
Desiran angin malam samar-samar terdengar di luar jendela kamar, bercampur nyanyian jangkrik yang saling bersahut-sahutan. Malam yang panjang bagi Bara dan Bella, suami istri yang sudah bukan pengantin baru lagi. Namun, baru akan mau menikmati malam pertama setelah dua tahun pernikahannya.
Bara masih menunggu, menatap lekat netra hitam pekat istrinya. Dengan pipi merona, Bella menurunkan pandangannya. Tidak berani beradu tatap dengan sang suami.
“Cium aku, Bell,” pinta Bara sekali lagi, lebih menuntut dan terdengar memohon. Jemarinya yang panjang-panjang sedang mengukir di lekuk wajah cantik istrinya, tersenyum manis.
Bara mengangkat dagu yang tertunduk malu itu, mencium bibir tipis itu sekilas.
“Bagaimana rasanya? Manis?” tanya Bara.
Bella menggeleng, membuang pandangannya. Malu itu semakin terasa, saat menyadari tubuh telanjang mereka sedang menempel sempurna. Degup jantungnya kembali bergemuruh.
“Mas,” bisik Bella pelan.
“Hmm,” gumam Bara, tersenyum.
“Aku takut,” ucapnya malu-malu.
“Tutup saja matamu kalau malu,” bisik Bara, memberi saran. Setidaknya lebih baik dari pada mendengar penolakan dari istrinya.
Bara memulai, menunggu Bella hanya akan membuat hasratnya kian bertambah. Istrinya terlihat menggemaskan di saat-saat seperti ini. Kemanjaan yang tidak pernah tampak sebelumnya, saat ini terpampang jelas dan nyata.
Bara mulai mengabsen, pilihan pertama jatuh pada kecupan di kelopak mata yang terpejam sempurna, beralih pada pipi yang sekarang merona makin memerah. Tulang hidung mancung Bella pun turut mendapat bagian. Dan terakhir ciuman itu berlabuh di bibir mungil tipis yang selama ini sudah beberapa kali dicicipinya.
Ciuman lembut dan manis di awal. Ciuman yang dalam beberapa menit berikutnya berubah menjadi l”umatan yang lebih menuntut.
Bara bisa merasakan, Bella yang terus-menerus mengunci bibirnya, seakan tidak menerima tamu yang datang berkunjung ke dalam sana.
“Bell,” panggil Bara lembut di indra pendengaran istrinya, menggigit kecil daun telinga itu. Membuat Bella menggelinjang seketika. Embusan napas kasar dan gigitan kecil saja, cukup membuat Bella meremang dan terbang melayang ke atas awan.
Belum lagi tangan Bara yang sudah mengusap hampir ke seluruh tubuh dan bagian sensitifnya. Bella menggila, terpaksa menggigit bibir bawahnya, supaya tidak mendesah.
Ciuman Bara beralih, puas dengan bibir, kembali ke leher jenjang sang istri. Memberi kecupan basah dan sesekali memberi tanda kemerahan di sana.
“Ah, Mas," desah pertama Bella terdengar juga pada akhirnya. Tangannya pun sudah berani meremas tengkuk dan punggung telanjang Bara. ******* Bella adalah kebahagiaan Bara, terdengar indah.
Saat ini Bara tahu, istrinya sudah mulai menikmati permainannya. Semakin Bella mendesah, Bara semakin bersemangat, mengeksplor apa saja yang bisa membuat istrinya terbang ke awang-awang.
Bara benar-benar sedang berjuang membuat Bella senyaman mungkin, berusaha menyingkirkan rasa takut dan gugup yang mengumpul di hati istrinya.
Bara tahu betul ini pengalaman pertama Bella, ia ingin semuanya menjadi sempurna. Meninggalkan kenangan indah, pengalaman yang hanya akan dialami Bella sekali dalam seumur hidup.
“Bell, sebentar lagi aku akan memulainya,” bisik Bara masih mengecup basah gundukan kenyal menggemaskan dan memberi tanda kepemilikannya di sana. Bella tidak menjawab, tetapi raut wajahnya tidak menolak. Tangan Bara pun tidak tinggal diam, mengusap lembut tubuh polos yang sudah pasrah.
Tidak butuh lama, Bara bisa melihat tubuhnya istrinya bergetar hebat, mencakar kecil punggungnya. Istrinya sudah mencapai awan. Bara bisa mengartikan dari senyum tertahan dan terpuaskan di raut wajah Bella.
“Are you ready, Darl?” bisik Bara lagi, tersenyum melihat netra yang masih saja terpejam.
“Bell, bukan matamu, tatap aku,” pinta Bara, memohon kali ini. Di saat terpenting ini, ia ingin Bella melihat semuanya, mengingat wajahnya.
Kelopak mata itu akhirnya mengerjap dan membuka sempurna, tersenyum malu menatap Bara yang menindih tubuhnya.
