
Seember air itu akhirnya sanggup membuat lelap Bara terusik. Laki-laki itu tentu saja terkejut. Sedang menikmati perjalanannya berlayar ke alam mimpi, membayar lunas dua minggu yang kurang tidur.
“Ada apa.. ini?” tanyanya terbata setengah terjaga. Matanya terbelalak saat melihat ibu mertua yang berdiri melotot menahan kesal.
“Ada apa Bu?” tanya Bara, memijat pelipisnya yang pusing karena dipaksa bangun tiba-tiba.
“Istrimu mau melahirkan, kamu masih bisa bergelung di balik selimut!” omel Ibu Rosma, menatap tajam menantunya.
Hening sejenak sebelum sanggup menguasai keadaan.
“Hah!?” Bara menatap ke sebelahnya. Benar saja, tidak ada Bella di sana.
“Bella di mana, Bu?” tanya Bara mulai panik. Menatap mertuanya yang berjalan ke arah pintu menenteng tas bayi.
“Istrimu menunggu di mobil. Sudah kesakitan. Ibu buru-buru, takut melahirkan di jalan.” Ibu Rosma menjawab sambil berlalu.
Bara membeku di tempat, mencerna kata demi kata yang disampaikan sang mertua. “Astaga!” Memekik kaget, Bara tersadar akan kenyataan yang ada di depan matanya.
Bara panik sendiri. Meloncat turun dari tempat tidur, berlari keluar. Tidak tahu harus berbuat apa. Ucapan Ibu Rosma yang mengatakan kalau Bella bisa saja melahirkan di jalan, membuat Bara hilang akal. Lari keluar rumah, diiringi pandangan aneh para asisten.
Sampai di teras dengan tampilan basah kuyupnya, Bara melihat mobil yang dikemudikan Pak Rudi mulai berjalan menuju gerbang rumah. Kembali berlari mengejar, Bara tidak mau tertinggal sedetik pun momen-momen kelahiran jagoannya. Dia harus ada di setiap tahap proses kelahiran dan menemani Bella.
Menggedor keras pintu mobil bagian kiri. “Pak ... Pak! Berhenti! Stop!” Bara masih memukul kasar body mobil hitam yang dikemudikan sopirnya itu.
Pak Rudi yang memang menunggu kehadiran sang majikan buru-buru menginjak pedal rem dan mempersilakan Bara masuk, tanpa tahu kondisi Bara yang seperti kucing tercebur di selokan. Keadaan subuh yang masih gelap gulita dan rintih kesakitan Bella membuat seisi mobil tidak fokus pada tamu yang baru bergabung dengan mereka.
“Jalan sekarang Pak?” perintah Bara dengan gagahnya. Bahagia membuncah di dadanya. Sebentar lagi akan bertemu dengan jagoan kecil mereka. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Bara akan menjadi daddy untuk anak laki-laki pertama di keluarga Wirayudha, The Real Wirayudha.
“Bell, apa sakit sekali?” tanya Bara, tubuhnya mulai menggigil kedinginan di saat detak jantungnya sudah kembali ke ritme semula.
“Ya, Mas ... sakitnya datang dan pergi tidak diundang,” ucap Bella meringis sembari mengusap perutnya sendiri.
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi perjuanganmu selesai.” Bara berusaha menenangkan.
Ibu Rosma yang duduk di sisi lain, memilih diam. Kesalnya belum hilang pada sang menantu yang bisa enak-enakan tidur di saat segenting ini.
Lima belas menit di perjalanan, Bella mengeluh. “Mas, kenapa basah begini?” tanya Bella, mendapati daster mulai basah kuyup.
“Astaga Bell, aku lupa mengganti pakaianku.” Bara baru menyadari saat mereka di perjalanan.
“Semua terlupakan.” Bara menunduk menatap kakinya yang tanpa alas, boxer dan singlet yang basah kuyup. Tak ada sedikit pun celah kering. Catatannya kemarin sudah terlupakan.
“Ya Tuhan. Pak, apa bisa kita putar balik?” tanya Bara ragu-ragu. Belum mendapat jawaban, Bella sudah meremas lengannya dengan kencang, sembari meringis kecil.
“Sakit, Mas.”
Lidah Bara keluh, tidak tahu harus berbuat apa. Diurungkannya kembali niat yang sempat tercetus di otaknya. Bella dan jagoannya harus segera tiba di rumah sakit. Itu lebih penting dibanding penampilannya.
Sesal menyeruak di dada, mengingat kembali bagaimana dia tertidur setelah menyatu indah dengan istrinya. Bahkan sekarang masih mengenakan pakaian yang sama.
“Harusnya aku tetap berjaga-jaga seperti kemarin,” cicitnya pelan.
Remasan lebih ke arah cakaran kembali terasa di lengan Bara. Laki-laki itu tahu kalau sakit perut istrinya datang lagi.
“Bell, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.” Bara berusaha menenangkan. Tangannya baru saja akan merangkul istrinya, tetapi Bella sudah mendorongnya kasar.
