Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 132. Meminta bertemu dengan cucu


Bara pulang lebih sore dari biasa, menenteng rujak buah pesanan istrinya. Dengan senyum bahagia, mencari keberadaan Bella yang menghabiskan sebagian waktunya dengan menemani Issabell.


Begitu kakinya melangkah ke teras samping, netranya menangkap pemandangan yang begitu menghangatkan hatinya. Kalau berumah tangga begini membahagiakannya, mungkin ia akan secepatnya menyembuhkan diri dari luka masa lalu. Tidak akan terlalu larut dengan semua rasa sakit yang dirasakannya saat bersama Brenda.


“Bell,” sapa Bara, mengangkat kantong putih susu di tangan kanan, sengaja menunjukkannya pada Bella.


Istrinya sedang berdiri di tengah rerumputan hijau, mengusap perut sembari mengamati Issabell yang berlarian mengejar kupu-kupu ditemani pengasuhnya.


“Mas sudah pulang? Kok cepat?” tanya Bella, berjalan mendekat.


Ujung dasternya melambai tertiup angin sore. Bagian perutnya pun tercetak jelas, membulat saat bergerak melawan arah bayu yang bertiup.


“Aku membawakan pesananmu. Bukankah kamu meminta dibelikan rujak buah.” Bara mengingatkan. Spontan tangan kekar itu menyapu perut istrinya, tersenyum menunggu tendangan kecil yang sangat dirindukannya.


“Anakku belum bergerak lagi?” tanya Bara, mengusap area perut membesar, memancing bayi mereka menendang.


Bella menggeleng. Meraih bungkusan dari tangan suaminya dengan semangat empat lima, ia membuka bungkusan rujak buah dan duduk di kursi taman sembari menikmati.


“Mungkin nanti akan lebih berasa pergerakannya, sekarang masih sangat jarang sekali,” sahut Bella, menusuk sepotong mangga muda dengan tusuk gigi yang disediakan bersama potongan buah segar.


Melihat Bella memakan dengan lahap, Bara bergidik. “Tidak asam?” tanya Bara, menelan ludah. Salivanya mengucur deras di dalam mulut.


“Ini enak, Mas. Mau coba?” tawar Bella, menyodorkan potongan buah nanas.


“Tidak, aku tidak suka,” tolak Bara.


Keduanya sudah duduk bersisian, menatap ke arah yang sama, yaitu Issabell. Gadis kecil itu sedang berlarian dengan tawa kecilnya. Begitu bahagia, tidak ada beban.


“Menjadi anak-anak begitu menyenangkan,” ucap Bara pelan.


Ada rasa sedih melihat wajah ceria Issabell. Gadis kecil itu tidak tahu kalau mama kandungnya sedang mendekam di tahanan. Entah apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Issabell mengetahui kebenarannya dan tahu seperti apa masa lalu mamanya. Tidak terbayang sama sekali, betapa kecewanya Issabell kalau sampai itu terjadi.


“Bell, bagaimana rencana kita untuk menyekolahkan Icca? Kamu tidak keberatan?” tanya Bara, mengalihkan pembicaraan.


“Apa tidak terlalu kecil, Mas. Icca baru dua tahun lebih. Kasihan,” sahut Bella, sejak awal ia menentang niat awal Bara yang ingin mendaftarkan Issabell ke Kiddy Club.


“Itu sebenarnya bukan sekolah. Lebih seperti bersosialisasi dengan dunia luar, bergaul dengan anak-anak lain sepantarnya dan yang jelas mengajarkan anak-anak lebih mandiri dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Tidak bergantung pada orang tua dan pengasuhnya.”


“Tapi, aku masih belum puas bersama Icca,” ucap Bella.


“Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Otomatis perhatianmu akan terpecah. Dengan bersekolah juga membuatnya tidak merasa diabaikan di saat kamu lebih fokus pada adiknya,” jelas Bara.


“Kita akan mencarikan sekolah terbaik, di mana satu kelas dengan beberapa guru pendamping dan tidak menampung banyak murid,” lanjut Bara.


“Aku terserah Mas saja.” Akhirnya Bella mengalah. Tidak mau berdebat dan ikut campur terlalu jauh dengan keputusan Bara.


“Aku ingin mulai sekarang ... Icca terbiasa duduk dan makan sendiri di meja makan. Tidak disuapi seperti biasanya,” pinta Bara, menatap putrinya yang masih berlarian.


“Mulai ajarkan Icca bertanggung jawab. Dimulai dari hal kecil, Bell,” ucap Bara lagi.


Bella sejak tadi hanya mengangguk, tidak protes atau membantah.


***


Seminggu setelah pembicaraan suami istri itu, akhirnya Issabell dimasukkan ke International School yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Keseharian Bella juga sekarang bertambah. Setiap pagi mengantar Issabell ke sekolah dan akan menjemput putri kecilnya empat jam kemudian.


Seperti pagi ini, mobil yang dikendarai Pak Rudi masuk ke halaman sekolah setelah menunjukkan Student Pick Up Card pada security di gerbang depan. Tepat pukul sepuluh, biasanya Issabell sudah duduk mengantre di hall sekolah, untuk menunggu jemputan mereka datang.


