
Tiga minggu kemudian.
Bella sudah memulai kuliahnya sejak dua minggu yang lalu. Bara pun bisa kembali fokus ke perusahaannya, bekerja dan bekerja kembali, tanpa gangguan cerita masa lalu atau kembalinya orang-orang dari masa lalu. Semuanya seakan hilang ditelan bumi.
Rumah tangga mereka, mulus tanpa hambatan, seperti rumah tangga pada umumnya. Tidak ada Rissa yang menganggu dengan kemarahannya atau Rania yang sebulan lalu sempet merengek pada Bara minta bertemu.
Semuanya berjalan normal, walau tetap Issabell yang selalu menjadi penghalang setiap kedua orang tuanya sedang berusaha membuat seorang adik bayi sesuai dengan pesanannya.
“Daddy, ma ... mau ... adik pelempuan, bi-bi ... bisa ... main boneka, lumah-lumahan,” celoteh Issabell setiap Bara meminta pada Issabell supaya diizinkan menghabiskan waktu berdua dengan sang mommy. Mengusir halus Issabell dengan alasan yang sama setiap waktu.
Tidak jarang, keduanya harus mengendap-endap keluar, sekedar check-in ke hotel demi usaha mendapatkan bayi yang sering digagalkan Issabell.
Hampir dua bulan tinggal bersama, Bella mulai terbiasa dengan suaminya. Sudah tidak canggung saat harus berdekatan dengan Bara. Bahkan sekarang, sudah mulai belajar memahami apa yang dipikirkan suaminya. Melakukan hal-hal kecil untuk Bara, yang di awal sering ditolaknya,
Entahlah apa cinta itu sudah tiba, atau hanya karena ia selalu mengingatkan dirinya sendiri akan tanggung jawabnya sebagai istri. Namun, sampai detik ini, tidak ada ungkapan cinta dari Bara. Laki-laki itu seperti menutup hatinya rapat-rapat, tetapi selalu berusaha membahagiakannya dan bertanggung jawab sebagai seorang suami.
Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya. Bella terbangun sebelum pukul enam pagi. Ia harus memastikan Issabell sudah rapi dan menghabiskan sarapannya sebelum berangkat ke kampus.
Namun, pagi ini ada yang aneh dan tidak biasa. Baru saja memindahkan tangan kanan Bara yang menimpa tubuhnya, entah kenapa perutnya bergejolak. Bella bingung, apa karena pendingin ruangan yang diatur Bara terlalu dingin atau karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit. Sudah beberapa hari ini, kepalanya pusing dengan nafsu makan menurun. Lemah, letih dan lesu, bawaannya ingin tidur sepanjang hari.
Baru saja bangkit duduk, meraih segelas air putih yang biasa disediakan di nakas kamarnya. Meneguk habis air di dalam gelas hingga tak bersisa, tetapi gejolak di dalam perutnya makin menjadi bukannya reda.
“Hoeekk!” Bella menutup mulut dengan tangannya, menahan isi perut yang sudah mencapai kerongkongannya.
Rasa mual susulan muncul saat Bella sudah berdiri di samping ranjang. Sambil berlari menutup mulut, bergegas menuju kamar mandi.
Hoek ... hoek ... hoek
Suara berisik bercampur air keran yang mengucur deras menganggu tidur lelap Bara. Mengerjap beberapa kali, berusaha menetralkan pandangan dan kesadaran yang masih kocar-kacir karena terbangun dengan paksa.
“Bell, kamu kenapa?” tanya Bara, setengah berteriak dari tempat tidur. Ia menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal, masih dengan rambut acak-acakan.
Tidak ada jawaban. Hanya bunyi kucuran air keran. Tak lama Bella sudah muncul kembali dengan tubuh lemas, sembari mengusap perutnya.
“Perutku tidak enak, Mas," adu Bella. Wajahnya pucat dengan rambut awut-awutan. Menghempaskan tubuhnya yang lemas, ia duduk di samping Bara.
Dengan wajah datar, Bella berusaha menahan rasa tidak enak yang dirasakan lebih parah dari kemarin-kemarin.
“Kamu kenapa, Bell,” ucap Bara, memeluk Bella.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Bara lagi, merapikan rambut Bella yang berantakan.
Istrinya hanya diam, menatap suaminya tetapi tidak menjawab.
“Kamu kenapa? Kok jadi aneh begini?” tanya Bara lagi, tersenyum menunggu jawaban.
“Tidak apa-apa, Mas. Hanya tidak enak badan saja,” sahut Bella.
Bella terdiam, menahan pusing dan mual yang mendera tubuhnya saat ini.
Cup. Kecupan ringan mendarat di pipi Bella.
“Mas," ucap Bella, menyentuh pipinya yang baru saja dikecup suaminya. Tersenyum, ia menatap Bara yang sedang mengunci tubuhnya.
