Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 71. Ciuman Bella


“Mas, apa-apaan ini?” tanya Bella.


Kedua netra matanya sudah berkaca-kaca. Suaminya tidak pulang ke kamarnya, malah tidur berdua dengan pengasuh putrinya.


Bara tidak kalah terkejut, langsung mendorong kasar tubuh pengasuh putrinya. Masih bergidik ngeri, membayangkan siapa yang baru dipeluknya.


“Ma-maaf, Nyonya. Saya tadi mau membangunkan Icca, tetapi ditarik sama Tuan,” adunya sambil menunduk.


“Kamu boleh keluar, Mbak,” perintah Bella.


“Tolong bawa Icca keluar juga, Mbak,” lanjut Bella.


“Baik, Nyonya.”


Bara memilih diam, takut untuk membuka suara. Ia bisa melihat jelas arti pandangan istrinya. Mengerikan, lebih tepatnya mematikan.


“Bell, aku tidak sadar. Pantas saja aromanya berbeda. Aku terlalu merindukanmu. Bahkan dalam mimpi pun aku membayangkanmu, Sweetheart,” rayu Bara, berusaha membujuk istrinya.


“Kamu keterlaluan, Mas. Masa kamu membandingkan aku dengak pengasuh Icca yang umurnya sudah kepala empat!” gerutu Bella.


“Ya, aku salah. Pantas saja keempukannya berbeda, Bell,” ucap Bara, masih saja bergurau.


Bella sudah meraih guling mungil milik putrinya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia memukul suaminya yang sejak kemarin sudah membuat mood-nya hancur.


Buk. Buk. Buk.


Pukulan beruntun itu mendarat di tubuh telanjang Bara. Memang tidak sakit, tetapi lumayan membuatnya kewalahan.


“Keterlaluan! Apa maumu? Hah!” omel Bella semakin kesal.


“Sudah-sudah. Aku minta maaf,” ucap Bara, setelah bisa menguasi guling mungil berwarna pink dari tangan Bella.


“Maafkan aku ... seharian kemarin pekerjaanku menumpuk. Aku benar-benar tidak punya waktu lagi hanya untuk mengecek ponselku. Belum lagi saat pulang, terjebak macet di tol,” cerita Bara, memohon pengertian istrinya.


“Aku sampai rumah sudah hampir tengah malam. Pintu kamar kita terkunci,” lanjutnya lagi.


“Aku lelah, Sweetheart. Tidak bisakah kamu memijatku sebentar saja.” Bara berkata dengan nada suara memelas dan memohon.


Ia sudah menelungkupkan tubuhnya meskipun Bella belum memberi persetujuan.


“Ayo, Sweetheart!” bujuk Bara kembali.


“Nanti aku akan memijatmu juga sebagai gantinya,” ucap Bara samar. Suaranya tertutup bantal.


“Pijatanmu kurang berasa, Bell. Bisa keluarkan sedikit tenagamu?” pinta Bara.


Buk!


Sebuah pukulan terkepal, diayunkan tepat di sisi kiri punggung Bara.


“Aduh, Sweetheart!” keluh Bara. Pukulan Bella tidak main-main, dengan sekuat tenaga.


“Sudah berasa, Sayang?” tanya Bella, tersenyum licik.


“Masih mau mencoba sensasi lainnya?”


“Ti-tidak lagi. Cukup. Sebaiknya kamu membantuku mandi saja,” pinta Bara. Semakin besar kepala.


“Huh!” dengus Bella, mulai kesal dengan permintaan suaminya yang tidak selesai- selesai. Dari minta dipijat, sekarang minta dimandikan.


“Aku mau bersiap ke kampus saja!” ucap Bella.


Kaki jenjangnya sudah beranjak turun dari tempat tidur, saat tangan Bara menariknya ikut berbaring. Menindih tubuh kekar Bara yang sekarang sudah berbaring telentang sambil memeluk tubuh hangat istrinya.


Deg—


Sesaat menjadi hening, di kala pandangan mata keduanya saling bertemu. Yang terdengar saat ini adalah debaran jantung memburu. Saling berlomba, beradu berdetak siapa yang paling kencang.


Bella yang mulai tersadar, langsung tersipu. Merona di kedua pipi polosnya. Netranya masih menelusuri lekuk tampan wajah suaminya.


Ia memang sudah biasa berdekatan dengan Bara, bahkan sudah sering berbagi kehangatan, saling memeluk setiap malam. Saling berbagi napas ataupun rasa. Namun, di detik ini ada rasa beda menyelimuti hatinya. Matanya masih memandang dengan cara yang sama, tetapi hatinya sudah memandang dari sudut berbeda.


“Apa aku mulai mencintai suamiku? Apa aku mulai menikmati statusku sebagai istrinya. Istri dari seorang Barata Wirayudha,” batin Bella.


“Mas ...." Panggilan itu terdengar lembut, bahkan ia sendiri merasa sedikit berbeda. Dengan keberanian yang muncul entah dari mana, Bella memberanikan diri mengecup bibir Bara untuk pertama kali. Ya, untuk pertama kali ia menjadi wanita tidak tahu malu.


***


T b c


Love You All


Terima kasih.