Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 175 : Daddy Real


Hening menyapa saat malam tiba. Candra menguning, tampak membulat sempurna mengintip dari jendela. Kamar perawatan itu kini hanya dihuni Bara, Bella dan baby Real, buah cinta keduanya.


Ibu Rosma ikut pulang bersama Opa dan Oma Rania. Wanita lansia itu hampir ambruk karena fisiknya tidak sanggup berlama-lama menemani putri dan cucunya di rumah sakit.


“Bell, kenapa?” tanya Bara mencium gelagat aneh istrinya.


Sejak sore istrinya tampak sehat, sudah bisa berjalan ke toilet meski perlahan dan tertatih-tatih. Sudah bisa mengguyur tubuhnya dengan air panas dari kran, tidak perlu dibasuh dengan handuk basah.


Masalahnya hanya pada saat hendak duduk saja, Bella tampak ketakutan. Pelan dan tidak nyaman, mengernyit menahan rasa yang sulit diungkapkan. Selebihnya, Bella sudah sehat, sudah bisa mengomel dan menatap tajam padanya.


“Badanku panas, Mas.” Bella berkata pelan.


“Ininya nyeri, Mas.” Bella mengadu manja pada sang suami sembari mengusap kedua bongkahan dada yang membengkak, nyeri serasa ingin meledak.


“Lalu ... aku harus bagaimana, Bell?” Kebingungan itu terlihat nyata, dari sorot mata Bara yang berbinar penuh tanya.


“Aku tidak tahu, Mas. Berdenyut-denyut sakit sekali.” Bella kembali meringis menahan sakit.


Belum lagi saat tanpa sengaja bergerak, kala inti tubuhnya bergesekan dengan kain rasanya menggelenyar. Bahkan untuk buang air kecil saja, Bella tidak berani berjongkok atau duduk. Semua ambyar tak beraturan.


Buang air besar jangan ditanya. Untuk saat ini, Bella memilih menahan sampai mentalnya siap. Membayangkan saat mendorong keras, jahitannya akan retas, Bella bergidik ngeri. Bahkan saat melangkah pun, Bella tak berani lebar-lebar.


Rasanya bagaimana, Bell?” tanya Bara. Iba itu kembali mencubit hatinya. Setelah perjuangan hamil dan melahirkan, sekarang istrinya sedang berjuang pasca melahirkan. Ada beberapa jahitan yang menunggu pulih, belum lagi sepanjang hari Bella mengeluh perutnya panas dan gatal karena setagen yang melilit ketat. Dan sekarang, Bella mengeluh dadanya nyeri, membengkak.


Sebagai suami siaga satu tetapi minus pengalaman membuat laki-laki itu kelabakan.


“Badanmu panas, Bell?” ucap Bara, setelah punggung tangannya menyentuh area leher istrinya.


“Ya, Mas. Rasanya tidak nyaman. Mas lihat saja, ini bengkak, sakit Mas.” Bella mengeluh, meraih tangan suaminya, meminta mengecek pabrik susu cap Bella yang sebentar lagi akan segera diluncurkan.


Setengah berlari, Bara mencari handuk kecil dan membasuhnya dengan air hangat di kamar mandi. Begitu kembali, Bara segera menarik tirai untuk menutup area brankar. Menyembunyikan diri dari tamu tak diundang yang mungkin saja masuk tiba-tiba.


“Dibuka saja, Bell. Aku akan mengompresnya,” pinta Bara, sudah menurunkan pakaian pasien yang dikenakan istrinya sebatas bahu. Memamerkan dua gundukan kembar yang mengeras seakan-akan siap meletus.


“Sakit sekali?” tanya Bara, mengusapnya dengan handuk basah. Laki-laki itu masih sempat menekan perlahan dengan jemari tangannya.


“Ya, sakit Mas. Berdenyut-denyut. Benar-benar sakit,” ucap Bella pelan.


“Aku harus bagaimana? Mau aku panggilkan perawat?” tanya Bara, beralih menatap baby Real yang masih tertidur pulas di tempat tidur bayi, tepat di samping ranjang Bella.


“Bagaimana bisa seperti ini? Perasaan tadi siang masih baik baik saja,” ucap Bara dengan polosnya.


Bella menggeleng. “Aku juga tidak tahu, Mas. Tiba-tiba sakit,” ucapnya.


Obrolan penuh keprihatinan keduanya terhenti saat baby Real tiba-tiba menjerit kencang. Untuk pertama kali keduanya ditinggal sendirian. Sepanjang hari ini, ada Ibu Rosma yang membantu menenangkan, tetapi sekarang tidak ada siapa-siapa.


“Bell, bagaimana ini?” tanya Bara panik saat mendengar suara jerit baby Real yang menggelegar.


“Digendong, Mas,” pinta Bella, meringis menahan sakit.


“Bagaimana menggambilnya, Bell. Sejak kemarin aku tidak pernah mengendongnya sendiri. Selalu ada yang meletakannya di dekapanku.”


