Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 82. Nanti Aku jatuh Cinta Padamu


“Mas, apa kita ke dokter saja?” tawar Bella. Pada akhirnya ia jadi tidak tega, melihat bagaimana Bara menghabiskan malamnya dengan mondar-mandir ke toilet dengan tubuh yang makin lemas.


Bara tidak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk menjawab pertanyaan istrinya pun ia sudah tidak sanggup. Lelaki itu memilih meringkuk sembari memeluk perutnya yang melilit. Sesekali menarik napas kasar, menahan sakit yang tidak kunjung hilang.


“Mas, sudah tahu tidak bisa makan makanan pedas ... kenapa memaksa menghabiskannya?” ujar Bella. Tangannya sudah berpindah mengusap punggung suaminya. Berharap usapannya bisa menenangkan, kalau beruntung bisa menghilangkan sakitnya.


“Kalau aku tidak menghabiskannya, pasti kamu yang menghabiskannya.” Bara akhirnya bersuara. Setelah sekian lama mendiamkan semua pertanyaan istrinya.


“Aku tidak mau kalian kenapa-kenapa. Kamu mungkin sanggup menghabiskan makanan pedas itu, tetapi bayiku di dalam sana belum tentu bisa menerimanya,” lanjut Bara.


Jawaban Bara sanggup menggetarkan hati Bella. Dengan malu-malu, Bella langsung memeluk tubuh kekar yang sedang menahan sakit itu sembari menghadiahkan kecupan di pipi Bara.


“Maafkan aku, Mas,” ucapnya pelan.


Bara hanya sanggup membalas perlakuan istrinya dengan seulas senyuman. Itu pun dengan susah payah, di tengah rasa sakit perut yang luar biasa. Melilit dan mengaduk-aduk di dalam sana.


Lewat tengah malam, barulah sakit perut Bara sedikit bersahabat. Meskipun belum bisa dikatakan hilang, tetapi setidaknya ia tidak perlu bolak-balik ke toilet demi mengeluarkan isi di dalam lambungnya.


Dengan bantuan obat seadanya yang tersedia di kotak obat, akhirnya Bara bisa tertidur juga. Walaupun sebentar-sebentar harus terbangun, karena sakit belum bisa berkompromi dengannya.


Waktu menunjukan pukul 02.00 dini hari, saat Bara terbangun dan meneguk segelas air putih untuk membantu meringankan sakit perutnya. Selesai meletakan gelas kosong ke atas nakas kembali, matanya terpaku pada wajah polos yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


Pemandangan yang menggelitik, ada kehangatan yang tiba-tiba memenuhi relung hatinya. Belum pernah dirasakan di pernikahannya dengan Brenda.


“Bell, aku harap kamu akan menemaniku sampai tua, bersama anak-anak kita,” bisiknya pelan, sembari merapikan anak rambut yang mengganggu, menyelipkannya di balik daun telinga.


Berlama-lama menatap wajah cantik yang menemani hari-hari bahkan malamnya beberapa bulan terakhir.


“Apa yang aku pikirkan saat memilih menikahimu,” ucap Bara. Tersenyum, ia menyaksikan pergerakan kecil Bella yang terganggu saat ia menyingkap gaun tidur dan mengusap perut rata istrinya itu.


Sampai sekarang pun, ia tidak bisa menjawab kenapa memilih Bella. Ia tidak mencintainya. Jangankan cinta, rasa sayang tidak ada sedikit pun saat memutuskan menjadikan Bella istrinya.


Bahkan, Bara ingat dengan jelas, saat menggandeng masuk gadis kecil ini ke pernikahan, tidak ada rasa apa-apa. Hanya sebuah kelegaan, bisa menyelesaikan satu masalah hatinya. Ia tidak tega meninggalkan Ibu Rosma yang sudah dianggap ibu kandungnya sendiri.


Jasa perempuan yang sekarang menjadi mertuanya itu sangat besar. Bara yang sekarang, yang bisa berdiri tegar menatap dunia, yang bisa berdamai dengan masa lalu adalah hasil dari kelembutan hati seorang Ibu Rosma.


Itu tidak bisa dibayar dengan apa pun. Ia ingat seberapa bodohnya dulu. Patah hati sampai hampir bunuh diri hanya karena wanita. Bahkan ia menghancurkan hidupnya karena frustrasi kegagalan rumah tangganya.


Ternyata, ketika pengkhianatan itu terjadi di dalam suatu ikatan, rasanya lebih menyakitan. Sampai sekarang, Bara menolak jatuh cinta lagi. Bahkan sebelumnya memilih untuk tidak menikah lagi.


Usapan kecil di perutnya, membuat tidur Bella terganggu. Yang tadinya hanya pergerakan kecil, sekarang wanita itu membuka mata mengantuknya dengan sempurna.


“Mas, kenapa tidak tidur?” tanya Bella. Keduanya sedang berbaring dengan posisi saling berhadapan.


“Aku tidak bisa tidur,” bisik Bara pelan.


“Apa Mas baik-baik saja?” tanya Bella, khawatir


“Aku sudah tidak apa-apa,” sahut Bara tersenyum. Kali ini pandangannya tertuju pada perut rata yang sudah tersingkap sempurna. Mempertontonkan kulit perut yang mulus dengan pakaian dalam renda yang terekspos di bagian bawahnya.


“Bell, kapan perutmu akan membesar?” tanya Bara kembali dengan polosnya. Rasanya sudah tidak sabar melihat Bella dengan perut buncitnya.


Sembari menyunggingkan senyuman tipis. “Masih lama, Mas.” Bella menjawab.


“Perutmu sudah tidak sakit, Mas?” tanya Bella. Tangannya ikut-ikutan mengusap perut suaminya yang terbalut kaos tidur.


“Masih sedikit sakit. Tapi sudah tidak terlalu parah lagi,” sahut Bara.


“Besok kita ke dokter saja.” Bella memberi pendapat. “Wajahmu pucat sekali,” lanjut Bella.


Tangan yang tadi membelai perut rata istrinya, beralih mengusap wajah cantik yang terlihat makin cantik di saat tidur tanpa sapuan make-up.


“Kemarilah!” pinta Bara, meminta Bella masuk ke dalam dekapannya, memeluk tubuh mungil itu dengan hangat.


“Jangan terlalu perhatian padaku, Bell. Nanti aku jatuh cinta padamu,” bisik Bara pelan, mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan.


***


Love you all


T b c


Terima kasih.