Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 173 : Perjuangan seorang ibu


Kesakitan Bella hilang bersamaan dengan suara tangis baby Real yang memekik kencang. Bayi laki-laki dengan hidung mancung milik daddynya dan wajah imut semanis mommynya itu membuat keluarga Wirayudha menjadi lengkap dan sempurna. Bara menjadi ayah sesungguhnya dan Bella menjadi mommy seutuhnya.


Baby Real mengubah semuanya. Bahkan Bara yang begitu arogan dan pemarah terlihat manis dan sabar menunggu kedatangan baby Real hampir seharian. Rela diremas, dicakar bahkan digigit istrinya tanpa mengeluh sedikit pun.


Dan sekarang, Bara bisa bernapas lega, berdiri di depan ruangan bayi bersama Ibu Rosma menatap baby Real dari jendela kaca lebar.


“Dia tampan sekali. Cucuku ....” Ibu Rosma menitikan air mata sembari mengusap kaca bening di depannya. Dari kejauhan tampak tangan mungil baby Real keluar dari bedongnya, dengan bibir mengecap sejak tadi seperti menginginkan sesuatu.


Wanita lansia itu hanya sempat diperlihatkan sekilas oleh perawat, sebelum dipindahkan ke ruangan bayi.


“Apa kalian sudah mencarikan nama untuknya?” tanya Ibu Rosma. Pandangannya tidak berpindah sedikit pun, seolah takut cucunya akan tertukar.


“Sudah. Aku menamainya The Real Wirayudha.” Bara bercerita. Di tengah malam buta, di saat pasien lain terlelap, mertua dan menantu itu masih terjaga di depan kamar bayi. Saling berbagi kebahagiaan bersama.


“Deyuda? Apa tadi namanya?” tanya Ibu Rosma lagi. Lidahnya berlipat saat menyebut nama cucu laki-laki pertamanya.


“Aduh! Kenapa nama anak sekarang susah sekali disebut,” protes Ibu Rosma.


Bara terbahak.


“Aku menyukai nama itu, karena kemungkinan tidak ada yang menggunakan nama itu. Manis saja terdengar, dia akan dipanggil Dereal. Dia benar-benar putraku, Bu. Di dalam dirinya mengalir darah Wirayudha sesungguhnya.”


“Meskipun sayang dan cintaku pada Rania dan Issabell tidak akan berkurang. Mereka juga putri-putriku,” lanjut Bara, tersenyum.


Ibu Rosma tidak mau berdebat. Sejak dulu, dia hanyalah bawahan Bara yang diangkat dan dihormati dengan cara yang berbeda. Laki-laki baik hati yang mengambil alih tanggung jawab atas anak-anaknya yang masih kecil saat itu. Menyekolahkan Rissa dan Bella. Dan sekarang, Bara kembali mengulang kebiasaannya. Bukan hanya Rissa dan Bella, sekarang ada Rania dan Issabell yang ikut diangkatnya.


“Semoga rezekimu bertambah,” batin Ibu Rosma mengucap doa dalam hati.


Lama keduanya terdiam, hanya menatap ke arah ruangan bayi.


“Bella masih lama?” tanya Ibu, mengalihkan pembicaraan.


“Sepertinya sebentar lagi sudah dipindahkan ke kamar, Bu. Tadi sewaktu aku pamit keluar, luka Bella sedang dibersihkan dan dijahit kembali,” jelas Bara.


“Kembali ke kamar saja kalau begitu. Ini sudah larut malam, seharian ini kita tidak bisa istirahat.” Ibu Rosma berkata.


***


Di sisa malam, Bella tertidur pulas. Mengganti lelah dan sakit yang mendera tubuhnya seharian kemarin. Ibu dari baby Real itu masih saja mendengkur halus saat semburat cahaya matahari menerobos masuk dari celah jendela. Bara dan Ibu Rosma terlihat berbagi tempat tidur di sofa bed yang terbentang di pojok kamar.


Keduanya terjaga saat seorang* helper *masuk mengantarkan sarapan pagi untuk Bella. “Ibunya masih pulas,” ucapnya tersenyum, meletakan sarapan pagi di atas nakas.


“Permisi Pak,” sapanya pada Bara yang tiba-tiba bangun dan duduk di atas sofa dengan wajah bantal khas bangun tidur.


Laki-laki itu segera bangkit dan mencuci muka. Dia sudah tidak sabar ingin menemui bayinya setelah memastikan kondisi Bella baik-baik saja.


Membingkai perlahan wajah ayu Bella dengan kedua tangannya yang dingin. Mengusik tidur Bella yang tak terganggu sejak semalam.


“Mommy Real, bangun! Ini sudah pagi,” bisik Bara, pelan.