Bara panik. Saat berdiri di depan tempat tidur baby Real, tetapi tidak tahu bagaimana mengambilnya. Laki-laki itu hanya bisa menepuk pelan bayi mungil yang terbungkus bedong, tanpa berani mengangkatnya.


“Selipkan tanganmu di tengkuk dan kepalanya, Mas. Tangan yang satunya di bokongnya, Mas,” ajar Bella.


“Aduh ... aku takut Bell. Bagaimana kalau lehernya patah?” tanya Bara dengan gugup bercampur panik. Apalagi mendengar tangis baby Real semakin kencang.


“Sssstttt ... Sayang ... cup ... cup ... jangan menangis, ya? Daddy belum berani menggendongmu sendiri,” bujuk Bara, menepuk pelan tubuh bayi mungilnya.


“Ini bagaimana Bell, aku takut nanti tanganku licin, baby Real terjatuh lagi.” Bara berucap pelan, tangannya mulai menyelinap di belakang tubuh baby Real.


“Hati-hati, Mas. Tidak akan jatuh.”


Senyum Bara terukir nyata saat baby Real berhasil digendongnya. Kebahagiaan itu tampak jelas, Bara hampir gila saat mendapati dirinya sanggup menggendong bayinya sendiri. Ditelungkup di dadanya, sambil menepuk pelan punggung baby Real.


“Bell, aku bisa.” Bara berucap dengan bangganya. Meskipun tangan lelaki itu belum selincah perawat, masih kaku dan patah-patah, tetapi pencapaian yang luar biasa untuk Bara. Laki-laki arogan yang sangat sulit bersikap manis, tetapi saat ini jadi seperti bocah ingusan saat berhadapan dengan putranya sendiri.


“Dulu Icca sudah agak besar aku baru berani menggendongnya. Tidak sekecil ini.” Bara bercerita. Tangis baby Real mereda, meskipun belum berhenti sempurna.


“Bell, apa dia lapar?” tanya Bara, menatap bibir anaknya yang mengerucut dan mengecap sejak tadi.


“Coba susui lagi, siapa tahu asinya keluar.” Bara mengusulkan. Perlahan meletakan baby Real di dalam dekapan Bella.


Canggung itu bukan hanya milik Bara, Bella pun masih belum pandai menggendong bayinya. Terlihat dari berkali-kali mengganti posisi, sampai baby Real merengek dan berujung menangis kencang.


“Mas, bagaimana ini?” tanya Bella, melihat kepala bayinya yang bergerak ke kiri dan kanan, mencari-cari sesuatu tetapi tidak menemukan posisi nyamannya.


“Aduh. Apa panggil perawat saja, Bell. Aku juga tidak tahu harus bagaimana.” Laki-laki itu kalang kabut, berlari ke pintu.


“Mas mau ke mana?” tanya Bella menghentikan langkah sang suami yang sudah di ambang pintu.


“Memanggil perawat.” Bara menjawab dengan wajah polosnya.


“Tekan tombol di samping ini saja, Mas. Nanti perawat datang.” Bella mengingatkan.


“Ya Tuhan, aku lupa.” Bara tergelak. Panik akan suara kencang baby Real membuat otak laki-laki itu buntu.


***


Perawat masuk menyunggingkan senyumnya. Tontonan biasa bagi mereka saat mendapati pemandangan ayah dan ibu muda yang kewalahan saat menghadapi bayi pertama mereka. Mendengar jeritan pilu sang bayi, perawat sudah paham apa yang terjadi.


“Bagaimana Bu?” tanya perawat berdiri di samping brankar.


“Aku mau mencoba menyusuinya, Sus. Tapi kenapa kepalanya bergerak-gerak. Setiap sudah masuk ke dalam mulut, dilepaskan lagi,” adu Bella.


Sang perawat tersenyum, bergerak mendekat dan mengangkat bayi dalam gendongan Bella. “Posisi bayinya belum nyaman, Bu.”


Tampak perawat mengajarkan Bella menyusui dan Bara berdiri di samping memperhatikan dengan seksama. Dan benar saja, dalam sekejap baby Real menyedot dengan kencang. Suasana tenang tidak berlangsung lama, kembali terdengar jerit memekakan telinga.


“Kenapa lagi, Sus?” tanya Bara penasaran.


“Mungkin asinya belum keluar atau baru keluar sedikit. Adiknya mengamuk, sudah tidak sabaran sepertinya. Dibiarkan saja, Bu, nanti lama-lama bisa keluar,” jelasnya, bersikap tenang.


"Persis seperti daddy. Sedikit-sedikit mengamuk. Tidak sabaran," sindir Bella.


Sepeninggalan perawat, Bara berjalan mendekat. “Aku geregetan dengan baby Real. Apa susahnya disuruh menyedot. Ingin rasanya mengambil alih tugas baby Real.” Laki-laki itu tergelak.


“Mas ....” Bella sudah akan menggerutu.


“Dari tadi aku disuruh menonton. Kalau memang baby Real tidak mau, aku siap melanjutkannya. Aku yakin kalau daddy Real turun tangan, sebentar saja sudah menyembur, mengalir sampai jauh,” lanjut Bara, tersenyum licik.


***


TBC