Bella yang masih menggenggam Student Pick Up Card sambil berjalan masuk ke lobi tiba-tiba dicegat oleh seorang pria.


“Maaf sebelumnya,” sapa lelaki yang sangat familier suaranya.


Saat berbalik, Bella terperanjat menyadari Roland yang menyapanya. Lelaki itu terlihat sendirian berdiri di dekat keramaian para orang tua yang akan menjemput putra-putri mereka.


“Maaf merepotkan. Apa aku bisa meminta waktunya sebentar?” tanya Roland, menatap nanar pada putrinya yang sedang duduk di lantai bersama teman-temannya menunggu jemputan.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” jelasnya pelan.


“Di sini saja. Aku tidak bisa lama-lama. Aku takut Icca menangis melihatku. Lagi pula aku tidak enak kalau sampai ketahuan Mas Bara,” jelas Bella, mengedarkan pandangannya. Sejak menikah dengan Bara, ada banyak hal yang dipelajarinya. Termasuk berhati-hati, jangan sampai salah mengambil sikap yang bisa berimbas pada rumah tangganya.


Roland tertunduk.


“Maaf, sebelumnya aku sudah mendatangi suamimu, tetapi respons Bara tidak terlalu baik. Dia memintaku menjauhi putriku sendiri. Dalam artian, jangan terlalu sering menemui Icca. Aku bahkan baru tahu kalau Icca sudah disekolahkan.”


“Ya, baru seminggu ini,” sahut Bella, tidak tenang. Kalau Roland menemuinya di rumah, ia bisa beralasan pada sang suami. Namun, pertemuan di luar seperti ini, ia khawatir Bara salah paham. Apalagi ia tahu jelas bagaimana sifat suaminya.


“Aku sudah beberapa kali mencoba menemui Icca di sini, tetapi pihak sekolah tidak mengizinkanku menemuinya. Bahkan mobilku saja tidak bisa masuk ke pekarangan sekolah,” jelas Roland, menunjuk mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


Mobilnya tidak terdaftar di administrasi sekolah, wajar saja kalau tidak bisa masuk. Jangankan mobil Roland, mobil Bara saja tidak bisa masuk, kalau menjemput dengan mobil sport. Hanya satu mobil saja yang terdaftar dan bisa keluar masuk lingkungan sekolah.


Namun Roland senang, Bara menyekolahkan Issabell di sekolah ini. Meskipun ia tidak bisa menemui putrinya dengan leluasa, tetapi putrinya aman di sini. Bahkan untuk masuk ke pekarangan saja, Roland harus menitipkan tanda pengenal di pos security.


“Ada apa?” tanya Bella lagi.


Roland menghela napas kasar, berat untuk mengatakannya. Namun, jalan terakhir yang bisa ditempuhnya adalah melalui Bella. Mudah-mudahan, wanita itu bersedia menolongnya.


“Ibuku sedang sakit keras. Sekarang dirawat di rumah sakit di Surabaya dan dia tahu cerita mengenai Icca. Beliau meminta bertemu dengan cucunya , Icca,” cerita Roland.


Deg—


Bella terdiam, tidak bisa menjawab. Bukan wewenangnya memutuskan bisa atau tidaknya. Suaminya yang memiliki hak untuk memberi izin atau menolak.


“Aku juga tidak bisa apa-apa,” sahut Bella tertunduk.


“Aku sudah mencoba berbicara dengan Bara, tetapi suamimu menolak keras,” jelas Roland.


“Bisakah ...."


“Aku akan coba bicarakan dengan Mas Bara, tetapi aku tidak janji,” potong Bella, melangkah menuju ke meja resepsionis yang berjaga di lobi terbuka gedung sekolah Issabell. Menyerahkan Student Pick Up Card pada gadis manis yang berjaga di sana.


Tak lama, terdengar panggilan melalui mikrofon.


“Issabell Wirayudha,” panggil sang gadis resepsionis melalui pengeras suara.


Beberapa menit kemudian, muncul seorang helper menuntut gadis mungil yang sudah tidak menangis lagi seperti hari pertama bersekolah dan menyerahkannya pada Bella.


Roland tercekat. Hanya mendengar nama Wirayudha tersemat di nama putrinya saja, ada rasa kecewa pada dirinya sendiri, tetapi kecewa itu tidak berlangsung lama. Perasaannya menghangat saat melihat Issabell yang memeluk Bella dan berceloteh dengan gembiranya.


“Icca sudah bisa merapikan sepatunya sendiri, Mom,” jelas Helper menceritakan kemajuan Issabell, sebelum akhirnya pamit untuk mengurus anak didik yang lainnya.


“Good job, Sayang,” puji Bella, membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan tinggi sang putri.


Roland yang berdiri tidak terlalu jauh, tiba-tiba mendekat. “Hai gadis manis. Om bawakan boneka Hello Kitty untuk Icca,” ucapnya, berusaha menarik perhatian Issabell.


“Mau?” tanyanya lagi, berjongkok tepat di depan Issabell.


Kali ini respons Issabell lumayan bersahabat. Meski tidak menjawab, gadis kecil itu mengangguk malu-malu.


***


T B C


Love You all


Terima kasih.