Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 73. Siapakah Love?


Dengan memandang ke arah pintu kamar mandi, akhirnya Bella menggeser logo hijau di layar. Baru saja ia akan menempelkan ponsel itu ke telinganya, tiba-tiba suaminya keluar hanya dengan berbalut handuk.


“Siapa, Bell?” tanya Bara, masih menatap ponsel yang hampir menempel di telinga istrinya.


Bella menggeleng.


Sedikit canggung, karena ketahuan hampir menyabotase ponsel suaminya.


“Ini, Mas,” ucapnya pelan, menyodorkan ponsel itu pada Bara, dengan kepala penuh dengan banyak pertanyaan dan curiga.


Bella berusaha menguatkan dan membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Meneguhkan keyakinan pada sang suami. Meskipun terasa sulit dan tidak masuk akal.


Bara mengerutkan dahinya, heran dengan nama yang muncul di layar. Membiarkan ponselnya tetap berbunyi. Seingatnya ia tidak memiliki kontak dengan nama Love, bahkan ia tidak memiliki teman dengan nama aneh itu. Namun, kenapa tiba-tiba nama dan kontak ini bisa tersimpan di dalam ponselnya


“Love?” ucap Bara pelan, setelah ponsel itu berhenti bernyanyi. Bara membiarkannya begitu saja, menolak menerima panggilan yang tidak di kenalnya.


“Siapa, Mas?” tanya Bella, masih penasaran.


“Aku tidak tahu, tetapi kenapa ada nama ini di ponselku,” sahut Bara.


Jawaban yang membuat Bella semakin bingung. Ponsel pribadi bagaimana mungkin suaminya tidak tahu apa yang terjadi dengan ponselnya sendiri.


“Biarkan saja. Anggap saja salah sambung,” ucap Bara lagi.


Dengan santai meletakan ponselnya ke atas meja rias. Bergegas ia menuju walk in closet untuk berganti pakaian.


“Mas, yakin tidak mengenalnya?” tanya Bella, tidak percaya. Ia mengekor langkah suaminya, masih berusaha menginterogasi dan mencari tahu siapa dan apa tujuan si penelepon misterius itu.


“Ya, aku bahkan tidak merasa pernah menyimpannya,” sahut Bara, santai.


Namun, langkahnya berhenti tiba-tiba. Berbalik ke belakang, menatap istrinya dengan seksama.


“Jangan bilang kamu mencurigaiku, Bell!” todong Bara, menggelengkan kepala. Raut wajah Bella saat ini memang terlihat seperti itu.


“Ti-tidak, Mas,” sahut Bella terbata, menunduk dan meremas ujung piyamanya.


“Bell, aku bersumpah. Aku tidak tahu menahu masalah ini. Kalaupun aku menyimpan nomor kontak simpananku di ponsel, aku tidak akan menamainya Love, tetapi Samsudin atau Suprapto,” ucapnya santai, membuka lemari besar yang menyimpan barisan kemeja kerjanya.


Mendengar jawaban suaminya, Bella segera berlari menuju ke meja rias, meraih kembali ponsel suaminya. Sembari duduk di tempat tidur, ia bersiap mengecek ponsel suaminya.


“Mas, sandi ponselmu berapa?” teriak Bella.


“Bell, apa yang kamu lakukan?” tanya Bara. Ia terpaksa mengikuti Bella yang berlari tiba-tiba. Ia khawatir telah terjadi sesuatu, tetapi kenyataannya Bella hanya mau memastikan isi ponselnya.


“120902!” Bara menjawab santai.


Bella sudah memasukan kode angka sesuai dengan yang disebut Bara. Seketika layar gawai itu pun terbuka dan menyala terang. Bisa diakses sepuasanya. Ia bisa leluasa mencari si Suprapto ataupun Samsudin yang dimaksud suaminya.


“Bell. Hahahaha!” Tawa Bara pecah. Ia tahu jelas apa tujuan istrinya sekarang.


Kaki Bara baru akan melangkah kembali ke walk in closet, tiba-tiba Bella sudah berteriak kembali.


“Mas, pakaianmu sudah aku siapkan di sini!” ucap Bella, memberi tahu.


Ia sudah menyiapkan pakaian suaminya seperti biasa, sebelum masuk ke kamar mandi tadi.


“Oh, aku lupa Bell,” sahut Bara menggaruk kepalanya. Jujur, ia sendiri masih tidak habis pikir dengan nama Love yang tiba-tiba muncul di dalam ponselnya. Semua kejadian mendadak itu, membuat otak waras berhenti.


Ia mengingat jelas, tidak pernah menyimpannya. Walaupun begitu, otaknya langsung tertuju dengan sosok Love yang menari-nari di pikirannya akhir-akhir ini.


