Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 41. Nyonya Wirayudha


Bara menatap pintu kamar mandi, tempat di mana istrinya menghilang setengah jam yang lalu. Pikirannya masih menerawang. Manisnya aroma Bella, masih berasa di bibirnya. Bayangan Bella yang pasrah pun masih enggan menghilang dari pelupuk mata.


Lelah menunggu, Bara memilih berganti pakaian dengan baju yang lebih casual dan santai. Rencananya, ia akan mengajak Bella berkeliling. Jalan-jalan, kulineran, shopping, apa pun itu tidak masalah.


Yang terpenting ia bisa menikmati waktu berdua dengan Bella, saling mengenal dan saling melepas canggung yang selama ini tercipta.


Bara ingin Bella terbiasa dengan kehadirannya. Tidak malu-malu ataupun sungkan padanya. Toh, mereka sudah menikah, bukan orang lain yang harus saling menjaga kesopanan saat mereka hanya berdua.


Ceklek!


Pintu kamar mandi itu pun akhirnya terbuka juga setelah sekian lama.


“Bell, kamu ketiduran di dalam?” tanya Bara, yang sedang duduk di sofa.


“Maaf, Mas," ucap Bella tertunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Bayangan Bara sedang menindih dan menciumnya kembali muncul di ingatannya.


“Ganti pakaianmu Bell, aku akan mengajakmu keluar,” pinta Bara dengan santainya.


“Baju yang santai saja!” lanjut Bara lagi, berdiri seolah memamerkan pakaian yang dikenakannya pada Bella supaya istrinya itu bisa menyesuaikan.


“Bell, aku ke sana sebentar,” ucap Bara, berjalan menuju ke balkon, menikmati pemandangan menghijau perkebunan teh dari tempatnya berdiri.


Bella sudah membongkar koper miliknya, mencari pakaian yang sekira cocok untuk dikenakannya. Berlari menuju pojokan kamar yang sedikit tertutup, untuk berganti pakaian.


“Di sini aman, Bara tidak akan terlihat dari balkon.” Bella berkata pelan sambil tersenyum.


Ia baru saja melepas atasannya, hanya tertinggal bra renda berwarna hitam yang menutup gundukan kembar di dadanya, tetapi naas baginya. Baru saja hendak meraih atasan putih yang baru dikeluarkannya dari koper, tiba-tiba ada tangan kekar sudah memeluk tubuh nyaris tel*anjang dari belakang.


“Ahhhh!" pekik Bella kaget.


“Ssttt, jangan berisik. Ini aku.” Bara berkata.


“Mas ... kamu mengagetkanku,” ucap Bella, berusaha membuka belitan tangan Bara yang mengunci pinggangnya.


“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini,” batin Bella.


“Kenapa, Bell?” tanya Bara, mengecup pundak polos Bella. Kedua tangannya masih mendekap Bella dengan erat.


“Mas, tolong lepaskan. Aku malu,” pinta Bella, memohon.


“Kenapa harus malu? Aku suamimu,” bisik Bara di telinga Bella.


“Aku mau mengenakan pakaian Mas,” sahut Bella, merengek bak anak kecil pada bundanya.


Ia sudah tidak sanggup lagi menahan malu. Sebelumnya, ia belum pernah sepolos ini di depan Bara.


“Mas, tolong lepaskan aku,” pinta Bella, menunduk. Pipinya sudah memerah, tidak sanggup lagi menatap dunia.


“Aku bantu melepaskannya,” sahut Bara usil. Dengan satu tangan masih membelit pinggang Bella, tangan satunya sudah melepas kaitan bra hitam di punggung Bella.


“Mas, jangan. Aku mohon jangan,” pinta Bella, saat merasa sentuhan jemari Bara di punggung polosnya saat membuka kaitan branya.


“Ups ... sudah terlanjur, Bell,” sahut Bara dengan isengnya. Menarik bra itu terlepas, dan melemparnya sejauh mungkin.


Bella ternganga, tidak berani lagi mengangkat kepalanya. Rasanya sudah ingin menangis saat ini. Sedikit beruntung, posisinya sedang membelakangi Bara. Jadi laki-laki itu tidak tahu seberapa memerah wajahnya menanggung malu.


“Mas ...." Bella sudah tidak bisa berkata-kata. Rasa malu terlalu menggerogoti dirinya saat ini. Ia menunduk, menatap dadanya yang polos dan terbuka.


“Kenapa, Sayang?” tanya Bara. Tangannya sudah merambat naik, mendekati aset istrinya yang sudah terbuka sempurna.


“Mas, tolong jangan,” pinta Bella, setengah memelas. Suara Bella bergetar, menahan tangis. Tidak jelas arti tangisannya, tetapi rasanya air mata itu sudah mengkristal di sana, siap meluncur turun.


“Kenapa, Sayang? Kamu kedinginan?” tanya Bara, senyum menyeringai di bibirnya.


“Mas, tolong lepaskan. Aku ... aku ...."


“Kamu kenapa, Bell?” tanya Bara, tersenyum menatap pucuk kepala Bella yang saat ini menempel di dadanya.


