Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 136. Mommy dari anakku


Kegiatan pagi di keluarga Barata Wirayudha, seperti biasa semua anggota keluarga disibukkan dengan sarapan paginya. Menu nasi goreng seafood dengan telur mata sapi. Bella tampak sibuk memasangkan celemek menutupi seragam sekolah Issabell supaya tidak tertumpah makanan. Apalagi seminggu belakangan, gadis kecil itu sudah mulai belajar makan sendiri.


“Mas,” panggil Bella, mengulurkan tangannya meminta piring kosong di hadapan suaminya.


Dengan cekatan Bella mengisi piring keramik putih itu dengan nasi goreng dan sepotong telur.


“Cukup segini, Mas?” tanya Bella, menyodorkan piring yang sudah terisi.


“Sudah, Bell. Jangan terlalu banyak. Aku mau diet,” sahut Bara, sontak membuat Bella tersinggung. Menatap perutnya sendiri yang mulai keluar, muncul dari balik dasternya.


Setelah memastikan sarapan suami dan anaknya siap, barulah Bella menyiapkan jatah sarapannya. Acara sarapan pagi itu hanya diisi obrolan ringan sesekali menggoda Issabell yang begitu antusias karena sudah pintar makan sendiri.


“Coba kamu lihat, Bell,” bisik Bara, menatap ke arah Issabell yang asyik mencungkil telur kuning di piringnya. Bara sudah menyelesaikan sarapannya, tertinggal menunggu istri dan putrinya.


Bella ikut menoleh ke sampingnya. Tampak Issabell dengan susah payah menggunakan sendok dan garpu plastik di kedua tangannya. Berulang kali menyendokkan telur, tetapi belum sampai masuk ke mulut mungilnya, telur itu jatuh berulang kali.


“Ayo, Mommy bantuin,” tawar Bella, bermaksud mengambil alih.


“No, Mommy. Mawu sendili,” tolak Issabell, membawa sendok dan garpunya menjauh.


“Biarkan saja, Bell. Biarkan dia melakukannya sendiri,” ucap Bara, menangkup kedua tangannya di atas meja.


Keduanya masih saja tersenyum melihat tingkah Issabell yang sibuk sendiri dengan makanan berceceran di atas meja.


“Bell, hari ini aku pulang terlambat dari biasanya, ya,” terang Bara, tiba-tiba.


Bara yang belakangan selalu pulang tepat waktu, tentu membuat Bella heran. Konsentrasinya langsung beralih pada suaminya. “Memang ada masalah di kantor, Mas?” tanya Bella mengerutkan dahi.


“Tidak, aku harus ke Bogor. Meninjau proyek di sana. Biasa, survei bulanan,” jelas Bara.


“Mas dengan Pak Rudi?” tanya Bella, beralih menatap Issabell.


Bara terlihat berpikir, ingin membawa sopir tetapi Bella membutuhkannya untuk mengantar jemput putrinya.


“Aku bisa bawa mobil sendiri, Mas. Lagi pula sekolahnya kan dekat,” tukas Bella, memberi jalan keluar.


“Perutmu masih muat menyelip di belakang setir?” tanya Bara, setengah bercanda, tetapi pertanyaan yang diajukan juga serius.


“Mas!” gerutu Bella kesal. Semakin ke sini, Bara sering meledek perutnya.


“Aku serius, Bell,” sahut Bara masih sempat tersenyum.


“Ya sudah. Hari ini aku izinkan kamu membawa mobil sendiri, tetapi besok-besok jangan harap,” putus Bara, terpaksa memberi izin karena tidak punya pilihan lain.


***


Pasangan suami istri itu berpisah di halaman rumah. Bara menggendong Issabell dan mendudukkan putrinya di kursi penumpang. Tidak lupa menghadiahkan sebuah kecupan di kening gadis kecilnya.


“Belajar yang pintar, ya,” ucap Bara, sembari memasangkan seatbelt di tubuh Issabell.


“Pamit dengan Daddy, Ca,” pinta Bella, sedang mencari posisi nyaman dengan kedua tangan mencengkeram setir.


“Bye, Daddy,” celoteh Issabell, melambaikan tangannya.


Cup! Bara menghadiahkan kembali kecupan di kedua pipi gembul gadis kecil itu. Segera setelah itu, lelaki tampan dengan setelan jas biru navy, mengitari mobil dan membuka pintu sopir. Senyumnya terkembang menatap Bella yang duduk di belakang kemudi dengan perut besarnya.


“Hati-hati bawa mobilnya.” Bara mengingatkan, sedikit membungkuk dan mengecup perut istrinya.


“Sudah, Mas. Aku sudah biasa bawa mobil dari sebelum menikah. Mas jangan berlebihan,” protes Bella.


“Biasa saja, Mas. Aku pamit dulu, Mas. Icca sudah terlambat.” Bella sudah akan menarik kembali pintu mobil, tetapi tertahan oleh kaki Bara. Lelaki itu masih belum mengizinkannya.


