
“Mommy Icca.”
Panggilan yang mulai familiar, di tambah suara bariton yang sudah dikenalnya akhir-akhir ini memaksa Bella berbalik.
Urung melangkah, kaki jenjang dengan perut besarnya itu berubah arah. Matanya menyipit demi memastikan kalau dia tidak salah mengenali orang.
“Pak Roland.” Alunan lembut menyapa, keluar dari bibir tipis Bella.
“Selamat pagi, Mommy Icca,” sapa Roland, mengumbar senyuman. Berharap bisa menjadi pembuka perbincangan panjang selanjutnya.
“Panggil Mas saja. Dipanggil Bapak eh ... rasanya aku tidak rela setua itu,” ucapnya, terkekeh.
Roland berusaha menciptakan situasi senyaman mungkin dengan bersikap hangat. Setidaknya dengan begitu dia bisa mengobrol lebih lama dengan wanita hamil yang tampak semakin cantik dengan perut buncitnya.
“Maaf Pak, lidahku belum terbiasa. Akan lebih nyaman memanggil Bapak saja,” tolak Bella.
Suara terkekah kembali meluncur keluar dari bibir Roland. “Senyamanmu saja, Mommy Icca.”
Lelaki itu sudah berjalan maju beberapa langkah. “Bagaimana sepagi ini sudah berada di sini. Apa yang terjadi?” tanya Roland, berpura-pura. Padahal yang sebenarnya terjadi, dia tahu jelas, bahkan sangat jelas. Semua yang terjadi kemarin dan hari ini ada di dalam skenarionya.
“Ibuku dirawat disini,” jelas Bella, memutar otak supaya bisa segera keluar dari situasi yang mengharuskan mereka berdiri berdua layaknya kenalan baik. Tidak mau berkhianat dari Bara, meski hanya mengobrol dengan laki-laki lain. Walau sebenarnya mungkin saja Bara tidak tahu, tetapi menjadi setia itu pilihan hidup dan prinsipnya.
“Maaf, aku harus pergi.” Bella berusaha menyudahi obrolannya agar tidak semakin panjang.
“Maaf, Mommy Icca sudah sarapan? Bagaimana kalau kita sarapan bersama?” tawar Roland, masih mencari kesempatan.
Bella yang baru saja hendak berbalik, terdiam.
“Aku juga sedang menunggu mamaku yang dirawat di rumah sakit yang sama. Kita sarapan bersama saja,” ucap Roland, berjalan mendahului. Pagi ini hanya ada satu kantin saja yang sudah buka, tidak ada pilihan lain selain menuju ke arah yang sama.
***
Keduanya sudah duduk berhadapan, dengan dua porsi nasi goreng telur, di atas meja. Bella sudah berusaha menolak, tetapi Roland menggunakan segala cara untuk membujuknya.
“Habiskan sarapanmu Mommy Icca. Kalau boleh tahu, ibumu dirawat di kamar mana?” tanya Roland, menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Di kamar Flamboyan 5,” sahut Bella, tertunduk. Serius menghabiskan makanannya secepat mungkin. Tidak ingin berlama-lama berduaan dengan Roland. Ada rasa tidak enak di dalam hatinya, apalagi sejak Bara memintanya sendiri agar menjauh dari laki-laki bernama Roland ini.
Bicara Bara, kembali Bella teringat dengan ponsel yang dimatikannya sejak kemarin sore. Terlalu kesal dengan kebohongan Bara. Namun, jauh di dalam hatinya dia juga merindukan dekapan suaminya di saat-saat ini. Ingin bersandar di pundak Bara, disaat butuh dukungan seperti ini.
“Baiklah, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungi ibumu setelah ini. Sudah lama tidak melihat ibumu.” Lelaki itu bercerita.
Kabar yang disampaikan Roland sontak mengalihkan perhatian Bella dari piring nasi gorengnya.
“Pak Roland mengenal ibuku?” tanya Bella, mengernyit.
"Tentu saja kenal. Aku beberapa kali mengunjungi Bara dulu sewaktu suamimu itu tinggal di Surabaya,” jelas Roland tersenyum. Bahagia setidaknya obrolan kali ini sanggup memancing perhatian Bella.
Diam-diam menatap Bella. Mengingat kembali beberapa tahun yang lalu, gadis kecil ini apa pernah dilihatnya sewaktu mengunjungi Bara dulu. Entahlah, dulu dia tidak terlalu memperhatikan. Sekarang saja dia baru memberi perhatian lebih pada Bella, setelah melihat interaksinya dengan Issabell.
