
“Rissa sekarang ditahan? Maksudmu dipenjara?” tanya Bara.
Roland mengangguk. Ia juga tidak tahu jelas dan tidak mau terlibat dengan masalah Rissa. Semakin mendekat dengan wanita itu, nama baiknya juga akan ikut dipertaruhkan. Bukannya ia tidak tahu, wanita seperti apa Rissa. Kalau bisa menghindar sejauh mungkin, akan lebih baik.
Lelaki itu terpaksa mendekat, terlibat hanya karena Issabell. Diakui atau tidak, menerima atau menolak kenyataannya, Rissa adalah ibu biologis dari putri kandungnya, Issabell. Mau tidak mau, ia harus melibatkan dirinya.
“Apa yang terjadi dengan Rissa? Bagaimana dia bisa menghubungimu?” tanya Bara, heran.
“Sebulan yang lalu, Rissa menghubungiku dan meminta bantuan. Dia membutuhkan pengacara untuk mendampinginya,” cerita Roland.
“Kasus apa?” desak Bara. Penasarannya sudah naik ke ubun-ubun.
“Seperti biasa, ternyata Rissa masih belum berubah. Setelah memiliki anak pun masih tetap seperti dulu. Dia dilaporkan oleh istri salah satu pria yang memakai jasanya,” jelas Roland.
Bara menggelengkan kepala.
“Dan sial bagi Rissa, saat digeberek di sebuah kamar hotel di Jakarta, tertangkap basah dengan beberapa pria termasuk suami si pelapor. Sedang pesta sex dan obat-obatan,” jelas Roland, membayangkan bagaimana nasib putrinya yang memiliki ibu kandung seperti Rissa.
“Ya Tuhan!” Bara terkejut. Tidak sanggup membayangkannya. Ia tahu sepak terjang Rissa dulunya, tetapi tidak menyangka sang kakak ipar masih melakoni profesi sampingannya.
Padahal, dulu saat masih bekerja di perusahaan Bara, Rissa sudah diberi jabatan yang lumayan dengan gaji dan tunjangan terbilang tinggi. Akan tetapi, Bara tidak habis pikir bagaimana Rissa masih betah dengan pekerjaan sampingannya. Entah kebutuhan atau kesenangan. Hanya Rissa yang tahu alasannya.
Seperti saat ini, Rissa sudah diberi rumah dan fasilitasnya. Bahkan Bara selalu mengirim jatah bulanannya tepat waktu. Harusnya tidak ada alasan untuk Rissa kembali ke profesinya yang lama.
“Dan hasil tes urine, Rissa positif menggunakan narkoba. Yang membuat keadaan semakin parah, di dalam tasnya ditemukan beberapa butir ekstasi,” lanjut Roland.
“Astaga!” Bara terkejut. Tidak terbayang sedikit pun Rissa akan memilih jalan ini. Dan sekarang yang Bara takutkan adalah Rissa akan menganggu istrinya kembali. Apalagi Bella sedang hamil.
Tampak Bara mengeluarkan dompetnya, meletakan selembar uang seratusan di atas meja sembari memanggil seorang pelayan.
“Bar, terima kasih sudah mau merawat putriku, tetapi bisakah mengizinkanku untuk menemuinya?” tanya Roland, berusaha menghentikan langkah Bara.
Lelaki itu berpikir sejenak, tidak mengiyakan atau menolak. Hanya seutas senyuman melengkung, tersungging di bibit keringnya.
Jujur, ia belum bisa menjawab secepatnya. Ada hati yang harus dijaga dan ada pendapat istrinya yang wajib dipertimbangkan.
“Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku harus mendiskusikannya dulu dengan Bella. Aku yakin kamu tahu jelas siapa istriku dan apa hubungannya dengan Rissa.”
Bara berlalu setelah menjawab pertanyaan Roland. Melangkah pergi, tanpa menoleh kembali.
***
Malam itu.
Bella sudah diizinkan pulang ke rumah sejak tadi pagi. Kondisinya baik-baik saja, hanya sempat terkejut dan tekanan darah sedikit tinggi. Selebihnya, ibu hamil itu sehat walafiat.
Bara yang memendam beban akan kenyataan yang disampaikan Roland tentang sang kakak ipar, tampak mondar-mandir layaknya setrikaan sedang berdinas. Berjalan mengitari kamar tidurnya, sembari berpikir keras.
Bimbang dan ragu. Menjelaskan atau bungkam saja untuk semua kebenaran yang diungkapkan Roland padanya. Langkah kakinya terhenti tepat di depan cermin meja rias saat pintu kamar membuka.
