
“Maksud, Mas? Aku belum mengerti,” ujar Bella.
“Aku merebut Issabell dari Rissa dengan cara kotor dan menjijikkan. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku sudah meminta baik-baik, tetapi Rissa menolak dan menuntut hal yang menurutku tidak masuk akal,” lanjut Bara.
“Aku masih belum paham, Mas,” ucap Bella, mengangkat kepalanya, berusaha menatap Bara.
“Apa yang tidak kamu paham?” tanya Bara, tersenyum. Tangannya sedang merapikan beberapa helai rambut yang menutup wajah Bella.
“Semuanya.”
“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Bara lagi.
“Aku ingin mengetahui semuanya, Mas,”
Bara memejamkan matanya, rasanya berat harus menceritakan semuanya. Di mana ini juga kesalahannya.
“Aku mengambil Issabell dengan menipu Rissa. Aku menjadikan Issabell putriku dengan mempermainkan perasaan Rissa,” jelas Bara, mengencangkan dekapannya.
“Maksud mempermainkan perasaan Kak Rissa itu seperti apa? Apa yang Mas lakukan pada Kak Rissa?” tanya Bella mulai mencari tahu.
“Aku ... aku ... menyetujui permintaannya, mendekatinya, pura-pura menyukainya dan menjanjikan banyak hal padanya.”
“Keterlaluan kamu, Mas!” ucap Bella.
Mendengar pengakuan Bara, emosi Bella mencuat seketika. Sudah ingin rasanya menampar suaminya itu untuk membalas perlakuannya pada Rissa.
“Bell, maafkan aku,” ucap Bara mengeratkan pelukannya.
“Kalau Kak Rissa tidak mengizinkannya, kenapa harus memaksa?” tanya Bella, masih saja tidak terima dengan perlakuan Bara ke kakaknya.
“Aku hanya memikirkan Ibu dan kasihan dengan Icca waktu itu,” jelas Bara, memberi alasan.
“Icca sangat menyedihkan, tinggal di kontrakan sempit. Dengan status tidak jelas. Belum lagi saat Rissa bekerja, Icca hanya dititipkan ke tetangga,” cerita Bara.
“Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai Ibu melihat semuanya. Ibu pasti sedih,” lanjut Bara.
“Tapi tidak dengan menipu Kak Rissa, kasihan dia,” ucap Bella pelan. Ia sudah hampir
menangis membayangkan apa yang dialami sang kakak.
“Maafkan aku. Aku tahu ... aku salah,” ujar Bara, menepuk punggung Bella yang sedang berbaring di atas tubuhnya. Berharap usapannya bisa menenangkan emosi Bella yang sedang memanas.
“Bukan minta maaf padaku, Mas. Minta maaf pada Kak Rissa,” tegas Bella, dengan wajah ditekuk.
“Aku mau tidur di ranjang saja!” gerutu Bella kesal. Ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Bara, dan bergegas menuju tempat tidur.
Ia tidak habis pikir, Bara sampai sanggup memperlakukan Rissa dengan tidak adil. Entah apa yang dilakukan Bara pada Rissa, yang ia tahu Rissa sangat marah dan tidak terima sampai saat ini.
Pikirannya menerawang pada kejadian tadi pagi, Rissa yang memarahinya. Memintanya untuk tidak hamil atau tidur dengan Bara. Pada saat itu, ia tidak tahu jelas apa yang terjadi pada kakaknya.
“Katakan padaku, apa yang Mas lakukan pada Kak Rissa sebenarnya? Apa yang Mas janjikan pada Kak Rissa?” tanya Bella. Kekesalannya tidak kunjung usai. Makin ia memikirkannya, emosi Bella makin menjadi
Bara sudah duduk di sofa, menatap Bella yang sedang berbaring dengan wajah ditekuk.
“Rissa menolak bantuanku. Dia memintaku menceraikanmu dan menikahinya kalau ingin memberi status untuk Icca,” cerita Bara.
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Bella.
“Aku ... aku menyetujuinya. Kesepakatan aku dengan Rissa, aku akan menceraikanmu ... setelah kamu menyelesaikan kuliahmu.” Bara kembali bercerita.
“Sejak itu aku mulai mendekatinya, menjadikan Rissa kekasihku. Hanya kami berdua yang mengetahuinya,” ucap Bara, menyesali semua kebodohannya. Namun saat itu terjadi, Bara terpaksa. Ia tidak punya jalan lain.
“Kami sepakat menjalani hubungan gelap, dengan perjanjian akan menceraikanmu setelah kamu menyelesaikan kuliah,” lanjut Bara.
“Selama itu, aku terus membujuknya dengan berbagai cara. Mengabulkan apapun yang diminta Rissa.”
Bella menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Suaminya bisa melakukan hal yang tidak pernah terpikir olehnya.
“Rissa meminta tinggal bersama demi Issabell, aku mengabulkannya. Aku pikir itu juga lebih baik, Issabell masih terlalu kecil dan butuh ibunya.”
“Kemudian?” tanya Bella.
“Bahkan hampir semua orang di kantor, mengetahui kalau Rissa adalah kekasihku. Tapi aku tidak pernah mengumumkan secara resmi.” Bara lanjut bercerita.
“Setelah mendapatkan Issabell, aku mencari cara untuk lepas dari Rissa. Aku berulah, memancing keributan. Berakhir dengan ... aku memutuskan hubungan sepihak,” cerita Bara.
“Aku memutuskan Rissa, mulai menjauhinya. Mengenalkan Issabell pada sosokmu. Mengenalkanmu sebagai Mommy Issabell."
“Rissa mengamuk dan menggunakan segala cara untuk bisa tetap bersamaku,” jelas Bara lagi
“Tega kamu, Mas!” Bella berkata lirih.
“Kamu begitu baik hati menolong keluarga kami, bahkan rela menikahiku tanpa cinta hanya karena Ibu. Tapi kenapa tidak bisa menikahi Kak Rissa, kalau memang mau menolongnya,” tanya Bella.
“Bukankah sama saja rasanya seperti menikahiku dulu ...."
“Aku tidak bisa menceraikanmu,” potong Bara.
“Aku tidak tahu dan tidak punya alasan. Aku benar- benar tidak bisa menceraikanmu,” ulang Bara lagi, menatap Bella.
“Maksud, Mas?” tanya Bella lagi.
“Kalau mengikuti logikaku. Aku akan memilih Rissa dan Issabell. Aku pasti menceraikanmu demi Issabell dan Ibu. Tapi pada kenyataannya, aku tidak bisa,” jelas Bara.
“Aku memilih mengorbankan Rissa dan mengikuti kata hatiku. Sama seperti saat aku memilih menikahimu dulu.”
***
Terima kasih.
Ini aku up sedikit dulu. Masih lanjut nulis, takut kelamaan jadi up dulu. Nanti up 1x lagi untuk hari ini.
Ada kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa ditinggalkan.