
“Ibu Bella Cantika.”
Langkah kaki Bell terhenti. Tadinya dia ingin menyusul dan memastikan kalau penglihatannya tidak salah, tetapi panggilan perawat membuatnya mengurungkan niat. Masih dengan pertanyaan besar mengisi kepalanya, Bella masuk ke dalam ruang praktek dokter.
Teringat kembali niat awalnya yang jauh lebih penting, Ibunya di Surabaya lebih membutuhkannya sekarang. Nanti dia akan mengurusi masalahnya dengan Bara, apalagi ini baru sebatas kecurigaannya. Seperti yang sudah-sudah, hanya berujung salah paham lagi.
***
Bara terlihat keluar dari lift bersama Rania. Lelaki itu meneteng sekotak makan siang yang dibelinya dari kantin rumah sakit, berjalan beriringan dengan putrinya segera menemui Stella.
“Ste, untukmu,” sodor Bara, memberi bungkusan makan siang untuk Stella. Gadis itu tidak bisa meninggalkan ruangan ICU, takut terjadi sesuatu dan dokter membutuhkannya.
“Terimakasih, Mas.”
“Apa yang terjadi Ste?” tanya Bara, sejak tadi Stella sibuk mengurus administrasi dan menemui dokter hingga dia belum sempat bertanya. Lelaki itu duduk di kursi tunggu panjang berjarak satu kursi kosong dengan Stella.
Stella menggeleng. Terisak, mengingat kembali perjuangan kakaknya belakangan ini. Apalagi detik-detik terakhir sebelum Brenda koma dan divonis sudah tidak ada harapan hidup.
“Kak Brenda sempat mencari Mas Bara, beberapa hari yang lalu, selalu meminta bertemu. Seperti ada yang ingin disampaikan sama Mbak Brenda.
“Setiap sadar, selalu meminta bertemu Mas Bara. Namun, aku pikir tidak enak menganggu. Tidak enak dengan istri Mas Bara, jadi aku selalu memberi alasan kalau Mas Bara sedang keluar kota,” jela Stella.
“Sejak kapan kondisinya memburuk?” tanya Bara, menatap pintu ruang ICU tak berkedip.
“Sebulan belakangan kondisi Kak Brenda sering drop. Bolak-balik rumah sakit. Setelah operasi, Kak Brenda melakukan kemoterapi, tetapi baru kemo kedua, kondisi Kak Brenda drop dan tidak bisa melanjutkan kemo selanjutnya.”
“Ya Tuhan,” ucap Bara, terbersit rasa bersalah. Meskipun hubungannya dengan Brenda tidak baik, tetapi di saat seperti ini rasanya tidak adil kalau harus mengungkitnya kembali,
“Aku sudah meminta Kevin mengirim uang ke rekeningmu. Gunakan saja untuk pengobatan Brenda. Lakukan saja yang terbaik. Aku hanya bisa membantu sebatas itu saja.”
“Kalau memang masih kurang, tolong kabari, aku akan membantu sebisa mungkin. Dan jika berniat berobat ke luar negri, aku tidak keberatan menanggung biayanya,” ucap Bara.
“Terimakasih Mas. Selama ini, Mas Bara sudah membantu banyak,”
“Anggap saja itu sebagai bentuk permohonan maafku pada Brenda, karena saat perceraian sudah bersikap tidak adil padanya. Aku menceraikannya tanpa membaginya harta gono gini,” ucap Bara.
Bara bersandar di kursi, kali ini pandangannya beralih pada Rania. Gadis tanggung itu berdiri di depan pintu kaca ruang ICU, mengintip dari luar. Sejak tadi Rania tidak banyak bicara, hanya terus-terusan memandang ke dalam, berharap bisa melihat mommynya.
“Rania tidak ke sekolah?” tanya Bara, beralih menatap Stella.
Stella menggeleng. “Sejak Kak Brenda koma, memang sengaja minta izin dengan pihak sekolah. Apalagi sewaktu dokter mengatakan sudah tidak ada harapan dan meminta pihak keluarga menyiapkan hati dan ikhlas,” sahut Stella.
“Sudah sejak dua hari yang lalu, Rania tidak ke sekolah. Aku tidak tega, Mas.” Tangis Stella pecah kembali, dengan tisu yang sudah menggumpal menghapus air matanya yang luruh.
“Rania hanya memiliki Kak Brenda, setidaknya di detik-detik terakhir mommynya, di tarikan nafas terakhirnya Kak Brenda, Rania ada di sebelahnya dan menyaksikan,” ucap Stella sambil terisak.
Matanya bengkak memerah, hidungnya tersumbat karena kebanyakan menangis. Stella masih berusaha mengatur nafasnya yang naik turun terbawa emosi.
“Kalau Kak Brenda ada salah-salah selama ini pada Mas dan istri Mas, aku mewakili Kak Brenda mohon maaf yang sebesar-besar, mohon keluarga Mas Bara bisa membuka pintu maafnya, supaya jalan Kak Brenda ke depannya juga tenang,” lanjut Stella, terisak kembali. Kali ini gadis itu sudah tidak bisa bersuara, menangis sesengukan sampai kesulitan bernafas.
