Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 53. Itu Bukan Milikku


Keduanya terdiam, merenung peristiwa yang baru saja terjadi. Sampai akhirnya ekor mata Bara menangkap sederetan pil yang masih tersegel rapi, tersembunyi di dekat kaki Bella.


“Bell, kamu ....” Bara mendongak, menatap Bella tidak percaya.


Tangannya langsung meraih pil yang ia tahu pasti fungsinya untuk apa. Ia sudah pernah menikah, ia tahu kegunaan pil-pil itu.


“Beraninya kamu, Bell!” ucap Bara, menatap tajam pada istrinya.


“Mas, kamu kenapa?”


Bella heran melihat raut kemarahan di wajah suaminya.


“Sejak kapan kamu minum pil ini, Bell? Begitu tidak percayanya kamu padaku. Sampai tidak menginginkan anak dariku,” ucap Bara, meninggikan suaranya.


“Tidak, Mas. Itu bukan milikku.”


Bella sedikit menciut melihat perubahan sikap Bara yang tiba-tiba. Kelembutan yang ditunjukkan suaminya itu berubah menjadi amarah dalam sekejap.


“Jujur pada suamimu, Bell. Bagaimana pil-pil ini bisa ada di sini? Aku tidak mengizinkanmu meminumnya.”


“Itu bukan milikku, Mas. Aku bahkan baru pertama kali melihatnya,” sahut Bella menunduk. Kedua tangannya saling meremas.


Bella tidak mengetahui, bahkan baru pertama kali melihatnya. Kalau saja Rissa tidak membahas masalah anak dengannya tadi, ia bahkan tidak tahu pil apa yang dilemparkan padanya.


“Lalu, bagaimana bisa ada di sini?” tanya Bara, masih tetap mencecar pertanyaan pada istrinya. Hanya saja kali ini nada suaranya sedikit melunak, tidak sekeras sebelumnya.


“Mas, aku mohon jangan marah. Aku berjanji tidak akan meminumnya,” ucap Bella, memohon pada sang suami.


Bara diam, menatap lekat netra hitam pekat istrinya. Bingung dengan arah pembicaraan istrinya yang menyiratkan ketakutan tetapi tidak mengakui pil itu miliknya.


“Katakan apa yang kamu sembunyikan.”


“Itu ... itu milik Kak Rissa,” sahut Bella ragu.


“Tapi, aku mohon Mas jangan memarahinya. Aku berjanji tidak akan meminumnya,” lanjut Bella buru-buru.


“Apa maksudnya? Rissa memintamu meminum pil-pil ini? Atau bagaimana?” tanya Bara mulai emosi kembali.


“Kurang ajar j*alang itu!” umpat Bara.


“Mas, aku janji akan membuangnya. Tapi aku mohon jangan memperpanjang masalah dengan Kak Rissa.”


"Kalau Mas tidak mengizinkan aku bertemu dengan Kak Rissa, aku tidak masalah. Tapi jangan menyakiti Kak Rissa seperti tadi. Kasihan Kak Rissa.”


Bara tersenyum. Heran melihat pemikiran istrinya. Kakak yang sudah begitu jahat, tega memukul adiknya sendiri. Namun, sang adik masih memikirkan kakaknya.


“Bukan hanya menemuinya, bahkan aku tidak mengizinkanmu menghubunginya.”


Bella bergeming, diam seribu bahasa. Tidak bisa membantah atau mengiyakan. Sekarang Bara suaminya, ucapan dan perintah suaminya adalah aturan yang harus ditaati seorang istri.


“Ya, Mas,” sahut Bella, sedikit terluka. Ia tidak bisa menolak permintaan Bara.


Bara tersenyum, menggengam tangan Bella yang saat ini jari-jarinya saling bertautan satu sama lain.


“Aku mau kamu segera hamil, Bell. Kita akan memberi adik untuk Icca. Aku sudah tidak muda lagi. Bahkan aku belum memiliki anak yang di dalamnya mengalir darah Wirayudha sesungguhnya.”


“ Ya, Mas ...."


“Mas, Kak Rissa tinggal di mana?” tanya Bella, mengusap kembali pipinya yang memerah.


Bara menggeleng. Ia tidak berniat membahasnya, apalagi mencari tahu. Toh, yang harus dilindunginya adalah Issabell dan Ibu. Untuk Rissa, ia tidak perduli.


“Jangan membahasnya lagi. Biarkan saja. Aku sudah melakukan kewajibanku. Aku sudah memberinya tempat tinggal dan kendaraan. Juga sudah membiayai kehidupannya setiap bulan," sahut Bara.


