
Honeymoon dadakan yang direncanakan Bara berantakan. Sehari saja mereka menikmati bulan madunya, tetapi selebihnya mereka hanya saling diam dan tidak bicara setelah Bara mencoba jujur dan mengakui semua kesalahannya.
Hanya semalam saja, mereka berbagi ranjang. Malam-malam berikutnya, Bara lebih sering tidur di sofa dan baru mencuri di tidur di ranjang saat istrinya terlelap.
Untuk sementara, Bara memang sengaja memberi ruang untuk Bella merapikan hatinya kembali yang sempat porak-poranda setelah pengakuannya yang menyakitkan.
Pagi ini, mereka sudah bersiap. Bella terlihat merapikan pakaian mereka, memasukkan ke dalam koper.
"Mas, kita jalan jam berapa?" tanya Bella. Untuk pertama kali setelah hari itu, Bella mengajaknya bicara kembali.
"Sebentar lagi," sahut Bara, tersenyum sendiri.
Tatapannya tertuju pada Bella yang sedang duduk di lantai bersama koper mereka.
Bara mencoba memberanikan diri, mendekati Bella yang terlihat mulai membuka diri untuknya lagi.
"Bell, bisa kita bicara?" tanya Bara, ikut duduk di sebelah Bella.
"Ada apa, Mas?" tanya Bella, masih saja sibuk melipat pakaiannya.
"Aku masih menunggu maafmu." Bara berbisik pelan.
"Aku tidak tahu, tetapi aku akan berusaha untuk itu. Aku tidak mau Ibu dan Issabell kecewa karena kita berpisah," ucap Bella tertunduk sedih.
Bulir air mata itu jatuh kembali. Entahlah, setiap mengingat suaminya tidur dengan kakaknya sendiri, ada rasa sakit yang meremas hatinya.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Bara. Jemarinya tanpa permisi mengusap air mata yang meluncur turun dari kedua mata Bella.
Ada rasa sedih, setiap kali melihat air mata Bella. Rasa yang baru kali ini dirasakannya. Ia sudah pernah menikah, sudah sering melihat mantan istrinya menangis setiap mereka bertengkar.
"Bell, aku berjanji tidak akan memberi rasa sakit lagi. Aku akan membahagiakanmu," bisik Bara.
Merengkuh tubuh Bella, membawanya ke pelukan. Tangannya sudah membelai lembut, menenangkan Bella.
"Mas, rasanya sakit," bisik Bella, merangkul leher Bara menangis sesenggukan.
Untuk pertama kalinya, ia menumpahkan semua air mata, menangis dengan kencang, mengeluarkan semua sakitnya di pundak Bara. Setelah hampir seminggu, Bella menahannya, hingga membuatnya hampir sesak dan susah bernapas.
"Maafkan aku, Bell. Aku benar-benar tidak menyangka bisa membuatmu merasakan sakit ini," bisik Bara berusaha menenangkan.
Sempat ragu dan menatap Bella yang masih saja terisak, sebelum akhirnya Bara melabuhkan sebuah kecupan ringan di bibir tipis istrinya.
"Bell, maafkan aku. Aku berharap tiba di Jakarta, kita bisa bersikap biasa. Kasihan Icca," ucap Bara, tersenyum. Menangkup wajah Bella dengan kedua tangannya. Ia tersenyum melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
"Ya, Mas," sahut Bella, akhirnya mengangguk.
"Tapi aku harus menyelesaikan masalah dengan Kak Rissa. Mas juga harus minta maaf pada Kak Rissa," pinta Bella.
"Ya, nanti kita sama-sama menemui Rissa," jawab Bara.
"Kak Rissa sudah tidak tinggal di rumah?" tanya Bella.
Bara menggelengkan kepala.
"Lalu ... Kak Rissa tinggal di mana?" tanya Bella lagi.
"Aku belum tahu. Nanti aku akan minta orang mencari alamatnya."
"Jangan menangis lagi, rasanya aku gagal menjadi seorang suami dan laki-laki kalau kamu terus-terusan mengeluarkan air mata."
Bella hanya mengangguk. Berusaha tersenyum dengan wajah sembab dan hidung memerah.
Bara memerhatikan wajah cantik yang sedang mengusap hidungnya yang memerah.
Perasaannya jauh lebih lega, setidaknya Bella sudah bisa mengerti.
"Bell, apa aku boleh minta jatah lagi sebelum kembali ke Jakarta?" tanya Bara tiba-tiba.
Bella terkejut, mengangkat pandangannya. Suaminya sedang menunggu jawaban dengan wajah penuh harap.
***
Terima kasih.
Love You All.