Kelopak mata itu mengerjap perlahan mendengar bisikan demi bisikan pelan menggema di telinga.


“Mas ....” Bella menyapa dengan suara seraknya.


“Sudah enakan, perutku sudah tidak sakit, Mas,” sahut Bella, memaksa tersenyum.


“Sakitnya berpindah nanti.” Bara berbisik pelan. Teringat bagaimana inti tubuh istrinya yang berdarah dan dijahit setelah mengalami luka robek saat melahirkan buah hati mereka semalam. Dia sempat melihatnya sekilas sebelum keluar dari ruangan.


Tak lama, seorang perawat masuk menghentikan obrolan keduanya.


“Bu, kalau mau membersikan diri sudah bisa, ya. Apa mau dibantu mengelap badannya?” tawarnya, meletakan nampan berisi handuk, tisu basah dan kapas yang sudah ditetesi obat merah. Itu digunakan untuk mengganti kapas yang sebelumnya.


“Mas, kamu saja, ya?” tanya Bella malu-malu. Meminta Bara yang membantunya membersihkan tubuh dibandingkan dengan meminta bantuan perawat rumah sakit. Pipinya merona tiba-tiba, mengingat semalam dengan tidak tahu malunya, mempertontonkan dirinya di depan banyak orang saat melahirkan. Dan sekarang, dia tidak mau lagi.


Semalam itu terpaksa, sakit perut yang luar biasa membuatnya melupakan semua hal. Di saat otak warasnya kembali, malu itu tiba-tiba menyapanya lagi.


Bara tersenyum. “Ya, aku akan membantumu, Bell.”


“Sus, nanti suamiku yang akan membantunya.” Bella berkata pelan, sesekali melirik ke arah Bara. Lelakinya sudah tersenyum usil, menyimpan rencan licik apalagi di dalam otaknya.


Sepeninggalan perawat, Bara segera menarik tirai kuning keemasan untuk menutupi brankar.


“Bu, aku mau membantu Bella membersihkan tubuhnya,” ucap Bara sebelum menutup habis tirai dan menyembunyikan dirinya dan Bella di baliknya. Ibu Rosma masih bermalas-malasan di atas sofa.


“Mas, pelan-pelan,” bisik Bella, saat brankar itu diatur sedemikian rupa. Membuat posisi Bella duduk bersandar.


“Ya, ini aku pelan-pelan.” Bara sudah melempar turun selimut, kemudian membantu melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Senyumnya terkembang saat mendapati gundukan kembar Bella yang masih berbekas merah kebiruan karena ulahnya di malam sebelum baby Real dilahirkan.


“Aku sepertinya akan berebutan dengan baby Real setelah ini,” canda Bara berbisik pelan sembari mengusap handuk basah di area leher dan dada istrinya.


“Mas ....” protes Bella.


“Maaf, aku cuma bercanda.” Bara terkekeh pelan, saat dengan sengaja memainkan puncak mengeras tempat dimana pabrik susu baby Real sedang diproduksi.


“Di dalam sini, sepertinya pekerja sedang bekerja. Tak lama lagi susu cap Bella akan segera diluncurkan.” Kembali Bara bercanda.


“Mas ....” Lagi-lagi terdengar protes Bella.


“Ya, sebentar lagi.” Tatapan Bara terpaku pada guratan-guratan di perut Bella yang bergelambir. Tadinya bagian ini membesar, begitu bayi Real lahir, kulit perut Bella pun mengempes. Dan menghasilkan gelambir-gelambir di sana.


“Bell, terimakasih. Sudah bersedia hamil dan melahirkan bayiku.” Bara tersentuh dan terharu.


Selain melihat perjuangan Bella, jatuh bangun selama hamil sembilan bulan, Bara juga menjadi saksi bagaimana Bella berjuang keras untuk melahirkan baby Real semalam. Dan hari ini setelah semua orang bahagia menyambut malaikat kecil keluarga Wirayudha, kembali Bara melihat sendiri bagaimana pengorbanan Bella. Perut bergurat dan kendor ini tadinya mulus dan ramping tetapi demi melahirkan penerusnya, Bella harus merelakan semua keindahan itu lenyap dalam sekejap mata.


Tak sampai disana, saat mengganti kapas dengan lelehan obat merah di bagian inti tubuh istrinya yang dijahit, Bara kembali diingatkan bagaimana perjuangan Bella.


“Masih sakit, Bell?” tanya Bara mengernyit. Membayangkannya saja sudah ngilu apalagi Bella yang mengalaminya.


“Masih, Mas,” sahut Bella meringis pelan.


“Aku jadi takut bergerak, Mas, Takut jahitan robek,” lanjut Bella kembali meringis, bergerak pelan dan hati-hati.


***


TE