“Aku lelah hari ini, Mas,” tukas Bella, masuk dengan perut yang mulai tercetak jelas di daster tidurnya. Berjalan masuk sembari mengusap perut yang jalan terlebih dulu. Kandungannya yang berjalan lima bulan ini mulai terlihat tenang, tidak ada kericuhan-kericuhan seperti di trimester awal. Kerewelan Bella juga sudah semakin berkurang.
Bara cukup paham maksud istrinya. Tanpa bertanya lagi, lelaki itu menghampiri sang istri yang merebahkan diri. Terlentang di atas tempat tidur, mencari posisi nyamannya.
“Aku sudah berulang kali mengingatkanmu, Bell. Jangan terlalu dipaksa. Kalau kekurangan asisten rumah, aku bisa menambah pekerja,” ujar Bara, duduk disisi ranjang. Sepuluh jarinya sudah menari dari ujung kaki sampai ke paha istrinya. Memijat tanpa diminta.
“Icca rewel sekali, Mas. Sudah dua hari ini tidak mau tidur siang. Sering menangis dan tidak sabaran,” keluh Bella. Berbaring menyamping, mempersilakan suaminya memijat pinggangnya yang sudah berisi penuh.
“Kamu tidak menggendongnya, kan?” tanya Bara memastikan. Jemarinya sudah berpindah, mengusap pelan pinggang belakang istrinya. Memberi pijatan lembut.
“Icca tidak mau dengan Mbaknya. Seharian menempel terus padaku, Mas,” jelas Bella.
“Sebisa mungkin beri pengertian padanya, Bell. Perutmu sudah membesar seperti ini, aku mengkhawatirkanmu,” ujar Bara. Lelaki itu berhenti memijat. Ikut merebahkan tubuh di samping sang istri. Mengusap perut Bella dari belakang.
Dengan mendekap istrinya, Bara berbisik pelan di telinga istrinya.
“Bell, Rissa ditahan,” ucap Bara, membelit erat tubuh istrinya, memberi kekuatan supaya Bella tidak terlalu terkejut.
Bagai petir menyambar, informasi yang Bara sampaikan memancing ketenangan. Mata mengantuk yang hampir terpejam itu membulat dan terjaga.
“Mas?” panggil Bella, meminta penjelasan lebih.
“Ssstttt.” Bara melabuhkan kecupan sembari membenamkan wajahnya di rambut panjang dengan aroma aloe vera dan citrus.
“Aku bertemu Roland tadi siang. Dia bercerita banyak,” cerita Bara. Akhirnya, kata hati membuatnya memilih jujur pada sang istri. Saat ini ia sedang mencari cara terbaik, menjelaskan tanpa membuat Bella panik.
“Apa yang terjadi, Mas?” tanya berbalik. Sekarang mereka berbaring berhadapan.
Kedua tangan kekar itu membingkai indah wajah penasaran Bella, menyunggingkkan senyuman.
“Seperti yang dulu aku pernah ceritakan padamu, apa yang dilakukan Rissa sampai hamil Icca tanpa suami. Dan kali ini, Rissa melangkah terlalu jauh,” jelas Bara, mencari kalimat paling ringan.
Wajah cantik itu mengerutkan dahi. “Kak Rissa kembali ..." Ucapan itu mengantung, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ya dan kali ini kakakmu itu tersandung dan terjatuh,” lanjut Bara.
“Bagaimana dengan ibu, Mas?” ucap Bella terbata.
Bara menggeleng.
“Aku sudah meminta Kevin memastikan semuanya. Aku akan menemuinya di tahanan. Kamu mau ikut?” tanya Bara. Sebagai keluarga Rissa, tidak mungkin ia lepas tanggung jawab. Seburuk apa pun kelakuan Rissa, mau tidak mau ia harus ambil bagian demi Bella.
“Aku ikut. Aku juga ingin menemui Kak Rissa, Mas,” sahut Bella pelan. Berusaha menahan perasaannya, mereka tidak saling bertukar kabar beberapa bulan belakangan. Dan Rissa memberi kejutan padanya.
“Bagaimana Kak Rissa bisa seperti itu. Kasihan Ibu,” ucap Bella pelan. Mengingat beberapa hari belakangan ibunya sering menghubunginya, bertanya padanya mengenai sang Kakak.
“Tidur saja. Sudah malam,” ucap Bara, mengecup kening Bella sebelum memeluk erat istrinya.
Jujur saja, ia juga tidak tahu harus bagaimana. Kalau mengikuti egonya, ia akan menutup mata dan telinganya, membiarkan wanita itu membusuk di penjara. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Istrinya pasti tidak akan terima kalau ia bersikap seperti itu.
***
T B C
Love you all
Terima kasih.