“Mas, tolong lepaskan aku,” pinta Bella memohon sambil terisak.


Tangan Bara sudah merambat naik, membuat Bella semakin panik. Bella bisa melihat sendiri tangan nakal itu semakin mendekat dengan gundukan kembarnya.


“Mas," panggil Bella.


Panik, ia langsung berbalik dan memeluk erat Bara. Setidaknya lebih baik dengan posisi seperti ini, dari pada tangan Bara menggerayanginya.


Pelukan Bella semakin erat, kakinya pun sudah dihentakkan di bawah sana.


“Jangan melihat kepadaku,” pinta Bella, menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami.


“Kenapa, Bell?” tanya Bara terkekeh. Ia bisa merasakan dada polos Bella yang menempel lekat erat padanya. Tangan kekarnya sedang mengusap lembut punggung telanj”ang Bella.


“Rupanya ini yang dikatakan Pram menggemaskan!”


Mas, jangan melihat. Aku malu,” ucap Bella, terdengar manja.


Untuk pertama kali, Bara bisa melihat sisi manja Bella. Sisi yang selama ini tersembunyi di balik kedewasaannya.


Bella berusaha mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan branya yang dilepas paksa Bara. Pandangannya tertuju pada meja kecil di belakang Bara. Barang yang dicarinya ada di sana.


“Mas, bisa ambilkan untukku?” tanya Bella, mendongakkan kepala, menatap Bara sekilas.


“Ambilkan apa, Bell?” tanya Bara, sengaja mengerjai.


“Itu apa, Sayang?” tanya Bara usil.


“Itu ... itu braku,” sahut Bella malu, membenamkan wajah ke dada Bara.


Melihat Bella yang hampir menangis, Bara memilih mengalah.


“Aku akan menutup mataku. Kamu bisa melepaskan pelukanmu,” ucapnya.


“Mas, jangan mengintip, ya!” ancam Bella.


"Ya," sahut Bara dengan mata terpejam. Ia memilih melepaskan Bella kembali saat ini.


Melihat itu, Bella buru-buru mengenakan pakaiannya. Ia tidak mau Bara mencuri kesempatan lagi seperti sebelumnya.


“Sudah, Bell?” tanya Bara, masih dengan posisi mata terpejam.


“Sudah, Mas,” sahut Bella, tersenyum malu-malu.


Bara tertawa.


“Sudah aku tidak akan mengerjaimu lagi,” jelas Bara, menggandeng tangan Bella yang masih saja malu-malu menatapnya.


“Kamu kelewatan, Mas,” gerutu Bella, masih saja kesal.


“Ikut aku. Kita jalan-jalan hari ini,” ajak Bara.


“Kita ke mana Mas?” tanya Bella penasaran.


“Kamu ikut saja ke mana suamimu ini melangkah.”


Bara mengajak Bella berkeliling, jalan-jalan dan menikmati jajanan khas di Kota Hujan itu.




Puas menikmati acara jalan-jalannya, Bara mengajak Bella mencari tempat untuk beristirahat.


“Bell, ada yang mau aku bicarakan,” ucap Bara membuka pembicaraan.


“Ya, Mas,” sahut Bella.


“Bell, mari kita memulai semuanya. Kamu mau?” tanya Bara tiba-tiba , menggenggam tangan Bella. Menatap penuh harap pada istrinya yang duduk di depannya.



“Mas, kamu kenapa?” tanya Bella heran.


“Aku serius, Bell. Mungkin aku belum pernah mengucapkannya langsung,” ucap Bara.


“Selama ini, kamu tahu sendiri alasan aku menikahimu. Tapi, aku serius untuk memulainya denganmu. Aku serius dengan pernikahan kita,” lanjut Bara.


“Ya, Mas,” jawab Bella.


“Kamu bisa merasakan keseriusanku?” tanya Bara, membawa tangan Bella, meletakkan di dadanya.


“Aku berjanji akan membahagiakanmu. Tolong percayakan hidupmu padaku.”


Bella bingung, hanya bisa menatap tanpa bisa menjawab.


“Bell, menikahlah denganku dalam arti yang sesungguhnya. Kamu mau?” tanya Bara.


Bara menatap, menunggu jawaban yang tidak kunjung keluar dari bibir Bella.


“Apakah gadis ini belum cukup yakin dengan keseriusannya?”


“Apakah gadis ini belum cukup percaya dengan kesungguhannya?”


Bara mencoba kembali.


“Bell, mari kita lakukan demi Ibu, demi Icca dan demi kita. Tolong belajarlah mencintaiku. Aku juga akan belajar mencintaimu.”


“Bisakah kita memulainya dari sekarang?” tanya Bara.


Lama terdiam, akhirnya Bella mengangguk dan tersenyum.


“Ya ...."


Hanya sebuah jawaban singkat, tetapi itu benar-benar membuat Bara bahagia.


“Terima kasih, Nyonya Wirayudha,” ucap Bara pelan, memberanikan diri untuk mengecup kening Bella dengan lembut.


***


T B C


Terima kasih


Love you all