Berlama-lama menatap foto putrinya dan sang mommy, membuatnya jatuh hati secara tidak langsung pada wanita hamil itu. Apalagi saat melihat rasa sayang Bella yang terlihat begitu tulus pada Issabell, rasa kagumnya semakin menjadi. Kehamilan juga membuat Bella terlihat cantik dimatanya. Dimana dia belum pernah mendekati wanita hamil. Bahkan almarhum istrinya saja belum pernah hamil.
Bella tampak mengangguk. Tidak melempar pertanyaan lagi. Semakin banyak bicara, dia akan semakin susah menolak lelaki di hadapannya ini.
“Icca ikut ke Surabaya?” tanya Roland, setelah menyelesaikan sarapannya.
“Ikut. Anak itu tidak bisa berjauhan dariku, jadi tidak mungkin aku meninggalkannya di Jakarta,” sahut Bella.
Senyum Roland kembali merekah. “Apa aku bisa membawanya menemui mamaku?” pinta Roland, sekali lagi.
“Suamimu mana? Biar aku yang meminta izin padanya,” ucap Roland lagi, tersenyum.
“Mas Bara masih di Jakarta. Dia tidak ikut, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.”
Jawaban Bella, membuat kuncup bunga di hati Roland merekah seketika. Bagai musim kemarau berbulan-bulan disiram hujan sehari. Ada banyak rencana mengumpul di otaknya, untuk mendapatkan kesempatan membawa Issabell bertemu kedua orang tuanya.
***
Setelah menyelesaikan sarapannya, Bella terpaksa mengizinkan Roland mengekor. Dia bisa menolak masalah Issabell dengan alasan izin Bara, tetapi tidak bisa mencegah saat Roland ingin menjeguk ibunya.
“Bu, ini Roland, temannya Mas Bara. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat kantin tadi,” kenal Bella pada Ibu Rosma saat wanita paruh baya itu mengernyit keheranan melihat Bella yang masuk diikuti laki-laki asing.
“Bu, saya Roland. Teman Bara,” sapa Roland, menyalami Ibu Rosma sekaligus memperkenalkan diri. Lelaki itu menarik kursi dan duduk di samping brankar.
“Saya dulu sempat beberapa kali berkunjung ke rumah. Teman main golf-nya Bara,” lanjut Roland, melirik sekilas pada Bella. Ibu hamil itu memilih duduk di sofa, mengaktifkan ponsel yang sejak semalam dimatikan.
“Oh ya? Ibu sudah tidak ingat. Maklum Nak Roland, umur sudah tua, otak sudah tidak seperti dulu lagi,” ucap Ibu Rosma, mencoba berbasa-basi. Ibu Rosma diam-diam memperhatikan Roland yang sejak tadi suka mencuri tatap pada putrinya.
Sebagai orang yang lebih tua dan sudah banyak makan asam garam kehidupan, Ibu Rosma paham betul apa yang sedang dilakukan Roland saat ini.
"Bagaimana keadaannya Bu?" tanya Roland lagi.
"Baik, Nak Roland."
"Kebetulan mamaku juga sedang dirawat di rumah sakit ini, jadi aku sempatkan mampir sebentar, mengunjungi ibu," jelas Roland.
Bella masih sibuk dengan ponselnya yang baru saja dinyalakan. Puluhan bahkan mungkin seratusan pesan masuk dan panggilan dari Bara yang dilewatkannya.
Saat ini, dia sibuk membaca pesan dari suaminya. Terlalu berkonsentrasi sampai mengabaikan keberadaan Roland. Membiarkan lelaki itu berbincang dengan ibunya.
*Bell, aku akan menyusul ke Surabaya.
Bell, angkat teleponnya Sayang*.
*Bell, aku tidak bisa terbang malam ini. Aku akan mengambil penerbangan besok pagi-pagi.
Sayang, aku sudah di pesawat.
Bell, aku sudah di Surabaya, mau cari taksi dulu*.
Ada banyak lagi pesan dari Barq yang masuk di ponselnya.
Mata Bella terbelalak, saat membaca pesan terakhir Bara yang baru saja di kirimkannya lima menit yang lalu.
Sayang, aku sudah di parkiran rumah sakit. Sebentar lagi aku naik.
Deg--
Membaca pesan Bara, jantung Bella langsung berdetak kencang. Bagaimanapun dia harus mengusir Roland dari kamar Ibunya. Tidak mau sampai suaminya bertemu dengan Roland.
Namun, belum sempat Bella melakukannya, pintu kamar perawatan Ibu Rosma terbuka. Dan ....
***
TBC