Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Menikahi Majikan Ibu Season 2


Cuplikan Menikahi Majikan Ibu Season 2 dengan judul baru MENUA BERSAMAMU



Meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai makanan. Ada nasi goreng, sandwich, kentang goreng, telur dadar dan ada juga sereal. Memiliki tiga orang anak yang berbeda sifat dan karakternya, rumah tangga Bara dan Bella begitu berwarna. Terlihat jelas dari meja makan yang penuh dengan menu makanan.


Bella terlihat berdiri di samping meja makan, mengisi piring-piring kosong untuk sarapan putra dan putrinya. Real, putra tampannya yang sekarang hampir berusia tiga tahun terlihat duduk di bangku utama. Tempat di mana harusnya Bara duduk.


“Bell ....” Bara melangkah mendekat sembari menggendong Issabell.


“Good morning, Mommy.” Kecupan di pipi, dilabuhkan Issabell sembari merengkuh leher Bella. Gadis kecil yang masih di gendongan Bara itu terlihat tersenyum melihat sarapan paginya.


“Sandwich?” ucap Issabell.


“Ya, habiskan sarapanmu sekarang, Ca!” ucap Bella, meletakan segelas susu di samping potongan sandwich.


“Good morning*, Mom.” Rania memeluk pinggang Bella, berjinjit mengecup pipi ibu muda yang tampil casual* pagi ini. Dengan kaos hitam dan rambut dikuncir kuda.


“Morning, Sayang. Habiskan sarapanmu, Kak.” Bella menyodorkan piring berisi kentang goreng dengan sepotong telur dadar di sampingnya.


“Thanks, Mom.”


“Habiskan secepatnya, Kak. Ini sudah terlambat.” Sembari meletakan segelas jus jeruk pada putri tertuanya.


“Mas, giliranmu.” Bella beralih menatap Bara, suaminya sedang berdiri di belakangnya setelah menurunkan Issabell di tempat duduknya.


“Aku mau nasi goreng saja, Bell. Dengan ciuman selamat pagi yang mesra,” bisik Bara tepat di telinga Bella, menghembuskan napas berat di sana.


“Mas, jangan begini. Ada anak-anak,” protes Bella. Tangan lincahnya sedang mengisi nasi goreng ayam buatan asisten rumah.


“Nanti malam dandan yang cantik. Kita buat adek untuk Real,” goda Bara, ikut mengecup pipi Bella, mengikuti dua putrinya.


“Sudah Mas, nanti terlambat.”


“Real, pindah Sayang. Itu tempat Daddy!” pinta Bella, sembari menggendong anak bungsunya, kembali ke tempat duduknya. Anak laki-laki Bara dan Bella itu sejak tadi memilih diam, sibuk mengaduk semangkok sereal.


Jeritan Real terdengar memekakan telinga begitu tubuhnya melayang di dalam gendongan Bella. Berteriak, tidak terima saat tempat duduk yang direbutnya dengan tidak hormat, harus dikembalikan pada pemiliknya.


“No! Daddy* ... duduk syana!” Menunjuk kursi paling jauh dari semua anggota rumah, meminta Bara menempatinya. Dia masih nyaman dengan kursi kebesaran milik daddy*-nya


Melihat Bara mengambil alih kursinya, jeritan Real semakin menjadi. Bercampur tangisan kencang, mengamuk di dalam pelukan Bella.


“Sudah Bell, aku pindah.” Bara mengalah setelah melihat amukan sang putra mahkota tak mau reda. Mengangkat piringnya, duduk di kursi sebelah, berhadapan dengan kedua putrinya. Baru saja akan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, kembali terdengar suara Real.


“No! Daddy syana ...” Tangan anak tiga tahun itu menunjuk ke ujung meja makan. Meminta Bara memisahkan dirinya. Jauh dari anggota keluarga yang lain.


“Daddy mau makan di sini saja,” tolak Bara, terbahak melihat Real semakin menjadi.


“Mommy ....” ucap Real di tengah amukannya.


“Mas, kenapa kamu senang sekali mengerjainya?” protes Bella, saat melihat Bara menertawai putranya yang masih saja mengamuk.


“Dia yang mengerjaiku duluan, Bell,” lanjut Bara, masih enggan berpindah.


“Sudah, Dek, biarkan Daddy duduk di sini ya. Mommy suapin serealnya.”


“No! Daddy syana!” Masih menunjuk ke arah yang sama. Belum mau berhenti mengamuk sampai keinginannya terpenuhi.


Setelah hampir sepuluh menit meramaikan meja makan, Bara mengalah saat melihat tangisan putranya tetap tidak mau berhenti.


“Habiskan serealmu, Dear*. Daddy* pindah ke syanaaa,” ucap Bara tergelak, mengikuti gaya bicara putra kesayangannya.


Sembari mengangkat piringnya, pria tampan itu masih mengomel.


“Kamu apa kan putraku sampai seperti ini, Bell?” cicitnya dengan raut menyedihkan. Membawa sepiring nasi goreng, duduk menjauh dari semuanya.


“Itu salahmu, Mas. Setiap hari mengajaknya bertengkar!” sahut Bella, tidak mau disalahkan.


“Sudah menangisnya, Real. Tidak boleh seperti ini pada Daddy*. Nanti siapa yang akan membelikanmu mobil-mobilan remote control*,” bujuk Bella.


***


Yang bingung cari di mana, nih aku bantu tutorialnya. Klik saja yang dilingkari merah. Terima kasih.