“Kalau dia merasa tidak cukup, bulanan yang kukirim ke rekeningnya, dia bisa menjual diri seperti sebelum menumpang hidup padaku.”


Deg—


“Mas, maksudmu?” Bella terkejut dengan pernyataan Bara.


“Kak Rissa ...."


“Maaf, Bell, tetapi itu kenyataannya,” sahut Bara, memeluk erat tubuh Bella yang terguncang hebat.


“Kasihan Kak Rissa, Mas. Kalau aku meninggalkannya, dia akan semakin terpuruk. Bagaimana dengan Ibu?” isak Bella.


“Kalau dia terjerumus ke lubang yang sama. Maaf saja, aku tidak bisa menolongnya lagi. Mau sampai kapan aku mengadopsi anaknya terus-terusan. Aku juga butuh anak dari darah dagingku sendiri.” lanjut Bara, menjawab asal. Berusaha mencairkan suasana.


“Mas, aku serius. Bagaimana dengan Ibu?” Bella.


“Sudah, jangan dipikirkan. Sebaiknya kita fokus membuat adik untuk Icca saja,” ucap Bara, mencium pipi Bella.



“Mas, apa-apaan?” ucap Bella, menunduk malu, menutupi pipinya yang merona.


“Masih malu saja, Bell. Mulai sekarang harus terbiasa. Karena kita butuh melakukannya sesering mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” ucap Bara tanpa malu-malu.


“Mas!" teriak Bella, meraih bantal dan memukulnya tepat di wajah Bara.


“Sekarang saja, mumpung pengganggu kecil itu sedang tidak berulah.”


Bara sudah mendorong istrinya, terbaring pasrah di atas tempat tidur. Menyusul dan menindih tubuh mungil itu supaya tidak protes atau melawan.


“Mas, apa-apaan sih. Ini masih siang,” tolak Bella, berusah menahan berat tubuh Bara yang sudah menindihnya.


“Cepetan, Bell. Jangan banyak protes. Kita berlomba dengan waktu. Nanti Icca keburu mengganggu,” bisik Bara sebelum melum*at bibir istrinya.


Bara semakin memperdalam lu'matannya saat dirasa Bella sudah pasrah dan tidak bisa memberontak lagi. Tangannya pun sudah menyusup masuk ke dalam kaos, mengusap lembut gundukan favoritnya yang tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil dari luar bra hitam yang dikenakan Bella.


“Ini pas di tanganku,” bisik Bara, semakin membuat Bella malu.


Tangan yang lainnya sudah menyusup dibalik punggung istrinya, membuka kaitan bra.


Sretttt!!


Bara melempar bra itu sejauh mungkin. Seolah-olah takut Bella akan mengambilnya kembali. Ia tersenyum penuh kemenangan menatap Bella yang sedang menggerutu padanya.


“Apa tidak ada waktu lain, Mas?” tanya Bella masih saja protes, padahal pakaian atasnya sudah terbuka semuanya.


“Ssttt! Tidak Bell. Sudah tanggung. Harap PO ku kali ini jangan di-cancel,” ucap Bara tersenyum saat bisa menatap gundukan kembar yang sedang membusung itu secara nyata.


Baru saja Bara menyusupkan wajah di surga dunianya, tiba-tiba teriakan berkolaborasi dengan gedoran kencang di pintu kamarnya, mengembalikan sepasang suami istri itu ke dunia nyata.


“MAMI ...."


“DADDY ...."


Issabell berteriak kencang setelah hampir semenit menggedor dan memanggil tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.


“Mas, bra ku dilempar ke mana tadi?” tanya Bella panik. Menutup dadanya dengan kedua tangannya.


Keduanya sudah berdiri, mencari bra yang hilang entah ke mana dilempar Bara. Bara dan Bella panik seperti sedang digerebek warga kampung saat ketahuan berbuat mesum di bawah pohon mangga warga.


“Mas tidak sadar melemparnya ke mana,” ucap Bara berjongkok mencari ke bawah tempat tidur.


“Huh! Yang benar saja mencari di bawah tempat tidur!” gerutu Bella, berjalan menuju walk in closet mencari bra baru untuk dikenakan. Bara sendiri masih berjalan mondar-mandir sambil menunduk, mencari keberadaan pakaian dalam Bella yang dilemparnya dengan sekuat tenaga tadi.


“Daddy! Buka pintu!” teriak Issabell kembali.


“Ya, Sayang,” ucap Bara setelah melihat Bella sudah kembali.


“Bell, tolong bereskan foto-foto itu!” perintah Bara panik, saat tersadar foto-foto mesumnya dan Rissa yang masih berhamburan di lantai.


***


T B C


Terima kasih.


Love you all.