Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 93. Ada apa dengan Rania


Air mata menetes kembali. “Aku belum pernah jatuh cinta. Jadi aku tidak tahu, apa yang aku rasakan untukmu ini bisa disebut cinta,” lanjut Bella, tertunduk.


Bara tersenyum, merangkul pundak istrinya agar mendekat padanya.


“Jangan menangis. Apapun yang kamu rasakan padaku, aku akan membalasnya setimpal. Sebisa mungkin aku tidak akan menyakitimu,” bisik Bara.


Dengan jemarinya, Bara menghapus air mata yang mengalir deras di wajah Bella. Kemudian, ia mendekap tubuh mungil yang terguncang itu supaya tenang kembali.


“Bisa merasakan hangatnya pelukanku?” tanya Bara di sela isak tangis Bella yang mulai mereda.


“Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu karena jawabanku itu sebenarnya tidak penting. Jawaban yang keluar dari bibirku ini bisa dimanipulasi. Namun, aku ingin kamu merasakannya. Perlakuanku padamu selama ini, kesetianku padamu bukankah seharusnya sudah menjawab semuanya," ucap Bara.


Dari kejauhan terdengar teriakan Issabell. Gadis kecil itu begitu bersemangat saat melihat Bara ikut duduk di samping Bella, menemaninya bermain.


“Daddy!” jeritnya, berlari menghampiri Bara.


“Bell, hapus air matamu. Ada anak-anak,” bisik Bara, segera melepaskan pelukannya. Bersiap menyambut putri kecilnya.


Dalam sekejap Issabell sudah naik ke gendongan Bara. “Putri Daddy, main apa sampai berkeringat begini?” tanya Bara, mengecup kedua pipi Issabell.


“Main lali-lalian, Dad. Sama Kak Lania,” sahutnya, langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher sang daddy, bermanja-manjaan di sana.


Rania yang mengekor di belakang Issabell, hanya bisa menatap dengan iri. Ingin rasanya ikut memeluk, tetapi tidak memiliki keberanian. Ia cukup bersyukur Bella mau menerimanya, di saat Bara menolak kehadirannya mentah-mentah.


“Rania, kemarilah. Kenapa rambutnya berantakan. Ayo tante bantu menguncirnya,” ucap Bella. Ia bisa melihat tatapan cemburu Rania, memandang pada Bara dan Issabell sampai tidak berkedip.


“Mbak, tolong ambilkan sisir dan ikat rambut milik Issabell. Ikat rambut yang biasa saja,” perintah Bella pada pengasuh Issabell.


Melihat Rania yang membeku di tempat, akhirnya Bella membuka suara kembali.


“Rania tidak memeluk Daddy?” tanya Bella, berusaha mencairkan suasana canggung yang terjadi di antara keduanya.


Mendengar ucapan Bella, Bara tersentak. Seperti disadarkan sudah membuat kesalahan fatal. Kalau diperhatikan, Rania seperti menjaga jarak dengannya. Entah karena gadis itu sudah mengetahui kalau Bara bukan daddy-nya atau terlalu sakit hati karena Bara menolak secara terang-terangan.


“Ran, kamu tidak memeluk Daddy?” Akhirnya Bara menawarkan diri, sekilas ia bisa menangkap raut kesedihan di wajah gadis itu.


Mendengar tawaran Bara, Rania menghambur memeluk pinggang lelaki yang dianggap daddy-nya sampai sekarang. Menyandarkan kepalanya dengan manja di sana.


“Daddy dikelilingi gadis cantik di rumah ini,” canda Bara, tersenyum pada Bella.


“Aku sedang menunggu kehadiran sainganku. Sudah terlalu banyak wanita cantik disini,” lanjutnya mengedipkan matanya pada sang istri.


***


Bella sedang menyisir rambut Rania, kemudian membuat kepang di rambut panjang gadis itu. Sesekali menatap ke arah Issabell yang sedang bercanda dengan Bara.


“Ran, kamu kelas berapa sekarang?” tanya Bella tiba-tiba.


“Kelas delapan, Tante,” sahutnya ikut menatap ke arah yang sama. Terselip iri di benaknya melihat pemandangan Issabell dan Bara.


“Besok, Tante yang akan mengantarmu ke sekolah,” ucap Bella, masih sibuk membuat kepang.


“Ya, Tante.”


Beberapa jam tinggal di rumah Bara, Rania mulai membuka diri para Bella. Sedikit berbeda dengan pertemuan pertama mereka beberapa waktu lalu. Di mana Rania sedikit ketus dan terlihat membenci, tetapi sekarang gadis itu lebih bersahabat.


“Tante, besok pagi Rania boleh jenguk Mommy di rumah sakit?” tanya Rania tiba-tiba. Gadis itu langsung menangis setiap mengingat Mommy yang sedang dirawat di rumah sakit.


