Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 89. Belajar Membuka Hati


“Bell, aku ikut ke bawah,” pinta Bara. Rasanya tidak rela membiarkan Bella bertemu dengan Ricko yang notabene adalah lelaki yang pernah menyukai istrinya.


“Mas, kakimu itu masih sakit. Nanti perbannya lepas lagi. Aku hanya sebentar,” bujuk Bella, sedikit lembut. Menghampiri Bara, Bella mengusap wajah suaminya. Untuk pertama kali, setelah beberapa hari akhirnya Bella melembut.


“Sweetheart,” ucap Bara, memeluk pinggang Bella.


“Aku tinggal sebentar, tidak akan lama,” bujuk Bella. Segera berlari keluar, ia masih bisa mendengar suara peringatan Bara yang mengkhawatirkannya.


“Bell, jangan berlari seperti itu. Kamu sedang hamil.” Bara mengingatkan istrinya yang entah sudah sampai ke mana.


Di ruang tamu, terlihat Ibu Rosma sedang berbincang dengan Ricko. Ibu Rosma sudah menjamu tamunya itu dengan secangkir kopi panas dan cemilan pisang goreng.


“Kak Ricko,” sapa Bella mengejutkan keduanya.


Ibu Rosma berbalik, menatap putrinya. “Ibu tinggal ke dalam, ya,” pamit Ibu Rosma saat melihat kehadiran putrinya. Ia merasa tidak diperlukan lagi.


“Jangan ... Ibu di sini saja. Aku tidak mau Mas Bara berpikiran yang tidak-tidak,” jelas Bella, menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi kosong.


“Apa kabar, Bell?” tanya Ricko berbasa basi. Merapikan jaket hitamnya, Ricko berusaha menutupi kecanggungannya.


“Baik, Kak. Ngomong-ngomong, ada keperluan apa, ya?” tanya Bella, masih penasaran.


“Aku membawakan mangga muda untukmu,” sahut Ricko, menyerahkan kantong keresek hitam yang tadinya tergeletak di atas meja.


Bella tertegun, tidak habis pikir dan kebingungan. Kenapa tiba-tiba Ricko datang ke rumahnya dengan membawa sekantong mangga muda.


“Bagaimana kabar, Pak Bara?” tanya Ricko.


Bella belum sempat menjawab, Bara tiba-tiba muncul dari dalam dengan jalan pincang sambil mengernyit menahan sakit. Ia terlihat kesulitan setiap melangkah.


“Mas, kok jalan ke sini?” tanya Bella, menghampiri suaminya, membantu menopang tubuh kekar Bara.


Mendapati Bella yang hendak menopangnya, Bara langsung merangkul mesra istrinya. Ia sengaja menunjukannya pada Ricko.


“Mas duduk di sini saja. Kenapa jalan turun, kakimu 'kan masih sakit, Mas.”


“Sudah agak mendingan, Sweetheart,” ucap Bara semanis-manisnya. Berusaha menunjukan kemesraan setiap ada kesempatan pada Ricko.


“Kak Ricko membawakan mangga muda untukku,” jelas Bella, menceritakan maksud dan tujuan Ricko mendatanginya.


“Hah! Untuk apa dia membawakan mangga muda. Yang hamil 'kan istriku, apa tujuan dan kepentingannya. Ikut campur urusan rumah tangga orang saja,” gerutu Bara kesal.


Namun, setelah mengucapkan itu, ia terdiam. Teringat ada Ibu Rosma yang ikut duduk bersama mereka. Rasanya malu bersikap kekanak-kanakan di depan mertuanya.


“Mas, Kak Ricko tidak bermaksud apa-apa,” jelas Bella berusaha menengahi.


“Maaf, aku mendengar dari satpam komplek tadi sore. Semuanya ramai bercerita tentang Pak Bara yang jatuh dari pohon mangga.”


Glek!


Bara menelan ludah. Tidak menyangka sedikit pun, kejadian jatuhnya dia dari pohon mangga sudah menyebar dan menjadi isu di komplek perumahannya. Malu seketika menyerbunya. Sebagai laki-laki dewasa, harga dirinya ambruk seketika saat terjatuh dari pohon.


“Oh, tidak apa-apa. Hanya kakinya saja sedikit lecet,” sahut Bella, menunjuk ke arah perban yang melilit di betis suaminya.


