Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 69. Merasa Diabaikan


Bella masih mengendap-endap, mengintip dari kejauhan. Ingin mendekat, tetapi ia tidak memiliki alasan. Ingin ditinggalkan tetapi hatinya penasaran.


Baru saja akan melangkah pergi, tiba-tiba kedua kakinya dipeluk erat. Sudah hampir keluar jeritan dari bibirnya di tengah keterkejutan. Kalau saja tidak ingat sedang mencuri pandang dan mencuri dengar, pasti ia sudah berteriak kencang.


“Astaga, Icca ... kamu mengagetkan Mommy saja,” keluh Bella berbisik pelan, mengelus dadanya. Bella seperti penguntit yang sedang tertangkap basah.


Tawa putri kecilnya semakin membuat jantungnya berdegup. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak pengasuh Issabell yang tersenyum melihat keduanya.


“Hihihihi." Suara cekikikan Issabell terdengar semakin kencang. Gadis lucu itu semakin tertawa riang melihat wajah panik mommy-nya.


“Ssstttt! Jangan berisik, Icca." Bella meletakan jari telunjuk ke bibirnya.


“Mami, ayo sana!” ajak Issabell, menunjuk ke arah taman samping. Mengajak Bella menikmati pagi sambil bermain lari-larian.


Bella sudah akan menerima ajakan gadis kecilnya, tetapi matanya menangkap sosok asisten rumah tangga yang sedang membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk tamu pagi majikannya. Diurungkannya niat itu. Saat ini, ia menemukan ide dan alasan untuk bisa melihat dari dekat sosok sekretaris cantik sang suami.


“Icca, sama Mbak Sus dulu, ya. Mommy mau menemani Daddy,” ucap Bella, menepuk pelan puncak kepala gadis kecilnya. Setelahnya, ia berpesan pada sang pengasuh, agar menemani putrinya.


“Mbak, biar aku saja,” ucap Bella, tiba-tiba menghentikan langkah pembantunya.


Sang asisten rumah tangga itu menurut, menyerahkan nampan beserta isinya pada nyonya majikannya.


Bella tersenyum kecil, setidaknya ia punya alasan melihat dari dekat seperti apa hubungan suami dengan sekretaris seksinya.


“Mas,” sapa Bella, sudah berdiri di depan ketiganya.


“Bell, kamu yang menyajikannya?” tanya Bara tersenyum.


“Ya, Mas,” sahut Bella singkat.


Menatap suaminya yang sedang duduk di sofa single. Kevin dan Dona berbagi tempat duduk di sofa panjang, yang muat untuk tiga atau empat orang.


Perlahan Bella mengatur teh hangat dan cemilan kue basah itu di atas meja. Sesekali tersenyum menatap kedua tamu suaminya.


“Terima kasih, Nyonya,” ucap Kevin, yang sudah mengenal Bella.


“Terima kasih!” ucap Dona.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Bara, menjadi orang terakhir yang mengucapkannya pada Bella.


Bella mencuri tatap. Wajah sekretaris Bara tampak cantik dilihat dari dekat. Hatinya semakin was-was, terbayang sepanjang hari suaminya menghabiskan banyak waktu bersama dengan wanita cantik ini.


“Kev, mengenai Brenda, aku serahkan padamu saja,” perintah Bara tiba-tiba.


“Siap, Pak,” sahut Kevin, mengangguk.


“Aku tidak mau berhubungan langsung dengan keluarga mantanku lagi,” lanjutnya lagi.


Bella yang sejak tadi berdiri di samping suaminya hanya bisa diam. Bara bahkan tidak mengajaknya bicara atau menganggap keberadaannya. Sedikit rasa terasing, bahkan Bara tidak mengenalkannya pada sang sekretaris. Entah suaminya lupa mereka belum berkenalan atau suaminya lupa kalau ia masih bergabung bersama mereka.


Bara masih sibuk memberi pengarahan pada keduanya. Kevin mengangguk, Dona lebih banyak mencatat di buku agenda. Dan Bella, ia seperti orang asing dan tidak terlihat. Yang membuatnya sedikit dihargai adalah senyuman Kevin dan Dona yang sesekali muncul saat mereka bertemu pandang.


Lama berdiri dan tidak dianggap, Bella akhirnya menyingkir dengan hati kecewa. Mengumpat dirinya sendiri yang dengan tidak tahu malunya bergabung di sana tanpa diundang.


Ia memilih melangkahkan kaki ke taman samping, menemui putri yang sedang bermain lari-larian di halaman berumput ditemani pengasuhnya.


“Huh! sungguh bodoh kamu, Bell. Bahkan dia tidak menganggap keberadaanmu di sana,” gerutu Bella, menghempaskan tubuhnya di kursi taman.


***


T b c


Nanti aku setor 1 bab lagi untuk hari ini. Masih belum sempat menulis panjang.


Love You All.