
“Apa maumu, Nyonya?” Pada akhirnya Bara angkat bicara setelah tidak tahan lagi dengan sindiran Kailla. Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja setelah menyingkirkan piring steaknya dengan kasar di sisi meja. Terlihat sekali ia sangat berusaha menahan amarahnya. Kalau bukan istri Pram, Bara yakin akan menamparnya.
“Tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku, Gadis Kecil!” ucap Bara, berusaha menahan intonasinya supaya tidak membuat sahabatnya tersinggung.
Pram yang sejak tadi diam dan tidak tahu apa-apa, langsung berubah serius menatap istrinya.
“Jelaskan padaku, apa yang terjadi saat ini?” tanya Pram, menatap tajam Kailla. Kemudian, beralih menatap Bara. Terlihat Bella yang tertunduk ketakutan. Ekspresi yang jauh berbeda dengan yang ditunjukan Kailla.
“Mas, sudah. Ini semua salahku. Tidak ada sangkut-pautnya dengan Kailla. Aku menceritakan masalah rumah tangga kita kepadanya. Aku yang paling bersalah dalam hal ini,” jelas Bella penuh kelembutan, berharap emosi Bara mereda.
“Dia tidak ada etikanya. Ikut campur rumah tangga orang lain?” sahut Bara kesal.
Pram mendengar ucapan Bara langsung menoleh pada istrinya. “Minta maaf padanya, Kai!” perintah Pram, meraih tangan istrinya yang sedang memegang garpu. Ia meminta Kailla menghentikan makannya.
“Jangan mempermalukan suamimu, Kai. Cepat minta maaf!” perintah Pram dengan penuh ketegasan.
“Aku tidak mau. Minta ... Om Bara minta maaf dulu pada Ricko, baru aku akan minta maaf padanya,” sahut Kailla menantang.
“Kailla!” seru Pram menahan amarahnya.
Bara yang berusaha menahan emosinya, berulang kali menghela napas. Terlihat Bella berusaha menenangkannya.
“Mas, sudah. Jangan marah lagi. Kasihan dedek bayinya,” bisik Bella. Meraih tangan Bara dan meletakkan di perutnya.
Sedikit banyak hal itu membuat Bara sedikit menurunkan emosinya. Apalagi melihat Pram yang hampir menelan istrinya bulat-bulat. ( Seperti tahu bulat yang digoreng lima ratusan )
Cekalan tangan Pram yang begitu kencang pada pergelangan tangan Kailla sehingga menimbulkan tanda kemerahan di kulit, membuat Bara merasa bersalah.
“Sudahlah. Aku tidak mau memperpanjang masalah,” ucap Bara, tersenyum lembut pada istrinya.
“Tidak bisa begitu. Om yang melempar granat. Sekarang sudah mau meledak lalu mau cuci tangan dan kabur. Aku tidak terima,” ucap Kailla penuh emosi, masih belum mau menghentikan perdebatan.
“Ayo kita luruskan. Om ... tidak terima karena kata-kataku yang mau menitipkan Om ke pengadilan agama?” tanya Kailla menantang.
“Itu hakku untuk berpendapat. Seandainya Om suamiku, tentu aku akan melakukannya. Tapi, tidak masalah kalau Om tersinggung, aku minta maaf,” lanjut Kailla.
“Lalu, di mana lagi ikut campurnya?” tanya Kailla masih melanjutkan emosinya.
“Sudah, Kai. Kita pulang sekarang. Aku tidak mau hubunganku dengan Bara hancur karenamu,” ucap Pram.
Bara dan Bella saling diam, lebih banyak mendengar dan tidak mau bicara.
“Apa karena aku membahas pohon mangga? Kalau Om tersinggung karena itu, berarti masalahnya di Om Bara. Aku hanya menceritakan yang sebenarnya. Tanya suamiku, benar tidak dia menanam pohon mangga untukku. Benar tidak, dia akan melakukannya kalau aku memintanya,” ucap Kailla berapi-api.
“Sudah. Kita pulang sekarang,” ajak Pram, menyeret istrinya berdiri.
“Aku belum selesai dengan Om Bara,” ucap Kailla, menghempaskan tangan Pram.
“Dengar ya, Om. Aku tidak peduli rumah tangga Om mau jungkir-balik, kacau-balau. Bukan urusanku. Walau aku simpati pada Bella.”
