Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 169 : Seember air


Dua minggu terlewati sudah. Tanda-tanda kehadiran jagoan kecil Bara dan Bella tidak ada sama sekali. Tidak ada flek, sakit perut atau kontraksi dan sejenisnya, semua sama seperti hari-hari sebelumnya.


Segala cara sudah dilakukan Bella, dari berjongkok, berjalan, banyak bergerak ke sana kemari. Setiap pagi dan sore keliling komplek perumahan. Melakukan aktivitas tanpa batas.


Dan Bara, calon ayah yang lebih tidak sabaran lagi dibanding sang calon mommy itu hampir tiap malam merintis jalan untuk jagoannya seperti saran Ibu dokter. Dari jalan kampung yang masih tanah merah, di hari keempat belas sudah hampir jadi jalan tol berbayar.


“Bell, apa jagoan kita tidak tahu jalan atau keenakan di dalam? Kenapa lama sekali,” keluh Bara dengan napas tersengal. Tubuh kekar itu sudah berbaring telentang, menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan menahan kepala.


“Aku juga tidak tahu, Mas.” Bella menjawab pelan sambil menarik selimut, menutup tubuh polos dengan perut buncitnya. Mereka baru saja berjuang membuka jalan untuk calon jagoan, aktivitas malam yang konon katanya bisa mempercepat proses kelahiran.


“Padahal aku sudah bisikan berulang kali, supaya dia mengenali suara daddynya dan terpancing keluar. Apa perlu aku pasangkan gps supaya adek tidak salah jalan dan kesasar,” ucap Bara, sembari tersenyum akan ide asalnya.


“Sudahlah Mas, jangan dipikirkan. Kalau sudah waktunya lahir, adek akan lahir dengan sendirinya. Kalau memang belum waktunya, dipancing bagaimana pun tetap saja masih betah di dalam.”


Bella berguling mendekati sang suami, menempel pada dada telanjang Bara yang menghangatkan.


“Mas, jangan begadang lagi. Mulai malam ini, tidur yang nyenyak. Kamu tidak lihat, itu kantong matamu sudah kelihatan sekali. Belum lagi mata pandamu. Siang bekerja keras, malam masih harus berjaga-jaga. Mengalahkan apotik 24 jam.”


‘Kalau perutku sakit, pasti kamu yang aku bangunkan pertama kali, Mas.” ungkap Bella.


“Benarkah?”


“Ya, aku akan membangunkanmu. Aku juga tidak mau melahirkan sendirian, Mas.” Bella berkata pelan.


Ibu hamil itu segera bangkit dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berganti daster tidur yang baru. Senyumnya mengembang sempurna saat kembali, mendapati suaminya sudah mendengkur pelan, menandakan kalau laki-laki itu sudah terlelap.


“Kasihan kamu, Mas.” Bella tersenyum menatap Bara yang hanya mengenakan boxer dan singlet putih. Suaminya benar-benar kelelahan dan kurang tidur selama dua minggu ini. Dia tidak ingin menganggu.


***


Tertidur selama hampir satu jam, Bella terbangun saat merasa ada yang aneh di dalam inti tubuhnya, seperti ada sesuatu yang basah keluar. Entah kenapa, kali ini perasaannya mengatakan kalau jagoannya sudah mengirim kode.


Berjalan ke kamar mandi dengan semangat empat lima, kantuknya hilang saat mendapati flek bening mengental.


“Apa ini? Apa ini tanda-tanda akan melahirkan?” Berucap pelan. Sesekali meraba perut besarnya. Tidak ada tanda-tanda sakit perut atau pun mulas. Hanya perutnya bergelombang sejak tadi, jagoannya sangat aktif sekali di dalam.


Memilih kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memaksa matanya terpejam. Hanya setengah jam, perutnya mulai merasa tidak enak. “Aduh, apa ini benar-benar mau melahirkan,” ucap Bella sembari mengusap perutnya, tetapi sakit itu tidak berlangsung lama. Perlahan menghilang dan sudah tidak ada rasa apa-apa.


Mengubah posisi tidurnya, menyamping menghadap Bara yang masih terlelap tanpa terganggu sedikit pun. Tidak biasanya seperti ini. Selama dua minggu terakhir, Bara tidak bisa tidur lelap, setiap Bella bergerak, Bara langsung terjaga.


“Kasihan sekali kamu, Mas.” Lagi-lagi wanita hamil itu iba melihat sang suami.


Tak lama kemudian, Bella yang hampir tertidur, kembali merasakan sakit yang sama. Sebentar dan tak lama menghilang. Kejadian itu berulang hampir satu jam atau empat puluh lima menit. Membuatnya tidak bisa tidur sama sekali. Saat beduk subuh berkumandang indah, disitu Bella mulai panik. Sakit perut yang tadinya masih berjarak sejam, semakin ke sini semakin merapat. Hampir dua puluh menit sekali.


“Mas ... bangun!” Bella menguncang tubuh suaminya pelan. Setiap sakit perut itu datang, Bella hanya bisa meringis sembari mengelus perutnya dan menarik napas dalam. Menghembuskannya perlahan supaya sakit itu tidak terlalu berasa. Itu yang dipelajarinya dari buku panduan ibu hamil.