“Aku belum mengambil jatahku, Bell,” ucap Bara, menghadiahkan kecupan yang sama di kening istrinya sebelum berpisah.


“Jangan ngebut. Aku titip jagoanku,” ucap Bara, mengedipkan matanya menggoda sang istri.


Iringan mobil keluar dari pekarangan rumah Bara, dengan Bella yang berbelok ke kiri, menuju ke sekolah Icca dan Pak Rudi yang berbelok ke kanan, meluncur menuju jalan raya utama yang akan membawa majikannya masuk ke tol, bersiap meluncur Bogor.


Tak lama, mobil yang dikendarai Bella tiba di sekolah Issabell. Sengaja memarkirkan mobilnya di luar gedung sekolah, karena tidak mau antre masuk ke pekarangan sekolah terlalu lama, Bella memilih menuntun putrinya berjalan masuk ke dalam sekolah.


“Ca, Mommy langsung pulang, ya. Jadi anak penurut ya, Sayang,” ucap Bella, membungkuk dan mengecup kedua pipi gembul putrinya sebelum menyerahkannya pada guru yang berjaga di pintu masuk.


Ibu hamil itu masih sempat melambaikan tangannya, sebelum berbalik kembali menuju mobilnya. Bella tidak menaruh curiga sama sekali, saat masuk kembali ke mobil dan melajukan kendaraan beroda empat itu kembali ke rumah.


Namun, saat hendak masuk ke kompleks rumahnya, Bella merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, dan bergegas turun. Benar saja, salah satu ban mobil depannya kempes dan benar-benar kehabisan angin.


“Aduh!” gerutu Bella, mengedar pandangan ke sekitar, mencari seseorang yang bisa membantunya menganti bannya dengan ban cadangan. Tak lama, sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobilnya. Bella yang masih berdiri dengan bertolak pinggang, memandang ke arah ban mobil, tidak menyadari sama sekali. Sampai terdengar suara maskulin yang sudah sangat familier di telinganya.


“Selamat pagi, Mommy Icca.”


Mendengar itu, tentu Bella terkejut. Berbalik memandang lelaki tampan dengan kemeja biru polos. Tangan kemeja yang digulung sebatas lengan, menandakan lelaki bernama Roland itu tidak sedang diburu waktu untuk berangkat ke kantor.


“Pagi," sahut Bella, membagi senyuman ramahnya. Meskipun hatinya ketar-ketir, disergap rasa bersalah karena mengingat petuah yang disampaikan suaminya semalam.


“Mobilmu bermasalah?” tanya Roland lagi, tersenyum memandang ban mobil bagia depan, yang sudah kehabisan angin.


“Ya ... eh ... Pak Roland,” sahut Bella, dengan beribu rasa canggung. Selama ini ia belum pernah memanggil nama laki-laki asing yang tiba-tiba menjadi dekat dengan kehidupannya dan Bara hanya karena hubungan darah antara putri mereka, Issabell dengan Roland.


“Di mana ban gantinya? Aku akan membantumu,” ucap Roland. Laki-laki itu tersenyum menatap Bella dengan perut besarnya.


“Di bawah mobil Pak,” sahut Bella, berjalan ke belakang dan menunjuk ke bagian bawah mobilnya, tempat di mana ban cadangan Pajero Sport tersimpan.


Dengan senyum merekah, Roland menurut. “Jangan panggil, Pak,” pinta Roland, sebelum berjongkok dan memastikan posisi ban cadangan itu tersembunyi.


Tak lama, dengan alat-alat yang memang selalu siap di dalam mobil, Roland berhasil menurunkan sekaligus mengganti ban untuk Bella. Ada rasa canggung dan tidak enak hati, saat Bella melihat sendiri tangan dan pakaian Roland yang kotor karena ulahnya.


“Terima kasih, Pak. Maaf jadi merepotkan,” ucap Bella, merasa tidak enak hati. Segera mengambil tisu basah dari dalam mobil dan menyerahkannya pada Roland.


“Sekali lagi maaf, Pak,” ucap Bella, pelan.


“Panggil Mas saja,” ralat Roland, tersenyum sambil meraih tisu basah dari tangan Bella.


Deg—


Bella sempat tertegun, menatap Roland nyaris tidak percaya. Lelaki itu terlihat biasa, tanpa merasa ada yang aneh dengan ucapannya.


Begitu Roland selesai membersihkan kedua tangannya, lelaki itu mengangkat pandangannya dan bertemu tatap dengan manik mata indah Bella.


“Tidak apa-apa. Kamu bukan orang lain. Kamu Mommy Icca. Mommy dari anakku,” terang Roland yang mengerti arti kerutan di dahi Bella.


Keduanya sedang berdiri sambil menatap di tepi jalan, tanpa menyadari seseorang mengambil foto keduanya dari seberang jalan.


***


T b c