“Sedikit sakit, tetapi aku berusaha selembut mungkin,” ucap Bara mengernyit.
Bella mengangguk, hilang sudah malu-malunya. Ia sudah mulai terbiasa dengan suaminya.
Bara memulainya pelan. Berusaha selembut mungkin menerobos pertahanan terakhir Bella. Ini pertama, pasti tidaklah mudah.
“Ya-ya. Aku akan melakukannya perlahan. Ini bukan hanya pertama untukmu, ini juga pertama bagiku menerobos jalan tol yang masih belum dibuka palang pintunya,” ucap Bara, masih saja bercanda di saat segenting ini.
“Mas," bisik Bella, memukul pelan punggung suaminya. Ia sudah menahan malu, tetapi suaminya masih bisa bercanda di saat keadaan seperti ini.
Kecupan dilabuhkan Bara, mencium lembut bibir istrinya, berharap Bella lupa dengan sakitnya.
“Buka sedikit bibirmu, aku akan mengajarimu cara berciuman yang baik dan benar,” ucap Bara mengalihkan perhatian Bella.
Bella menurut, dan membiarkan Bara melakukan apa yang diinginkan sang suami. Ciuman Bara semakin menuntut, saat Bella mulai bisa meladeni dan mengimbanginya. Tidak malu-malu lagi dan membuka mulut, sudah bisa membalas kecupannya.
Saat Bella sedang konsentrasi dengan ciumannya, di saat itu juga Bara menerobos paksa. Tubuh Bella menegang, tangan mencakar dan menjambak rambut Bara. Sesuatu sedang mencuri masuk di bawah sana. Tanpa permisi dan instruksi terlebih dulu.
“Mas," pekik kecil Bella. Ia melepas ciumannya tiba-tiba, sesaat merasa sesuatu merobek inti tubuhnya. Saat itu juga Bella tahu, ia sudah kehilangan semuanya. Menyerahkan miliknya yang paling berharga pada suaminya, Barata Wirayudha. Laki-laki yang memperistrinya dua tahun lalu.
“Masih sakit?” tanya Bara lembut, mengusap kening Bella yang mulai berkeringat.
“Bella mengangguk pelan, masih melingkarkan tangannya di leher Bara.
“Maaf, aku akan lebih pelan lagi,” lanjut Bara, tersenyum. Melanjutkan apa yang sempat tertunda. Berusaha mengentak dengan lembut pada awalnya, tidak ingin mengguncang kasar istrinya.
Berkali-kali Bara harus berbisik dan mengecup lembut istrinya, menenangkan Bella yang panik karena rasa sakit yang tidak kunjung hilang.
“Ya, tidak apa-apa, Sayang,” bisik Bara pelan.
Tak lama, senyap kamar itu berganti dengan suara desah Bella bercampur ucapan sayang Bara yang masih saja menenangkan dan membuat istrinya nyaman.
Pada akhirnya Bara mempercepat entakkan yang tadinya lembut, mendekap Bella seerat mungkin. Ia tidak bisa berlama-lama, istrinya masih pemula. Mungkin nanti setelah pengalaman pertama Bella, ia baru bisa mengajarkan banyak hal pada istrinya.
“Mas," bisik Bella tersengal-sengal sesaat sebelum tubuhnya bergetar hebat bersamaan dengan Bara.
“Hmm ... terima kasih, Sayang,” gumam Bara terdengar setelah ia menyelesaikan semuanya. Masih dengan posisi menindih tubuh istrinya yang basah berkeringat, ia mengatur napasnya yang naik turun sejak tadi.
Penyatuan mereka diakhiri Bara dengan lembut dan indah. Semuanya berakhir sempurna. Bara menanamkan investasi pertamanya.
Lama keduanya terdiam saling memeluk dan mendekap. Tangan Bella sedang mengusap lembut punggung suami yang tertidur di dadanya.
“Mas, bisa pindah? Tubuhmu berat sekali. Aku susah bernapas,” pinta Bella, berusaha menyingkirkan tubuh kekar Bara yang masih saja menindihnya.
“Hmm ... sebentar lagi. Aku capek, Bell,” sahut Bara, masih membenamkan wajahnya dengan nyamannya di gundukan kembar istrinya. Menikmati empuknya tubuh Bella dengan mata terpejam.
“Mas, ini lengket semua. Aku harus bersih-bersih,” pinta Bella lagi.
“Hmm,” gumam Bara. Dengan terpaksa, ia menyingkir, menggulingkan tubuhnya ke samping Bella.
“Aduh!” keluh Bella sesaat setelah berdiri.
“Kenapa, Bell?” tanya Bara, seketika membuka mata. Bara memandang istrinya yang mengernyit menahan sakit.
“Kelewatan kamu, Mas. Masih saja bertanya kenapa!” gerutu Bella kesal, meraih bantal dan melempar Bara.
****
Sekian dan terima kasih.