“Mas, bangun!” Bella kembali mengguncang kasar tubuh suaminya. “Perutku sakit, mungkin adek mau keluar, Mas,” lirihnya sambil meringis.


Bara bergeming. Bergerak sebentar, kemudian meraih guling dan memeluknya erat. Laki-laki itu tertidur kembali. Seperti balas dendam, kali ini tidur Bara seolah tidak terganggu sama sekali. Mungkin kata-kata Bella sebelum tidur, membuat beban Bara menghilang. Laki-laki itu bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman. Mengganti malam-malam yang terlewati selama dua minggu ini.


“Hmmm,” gumam Bara pelan.


“Jangan berisik, Bell. Aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur lima menit lagi,” ucap Bara dengan mata terpejam.


“MAS, BANGUN!! ....” Bella mulai kesal, sakit perut membuat ibu hamil itu mudah terpancing emosi.


“Hmmmm.” Bara kembali bergumam tak jelas.


Mendapat respon seperti itu, akhirnya Bella memilih keluar sembari mengusap perutnya saat sakit itu datang. Kesalnya menumpuk di saat membangunkan sang suami yang tak kunjung bangun. Bara tidur seperti orang mati. Puluhan kali memanggil dan memukul sang suami, tetap saja hasilnya sama. Terusik sebentar kemudian melanjutkan tidur.


Dengan panik mengetuk kamar ibunya. Sambil berteriak kencang, dari luar. “BU! BANGUN!!” Perutku sakit!” teriak Bella. Asisten rumah yang kebetulan sudah bangun sejak tadi, ikutan panik. Membantu menggedor pintu, sedangkan asisten yang lainnya keluar mencari Pak Rudi. Melihat wajah pucat Bella, sudah bisa dipastikan kalau ini waktunya sang nyonya melahirkan.


Tak lama, Ibu Rosma keluar dengan wajah mengantuknya. “Ada apa?” tanyanya pada sang asisten rumah tangga.


“Bu ... sepertinya Nyonya mau melahirkan,” sahutnya panik, menunjuk ke arah Bella yang sudah tidak sanggup berdiri saat rasa sakit itu datang, melilit, meremas perutnya. Ibu hamil itu memilih duduk di sofa. Sakit sulit diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun ada jeda, tetapi sulit untuk ditahan setiap kali mulas itu menyerang.


“Ya Tuhan, Bell. Kamu mau melahirkan. Cepat ke rumah sakit!” Ibu Rosma secepat kilat kembali ke kamarnya, berganti pakaian dan keluar lagi dengan panik dan buru-buru.


“Mbak, tolong bangunkan Oma dan Opa Rania. Titip anak-anak dan rumah. Aku akan membawa Bella ke rumah sakit sekarang. Takut melahirkan di jalan.” Ibu Rosma segera memapah putrinya menuju ke mobil yang sudah siap menunggu di depan teras rumah.


“Pak, ayo cepat! Takutnya keburu melahirkan di jalan,” pinta Ibu Rosma pada Pak Rudi, saat sudah duduk di mobil. Wanita itu menatap putrinya yang sedang meringis kesakitan.


Pak Rudi masih belum mau menjalankan mobilnya, lelaki tua itu masih menunggu kehadiran Bara, salah satu orang penting yang saat ini dibutuhkan keberadaannya di saat darurat seperti ini. Lidahnya ingin bertanya, tetapi Bella sudah bersuara. Terpaksa laki-laki itu menunggu.


“Bu ... tas ... pakaianku ... masih di kamar,” ucap Bella terbata.


“Maaf Bu, ini bapak kemana? Kok belum muncul-muncul juga,” tanya Pak Rudi, menyuarakan penasarannya.


“Astaga, Ibu hampir lupa. Suamimu di mana Bell?” tanya Ibu Rosma. Panik membuatnya melupakan sosok sang menantu.


“Masih di kamar, Bu. Dia sepertinya lelah sekali,” sahut Bella lancar. Sakit perutnya sedang menghilang sekejap.


“Tunggu Ibu sebentar. Ibu ke kamar mengambil tasmu dan menyeret anak itu!” gerutu Ibu Rosma kesal.


Dan benar saja begitu tiba di kamar, Bara masih terlelap, seolah tidak terusik dengan apapun. Tidak sadar dengan kepanikan yang sedang melanda rumah mereka.


“Bar, bangun! Istrimu mau melahirkan.” Ibu Rosma bergegas ke dalam walk in closet. Kebingungan saat menatap ada dua koper berjejer dan satu tas bayi berdiri di sudut ruangan. Tanpa melihat isinya, wanita lansia itu menyambar tas bayi dan keluar, kembali membangunkan menantunya.


“BAR!!!” teriak Ibu Rosma. Tidak bisa menunggu terlalu lama, segera ke kamar mandi mengisi seember penuh air dingin. Buru-buru membawanya keluar dan menyiramnya ke tubuh Bara.


Byurrrr!


“BAR, BANGUN!!” teriaknya kencang.


***


TBC