“Aku tidak terima, kalau asistenku diperlakukan seperti tadi hanya karena Om yang tidak percaya dengan istri Om sendiri. Apa salah Ricko? Tolong sebutkan apa kesalahan Ricko?”
“Sudah, Sayang. Kita pulang sekarang,” ajak Pram yang mulai melunak. Sedikit banyak ia mulai paham duduk permasalahannya di mana. Asal mula perang urat ini ada di Ricko.
Pram terlihat memberi kode dengan matanya, memohon Bara bisa mengerti.
“Aku tidak mau pulang. Om itu bersalah sudah memukul Ricko. Aku tidak mau menyelesaikannya begitu saja. Om harus minta maaf,” tegas Kailla.
“Aku tidak terima. Kalau bukan aku yang membela orangku, siapa lagi. Kamu tidak lihat ... wajah Ricko babak belur. Jangan karena dia hanya makan gaji, pegawai rendahan, orang kecil ... jadi bisa seenaknya. Masih ada aku yang membelanya. Yang bekerja denganku semuanya adalah keluargaku. Menyakiti mereka berarti berhadapan denganku!” tegas Kailla, langsung meraih tasnya dan keluar dari restoran.
“Bar, maafkan istriku. Aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti,” pinta Pram.
“Tidak apa-apa, Pram. Aku mengerti.”
***
Sepeninggalan Pram dan Kailla, sepasang suami istri itu saling diam dan tidak banyak bicara. Sesekali Bara melirik ke arah Bella dengan tangan masih saling menggengam.
“Mas, maafkan aku,” bisik Bella. Tertunduk takut dan khawatir.
“Kamu tahu, Bell. Aku paling tidak suka masalah rumah tangga kita diketahui orang lain. Coba, sekarang aku bertanya padamu. Apa Kailla pernah membuka hubungan rumah tangganya dengan Pram. Menceritakannya dengan detail padamu?”
Bella menggeleng.
“Dia pernah mengeluh tentang suaminya padamu?” tanya Bara lagi.
“Tidak pernah, Mas,” sahut Bella, tertunduk kembali.
“Apa yang mau dikeluhkan. Suami Kailla begitu sayang pada istrinya. Begitu perhatian. Kalau masih mengeluh namanya kelewatan,” batin Bella.
Helaan napas kasar, menandakan Bara sedang menahan emosinya. Melihat raut wajah istrinya, Bara bisa membaca apa yang dipikirkan Bella.
“Memang rumput tetangga terlihat lebih hijau, Bell. Coba kamu lihat dari dekat lagi. Hidup memang seperti itu. Kita melihat orang lain selalu bahagia, dan sebaliknya juga begitu. Orang lain melihat kita bahagia, tetapi yang bisa merasakan hanya kita sendiri,” ucap Bara.
“Om Pram memang baik pada istrinya. Coba Mas lihat, tidak sedikit pun dia memarahi Kailla. Padahal jelas-jelas Kailla sudah berulah.”
“Berbeda dengan Mas. Aku melihat wajahmu tadi, Mas. Sewaktu di ruang security, dari kejauhan wajah Mas itu seperti tabung gas. Kalau tidak hati-hati, pasti ada ledakan,” ucap Bella, sontak membuat Bara terbahak.
“Kamu sudah mulai belajar banyak dari Kailla,” celetuk Bara. Masih saja tertawa di sela ucapannya.
“Bell, ada hal yang bisa kita bagi, tetapi ada hal yang harus kita simpan dari orang lain. Kamu tahu bagaimana insiden ini bermula?” tanya Bara lagi.
“Ini terjadi karena kamu melibatkan orang lain dalam hubungan kita.” Bara bertanya, tetapi ia juga yang menjawab.
“Ini terjadi karena Mas memukul Kak Ricko. Mas tidak dengar ... sejak tadi Kailla masih saja tidak terima. Kalau Mas tidak memukul Kak Ricko, semua ini tidak terjadi,” sahut Bella, tidak mau kalah.
“Memang dia menggangu Mas? Apa salah Kak Ricko sampai Mas memukulnya separah itu?”
Glek—
Bara menelan ludahnya. Tiba bisa menjawab, kenapa tiba-tiba ia naik darah saat melihat Ricko berdiri di samping mobil mereka.
“Aku ... aku ....”
***
T b c
Love you all
Terima kasih