“Brenda, kah?” tanyanya dalam hati.


“Tapi ... bagaimana bisa tersimpan di dalam ponselku?”


“Ini kerjaan siapa? Jangankan menyimpan nomornya, bahkan aku sudah lupa nomor ponsel Brenda.”


Ada banyak pertanyaan yang berputar-putar sedang menunggu jawaban.


Deg—


“Rania, kah?” bisiknya pelan. Mengingat ia sempat mengeluarkan ponselnya di atas meja saat mereka bertemu. Namun, bagaimana bisa Rania tahu semua hal tentang dia dengan mommy-nya dulu.


“Eh ... ya, tidak apa-apa,” sahut Bara tergagap, kembali lagi dari lamunannya. Segera, ia meraih celana dan kemeja yang sudah disiapkan istrinya.


“Bell, sudah ketemu dengan Supraptonya?” ledek Bara. Masih saja terkekeh, melihat aksi istrinya yang sedang menggeser layar naik ke atas, menampilkan deretan nama di daftar kontak.


Terus terang, melihat Bella saat ini hatinya menghangat. Dulu, tidak ada yang peduli dengannya, bahkan ia tidak pulang ke rumah pun, Brenda tidak akan bertanya.


Jangankan bersikap sepanik Bella, bahkan Brenda tidak pernah peduli padanya.


“Sudahlah, Bell. Tidak akan ada Suprapto di dalam sana. Ayo bantu aku pasangkan dasi,” pinta Bara, menyodorkan dasi ke tangan Bella.


”Sebentar, sedikit lagi sudah huruf S.” Bella masih serius.


“Sebaiknya kamu mengecek di pesan masuk saja, Sweetheart.” Bara memberi ide.


“Di sana akan terlihat aku mengirim pesan sayang-sayangan dengan siapa saja,” lanjut Bara, kembali tersenyum.


Bella mengangkat pandangan. Suaminya sedang berdiri tepat di hadapannya dengan tangan terlipat di dada. Namun, yang membuat Bella kesal, senyum di bibir Bara itu seolah meledeknya.


“Mas!” gerutu Bella, kesal.


“Sudah-sudah, aku cuma bercanda. Kamu bisa menghubungi Love kembali, kalau kamu tidak yakin,” ucap Bara.


“Ayo, pasangkan sekarang, nanti aku terlambat ke kantor.”


Ia sudah membungkuk, menyesuaikan tingginya dengan Bella yang sedang duduk di ranjang. Dengan cekatan, Bella mengalungkan dasi panjang itu di leher suaminya. Membuat simpulan sedemikian rupa, terakhir menarik salah satu sisinya.


Sretttt!


“Sempurna!” ucap Bella tersenyum.


Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir Bella, sekilas dan ringan.


“Terima kasih!” ucap Bara.


Bella mengalah, menyerahkan kembali ponsel suaminya. Setelah dipikir ulang, tidak mungkin juga suaminya akan setenang ini. Membiarkannya mengacak-acak ponsel pribadinya, kalau ada sesuatu yang disembunyikan.


***


Bara baru saja masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa, ia membawa mobil sendiri ke kantor. Pak Rudi bertugas untuk mengantar Bella ke kampus.


Tangannya masih sibuk memegang kemudi, sesekali tersenyum setiap mengingat betapa manisnya sang istri tadi pagi. Perhatian dan kecemburuan yang ditunjukan Bella, membuat hatinya merasakan sesuatu.


“Kamu manis juga ternyata, Bell,” ucapnya pelan, tetap fokus dengan jalanan.


Senyuman di bibir Bara menghilang saat ponselnya kembali berdering. Matanya tertegun saat melihat nama "Love' kembali muncul di layar ponselnya.


Tampak Bara menepikan mobilnya sebelum menerima panggilan.


“Siapa kamu?" tanya Bara setelah menempelkan ponsel di telinganya.


“Hai ... Sayang, bagaimana kejutanku?” terdengar suara seksi seorang wanita dari seberang telepon.


“Kamu! Apa maumu? Sejak kapan kamu menyimpan nama aneh di ponselku?” ucap Bara dengan suara penuh penekanan.


Raut wajahnya memperlihatkan kalau saat ini ia sedang murka. Garis rahangnya mengeras, seiring remasan tangan di setir mobilnya yang semakin kencang.


“Breng'sek! Aku bahkan belum sempat membuat perhitungan denganmu!!”


Terdengar suara tawa wanita dari seberang telepon. Tawa yang menyebalkan.


“Hahaha ... sabar, Sayang. Kejutanku sudah tiba di sana?” tanyanya lagi.


***


T b c


Love You all.


Terima kasih