“Ini mangga dari pohon yang sama, Bell. Begitu mendengar cerita Pak Bara yang jatuh dari pohon mangga karena istrinya mengidam, aku langsung ke lokasi," cerita Ricko menunjuk ke arah kantong keresek, tersenyum tulus. Berharap Bara tidak berpikiran buruk tentang niat baiknya.


“Astaga, dia sedang menginjak-injak harga diriku. Seperti mengatakan kalau aku suami yang tidak berguna dan tidak bisa diandalkan,” batin Bara, kesal sendiri.


“Waduh, maaf jadi merepotkan,” ucap Bella, tidak enak hati. Apalagi saat melihat perubahan wajah Bara yang semakin tidak bersahabat.


“Bell, ganti uangnya!" pinta Bara ketus. Mengingat tadi ia diminta sebesar lima ratus ribu rupiah oleh si pemilik pohon.


“Oh ... tidak perlu, Pak Bara. Aku ikhlas,” tolak Ricko yang ikut mendengar.


“Jangan, aku tidak enak,” jelas Bella. Ia juga mengetahui saat pemilik pohon meminta bayaran pada suaminya.


“Lima ratus ribu, Bell.”


“Oh, tunggu sebentar, aku mengambil uang di dalam.”


Bella bergegas masuk ke dalam, tetapi Ricko menahannya.


“Jangan, Bell. Tidak perlu. Aku mendapatkan mangga itu gratis. Jadi tidak perlu mengganti uang,” jelas Ricko membuat Bara terbelalak.


Deg—


Kembali Bara dipukul telak oleh Ricko. Tadi sore, ia harus membayar mahal untuk bisa memanjat tetapi saat ini Ricko bisa dengan gratis memetik sepuasnya tanpa membayar.


“Serius? Kamu tidak dimintai uang oleh pemilik pohon?” tanya Bella memastikan.


Ricko menggeleng.


“Pohon itu tidak ada yang punya. Tumbuh sendiri di pinggir lapangan. Siapa saja boleh memetiknya,” cerita Ricko.


“Kalau sedang tidak ada pekerjaan di tempat Pak Pram, saya suka menonton anak-anak main bola di lapangan,” cerita Ricko. Kembali membuat kepala Bara pusing.


“Aku sudah jatuh, tertimpa tangga, ditertawakan semua orang,” batin Bara.


Bara sudah tidak sanggup lagi, semakin mendengar cerita Ricko semakin ia malu pada dirinya sendiri.


“Bell, kepalaku pusing,” ucap Bara dengan manjanya.


Mendengar itu, Ricko langsung berpamitan pulang. Tidak mau mengganggu, apalagi saat ini sudah larut malam. Bara butuh istirahat.


***


Bella baru saja membantu Bara kembali ke kamarnya. Semakin ke sini suaminya semakin manja. Terkadang Bella kesal sendiri. Seperti bukan Bara yang dikenalnya selama ini.


“Mas, ini diminum.” Bella menyodorkan segelas air hangat pada suaminya. Sejak tadi ada-ada saja yang diminta Bara padanya. Dari mengambil ponsel, air putih sampai menggaruk punggung.


“Terima kasih, Sweetheart,” ucap Bara, menyodorkan gelas yang sudah kosong.


“Bell, bisa pijatkan kakiku sebentar.”


“Jangan manja. Tadi saja Mas bisa turun sendiri ke lantai bawah. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi sakit parah dan mengeluh terus-terusan,” omel Bella.


“Aduh, Bell. Ini sakit, Sayang.” Bara meringis kembali.


Plak! Bella sengaja memukul bagian yang diperban.


“Ini sakit, Mas?” tanya Bella kesal.


“Sakit, Sayang,” sahut Bara, kembali meringis.


Sepanjang malam itu, Bara terus mencari perhatian Bella dengan segala cara. Ia baru tenang saat melihat istrinya tertidur pulas di sampingnya.


“Bell, maafkan aku,” bisiknya pelan, mengelus rambut Bella yang tergerai.


“Aku berjanji akan belajar membuka hatiku untukmu,” lanjutnya lagi, mengecup lembut kening Bella.


***


T b c


Love You all


Terima kasih.