Melihat itu, Bara hanya bisa menggeser duduknya mendekati Stella. Menepuk pundak Stella yang berguncang, berusaha menenangkan gadis yang pernah menjadi mantan adik iparnya.
“Sudah Ste, pasti baik-baik saja. Jangan pesimis dulu,” hibur Bara.
“Aku belum mengabari istriku. Sekarang Bella sedang hamil besar. Sudah lima bulan lebih, aku khawatir kalau sampai Bella tahu, dia juga akan terbawa perasaan bahkan memaksa datang kesini,” jelas Bara.
“Mungkin, nanti pelan-pelan aku akan memberitahunya,” lanjut Bara.
Bara terlihat mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan mantan mertuanya.
“Ste, Papa dan Mama tidak datang?” tanya Bara heran, sejak pagi dia tidak melihat pasangan lansia itu.
“Papa dan Mama belum diberitahu. Sudah sebulan belakangan aku, Kak Brenda dan Rania tinggal terpisah. Kita mengontrak di dekat rumah sakit.”
“Tujuannya supaya Papa dan Mama tidak panik. Mereka sudah tua, kalau tiap hari mendengar Kak Brenda menjerit kesakitan, pasti hati mereka juga teriris-iris. Akhirnya kami memutuskan tinggal terpisah,” jelas Stella.
Bara menghela nafas berat.
“Papa dan mama sudah tua, tidak mungkin mengurus Rania terus-terusan. Dan aku, harus bekerja,” jelas Stella, pandangannya menerawang.
“Dan Mas Bara tahu sendiri, ayahnya Rania bagaimana. Tidak mungkin menyerahkan keponakan pada buronan seperti itu,” jelas Stella, berbisik takut terdengar Rania.
Informasi yang disampaikan Stella sontak membuat Bara terkejut. Dia mengira selama ini lelaki itu masih dipenjara.
“Ste, bukannya dia dipenjara?” tanya Bara, penasaran.
“Sudah melarikan diri dari tahanan sejak dua tahun yang lalu, menurut cerita Kak Brenda. Itupun Kak Brenda baru sebulan belakangan ini bercerita padaku,” sahut Stella, berbisik pelan.
Perbincangan keduanya terhenti saat seorang perawat memanggil Stella untuk menemui dokter.
“Mas, aku tinggal dulu. Aku titip Rania, ya,” pamit Stella.
“Ran, duduk di sebelah Daddy,” ucap Bara sepeninggalan Stella, meminta putrinya itu untuk berhenti menunggu di depan pintu.
Rasa ibanya mencuat ke permukaan saat melihat wajah Rania. Teringat dulu saat kedua orang tuanya meninggal.
“Kangen dengan Tante Bella?” tanya Bara, setelah Rania duduk di sebelahnya.
“Mommy Bella?” tanya Rania.
Bara mengangguk.
“Nanti Daddy akan membawa Mommy Bella dan Icca kesini menemani Rania. Mau?” tawar Bara.
“Mau, Dad,” sahut Rania.
“Daddy tidak bisa terlalu lama disini. Nanti setelah Aunty Ste kembali, daddy harus pulang ke rumah.”
Rania mengangguk.
“Anak pintar. Kalau ada apa-apa, telepon Daddy,” ucap Bara, menepuk pucuk kepala gadis itu sambil tersenyum.
“Rania masih punya daddy dan mommy Bella. Ada adek Icca juga, kan,” ucap Bara.
Rania langsung menghambur ke pelukan Bara. “Dad, apa mommy akan meninggalkan Rania?” tanyanya pada Bara.
“Rania harus jadi anak penurut, supaya mommy tambah sayang Rania,” hibur Bara, tidak bisa menjawab pertanyaan Rania.
***
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Bara berusaha menghubungi Bella kembali, setelah melihat puluhan panggilan tak terjawab dari istrinya. Tanpa sengaja dia mematikan nada dering ponselnya.
Namun, tidak ada satupun panggilannya yang tersambung. Ponsel Bella tidak aktif.
"Sayang, kamu dimana?" ujar Bara, sambil memegang kemudi.
Setelah memastikan kondisi Brenda, Bara merasa perlu memberitahu istrinya apa yang terjadi. Setidaknya Bella harus bersiap. Meskipun Stella belum mengatakannya secara terang-terangan, dia sudah bisa menangkap arah pembicaraan Stella, saat membahas Rania.
Bara tidak tahu jelas ini permintaaan Brenda langsung sebelum koma, atau memang pertimbangan dari Stella sendiri.
Begitu mobil Bara masuk ke parkiran rumahnya, lelaki itu langsung melompat keluar mencari istrinya. Dia harus membahas masalah ini dengan Bella. Namun, begitu masuk ke dalam rumah, tidak ada siapa pun di sana kecuali asisten rumah tangga.
“Mbak, istriku dimana?” tanya Bara pada salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan melintas di dekatnya.
“Ibu pulang ke Surabaya bersama Non Icca. Bawa mbak pengasuh juga, Pak,” sahut sang asisten.
Bara terkejut bukan main..
***
TBC