“Hmmm,” gumam Bara, masih saja mengendus seluruh wajah istrinya.
“Ah, aku rasanya ingin tidur saja, Mas,” ucap Bella, berbaring kembali. Rasanya nyaman bergelung di balik selimut sambil memeluk guling.
Tubuh Bella melemas kembali, rasanya malas sekali bergerak. Ingin rasanya tidur seharian. Namun, pertanyaan Bara membuat ia terpaksa bangun dan bergegas keluar kamar untuk mengecek Issabell, putrinya.
Kedua kaki jenjangnya baru saja menginjak lantai kamar, tetapi tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan, dunia terasa berputar. Dengan kedua tangan memijat pelipis, menghempaskan kembali tubuhnya dan duduk di pinggir ranjang.
“Bell, kamu sakit?” tanya Bara setelah melihat gelagat aneh istrinya.
“Apa kita ke dokter saja?” tawar Bara, mengusap lembut punggung Bella.
“Tidak perlu, Mas. Aku memang sedang tidak fit beberapa hari ini. Mungkin terlalu capek, apalagi aku baru mulai kuliah lagi,” jelas Bella.
“Apa hari ini izin saja? Tidak perlu ke kampus.” Bara mengusulkan.
Bella mengangguk, kembali berbaring dan menarik selimut. Baru saja menikmati nyamannya memeluk guling, Bella berucap kembali.
“Mas, tolong ke kamar Icca. Aku takut dia mencariku dan menangis. Bawa saja ke sini,” pinta Bella.
Bara menurut, segera keluar kamar dan mengecek kondisi Issabell, sebelum gadis kecilnya itu menjerit lagi seperti biasanya. Tak lama, ia sudah kembali dengan menggendong Issabell yang masih dengan baju tidur dan wajah bantalnya.
“Mami,” teriak Issabell seperti biasa. Gadis kecil itu sudah bermanja-manja di tubuh Bella.
Sejak Bella memantapkan hati hidup bersama Bara dan Issabell, gadis kecil itu semakin dekat dengannya. Issabel yang tadinya lebih mandiri, sekarang bertambah manja dan ketergantungan pada Bella. Sudah mulai menolak setiap dipegang pengasuhnya.
Biasanya mandi dan sarapan dengan pengasuh, sejak sebulan belakangan hanya mau dengan Bella saja. Belum lagi, setiap tidur malam harus ditemani dan dininabobokan Bella. Kemanjaan yang semakin hari semakin bertambah.
**
Mobil Bara baru saja meninggalkan kediamannya. Hari ini sedikit berbeda, biasanya kepergiannya akan diantar Bella yang menggendong Issabell sambil melambaikan tangan. Namun,karena Bella yang sedang tidak enak badan, tidak ada lambaian kecil putrinya, yang lebih memilih menemani Bella di dalam kamar.
Baru saja keluar gerbang rumahnya, netra Bara menangkap sosok yang tidak asing. Sedang berjalan berlawanan arah dengan mobilnya.
“Sepertinya?” Bara ragu.
“Tapi mana mungkin laki-laki itu bisa sampai di sini.” ucap Bara pelan. Kembali fokus dengan setirnya. Ya, Bara selalu membawa mobil sendiri setiap berangkat ke kantor, jarang menggunakan jasa Pak Rudi, sopirnya.
Bayangan laki-laki yang mengenakan jaket dan tas ransel di punggungnya itu sungguh mengganggu pikirannya. Makin dipikir, makin tidak masuk akal kalau benar laki-laki yang tertinggal di Surabaya itu yang baru saja dilihatnya.
Namun, ketidakpercayaan Bara sebenarnya adalah kenyataan. Laki-laki yang dipikirnya tidak masuk akal itu sedang menekan bel di gerbang rumahnya sambil menatap secarik kertas.
“Permisi,” panggilnya, setelah beberapa kali suara bel tidak ada yang merespon.
Tangannya sudah bersiap menekan bel kembali, tetapi dari pintu kecil di samping gerbang muncul seorang laki-laki dengan seragam hitam.
“Maaf, Pak ... apa benar ini alamat di sini?” tanyanya, menyodorkan secarik kertas yang dipegangnya erat.
“Benar, Mas. Ini alamat rumah sini. Mas, mau cari siapa?” tanya sang security.
“Saya ingin bertemu dengan Bella. Katanya Bella tinggal di sini.”
Security terkejut, menatap tamu paginya dari tas sampai ke bawah.
“Tampangnya 'sih lelaki baik-baik. Tampan juga. Tapi pagi-pagi sudah bertamu dan mencari Nyonya rumah, rasanya bukan lelaki baik-baik,” batin security.
***
T B C
Terima kasih
Love you all