“Kamu harus ke sekolah, kan?” tanya Bella heran.


“Rania masuk siang. Jadi, pagi harinya masih sempat jenguk Mommy di rumah sakit,” ucap Rania beralasan.


Mendengar gadis itu sesengukan, kembali rasa iba memenuhi dadanya. “Jangan menangis, Mommy pasti sembuh,” bisik Bella pelan. Menepuk lembut pundak Rania.


“Besok, Tante akan mengantarmu ke rumah sakit, setelah itu kita langsung ke sekolahmu,” lanjut Bella, menyetujui permintaan Rania.


Rania terlihat menghapus air matanya, menyunggingkan senyuman. Lenyap sudah tangisnya, berganti wajah cerah.


“Sudah! Sudah terlihat cantik,” ucap Bella, memainkan kepang yang baru saja diikat rapi.


“Mommy, mau!” rengek Issabell. Gadis itu langsung berlari menghampiri, sempat terjengkal beberapa kali, tetapi Bara yang berjalan di belakangnya segera mengangkatnya kembali.


“Mommy, mauuu,” rengeknya kembali. Memegang rambutnya sendiri. Membuat Bara dan Bella tergelak.


“Rambut Icca masih pendek, Nak. Nanti kalau sudah sepanjang Kak Rania, Mommy akan menguncirmu seperti ini.


“Ayo masuk ke dalam. Lihat keringatmu. Harus mandi lagi,” ucap Bella, menggandeng masuk putrinya dan menyerahkannya kepada pengasuh.


Diam-diam, ada sepasang mata yang sedang menatap keakraban ibu dan anak itu. Tatapan yang sulit untuk diartikan.


***


Keesokan paginya.


Meja makan sudah ramai dengan dentingan piring yang berbentur dengan sendok dan garpu. Sarapan mereka pagi ini adalah nasi goreng buatan Ibu Rosma yang menggiurkan. Sudah lama, baik Bella maupun Bara tidak merasakan nasi goreng khas milik ibunya.


Rania, si penghuni baru di rumah itu, mulai terlihat biasa di hari keduanya. Gadis itu sudah berseragam putih biru lengkap, bersiap berangkat ke sekolah.


“Mas, hari ini aku akan mengantar Rania ke sekolah,” cerita Bella sekaligus meminta izin suaminya.


Tangan Bara yang sedang mengaduk nasi goreng seketika terhenti, “Biarkan aku saja yang mengantarnya, Bell,” ucap Bara menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Deg—


Bella terkejut. Tidak mungkin membiarkan suaminya mengantar Rania. Ia sudah berjanji membawa gadis kecil itu menemui mamanya di rumah sakit.


“Aku saja, Mas. Lagi pula, aku sudah tidak ke kampus lagi,” jelas Bella.


Bara terperanjat. “Kamu sudah mengurus semuanya, Bell?” tanya Bara heran.


Bella mengangguk. “Ya,Mas. Lagi pula setelah kandunganku membesar, aku juga sudah tidak bisa melanjutkan kuliah lagi. Untuk apa menunggu terlalu lama. Sekarang atau nanti, sama saja. Pada akhirnya, aku akan berhenti kuliah. Aku mau mengurus Icca saja di rumah,” jelas Bella.


“Tugas mengantar Rania ke sekolah, biarkan aku saja ya, Mas,” pinta Bella.


“Anggap saja mengisi waktu. Aku akan kebosanan di rumah seharian,” lanjut Bella.


Bara akhirnya mengalah. Walaupun sebenarnya ia masih bisa mengantar Rania, sekalian jalan ke kantor.


“Jangan kecapekan, Bell. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu,” bisik Bara, tersenyum.


***


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Rania terlihat diam. Sesekali melirik ponsel di tangannya, seperti menunggu kabar dari seseorang.


“Kamu baik-baik saja, Ran?” tanya Bella.


“Ya, aku hanya merindukan Mommy,” jawabnya singkat.


“Oh ya ... Tante, nanti temani aku menjenguk Mommy ke dalam, ya,” pinta Rania lagi. Tatapannya seperti memohon, membuat Bella tidak tega.


“Tante menunggu di luar saja, Ran,” tolak Bella.


Mendengar jawaban Bella, Rania kembali tertunduk. Meremas kedua tangannya, langsung terdiam.


“Kamu kenapa, Ran?” tanya Bella heran. Sejak kemarin, ia sebenarnya merasa ada yang aneh dengan anak perempuan ini. Ditambah keinginannya yang meminta Bella ikut menemui mamanya terdengar tidak biasa.


“Apa ada yang ingin disampaikan Rania padaku,” batin Bella.


***


T b c


Love you all


Terima kasih