak enak dengan kehadiran Pak Rudi yang sedang menikmati sarapan paginya. Setidaknya, ia masih harus menjaga harga diri suaminya di depan para pekerja. Meskipun ia tidak menjanjikan akan menyelamatkan wajah Bara di depan ibunya.


Dengan langkah penuh keterpaksaan, Bella bergegas menuju mobil dan membuka kasar pintu mobil sport hitam kesayangan suaminya itu.


“Mas."


"Mas ... bangun!” panggil Bella pelan. Sedikit mengguncang tubuh Bara yang tertidur lelap.


Suaminya itu memang sedang pulasnya. Sejak beberapa jam lalu menahan kantuk, baru bisa tidur beberapa menit yang lalu.


Dari bunyi dengkuran dan napas berat sang suami, Bella tahu saat ini Bara sangat kelelahan dan mengantuk.


“Mas, Mas ... bangun," ulang Bella, memanggil dengan lebih kencang sambil memukul keras lengan suaminya.


Panggilan kali ini sanggup membangunkan Bara.


“Bell."


"Sayang,” panggil Bara, berusaha membuka paksa matanya. Kehadiran Bella di depan matanya membuat semua lelahnya hilang. Tidak percuma ia memaksa berkendara dari Jakarta -Surabaya, setidaknya itu bisa membuatnya lebih cepat bisa bertemu dengan istrinya.


Lagi pula, ia tidak akan bisa tidur semalaman kalau harus menunggu pesawat pagi.


“Bell, maafkan aku,” ucap Bara, berusaha meraih tangan istrinya yang berdiri menghindar. Bella tidak mengizinkannya menyentuh, malah sebaliknya istrinya menghadiahkan sebuah tatapan tajam untuknya.


“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, Mas. Turunlah!” ucap Bella ketus. Berbalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Bara menurut, segera turun dengan tampilan berantakan. Sampai di teras sempat menyapa mertuanya.


“Bu,” sapanya pelan, masih dengan menahan kantuk.


“Masuk ke dalam. Minta Bella menyiapkan semua kebutuhanmu,” ucap Ibu Rosma, tersenyum.


Baru saja menginjakan kakinya ke dalam rumah, Bara sudah disambut putri kecilnya.


“Daddy!” pekik Issabell bersorak kegirangan, berlari menghambur memeluk kedua kaki Bara.


“Endong Daddy,” pintanya menyodorkan kedua tangannya ke atas.


“Icca rindu Daddy?” tanya Bara, saat Issabell sudah berada di gendongannya. Pertanyaan yang ditujukan pada putrinya, tetapi tatapannya tidak beralih sedikitpun dari istrinya.


“Linduuuuu,” sahut Issabell, menghujami wajah Bara dengan ciuman basah. Kecupan yang meninggalkan jejak air liur putri kecilnya.


“Kalau Mommy rindu Daddy juga?” tanya Bara, berusaha memancing Bella. Sejak tadi, ia bisa melihat dengan jelas istrinya cemberut.


Bahkan Bella tidak mau menatapnya. Setiap kali bertemu tatap, istrinya akan membuang pandangannya.


“Ayolah, Bell, maafkan aku,” pinta Bara, berjalan mendekat. Memangkas jarak yang diciptakan Bella.


“Sarapanmu di meja, Mas. Aku akan menyiapkan air hangat dan pakaianmu,” ucap Bella, bergegas naik ke lantai dua. Ia memilih menghindar sejauh mungkin, tidak akan luluh dengan mudah seperti biasanya. Bahkan ia sudah membulatkan tekad untuk berpisah dari Bara.


Kedatangan Bara yang menyusul ke Surabaya, tidak akan mengubah apapun. Bella tetap pada keputusannya.


“Bell, dengarkan aku,” ucap Bara, menyusul istrinya.


“Icca, main sama Oma sebentar, ya. Daddy ada perlu dengan Mommy,” ucap Bara, menurunkan Issabell dari gendongannya.


Bagaimana pun, ia harus berbicara dengan Bella. Meluruskan kesalahpahaman, kalau memang ada miss komunikasi di antara mereka. Meminta maaf pada istrinya, kalau memang ia melakukan kesalahan. Ia akan melakukan apa saja, asal hubungannya bisa kembali membaik seperti sebelumnya.


“Sweetheart!” panggil Bara, berlari menyusul istrinya, menapaki anak tangga itu dengan tergesa-gesa, supaya bisa menyejajarkan langkahnya dengan Bella.


“Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikan itu. Namaku Bella Cantika. Mas bisa memanggilku ku Bella seperti yang lainnya,” ucap Bella dengan tegas.


***


T b c


Love You all


Terima kasih.