“Yang benar saja, Bell. Masa aku disuruh duduk di bagasi,” ucap Bara, menoleh ke belakang. Ada tas bayi, kotak sepatu dan beberapa perlengkapan Rania dan Issabell tergeletak berantakan di sana. Bara bergidik membayangkan kalau permintaan Bella itu benar-benar terjadi. Dia harus berbagi tempat dengan barang-barang tersebut.
Cengkeraman di lengan Bara kembali terjadi, kali ini lebih kencang. Nyeri menusuk kulit. Laki-laki itu hanya bisa pasrah. Kesakitan istrinya dalam diam menunjukan bahwa saat ini Bella sedang berjuang menahan gejolak ngilu di perutnya.
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai.”
Tak lama, mobil yang mereka tumpangi pun sampai di lobi rumah sakit. Ibu Rosma yang sejak tadi diam sambil mengenggam tangan putrinya tampak turun masuk ke dalam. Tidak mungkin membiarkan Bara dengan tampilan memalukannya turun.
“Mas, tidak ikut masuk?” tanya Bella sesaat sudah di kursi roda, siap di dorong masuk ke dalam rumah sakit.
“Apa aku pulang dulu untuk berganti pakaian, Bell.” Bara berkata ragu.
“Nanti kalau ... Mas ... pulang dan aku lahiran bagaimana?” tanya Bella memelas. Sesekali merintih kesakitan, meremas pegangan kursi roda dengan kencang. Ibu Rosma dan Pak Rudi terlihat turun dari mobil.
Bara memutar otak harus mencari cara supaya bisa ikut turun tanpa mempermalukan dirinya sendiri.
“Pak, sini!” panggil Bara pada sang sopir.
“Bapak tolong kembali ke rumah, bawa dua koper di kamarku ke sini. Minta sama asisten rumah,” perintah Bara.
“Baik Pak.”
“Aku mau meminjam pakaian bapak. Kita tukaran sebentar, Pak. Istriku membutuhkan kehadiranku di dalam sana,” ujar Bara lagi, berusaha menjelaskan.
Tentu saja sopir itu terkejut. Kemeja lusuh lungsuran dari almarhum bapaknya Bara itu ingin dipinjam oleh sang majikan. Masalahnya bukan hanya lusuh dan warna yang sudah memudar. Ada beberapa sobekan yang tidak begitu kentara. Maklum saja, dia hanya seorang sopir, tidak begitu memperhatikan penampilan. Yang terpenting nyaman dipakai dan bersih.
Apalagi kalau mengingat celana kain yang dikenakannya sekarang, retsletingnya sudah memanfaatkan jasa peniti supaya tidak membuatnya terus-terusan melorot turun. Dan membuat harta satu-satunya terekspos.
“Pak, bukan tidak mengizinkan, tetapi ... tetapi ... ini sudah sudah tidak layak dipakai untuk masuk ke dalam rumah sakit. Kalau saya, kebetulan hanya sopir biasa, duduk menunggu di dalam mobil. Jadi tidak masalah mengenakan pakaian lusuh ini, asal nyaman saja.” Pak Rudi menolak.
Pak Rudi juga buru-buru tadi. Begitu mendapat kabar sang nyonya mau melahirkan, langsung menyambar pakaian yang terlihat di matanya. Panik membuatnya tidak bisa berpikir lagi, yang penting harus bertindak cepat. Itu pun kemeja dan celana kemarin, yang tergantung menunggu jadwal di laundry.
“Sudah Pak. Tidak apa apa. Daripada aku mengenakan ini!” ucap Bara, menunjuk boxer dan singlet yang basah kuyup.
***
Bara sudah dengan penampilan barunya. Kemeja motif jadul dengan aroma keringat bercampur minyak kayu putih. Wajar saja, kemeja norak itu pada zamannya sangat hits dan populer. Namun sekarang, jadi berbeda cerita ketika waktu sudah terlewat hampir belasan tahun.
Laki-laki itu terlihat tidak nyaman, melangkah masuk ke dalam rumah sakit untuk menyusul istrinya.
“Aduh, ini bagaimana? Kalau peniti ini lepas dan menancap ke aset berhargaku, akan jadi apa Barata Wirayudha,” ucapnya pelan, sebentar-sebentar mengecek peniti di ujung retsleting, memastikan tetap aman terkendali.
“Hilang sudah Barata Wirayudha yang tampan, menawan dan rupawan. Gagah, mewangi semerbak bak bunga setaman. Tidak ada parfum mahal, adanya aroma campur baur seperti ini,” omel Bara kesal.
“Aku sendiri malu melihat kondisiku saat ini. Aku tidak bisa membayangkan kalau adek Real melihat daddy dengan penampilan seperti ini.” Bara komat kamit sendirian seperti orang gila, berjalan menuju tempat di mana istri dan ibu mertuanya berada.
Menjadi seorang ayah yang sesungguhnya membawa banyak perubahan pada seorang Barata Wirayudha.
***
TBC